NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singkong Bakar

Tanpa benar-benar menyadarinya, langkah Wu Zetian terus bergerak hingga akhirnya ia berdiri tepat di depan rumah sederhana itu. Rumah yang tampak jauh lebih kecil dibandingkan rumah yang kini ia tempati, namun justru terasa lebih hidup. Pagar kayunya sudah lapuk dimakan usia. Beberapa bagian miring, beberapa lainnya retak dan hampir patah. Namun halaman kecil di depannya tampak bersih. Tidak ada daun kering yang menumpuk. Tanahnya disapu rapi, seolah pemilik rumah itu masih berusaha merawatnya semampu yang ia bisa, meski tubuhnya sendiri mungkin sudah tak lagi kuat.

Wu Zetian berdiri ragu di sana selama beberapa detik. Tangannya mencengkeram ujung bajunya sendiri, jantungnya berdebar pelan. Ia tidak tahu mengapa langkahnya membawanya ke sini. Mungkin karena rasa lapar atau mungkin karena rasa kasihan dan kerinduannya kepada kakeknya di desa.

Kakek tua itu masih duduk di bangku kayu di depan rumah. Tubuhnya bongkok, punggungnya melengkung, seolah membawa beban bertahun-tahun penderitaan. Rambutnya memutih seluruhnya, tersisir rapi meski sederhana. Tangannya bertumpu pada lutut, sementara matanya menatap halaman dengan sorot yang tenang namun kosong, seolah pikirannya melayang jauh ke masa lalu.

Wu Zetian menarik napas pelan. Ia tidak ingin mengejutkan kakek itu.

“E-erm… permisi, Kek,” sapanya lirih namun sopan.

Suara itu membuat kakek tua tersebut menoleh perlahan. Gerakannya tidak tergesa-gesa, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan waktu. Saat pandangannya bertemu dengan Zetian, raut wajahnya berubah sedikit. Ada keterkejutan kecil, namun lebih banyak kehangatan yang muncul.

Wajahnya penuh keriput, garis-garis halus dan dalam yang menceritakan usia serta kerasnya kehidupan. Namun sorot matanya terlihat hangat dan jernih. Tidak setajam orang istana, tidak pula penuh perhitungan. Ia tersenyum kecil, senyum sederhana yang membuat hati Zetian terasa sedikit lebih ringan.

“Ada apa, Nak?” ucapnya ramah.

Sapaan sederhana itu membuat dada Zetian terasa menghangat tanpa alasan yang jelas. Sudah lama sekali ia tidak mendengar seseorang memanggilnya “Nak” dengan nada seperti itu. Bukan sebagai formalitas, bukan sebagai basa-basi, melainkan sebagai panggilan tulus.

“Aku… aku tinggal di rumah sebelah,” katanya gugup. “Aku baru saja datang ke sini, dan melihat kakek sendirian…”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Namun kakek itu seolah mengerti.

Kakek tua tersebut terkekeh kecil, suara tawanya pelan namun jujur.

“Begitu rupanya.”

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung. Wu Zetian menggigit bibirnya, lalu akhirnya teringat sesuatu yang seharusnya ia katakan sejak awal.

“Oh iya, Kek… namaku Wu Zetian,” ucapnya setelah terdiam beberapa detik.

Kakek itu mengangguk pelan, lalu tersenyum lebih lebar.

“Nama yang bagus,” katanya tulus. “Nama kakek, Zhou.”

“Kakek Zhou…” Zetian mengulang pelan, seolah ingin mengingat nama itu baik-baik.

Ia ragu sejenak sebelum akhirnya bertanya, “Kakek… tinggal sendirian di sini?”

Pertanyaan itu membuat senyum di wajah Kakek Zhou memudar sedikit. Ia menghela napas panjang, dadanya naik turun perlahan. Namun raut wajahnya tetap tenang, tidak ada kemarahan atau kesedihan berlebihan.

“Sudah lama,” jawabnya akhirnya. “Kakek tak punya keluarga disini. Hidup seadanya dan bergantung hidup dengan pemberian cucu kakek ketika ia datang menjenguk kemari.”

Nada bicaranya datar. Terlalu datar. Seolah kesepian dan kehilangan telah menjadi bagian dari hidupnya, bukan sesuatu yang perlu disesali lagi.

Wu Zetian menunduk. Dadanya terasa sesak.

“Maaf, Kek,” lirihnya. Ia merasa bersalah telah menyinggung luka lama seseorang yang baru ia temui.

Kakek Zhou tersenyum kecil dan menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa, Nak. Kakek sudah terbiasa hidup seperti ini.”

Jawaban itu justru terasa lebih menyakitkan.

Beberapa detik setelah itu, Wu Zetian tiba-tiba teringat tujuan awalnya. Ia mengangkat kepala, matanya sedikit berbinar oleh harapan kecil.

“Sebenarnya… saya ke sini karena butuh bantuan, Kek,” katanya jujur. “Saya menemukan singkong di halaman rumah, tapi saya tidak punya alat untuk mencabutnya.”

“Oh?” Mata Kakek Zhou sedikit berbinar. Untuk sesaat, wajahnya tampak lebih hidup. Ia meletakkan kedua tangan di bangku, lalu bangkit perlahan. Tubuh tuanya tampak kaku dan gemetar, seolah setiap gerakan membutuhkan usaha lebih.

“Kakek… biar aku saja yang cari, cukup katakan saja letaknya,” Zetian refleks berkata, khawatir melihat kondisinya.

Namun Kakek Zhou hanya tersenyum dan melambaikan tangan.

“Tidak apa-apa, Nak. Tunggu sebentar.”

Ia berjalan tertatih ke dalam rumah. Zetian berdiri cemas di tempatnya, menatap punggung kakek itu hingga menghilang di balik pintu. Tak lama kemudian, Kakek Zhou kembali sambil membawa sebuah kayu panjang dengan ujung besi bergerigi. Alat itu tampak tua, namun masih kokoh.

“Ini,” ucapnya sambil menyerahkan alat itu dengan kedua tangan. “Ini akan memudahkanmu mencabut singkong.”

Wu Zetian menerimanya dengan hati-hati. Tangannya sedikit bergetar. Entah karena tubuhnya lemah, atau karena perasaan yang mengaduk di dadanya.

“Terima kasih banyak, Kek,” katanya tulus. “Saya akan segera mengembalikannya nanti.”

Kakek Zhou menggeleng pelan.

“Tak perlu terburu-buru.”

Zetian terdiam sejenak, lalu sebuah pertanyaan keluar begitu saja dari mulutnya, tanpa sempat ia tahan.

“Kek…” katanya pelan. “Kakek sudah makan hari ini?”

Kakek Zhou tersenyum kecil. Namun senyum itu terasa pahit.

“Belum, Nak,” jawabnya jujur. “Tak ada makanan sama sekali di rumah.”

Jawaban itu menusuk hati Zetian.

Dadanya terasa nyeri. Ia teringat dirinya sendiri. Lapar, lemah, dan sendirian. Perasaan itu terlalu mirip.

“Kalau begitu…” Zetian berkata cepat, seolah takut kakek itu menolak. “Bagaimana kalau kakek makan bersama saya nanti?”

Kakek Zhou terdiam.

“Saya akan membakar singkong,” lanjut Zetian dengan suara sedikit gugup. “Tidak mewah, tapi… setidaknya bisa mengenyangkan.”

Beberapa detik terasa sangat panjang. Lalu Kakek Zhou mengangguk pelan.

“Kalau begitu… kakek akan menunggu.”

Hati Zetian terasa menghangat.

---

Beberapa menit kemudian

“KEEEEEKKK!”

Suara ceria itu memecah keheningan sore.

Wu Zetian datang berlari kecil dari arah rumahnya, langkahnya tidak terlalu cepat karena tubuhnya masih lemah, namun wajahnya berseri. Di tangannya, beberapa singkong segar ia angkat tinggi-tinggi dengan penuh kebanggaan.

“Berhasil, Kek! Lihat!” serunya cerah.

Kakek Zhou tertawa kecil. Tawa yang jarang keluar. Matanya berbinar melihat semangat Zetian.

“Hebat sekali, Nak,” katanya sambil mengacungkan jempol.

Zetian tersenyum lebar. Rasa bangga kecil mengembang di dadanya, perasaan sederhana yang sudah lama tidak ia rasakan.

Tak lama kemudian, mereka menyalakan api kecil di halaman. Zetian menggunakan kayu bakar milik Kakek Zhou. Api menyala pelan, lidah-lidah api kecil menari di antara kayu kering. Asap tipis membumbung ke udara sore yang mulai sejuk.

Singkong-singkong itu dibakar perlahan. Aroma khas singkong bakar menyebar, sederhana namun menggoda.

Saat akhirnya matang, mereka duduk berdampingan. Tidak ada lauk. Tidak ada garam. Hanya singkong bakar hangat di tangan mereka.

Namun rasanya terasa jauh lebih nikmat dari yang pernah Zetian bayangkan.

Kakek Zhou mengunyah perlahan, lalu berhenti sejenak. Matanya berkaca-kaca.

“Terima kasih, Nak,” ucapnya lirih. “Kakek sudah tiga hari tak makan. Badan kakek sudah terlalu tua dan lelah untuk mencari makan.”

Wu Zetian menunduk. Dadanya terasa hangat sekaligus perih.

“Sama-sama, Kek,” jawabnya pelan. “Saya juga sangat bahagia karena bisa bertemu dengan kakek.”

Ia menggenggam singkong di tangannya erat-erat.

“Setidaknya…” gumamnya dalam hati.

“Setidaknya aku tidak benar-benar sendirian di dunia yang asing ini.”

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini,

Wu Zetian merasa… ia masih memiliki tempat untuk berpijak.

---

Yuhuuuu~

Yeayyy sudah 4 chapter hari ini 🎉

Semoga kalian suka ya, teman-teman.

Jangan lupa like, komen, vote, dan subscribe 💖

Sampai jumpa besok 🌙

1
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!