andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Hal yang paling menjengkelkan adalah menunggu. Lebih menyiksa lagi ketika menunggu sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi sengaja dibuat rumit demi harga diri dan nama baik. Ruang rapat itu terasa pengap. Lampu neon di langit-langit memantul di meja panjang yang penuh berkas, seolah ikut menekan kepala kami semua. Tidak ada yang bicara selama beberapa detik, hanya suara napas dan derit kursi.
“Sudahlah,” ucap Pak Cipto akhirnya, memecah keheningan. Suaranya terdengar lelah, tetapi tegas. “Yang harus kita lakukan sekarang adalah pengamanan superketat pada empat belas orang itu. Dan Romi harus memberi tahu siapa saja calon target selanjutnya.”
Aku melihat Pak Nurdin menoleh ke arah Romi. Tatapan itu penuh curiga. Romi sendiri duduk santai, punggungnya bersandar, tangan terlipat di dada, seolah rapat ini bukan tentang hidup dan mati. Dari sorot mata Pak Nurdin, aku tahu ia yakin Romi menyimpan banyak nama. Nama-nama yang selama ini dilindungi.
“Pak Romi,” kata Pak Nurdin pelan namun mengandung tekanan. “Katakan siapa saja target selanjutnya.”
“Tentu saja aku tahu,” jawab Romi ringan.
Kalimat itu membuat suasana langsung berubah. Udara terasa lebih berat. Pak Sunarji mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyala marah. “Kalau tahu, kenapa kamu menyembunyikannya?” tanyanya tajam. Nada suaranya seperti orang yang sedang menginterogasi musuh, bukan kawan lama.
Aku hanya menyaksikan mereka dengan perasaan jengah. Debat kusir lagi. Selalu begitu. Padahal jalan keluarnya jelas. Tangkap empat belas pelaku perundungan Nirmala. Bukti ada. Saksi ada. Tetapi semua macet karena satu alasan yang sama. Mereka anak orang kaya dan berkuasa.
“Katakan, Pak Romi,” desak Pak Nurdin. “Jangan bertele-tele.”
Romi tersenyum tipis. Senyum yang tidak membawa kehangatan apa pun. “Pertama, calon korban adalah para pelaku itu sendiri, empat belas orang. Kedua, seluruh anggota polisi. Ketiga, seluruh pegawai kejaksaan. Keempat, seluruh jurnalis. Kelima, seluruh pengacara, jaksa, dan hakim.”
“Stop,” bentak Pak Nurdin sambil menghantam meja. Gelas air bergetar. “Omong kosong kamu, Romi.”
Untuk pertama kalinya Pak Nurdin terlihat benar-benar marah. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras. Pak Haris langsung menimpali dengan nada dingin. “Sudah, Pak. Tetapkan saja Romi sebagai tersangka. Publik perlu ditenangkan.”
Dadaku langsung terasa sesak. Aku bertanya-tanya, dosa apa yang kulakukan di masa lalu sampai harus punya atasan seperti Pak Haris. Menetapkan orang sebagai tersangka hanya demi menenangkan publik. Bukan demi kebenaran.
“Kalau pelakunya benar Nirmala,” ujar Pak Cipto ragu, “institusi kita akan terlihat buruk. Kita sudah mengeluarkan pernyataan resmi sebelumnya.”
Aku menunduk, menahan amarah. Lagi-lagi soal citra. Terus berbohong, menutup laporan palsu dengan kebohongan baru. Seolah nama institusi lebih penting daripada nyawa manusia. Rasanya memalukan.
“Oh, silakan tetapkan saya sebagai tersangka,” ucap Romi tenang. “Tapi apakah ada jaminan teror ini akan berakhir?”
Pak Haris langsung berdiri. Kursinya terhempas ke belakang. “Teror ini akan berakhir kalau kamu ditangkap. Kamu otaknya. Aku yakin jika kamu diamankan dan semua komunikasi diputus, teror akan berhenti.”
Aku melihat Romi ikut berdiri. Ia merogoh saku jaketnya, lalu berjalan pelan ke arah meja rapat. Setiap langkahnya terdengar jelas. Ia mengeluarkan dua ponsel dan meletakkannya di atas meja. Setelah itu, ia mengulurkan kedua tangannya ke depan, sejajar dada.
“Tetapkan saya sebagai tersangka,” katanya mantap. “Kurung saya kalau itu bisa menghentikan teror ini. Saya datang ke sini bukan untuk membersihkan nama baik saya yang dicap polisi pelanggar HAM. Saya juga bukan datang untuk mencari keadilan bagi Nirmala.”
Ia berhenti sejenak. Matanya menyapu ruangan. “Saya datang karena peduli. Saya punya banyak usaha. Kalau kondisi tidak aman, ribuan karyawan saya bisa kehilangan pekerjaan.”
Romi menarik napas panjang. “Tangkap saya,” ucapnya tegas.
“Zaki,” kata Pak Cipto dengan suara berat. “Tangkap orang ini dan amankan.”
Aku terpaku. Ironis. Orang yang ingin membantu justru dijadikan tersangka. Dadaku terasa panas, amarahku akhirnya meledak.
“Ini omong kosong, Pak,” kataku lantang sambil berdiri. Semua mata langsung tertuju padaku. “Saya lebih setuju kita tangkap empat belas anak itu dan interogasi mereka. Keberadaan Nirmala jauh lebih penting daripada menyelamatkan citra institusi. Jangan menetapkan tersangka hanya karena tekanan publik.”
Aku mengepalkan tangan. “Kalau saya harus dipecat karena bicara jujur, silakan. Saya muak mendengarnya.”
“Sama, saya juga muak. Saya lebih setuju dengan Pak Romi. Tangkap dan interogasi para pelaku perundungan Nirmala beserta orang tua mereka. Kita punya segala dasar untuk melakukan itu,” ucap Zaki lantang. Suaranya menggema di ruang rapat yang sejak tadi dipenuhi kebohongan. “Fasilitas yang kita gunakan ini dibiayai dari uang rakyat. Seharusnya keselamatan rakyat berada di atas segalanya, bukan ketakutan pada orang-orang kaya dan berkuasa yang bahkan sering menunggak pajak. Menetapkan Pak Romi sebagai tersangka adalah sebuah kebodohan.”
Aku menoleh ke arahnya. Untuk pertama kalinya sejak kami seangkatan, aku benar-benar bangga punya teman seperti Zaki. Ada keberanian di matanya, keberanian yang jarang muncul di ruangan ini.
Namun Pak Sunarji segera berdiri, wajahnya tegang. “Pak Nurdin, tekanan publik semakin tinggi. Mereka menuntut kita bersikap tegas. Kita harus segera mengumumkan tersangka, dan Romi adalah pilihan yang paling tepat,” katanya dingin. “Pak Darmawan adalah orang yang memecat Romi. Ditambah lagi hubungan Romi dengan ibu Nirmala. Itu sudah cukup kuat.”
“Benar,” sahut seseorang. “Kita harus menyelamatkan institusi.”
Pak Haris mengangguk cepat. “Satu jam sudah berlalu. Tidak ada kode baru, tidak ada target selanjutnya. Yang kita butuhkan sekarang adalah pelaku, dan yang paling pas adalah Pak Romi.”
Aku menghela napas keras. Dalam hati aku bertanya, dosa apa yang sudah kulakukan sampai harus bekerja di bawah pimpinan seperti ini. Semua logika dibengkokkan demi citra.
Pak Haris mendekat ke Romi. “Romi, kita butuh seseorang sebagai tersangka. Tenang saja, aku akan meringankan hukumanmu.”
Romi menatapnya lurus, tanpa gentar. “Tetapkan saja,” ucapnya tenang. “Jika itu memang bisa menghentikan teror.”
Dua orang anggota menghampiri Pak Romi dengan langkah ragu. Keduanya masih muda, wajah mereka tegang, tangan gemetar saat mengeluarkan borgol. Mereka adalah anggota yang baru lulus, masih polos, hanya mengenal satu hal dalam seragam ini yaitu patuh pada perintah. Tanpa berani menatap mata Romi, mereka menggenggam pergelangannya. Bunyi klik borgol terdengar keras, memantul di ruang rapat yang mendadak sunyi, seolah menjadi vonis.
Pada detik yang sama, televisi di sudut ruangan menampilkan breaking news. Entah siapa yang menaikkan volumenya, namun suara itu tiba-tiba memenuhi ruangan, menembus keheningan yang mencekik.
Seorang reporter berdiri di tengah sebuah mal yang masih dipenuhi lampu terang dan orang-orang panik berlalu-lalang. Wajahnya tegang, suaranya bergetar menahan kepanikan. “Lagi dan lagi terjadi teror. Seorang pengacara terkenal, Heri Sumitro, tewas ditembak sniper. Di lokasi lain, dua orang polisi aktif juga dilaporkan tewas setelah ditembak dari jarak jauh,” ucapnya cepat.
Beberapa orang di ruang rapat saling menatap, napas mereka tertahan.
Reporter itu melanjutkan, “Pesan kembali bermunculan dengan kode satu jam satu nyawa. Kondisi ini semakin buruk dan negara dinilai belum serius menanggapi teror ini.”
Layar televisi berganti. Gambar mayat bersimbah darah di sebuah kafe muncul tanpa ampun. Kursi terbalik, kaca pecah, darah mengalir di lantai.
Tak ada satu pun yang berbicara. Semua tertegun.
Teror itu nyata. Dan kini semakin dekat.
Satu jam, satu nyawa.