NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Ketika Lingga sampai di rumahnya, Freya baru saja selesai makan malam.

Gadis itu mematung di depan pintu kamar tamu, menatap Lingga yang baru tiba dengan senyum merekah di bibirnya.

"Hai, Freya ..." katanya ceria.

"Hai juga Mas Lingga ..." Freya membalas sambil melempar senyum manis. "Bukannya Mas sedang menangani kasus ya? Kok pulang?"

Lingga berjalan menghampiri Freya dengan langkah gagah. "Kasusnya sudah selesai dan pas tahu kamu menginap di rumahku ... aku langsung pengen pulang. Jadi ya ... aku pulang deh karena pengen ketemu kamu."

Bibir Freya membulat, wajahnya dibuat tersipu, pura-pura. Padahal dalam hatinya, ia sangat jijik mendengar ucapan Lingga. "Mas udah makan malam?" ujarnya.

"Belum, kamu sendiri?" balas Lingga bertanya balik.

"Baru saja, Mas."

"Hm, kirain belum. Tadinya aku mau minta ditemenin makan sama kamu," kekeh Lingga.

Freya ikut terkekeh. "Tapi di meja makan masih ada Bu Lastri loh, Mas."

"Ya udah. Aku ke Bunda dulu ya."

Freya mengangguk. Ia bersiap menurunkan gagang pintu kamar tamu.

"Freya tunggu!"

Niat itu terhenti, Freya menoleh. "Ada apa, Mas?"

"Nanti setelah aku makan malam ... aku ingin mengajakmu mengobrol. Kamu mau kan?"

Freya sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepala.

Senyum lebar membelah wajah Lingga.

______

Lampu kamar Pitaloka masih menyala ketika Sherly dan Bella datang menjemput. Suara ketukan pendek dan bel terdengar dari balik pintu depan apartemennya, disusul pesan masuk di ponselnya.

Sherly: Pita, kita udah di depan. Buruan, nanti keburu rame."

Pitaloka menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun hitam ketat membalut tubuhnya, rambutnya dibiarkan tergerai. Wajahnya terlihat rapi, tapi matanya kosong ... masih menyimpan beban tentang peristiwa kemarin malam.

Ia menarik napas panjang, lalu meraih tas kecil di meja. Di dalamnya, ada ponsel dan dompet.

Ia keluar kamar dan langsung disambut oleh teriakan heboh dari Sherly dan Bella.

"Nah gini dong, Pit. Jangan mikirin malam kemarin. Mari kita happy-happy, bestie!" seru Sherly merangkul pundak Pitaloka yang terbuka

"Bener, Pit. Lupain aja. Toh dipikirin juga ... keperawanan kamu nggak akan kembali lagi. Mending dinikmati saja," timpal Bella.

Mereka bertiga masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai satu.

Mobil Sherly melaju menembus jalanan malam di ibu kota. Musik dari speaker sudah berdentum sejak awal, membuat suasana terasa lebih hidup dari biasanya.

Bella duduk di kursi depan, tampak bersemangat. "Gila, malam ini aku semangat banget!"

Pitaloka tersenyum tipis dari kursi belakang. "Iya ... aku juga pengen terbiasa dugem kayak kalian. Biar stres-ku hilang."

Sherly melirik dari spion. "Nah gitu dong. Itu baru namanya bestie SherBell." Ia tertawa di akhir ucapannya.

"Oh ya, Sher ... aku butuh obat yang tadi pagi. Kamu masih punya nggak?" Pitaloka bertanya ragu-ragu.

"Ada, banyak. Nanti aku kasih. Tapi bayar ya, Pit," katanya sambil tergelak.

"Iya.. Lagian aku mau beli, bukan minta." Pitaloka mendengus kecil. Membuat Bella dan Sherly tertawa kencang.

Tak terasa, mereka sudah tiba di klub malam.

Saat ketiganya masuk, klub malam itu sudah ramai. Musik menghentak keras, membuat lantai seolah ikut bergetar.

Lampu warna-warni berpendar, memantul di wajah-wajah yang larut dalam kebebasan sementara.

Begitu masuk, Bella langsung berseru, "Yes! Akhirnya! Bisa joget-joget lagi."

Sherly menggandeng tangan Pitaloka agar tak terpisah di tengah kerumunan. Aroma alkohol dan parfum bercampur menjadi satu, membuat kepala sedikit pening bahkan sebelum minum apa pun.

Mereka bertiga menuju bar.

"Selamat datang nona-nona! Kalian mau minum apa?" tanya bartender.

"Yang biasa aja, Bang, tequila," jawab Sherly.

"Nona cantik ini?" tunjuk si bartender kepada Pitaloka.

Dan Pitaloka mengangguk. "Samain aja."

Gelas pertama datang. Pitaloka meneguknya pelan, lalu lebih cepat. Rasa panas mengalir di tenggorokan, menjalar ke dada, membuat pikirannya sedikit mengendur.

"Kamu keliatan lebih fresh malam ini, Pit," kata Bella sambil tertawa.

Pitaloka ikut tersenyum, meski senyumnya terasa asing di wajah sendiri. "Mungkin karena efek obat yang kalian kasih tadi pagi," ujarnya bercanda.

Mereka mulai menari. Awalnya canggung, lalu perlahan mengikuti irama. Sherly paling heboh, Bella ikut tertawa, dan Pitaloka ... mencoba tenggelam dalam dentuman musik.

Lampu menyala cepat. Dunia terasa berputar pelan.

Di sela musik yang menggelegar, Pitaloka menutup mata. Bayangan-bayangan malam kemarin datang lagi. Ia membuka mata, menenggak minuman lagi.

"Pit, pelan-pelan," ujar Sherly saat melihat gelas Pitaloka hampir kosong.

Pitaloka hanya tersenyum. "Aku cuma mau melupakan tragedi kemarin, Sher. Aku mau jadi Pitaloka yang baru."

Bella menepuk bahu Pitaloka, ia sepenuhnya mengerti, lalu ikut berdiri di sisinya. "Keren!"

Dentuman musik tiba-tiba terpotong oleh bunyi ting! dari ponsel Bella. Getarannya cukup keras hingga terdengar di antara jeda lagu.

Bella melirik layar, alisnya terangkat sedikit. Sudut bibirnya melengkung, bukan senyum ... lebih seperti senyum lelah yang sudah terbiasa.

Sherly yang berdiri di sampingnya langsung menoleh. "Siapa tuh?"

Pitaloka ikut melirik, matanya sedikit menyipit karena penasaran.

Bella tidak langsung menjawab. Ia mengetik cepat, lalu memasukkan ponselnya kembali ke tas kecilnya. "Biasa," jawabnya santai.

Sherly mengernyit. "Sugar daddy kamu?"

Bella mengangkat bahu, lalu menyandarkan tubuh ke meja tinggi dekat bar. "Ya ... dia katanya kangen sama aku. Malam ini minta ditemenin."

Hening sepersekian detik.

Pitaloka membeku. Matanya membesar, lalu refleks menoleh ke Bella. "Bel ... kamu jadi simpanan?" tanyanya pelan, seolah takut salah dengar. Sungguh ia tak menyangka.

Bella menatapnya lurus, tanpa malu, tanpa ragu. "Iya." Nada suaranya datar. Jujur. Tidak defensif.

Musik kembali menggelegar, tapi suasana di antara mereka mendadak berat.

"Kenapa kamu jadi simpanan, Bel?" suara Pitaloka melembut. "Maksud aku ... kamu beneran nyaman melakukannya?"

Bella menghela napas pendek. "Nyaman itu relatif, Pita." Ia tersenyum kecil, pahit. "Aku butuh uang. Buat kuliah, buat menyambung hidup, buat gaya hidup yang udah terlanjur aku jalanin. Dan dia ... mau bayar itu semua. Aku bukan anak orang kaya seperti kamu dan juga Sherly."

Pitaloka menelan ludah. Dadanya terasa sesak. "Terus ... kamu dan dia suka melaku--"

"Ya iyalah, Pita," potong Bella cepat. "Ya kali aku cuma disuruh nemenin dia ngobrol doang. Setiap dia ngajak ketemu ... pastinya dia minta hubungan badan. Dan itu ... nggak masalah buat aku. Itu udah konsekuensi dari jalan yang aku pilih."

Sherly hanya terkekeh mendengar penjelasan sahabatnya itu.

Bella meneguk minumannya, lalu menatap Pitaloka. "Jangan tegang gitu, Pit. Aku udah biasa kok."

Pitaloka menunduk. Kata-kata itu terasa lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun. "Kamu nggak capek, Bel?" tanyanya lirih.

Bella tersenyum lagi, kali ini lebih rapuh. "Capek sih. Tapi lebih capek lagi nggak punya uang, Pita."

Suasana kembali sunyi di antara dentuman musik. Lampu warna-warni menyapu wajah mereka. Sebelum akhirnya Bella berpamitan pada Pitaloka dan Sherly.

Kini tinggal Pitaloka dan Sherly yang berdiri agak menjauh dari keramaian, di dekat dinding dengan lampu temaram. Dentuman musik masih keras, tapi jarak di antara mereka terasa hening.

Pitaloka menatap punggung Bella yang menghilang di antara kerumunan, lalu berbalik ke Sherly. "Sher ..." suaranya pelan, hampir tenggelam oleh musik. "Kamu juga punya sugar daddy?"

Sherly terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil sambil menggeleng. "Enggak, Pita. Aku nggak kayak Bella."

Pitaloka menghela napas lega, tapi belum sempat bicara lagi ketika Sherly melanjutkan.

"Tapi aku hobi gonta-ganti cowok," katanya santai. "Asyik aja gitu. Bisa nyobain batang yang berupa-rupa ukuran. Dari yang kecil, gede, panjang dan besar. Sampai ada yang super gede banget. Sampai pernah membuat punya aku lecet," katanya sambil tertawa.

Pitaloka menoleh cepat. "Serius?"

"Iya," jawab Sherly sambil tersenyum miring. "Kamu harus nyoba deh, Pit."

Pitaloka mengernyit. "Nyoba apa?"

Sherly mendekat sedikit, suaranya diturunkan meski musik tetap bergemuruh. "Daripada kamu terus-terusan tenggelam sama kejadian kemarin ..." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih ringan, seolah menutupi sesuatu yang berat.

"Mending kayak aku aja. Mainin perasaan cowok. Nggak perlu baper. One night stand, terus selesai. Lumayan buat ngilangin stres ... sama trauma."

Kata-kata itu menghantam Pitaloka lebih keras daripada dentuman musik.

Ia membeku. Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan. Tangannya mengepal tanpa sadar.

"Hidup itu cuma sekali, Pit. Jadi nggak usah dibikin ribet dan melankolis. Yang udah terenggut, biarlah terenggut. Sekarang ... kita jalani saja ke depannya dengan bahagia tanpa harus terus menerus mengingat kejadian buruk itu." Sherly menepuk pundak Pitaloka. "Kalau kamu berminat ... sepulang dari club ... aku mau one night stand sama tiga cowok sekaligus. Kamu mau ikut, nggak?"

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!