Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Maura melihat seorang wanita berdiri di ambang pintu dengan senyuman yang cantik. Di perkirakan usianya seperti ibu nya. Maura membalas senyumannya dengan keraguan dan kecanggungan.
"Halo,, selamat sore... Lala ya?" Sapa wanita tersebut yang tak lain adalah Diana orang yang siang tadi menghubunginya.
"Ah, iya. I ibu.." Jawab Maura.
"Saya Diana yang menghubungi kamu siang tadi. Ayo mari masuk. Ibu pasti senang kamu datang sayang."
"Bun..."
"Loh, sayang sudah pulang? Kalian?" Tanya Bunda Diana.
"Tidak kami bertemu di depan." Jawab Radit cepat.
"Ah, iya Sayang ini kenalkan Lala yang suka Oma ceritakan." Ucap Bunda Diana memperkenalkan.
"Hah! Astaga. Oma ceritain gw sama Pak Bos? Aduh mati gw." Batin Maura.
"Radit." Ucap Radit mengulurkan tangannya.
"Ma Maura ah panggil saja Lala." Jawab Maura semakin gugup.
"Hm.." Jawab Radit singkat kemudian berlalu dari hadapan mereka.
Bukan apa sebenarnya jantung Radit begitu aneh bila di dekat Maura. Entah mengapa sejak pertemuannya di bandara beberapa waktu lalu wajah Maura selalu memenuhi fikirannya. Walau tak mengetahui siapa Maura di awal hingga akhirnya Radit mengetahui Maura sebagai karyawan di perusahaan keluarga nya.
"Ish anak itu. Eh, ayo Lala masuk. Ibu ada di kamarnya selalu murung." Bunda Diana.
Maura pun mengikuti Bunda Diana ke dalam dan langsung menuju ke kamar Oma Mia. Bunda Diana mengetuk pintu kamar yang berada di dekat anak tangga dengan perlahan.
"Ibu, Diana ijin masuk ya." Ucap Bunda Diana sambil membuka perlahan pintu kamar tersebut.
"Masuklah Diana. Ada apa?" Tanya Oma Mia yang terlihat sedang duduk di sofa dan pandangannya tak lepas dari taman yang berada di balik jendela kamarnya.
"Ibu, lihat siapa yang datang menjenguk Ibu." Ucap Bunda Diana membuka pintu kamar lebar-lebar.
Oma Mia menoleh ke arah pintu dan betapa terkejutnya ketika dirinya melihat sosok yang di rindukannya.
"Lala..."
"Selamat sore Oma.." Sapa Maura tersenyum dan menunduk.
Oma Mia tak menjawab sapaan Maura melainkan bangkit dari duduknya dan menghambur memeluk Maura. Oma Mia memang belum mengetahui jika Maura sudah bercerai. Oleh karena itu Oma Mia begitu mencemaskan Maura karena Oma takut jika Maura mendapatkan kekerasan dari suaminya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Oma Mia.
"Lala baik Oma. Oma gimana keadaannya? Katanya Oma kurang sehat ya?" Maura.
"Oma sangat mengkhawatirkan kamu nak. Apa suami kamu tidak macam-macam?" Tanya Oma Mia.
Maura terkejut dengan pertanyaan Oma Mia dirinya kemudian tersenyum dan melirik ke arah Bunda Diana. Maura kembali memeluk Oma Mia dengan erat.
"Oma kenapa berfikir seperti itu?" Maura.
"Entahlah Oma tiba-tiba saja merasa kamu sedang tidak baik-baik saja. Suami kamu macam-macam lagi?" Tanya Oma Mia lagi.
"Tidak Oma. Kami sudah berpisah beberapa bulan yang lalu. Semuanya berjalan lancar karena memang mungkin tak seharusnya kami bersama." Maura.
"Syukurlah... Eh, maaf Oma malah senang kamu bercerai." Oma Mia.
"Hahaha... Oma lucu. Iya Oma tidak masalah. Dari awal pernikahan kami memang sepertinya salah." Maura.
"Ini mau cerita sambil berdiri aja nih Bu? Ngga mau ajak tamu nya duduk gitu." Canda Bunda Diana.
"Astaga Diana. Kenapa baru di ingatkan. Ayo minta Bibi ambil minuman dan cemilan."
"Ayo Lala kita bicara di ruang keluarga saja." Ajak Oma Mia.
Bunda Diana hanya tersenyum melihat tingkah Oma Mia. Kemudian Oma Mia mengajak Maura duduk di sofa ruang keluarga dan Bunda Diana ke dapur untuk meminta Bibi menyiapkan jamuan untuk Maura.
Lanjut ya...