Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.
mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Aku mohon
Kesekian kalinya, Agha pingsan dan berakhir dengan dia di infus. Tapi kali ini Agha sadarnya lama, sudah lebih dari tiga jam Agha belum bangun juga begitu juga dengan jet pribadi milik keluarga Harrison belum tiba karena datang dari Italia habis antar Harding tapi di undur langsung ke Indonesia, jadi jarak dari Italia ke Malaysia lumayan lama. Sambil menunggu jet pribadi datang, mereka juga menunggu Agha sadar dari pingsannya.
Penjelasan dokter Agha kekurangan istirahat dan kekuatan nutrisi, mengingat Agha yang beberapa hari ini emang kurang istirahat sebab mulai mengurus kasus kecelakaan Alicia dan kerjaan yang mengharuskan dirinya tetap hadir walaupun online.
Abah memutuskan memakai jet pribadi karena membawa jenazah dari luar negeri ke Indonesia prosesnya sangat ribet, jika tidak pakai maka bisa sampai dua hari baru bisa sampai ke Indonesia.
Beberapa jam kemudian Agha bangun dari pingsannya langsung mencari Alicia, sebab memori di otaknya masih mengingat bahwa Alicia masih hidup.
Sebelum Abah membawa Agha, Abah bertanya terlebih dahulu ke dokter soal kesehatan Agha, akhirnya Agha hanya lepas elektroda tapi infus tetap harus di pasang dan Agha duduk di kursi roda mengingat tubuhnya belum pulih.
Sampai di dalam ruang jenazah, tepat di depan jenazah Alicia pecah tangisan Agha dan terdengar sangatlah pilu dan ada penyesalan di tangisan Agha. Ingin rasanya tangan Agha menyentuh tangan Alicia, lagi-lagi dirinya di ingatkan bahwa mereka bukan mahram.
"Alice, maafin abang. Kenapa kamu tinggalin abang, hmm?."
"Abang udah buat salah sama kamu dan abang minta maaf, jadi kembali lah Alice."
"Kamu ingatkan, hari pernikahan kita, tinggal 2 Minggu lagi loh, kamu gak mau bangun hmm."
"Alice rumah kita udah 95% untuk di tempati, tinggal orang furniture datang untuk mengantar dan menyusun furniture yang kamu inginkan."
"Kamu ingat kan Alice, akan janji kita yang akan hidup bahagia dan saling mengingatkan agar kita bisa sampai ke Jannah Allah subhanallah wa taala. Kamu ingat kan?."
"Abang mohon sama kamu, kembali Alice. Kamu tau sendiri kan gimana abang selama kamu koma dulu. Hiks, abang gak bisa terima ini Alice."
"Hiks, umah Erlan mohon bangunkan Alice umah."
"Mamak, Erlan mohon Mak, bangunkan Alice. Mamak Erlan mohon, hiks, Mak." Ucap Agha sambil menggoyangkan lengan mamak, sementara mamak dan yang lainnya sedari tadi mendengar semua perkataan Agha hanya menangis dan menangis.
"Mak, Erlan tolong kali sama mamak, bangunkan Erlan Mak. Gimana Erlan kedepannya tanpa Alice Mak, bapak kenapa diam aja, tolong bangunkan Alice pak."
"Nak Erlan, udah nak, bapak makin gak sanggup kalau kamu kayak gini." Ucap bapak sambil memeluk Agha yang masih duduk di kursi roda.
"Tapi pak, Alice cuman tidur aja, Erlan yakin itu."
"Bapak harap pun gitu nak, tapi mau gimana lagi, kenyataan berkata tidak nak."
"Pak, hiks. Bapak, Erlan gak sanggup pak hiks."
Bapak dan Agha pun saling peluk dan menangis bareng sejadinya, begitu juga dengan umah dan mamak, kalau Abah, mengelus punggung belakang Agha dan bapak guna menguatkan. Mau gimana juga dirinya terpuruk dan merasa kehilangan anak perempuannya, Alice udah di anggap anak kandungnya melebihi Agha.
"Kita semua yang sabar yah, Abah tau ini bakalan berat untuk kita semua, tapi bukannya Alice bakalan sedih melihat kita seperti ini?."
"Iya, bener yang di bilang Rafan, tapi aku udah kehilangan anak perempuan ku Rafan." Ucap bapak ke Abah.
"Aku juga gitu Dimas Alice udah kami anggap anak kandung kami dari awal pertemuan aku dan istriku di rumah mu, jadi ini sangat buat aku terpukul. Tapi jika bukan kita yang menguatkan istri dan anak-anak kita, siapa lagi Dimas."
"Bener yang kamu bilang Rafan, aku kepikiran Alice yang malah berat untuk meninggalkan kita, yang malah buat Alice gak tenang."
"Iya, setelah ini kita bawa Alice pulang ke rumah kamu, jet pribadi dan keluarga ku sudah sampai."
Setelah itu, Abah dan bapak mendatangi dokter untuk menyiapkan kepulangan Alicia ke Indonesia-Medan. Sementara Agha memaksa dirinya untuk tetap kuat dan belajar menerima keadaan, walau sambil menangis. Bahkan airmata saat ini lelah untuk keluar, karena sedari awal Agha bangun dari pingsan siang, sampai sore ini menangis terus tanpa henti, bahkan mata dan wajahnya bengkak.
"Erlan, tolong kamu pegang berkas Alice yah, bapak mau bantu mamak, udah gak sanggup jalan karna lemas badannya." Agha hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat ke arah berkas di tangannya.
"Hiks, Alice maafin abang, abang akan habisi orang yang udah buat kamu seperti ini."
Tes... Tes...
Air mata Agha turun di atas berkas yang sedang di pegangnya, sungguh kalau boleh jujur saat ini rasanya Agha ingin pingsan dan terbangun Alicia ada di hadapannya, tapi itu hanyalah khayalan nya.
"Sabar bapa Agha, saya tak kan minta anda untuk berhenti menangis, malah saya akan menyuruh anda menangis dan keluarkan semua kesedihan dan emosi kamu-."
"Tapi ingat ya hari ini je, esok anda harus lebih strong lagi, saya percaya anda bisa bangkit."
Dokter Ali bukan semata-mata berbicara seperti itu, karena sebelum Agha kehilangan, dirinya sudah kehilangan ibu nya jauh sekali sebelum yang Agha alami, orang tua satu-satunya meninggal saat dirinya masih sibuk magang di rumah sakit ini dan saat itu Agha yang di kenalnya lewat seminar waktu jaman kuliah dulu, membuat pola pikirnya berubah dari ingin mengakhiri hidupnya menjadi akan berusaha sekeras apapun untuk membuat orang sehat, dan terbentuklah dirinya yang sekarang.
"Ya, terimakasih."
"Tidak, sudah sepantasnya saya menguatkan anda. Dahulu anda yang sokong saya dari kata-kata anda waktu seminar dulu, sekarang saya yang menguatkan anda."
Agha mendengar penjelasan dokter Ali tentang dirinya yang buat dia semangat jalani hidup, kapan dia melakukannya, pikir Agha.
"Maybe anda tak ingat, sebab banyak hal yang anda kerjakan, tapi saya sangat amat ingat."
"Baiklah, tapi ini sebelum kejadian lemahnya jantung Alice, tidak ada kesalahan dalam operasi?."
"Tidak ada, saya bersumpah seratus pratus bahwa saya tidak ada melakukan kesalahan saat operasi."
"Kamu yakin?." Ucap Agha dengan nada dingin dan tatapan matanya sangat tajam melihat ke dokter Ali.
"Ya, untuk apa saya berbohong, bahkan bukan saya saja, ada dua dokter dan tiga perawat." Jawab dokter Ali dengan tegas dan membalas tatapan tajam Agha dengan tatapan penuh keyakinan.
Agha melihat dari sorot matanya dokter Kim Ali, tidak ada kebohongan atau keraguan, hanya ada kebenaran dan keyakinan serta penyesalan akan ketidak becus dirinya sebagai dokter gagal membuat kembali pasiennya.
"Bahkan saya tak pantas di sebut sebagai dokter profesional, sebab pasien saya tak selamat." Ucap lagi dokter Ali.
"Tidak, saya tidak menyalakan kamu atas kejadian ini."
"Terimakasih bapa Agha, dan saya harap anda bisa bangun dan semangat lagi tuk jalankan tugas anda, sebagai CEO. Mau bagaimana pun, ada banyak manusia yang bergantung hidup pada anda bapa Agha."
"Terimakasih, kalau gitu saya pamit pulang ke Indonesia."
"Saya akan antar anda sampai ke bandara."
"Tidak perlu, saya tau kamu sangat sibuk."
Abah dan yang lainnya masuk kedalam mobil yang mereka sewa selama di Malaysia untuk menuju bandara, sementara Agha dan dua perawat menemani di dalam mobil ambulance. Sampai di bandara keluarga Abah sudah menunggu dan langsung memindahkan jenazah Alicia ke jet pribadi, mereka pun masuk kedalam jet pribadi, setelahnya langsung terbang ke Medan.
Di bandara Kualanamu Medan, sudah ada keluarga Alicia menunggu mereka. Proses perpindahan pun berjalan lancar, tak lama mereka sampai di rumah orang tua Alicia. Isak tangis terdengar sangat memilukan, tepat Dafa di saat memeluk bapak tangisannya pecah begitu juga dengan bapak.
"Alice pak, hiks." Ucap Dafa memeluk erat tubuh bapaknya, bapak pun mengelus lembut punggung Dafa sambil nangis.
"Ikhlas yah bang, bapak pun berat sebenarnya mendapat cobaan seperti ini."
"Hiks, iya pak tapi masih gak nyangka Alice tinggalkan kita untuk selamanya, adik yang ceria dan manja ini udah gak bisa abang lihat lagi pak."
"Bang, istighfar bang. Kasih Alice kalau abang gini, lihat bapak, berusaha terima semua ini."
"Akan abang coba pak."
"Insyaallah walaupun berat, kita bisa lewati cobaan ini sama-sama, gak kita aja lihat tuh Erlan, dia udah dua kali pingsan dan hampir hilang kendali saat di rumah sakit, tapi dia tahan." Bapak bicara sambil melihat ke arah Agha yang sedang duduk dengan pandangan kosong, begitu juga dengan Dafa yang melihat itu langsung menghampiri Agha dan memeluknya.