Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sepuluh
Setelah beberapa minggu dari kejadian mereka bertengkar sampai kembali baikan dan Ryan selalu antar jemput Dahlia kini kembali ke setelan awal. Di mana kadang di jemput, kadang di antar, Dahlia sudah kembali mandiri jika Ryan tidak bersamanya.
Namun sampai detik ini sikap Pak Adnan terhadapnya masih sama, dingin dan cuek. Pak Adnan sangat menjaga jarak darinya.
Seperti siang ini, mereka bertemu hendak memasuki lift yang tengah terbuka. Pak Adnan segera mengurungkan langkah saat Dahlia lebih dulu masuk dan menahan pintu lift untuk Pak Adnan. Namun apa yang terjadi, Pak Adnan berlalu pergi begitu saja.
Lalu di mereka kembali bertemu di depan toilet, pada saat mereka sama-sama melangkah dari arah belakang tubuh Dahlia ada troli yang berisi perlengkapan kebersihan yang menabrak tubuh belakang Dahlia. Dahlia jatuh dan mengenai Pak Adnan, sungguh di luar dugaan, laki-laki itu tidak menangkap tubuhnya hingga bokongnya mencium lantai dengan sangat kencang.
"Awww...."
Dahlia meringis tapi Pak Adnan tidak peduli, dia langsung menutup pintu toilet.
Dahlia mencoba bangun dibantu OB perempuan yang ada di sana.
"Coba cek dulu, mbak, siapa tahu ada yang luka."
"Nggak apa-apa, cuma nggak ada yang luka kok."
Lalu Dahlia segera masuk ke dalam toilet, mengecek bokongnya yang terasa sangat sakit. Ada warna memar di sana dan dia harus bisa menahannya.
Ada air mata yang menetes, entah karena sakit atau karena sikap Pak Adnan kepadanya.
"Belum di jemput?."
"Aku pulang sendiri."
"Terus nggak mau pulang?."
"Mau tapi bentar lagi."
Dahlia sengaja mengundur waktu pulangnya supaya tidak bertemu Pak Adnan. Dia tidak mau menunjukkan rasa sakit apalagi wajahnya di hadapan Pak Adnan.
Barulah setelah pukul tujuh malam Dahlia keluar dari lift dan sebentar menunggu taksi di lobi. Seketika matanya bertemu pandang dengan Pak Adnan yang masih duduk di sofa lobi sambil memegangi ponsel.
Lalu Pak Adnan bangkit saat ada kendaraan yang sudah dipesannya yang tanpa disadarinya Dahlia sudah lebih dulu di sana.
Kembali mata mereka bertemu namun Pak Adnan yang lebih dulu memutusnya.
"Atas nama siapa, Pak, yang memesan taksi ini?."
Dahlia menatap supir.
"Atas nama Adnan Wijaya."
"Maaf, aku salah."
Sambil meringis kencang Dahlia mengangkat bokongnya hendak turun dari mobil.
"Tetaplah duduk di sini, biar aku yang keluar."
Dahlia kembali duduk di tempatnya dan Pak Adnan turun walau itu mobil yang sudah dipesannya.
Mobil melaju membawa Dahlia dalam perjalanan pulang. Mobil berhenti karena lampu merah dan dia mengusap-usap bokongnya yang sakit. Secara kebetulan dia menangkap sosok suaminya bersama Liana memasuki gedung apartemen.
Dengan menahan rasa sakit dia keluar dari mobil dan mengikuti ke mana suaminya pergi. Bukan tidak percaya hanya saja dia ingin tahu kebenarannya.
Dahlia kehilangan jejak karena langkahnya terhambat rasa sakit. Dia tidak putus asa dengan mendatangi penjaga yang sedang bertugas.
"Apa ada pemilik atau penyewa apartemen ini atas nama Ryan atau Liana, Pak?."
"Coba aku cek."
Menunggu sebentar setelahnya dia mendapatkan nomor unit apartemen milik Liana dengan mudah karena Dahlia mengaku seorang pekerja yang diminta datang ke sana namun lupa menanyakan alamat lengkapnya.
Jika kemarin dia hanya diam di depan pintu kamar hotel, menebak-nebak apa yang terjadi di dalam yang ternyata tidak sesuai pikirannya.
Dia pun mengetuk pintu lalu menekan bel yang ada di sana. Cukup lama dia menunggu, sebuah tekad besar memenuhi hatinya. Lalu dia mencoba membuka pintu dan sangat berharap tidak dikunci.
Keberuntungan memihak padanya, tanpa permisi dengan raut wajah penuh kesakitan dia menerobos masuk mencari kebenaran. Di sana di atas sofa dia menemukan suaminya tanpa busana sedang berada di atas tubuh polos Liana dengan posisi menungging.
Tangan gemetar meraih ponselnya, merekam aksi kedua orang itu yang sama-sama sampai pada klimaks tanpa menyadari keberadaannya.
"Aku nggak akan salah paham lagi, mas."
Liana dan Ryan sama membalik tubuh mereka dan menatap Dahlia.
"Dahlia?."
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, mas, jadi aku nggak akan salah paham lagi."
"Ini nggak seperti yang kamu lihat, sayang."
Dahlia menyeret kakinya untuk pergi walau Ryan terus menahan dan memohonnya untuk mendengar penjelasan mereka berdua.
Dahlia berhasil pergi, Ryan di tahan perintah Liana yang memintanya untuk tetap bersamanya dan membiarkannya pergi.
Sambil berurai air mata Dahlia mendatangi rumah Pak Adnan. Membawa luka hati yang jauh berkali-kali lipat dirasakannya. Ingin membagi dan bercerita pada Pak Adnan yang selalu ada untuknya, menebalkan wajah lalu dia akan meminta maaf.
Namun rupanya tidak semudah itu. Setibanya di sana, Dahlia tidak berani mendekat, dia melihat ada mantan istri dan anak-anaknya Pak Adnan. Mereka sedang tertawa bahagia layaknya seperti keluarga utuh. Dahlia memutar tubuhnya dan pergi dari sana. Tidak mau menjadi perusak kebahagiaan orang lain.
Hotel, di sini Dahlia saat ini. Merenung dan menangis sekencang-kencangnya. Dia merutuki kebodohannya yang begitu mudah mempercayai mereka. Tubuh Dahlia terkapar di atas lantai kamar mandi yang sangat dingin.
Kembali pada Pak Adnan, setelah pulang anak-anak dan mantan istrinya ke hotel. Dia segera mengecek CCTV setelah anak pertamanya mengatakan untuk selalu hati-hati karena sepertinya dia melihat ada penyusup. Takutnya pencuri atau penjahat yang mengincar keselamatannya.
Dahlia?. Untuk apa dia ke sini?. Kenapa nggak meneleponnya kalau memang penting?.
Pak Adnan memperbesar layar dan melihat jelas keadaan Dahlia yang sangat berantakan dengan jalan yang terpincang-pincang. Ada perasaan bersalah yang mengoyak hatinya, dia pun segera menghubungi Dahlia namun tidak ada respon.
Keesokan paginya.
Dahlia tidak masuk kantor, Pak Adnan yang tadinya cuek dan dingin kini kembali mengkhawatirkan keadaan Dahlia. Dia berusaha mencari keberadaan Dahlia melalui CCTV yang ada di beberapa titik yang ada di jalan. Akhirnya dia menemukan tempat Dahlia.
Sempat mengalami kesulitan karena Dahlia tidak ada membuka pintu kamar, karena nama besar dan kepentingannya dia berhasil masuk dan menemukan Dahlia sudah tidak sadarkan diri di atas lantai.
"Bagaimana keadaannya?."
"Lukanya masih aman, bisa diobati dan akan hilang dengan cepat. Tapi mungkin dia mengalami sakit di dalam pikirannya."
"Iya."
"Aku akan menyuruh pelayan hotel membawakan obatnya, kamu bisa membantu mengobatinya."
Pak Adnan mengecek barang-barang yang ada di dalam tas Dahlia, tidak ada apa-apa yang mencurigakan. Dia duduk di samping Dahlia yang sebentar lagi akan sadar.
"Pak Adnan."
Setelah membuka mata dan menemukan laki-laki itu ada di sana bersamanya.
"Bokongmu harus diobati."
Dahlia segera menggeser pelan tubuhnya karena rasa sakit yang luar biasa. Menarik ke atas pakaian bagian atasnya hingga memperlihatkan bokongnya yang memar.
Sangat pelan-pelan Pak Adnan mengoleskan salep pada luka lebam Dahlia sambil beberapa kali menelan saliva.
Lalu Dahlia kembali ke posisi semula, tubuh telentang tanpa menurunkan lagi ke pakaiannya.
"Sentuh aku sesukamu, Pak, aku mengizinkanmu."