Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
"Loe pikir dengan gaya loe yang kayak jagoan gini, loe bisa dapet simpati dari dia selamanya?"
Aku melangkah maju, memangkas jarak antara aku dan Bara setelah Aira menghilang di balik gerbang. Suaraku terdengar serak di telingaku sendiri, bergetar oleh amarah yang tidak bisa kujelaskan akarnya. Dadaku terasa panas, seolah ada api yang menyulut paru-paruku setiap kali aku membayangkan tawa Aira barusan. Tawa yang tidak pernah ia tunjukkan padaku—bahkan setelah bertahun-tahun aku berada di sampingnya.
Bara tidak langsung menjawab. Ia justru dengan santai mengeluarkan pemantik api dari saku jaket kulitnya. Cklik. Cahaya jingga dari api itu sesaat menerangi wajahnya yang keras, mempertegas garis rahangnya yang kokoh dan sorot mata liarnya yang sangat tenang. Ia menghisap rokoknya, lalu mengembuskan asapnya ke udara malam dengan gerakan yang sangat menyebalkan.
"Gue nggak butuh simpati, Varo. Gue cuma butuh dia aman. Dan aman menurut gue adalah... jauh dari orang-orang kayak loe," sahut Bara. Ia menatapku remeh, seolah-olah aku hanyalah kerikil kecil di sepatunya.
Aku tertawa sinis, langkahku semakin mendekat hingga kami hanya berjarak satu lengan. Bau tembakau darinya beradu dengan aroma parfum mahalku. "Loe nggak tahu apa-apa soal dia, Bara. Loe cuma cowok berandal yang kebetulan lewat di saat dia lagi butuh panggung buat aktingnya."
Aku melirik motor besarnya dengan pandangan meremehkan. "Loe pikir dia beneran seneng naik motor butut loe itu? Dia itu anak Maheswari. Dia cuma lagi pake loe buat manasin gue, atau mungkin buat bikin Airin takut. Loe itu cuma pion, Bara."
Bara menyeringai, sebuah ekspresi yang terlihat begitu keren namun sangat memancing emosi. Ia menyandarkan punggungnya di jok motor, melipat tangan di dada dengan gaya yang sangat santai. "Pion? Loe yakin? Karena tadi gue liat dia ketawa lepas banget. Sesuatu yang kayaknya mustahil terjadi kalau dia lagi sama cowok 'sempurna' kayak loe."
"Itu palsu!" bentakku, suaraku menggelegar di sunyinya komplek perumahan elit ini. "Semuanya palsu! Loe nggak tahu gimana liciknya dia di dalem rumah itu. Loe nggak tahu gimana dia hobi ngerusak barang-barang Airin, gimana dia sengaja bikin dirinya kelihatan menyedihkan biar orang tuanya disalahin. Dia itu ahli memutarbalikkan fakta, Bara!"
Aku mendekatkan wajahku, berbisik tepat di telinganya dengan nada yang sarat akan kebencian—atau mungkin perlindungan yang salah alamat. "Loe nggak tahu dia sepolos apa. Dia licik, Bara. Dia ahli memutarbalikkan fakta. Jangan sampe loe bangun besok pagi dan sadar kalau loe cuma jadi sampah yang dia buang setelah urusannya selesai."
Aku menjauhkan wajahku, menatapnya dengan pandangan penuh kemenangan, berharap melihat keraguan di matanya. Aku ingin dia pergi. Aku ingin dia menjauh dari Aira. Aku tidak tahan melihat Aira yang 'jahat' bisa terlihat begitu damai di samping pria seperti dia. Rasa cemburu ini... rasanya seperti racun yang merayap di pembuluh darahku, membuatku ingin menghancurkan apa pun yang membuat Aira berpaling dariku.
Namun, Bara justru tertawa pelan. Tawa yang sangat pendek, namun sarat akan ejekan. Ia mematikan rokoknya di atas tangki motor, lalu menatapku dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah menjadi sangat tajam, seolah ia bisa melihat langsung ke dalam kebohonganku.
"Loe tahu nggak apa yang lucu, Varo?" Bara melangkah satu tindak maju, membuatku harus sedikit mendongak karena posturnya yang lebih tegap. Ia menyeringai dingin, sebuah ekspresi yang memberikan kesan 'checkmate' yang mematikan.
"Gue lebih percaya insting gue daripada omongan cowok yang bahkan nggak tahu siapa teman masa kecilnya sendiri."
Deg.
Jantungku seolah berhenti berdetak saat mendengar kalimat itu. Kepalaku mendadak berdenging hebat. "Apa maksud loe?"
Bara menyalakan mesin motornya, deru mesin yang jantan itu kembali membelah malam, menenggelamkan suaraku yang mulai goyah. Ia memakai helmnya, namun sebelum menutup kacanya, ia menatapku sekali lagi dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang seolah mengasihani kebodohanku.
"Loe terlalu sibuk sama sapu tangan bordir dan air mata palsu, sampe loe lupa kalau kebenaran nggak butuh bukti yang dijahit," desis Bara. "Loe terus-terusan bilang dia licik, tapi loe nggak sadar kalau satu-satunya orang yang paling jujur di hidup loe adalah orang yang baru aja loe sebut sampah."
Bara memutar gas motornya, suaranya menggelegar menantang sunyinya malam. "Gue nggak sebodoh itu gampang percaya omongan orang lain, apalagi omongan keluarga yang bahkan tega ngunci anaknya sendiri di gudang. Kalau menurut loe Aira licik... gue rasa gue bakal makin suka sama dia. Karena di dunia yang isinya ular kayak loe, dia butuh sedikit kelicikan buat bertahan hidup."
Bara menarik gasnya dalam-dalam, motornya melesat pergi meninggalkan kepulan asap dan suara mesin yang perlahan menjauh, meninggalkanku mematung sendirian di bawah pendar lampu jalan yang temaram.
Aku berdiri kaku, napasku memburu tidak teratur. Tanganku yang mengepal di samping tubuh gemetar hebat. Kalimat Bara terus berputar-putar di kepalaku seperti kaset rusak. "...nggak tahu siapa teman masa kecilnya sendiri."
Kenapa dia bilang begitu? Apa yang dia tahu?
Aku menatap gerbang rumah Maheswari yang tertutup rapat. Di dalam sana, Aira mungkin sedang dimarahi habis-habisan oleh Om Prasetya. Dan anehnya, bagian dalam hatiku yang paling dalam tidak merasa puas. Aku justru merasa sesak. Rasa cemburu yang tadi membakar kini berubah menjadi kegelisahan yang menyiksa.
Aku teringat tawa Aira tadi. Tawa yang tulus, tanpa beban, tanpa rasa takut. Kenapa tawa itu terasa begitu mirip dengan ingatan masa kecilku tentang "Ai"? Kenapa saat aku bersama Airin, tawa yang kudengar selalu terasa seperti melodi yang disusun dengan hati-hati, bukan ledakan emosi seperti yang dilakukan Aira barusan?
"Nggak... Airin itu 'Ai'. Dia punya buktinya. Dia punya sapu tangan itu," bisikku pada diriku sendiri, mencoba meyakinkan logikaku yang mulai goyah. "Aira itu licik. Tante Ratna nggak mungkin bohong soal penyakitnya."
Tapi semakin aku mencoba meyakinkan diri, semakin wajah Aira yang sedang menatap Bara dengan binar harapan itu muncul di kepalaku. Aku memukul kap mobilku dengan keras hingga menimbulkan bunyi dentuman yang memilukan.
"Kenapa kamu harus bikin aku ragu, Aira?!" teriakku pada kesunyian malam.
Aku masuk ke dalam mobil dengan gerakan kasar, membanting pintunya seolah-olah itu bisa membuang rasa sesak di dadaku. Aku menghidupkan mesin, namun aku tidak langsung melaju. Aku menatap kaca spion, melihat bayanganku sendiri yang tampak sangat berantakan dan... malang.
Di depanku, pintu neraka keluarga Maheswari terbuka untukku, tapi entah kenapa, aku merasa seolah-olah aku sedang melangkah masuk ke dalam jebakan yang kubangun sendiri. Malam ini, Sang Pangeran yang biasanya dipuja itu merasa sangat kecil. Karena di luar sana, seorang Serigala baru saja menunjukkan bahwa mahkotaku hanyalah tumpukan kebohongan yang siap runtuh kapan saja.