Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Yudiz baru saja pergi ke kantin untuk membelikan bubur hangat karena Rani mengeluh lapar, meninggalkan Rani sendirian. Namun, yang datang bukanlah Yudiz dengan senyum tenangnya, melainkan sosok wanita paruh baya dengan pakaian syar'i yang kaku dan tatapan yang lebih tajam dari sembilu.
Nyai Salmah berdiri di depan ranjang Rani. Ia tidak bertanya tentang kabar atau rasa sakit di kepala Rani.
Matanya justru menatap jijik pada tangan Rani yang digips dan rambutnya yang berantakan karena tidak memakai hijab.
"Masih belum ingat juga siapa suamimu?" suara Nyai Salmah terdengar dingin, bergema di ruangan yang sempit itu.
Rani mengernyit. Ia merasa sangat mengenali wajah ini, wajah yang selalu muncul dalam kilasan bayangan "istighfar" yang menghakiminya di pondok. Rasa tidak suka itu muncul secara insting.
"Saya tidak kenal Anda. Dan saya tidak suka cara Anda menatap saya. Keluar dari kamar ini sekarang," jawab Rani dengan nada ketusnya yang khas.
"Keluar? Kamu tahu siapa yang membiayai rumah sakit ini? Siapa yang menanggung malu karena ulah konyolmu di sirkuit itu? Anakku, Yudiz! Dan kamu justru menghinanya sebagai 'Tuan Sumbangan' di depan orang-orang?"
Nyai Salmah melangkah lebih dekat, membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan Rani.
"Dengar, Rani. Kamu itu hanya beban. Kamu tidak bisa masak, tidak bisa menjaga lisan, dan sekarang kamu malah membuat Yudiz mengabaikan tugasnya di pesantren hanya untuk menunggu perempuan yang tidak tahu diri sepertimu. Kamu harus menceraikan anakku!"
Rani tertegun. Kata-kata "ceraikan" itu menghantam jantungnya dengan keras, memicu denyut nyeri di kepalanya.
"Hanya Laila yang pantas menjadi istri Yudiz," lanjut Nyai Salmah tanpa ampun.
"Dia suci, dia mengerti agama, dan dia tidak akan pernah mempermalukan suaminya dengan cara jatuh di lumpur sirkuit seperti binatang."
Deg!
Kepala Rani serasa dipukul palu godam. Sebutan "Laila" dan penghinaan itu memicu sebuah pintu memori yang terkunci paksa.
Ia teringat kejadian di aula pondok, ia teringat Laila yang menawarkan diri menjadi istri kedua... dan ia teringat rasa sesak saat Nyai Salmah lebih membela Laila daripada dirinya yang saat itu sedang terluka karena santan.
"Laila..." gumam Rani. Nafasnya mulai memburu.
"Dia yang mau jadi istri kedua itu, kan?"
Nyai Salmah terkejut karena Rani mulai mengingat.
"Iya! Dan Yudiz akan jauh lebih bahagia bersamanya daripada denganmu yang amnesia dan kasar!"
Rani mengepalkan tangan kirinya. Air mata mulai mengalir di pipinya yang pucat, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang meledak.
"Kalau dia sehebat itu, kenapa Yudiz menolaknya di depan pintu?!" bentak Rani dengan suara serak.
"Kenapa anakmu lebih memilih nungguin 'perempuan kasar' ini sampai nggak tidur?!"
"Kamu—"
"KELUAR!!" teriak Rani histeris.
Ia menyambar gelas plastik di sampingnya dan melemparnya ke arah Nyai Salmah.
"Pergi kamu! Aku nggak peduli kamu siapa! Jangan bawa-bawa nama Laila di depanku!"
Di saat yang sama, pintu terbuka kasar. Yudiz berdiri di sana dengan wajah pucat, menjatuhkan kantong makanan yang ia bawa.
Ia melihat ibunya yang tampak murka dan Rani yang sedang menangis histeris sambil memegang kepalanya yang kesakitan.
"Umi?! Apa yang Umi lakukan di sini?" Yudiz berlari menghampiri Rani, mencoba mendekap istrinya yang sedang meronta.
"Yudiz, lepaskan dia! Perempuan ini sudah tidak tertolong adabnya!" seru Nyai Salmah.
Yudiz menoleh pada ibunya dengan tatapan yang sangat kecewa.
"Umi, aku mohon. Cukup. Jika Umi ke sini hanya untuk menyakiti Rani, lebih baik Umi pulang. Aku yang akan mengurus istriku."
"Kamu mengusir Umi demi dia?!"
"Aku tidak mengusir Umi. Aku hanya sedang menjaga harga diriku sebagai suami. Pulanglah, Umi. Sebelum aku mengatakan hal-hal yang akan membuatku berdosa pada Umi."
Nyai Salmah menghentakkan kakinya dan keluar dengan penuh amarah.
Di dalam kamar, Rani masih terisak. Ia memegangi kemeja Yudiz dengan erat, sebuah gerakan refleks yang menunjukkan bahwa jauh di lubuk hatinya, ia tahu siapa tempatnya bersandar.
"Abi..." bisik Rani pelan, hampir tak terdengar.
Yudiz membeku. Ia menatap Rani dengan mata berkaca-kaca.
"Rani? Kamu panggil apa tadi?"
Rani mendongak, matanya yang basah menatap Yudiz.
Memorinya memang belum kembali seutuhnya, tapi rasa sakit hati karena Laila dan pembelaan Yudiz tadi membuat satu kepingan puzzle kembali.
"Tuan sumbangan, kenapa kamu mau bertahan sama aku yang bikin kamu malu?" tanya Rani lirih.
Yudiz mencium kening Rani dengan lembut, cukup lama hingga tangis Rani mereda.
"Karena di sirkuit ataupun di rumah sakit, garis finish-ku cuma satu, Rani. Yaitu kamu."
Tangisan Rani pecah, bahunya berguncang hebat di dalam pelukan Yudiz.
Suara isakannya terdengar begitu menyayat hati, memenuhi ruang rawat yang seketika terasa menyesakkan.
"Abi, kita cerai saja. Tidak ada yang suka sama aku," bisik Rani di sela tangisnya. Suaranya serak, nyaris hilang tertelan duka.
"Umi benar, Laila lebih pantas. Aku hanya buat kamu malu, Abi. Aku tidak bisa apa-apa, aku cuma bisa balapan dan sekarang aku cuma bisa bikin kamu susah di rumah sakit."
Yudiz memejamkan mata rapat-rapat, merasakan kemejanya basah oleh air mata Rani.
Ia mengeratkan pelukannya, seolah takut jika ia melonggarkan sedikit saja, Rani akan benar-benar pergi menjauh dari hidupnya.
"Dengarkan aku, Rani. Lihat aku," Yudiz melepaskan pelukannya perlahan, namun kedua tangannya tetap membingkai wajah Rani yang sembab.
Ia memaksa Rani menatap matanya yang dalam dan tulus.
"Pernikahan bukan soal siapa yang lebih pintar masak atau siapa yang lebih disukai orang lain. Aku memilihmu bukan karena aku butuh seorang koki atau seorang hafidzah untuk dipamerkan. Aku memilihmu karena itu kamu, Rani."
"Tapi Umi—"
"Umi adalah urusanku. Aku yang menikahimu, bukan Umi. Aku yang menjalani hari denganmu, bukan mereka," potong Yudiz tegas namun lembut.
"Jangan pernah katakan kata 'cerai' lagi. Kamu tahu? Selama kamu tidur kemarin, aku tidak berhenti meminta pada Allah agar kamu bangun. Aku tidak peduli kalau kamu lupa padaku, aku tidak peduli kalau kamu memaki-makiku, asalkan kamu bangun dan bernapas."
Rani menunduk, air matanya masih menetes mengenai gips di tangannya.
"Kenapa kamu sabar sekali, Abi? Kenapa nggak cari yang lebih sempurna saja?"
Yudiz tersenyum tipis, jarinya menyapu sisa air mata di pipi Rani.
"Karena yang sempurna itu membosankan. Aku lebih suka istri yang bisa bikin dapur berasap tapi punya hati yang jujur, daripada yang tampak sempurna tapi penuh rencana jahat."
Yudiz kemudian mengambil segelas air hangat dan memberikannya pada Rani.
"Mulai hari ini, kita tidak akan kembali ke pondok dulu. Kita pulang ke rumah kita sendiri. Hanya ada aku dan kamu. Aku akan menjadi gurumu, temanmu, dan perawatmu sampai kamu ingat semuanya. Kita mulai dari nol lagi, tanpa ada gangguan dari siapa pun. Setuju?"
Rani menatap Yudiz lama. Ingatannya tentang pernikahan mereka memang masih samar dan terpotong-potong, tapi rasa hangat di dadanya saat Yudiz membelanya di depan Nyai Salmah tadi adalah bukti yang tidak bisa dibantah oleh otaknya yang rusak.
"Tapi, kalau aku tetap nggak ingat?"
"Maka aku akan membuatmu jatuh cinta padaku untuk yang kedua kalinya," jawab Yudiz mantap.