Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 25
"Maafkan Reya, Mah. Reya salah!" Keduanya terisak, Reya seolah meluapkan segala rasa yang ia rasakan pada sang ibu
"Enggak sayang! Kamu gak salah!" Alina memeluk putrinya dengan begitu eratnya
"Harusnya Reya dengerin Mama sama Papa!" Reya menyesali semuanya, dirinya yang memilih lari bersama Reyhan, hingga mengancam sang ayah untuk menikahkan mereka kala itu
"Semua sudah terjadi sayang! Dan Mama ada disini untuk kamu!" Alina mengusap pipi putrinya
"Reya!"
Wanita cantik itu mengalihkan pandangannya pada sang Ayah, tuan Albert berdiri dengan merentangkan kedua tangannya
Reya melangkah, menenggelamkan dirinya dalam dekapan hangat pria yang paling mencintainya itu
"Maafin Reya Pah!" Wanita cantik itu terisak, pria paruh baya itu mengusap kepala putri semata wayangnya itu dengan begitu lembut
"Maafkan Papa sayang! Papa gagal memastikan agar kamu selalu bahagia!" Ujar tuan Albert
Reya menggeleng, dirinya masih dalam dekapan sang papa seolah tempat itu adalah tempat ternyaman baginya
***
"Papa sama Mama tau dari mana tentang masalah Reya?" Tanya Reya, karena setelah memutuskan untuk meninggalkan rumah, ia tak pernah melakukan komunikasi dalam bentuk apapun dengan kedua orang tuanya
"Dari Sri!"
Reya menghela napasnya, bagaimana bisa asisten rumah tangganya malah menjadi mata-mata kedua orang tuanya
"Dasar bi Sri!"
"Kalau bukan karena Sri, mungkin Mama gak akan pernah tau apa yang menimpa kamu sayang!" Ujar Alina
Reya menunduk, mungkin jika dirinya tidak nekad dan mendengarkan apa yang kedua orang tuanya inginkan semua ini tak akan pernah terjadi
"Maaf Mah!"
"Gak perlu minta maaf sayang! Mama juga gak semarah itu sama Reyhan. Karena dia, Mama jadi punya cucu seganteng Arlo!"
Kehadiran kedua orang tuanya sedikit membuat Reya melupakan rasa sakitnya. Ia tidak lagi merasa seorang diri
Setelah berbincang, kini Reya tengah menemani Arlo tidur. Malam ini wanita itu memutuskan untuk berada dikamar putranya
Reya merasa jika dirinya masih belum sepenuhnya melupakan Reyhan, bagaimanapun juga kenangan bersama pria itu terlukis jelas didalam kamar tersebut
"Mah!"
"Hmm"
Reya mengusap kepala putranya agar membuat bocah tampan itu tertidur
"Arlo suka sama Oma sama Opa!" Ujar Arlo membuat sang ibu tersenyum
"Oma sama Opa kan sekarang tinggal sama kita disini!"
"Kenapa Oma sama Opa baru kesini? Selama ini mereka dimana?" Pertanyaan itu pasti akan ditanyakan oleh anak polos seperti Arlo
"Mereka tinggalnya jauh, karena Opa sama Oma lagi liburan makanya mereka kesini!" Ujar Reya sedikit berbohong
Arlo mengangguk, lalu tangan mungilnya memeluk tubuh sang Mama "Papa dimana Mah? Kok belum pulang?"
"Papa lagi sibuk sayang!"
"Kita video call Papa yuk Mah!" Mendengar permintaan sang putra jelas membuat Reya gelisah, ia enggan untuk melihat pria itu lagi
Melihat sang Mama hanya diam saja, Arlo merengek sembari menggoyangkan tubuh wanita itu
"Ayo Mah, Arlo gak bisa tidur kalau gak ada papa!"
Reya lebih dulu menghela napasnya, meraih ponsel lalu melakukan panggilan video pada sang suami
Tak lama telepon terjawab, wajah Reyhan terpampang di layar. Reya hanya menampilkan wajah Arlo saja
"Papa!" Arlo bersorak begitu ia melihat sang ayah walaupun hanya lewat sambungan telepon
"Hay sayang! Arlo apa kabar?" Tanya Reyhan dari seberang sana, ada rasa haru begitu ia melihat lagi malaikat kecilnya itu
Baru sehari saja sudah membuat Reyhan begitu merindukan putranya. Tak terbayang bagaiman jadinya dirinya tanpa sang putra
"Arlo baik, Papa kapan pulangnya? Arlo kangen sama Papa!" Ujar Arlo, terlihat jika Reyhan mengusap wajahnya, mencoba menghapus air mata yang mulai luruh
"Nanti yaa sayang! Besok kita ketemu gimana?"
Reya terkejut, bagaiman bisa Reyhan dengan mudahnya mengajak Arlo bertemu sedangkan dirinya telah berbohong dengan mengatakan jika dirinya diluar kota
"Kata Mama, Papa lagi diluar kota!" Ujar Arlo dengan polosnya
Reyhan menghela napasnya, ia sadar jika Reya pasti membohongi Arlo hanya agar mereka tak bertemu
"Iya yaa, papa lupa! Nanti deh kita ketemunya, bilangin sama Mama!" Ujar Reyhan
Ia sadar sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertemu Reya, Reyhan akan memberikan waktu bagi wanita itu untuk sedikit memulihkan hatinya
"Papa mau ngomong sama Mama?" Tanya Arlo, Reya terlihat enggan namun sang putra menyodorkan ponsel kearahnya
Reya tak ingin membuat Arlo bertanya lagi, Arlo tak boleh tau apa yang terjadi antara kedua orang tuanya
Reya mengatur posisi hingga layar tersebut menampilkan dirinya dan Arlo, Reya dapat melihat jika sang suami tampak kacau dengan rambut yang acak-acakan serta mata yang sedikit sembab
"Hay Mah, mama apa kabar?" Reyhan berusaha baik-baik saja dihadapan putranya
"Baik" Reya terlihat ragu, namun akhirnya ia memilih untuk bersikap biasa "Papa baik-baik aja kan disana?"
Reyhan mengulas senyumnya, ternyata bersikap pura-pura seperti ini tidaklah mudah
"Hmm"
Sekarang keduanya kehabisan topik, Reya menunduk melihat jika Arlo telah terlelap
"Arlo udah tidur?" Tanya Reyhan, karena sejak tadi ia tak mendengar lagi suara sang putra
"Iya!" Jawab Reya, kini tatapan keduanya bertemu walaupun hanya lewat layar ponsel
"Reya aku.."
Ucapan Reyhan terputus karena Reya langsung memutus sambungan teleponnya, Reyhan yang melihat layar ponselnya berubah gelap hanya bisa menghela napasnya saja
"Kamu pasti marah banget Reya, aku masih berharap jika kamu mau memaafkan aku, setidaknya untuk Arlo!"
Reyhan menatap walpaper hpnya dimana terdapat potret Reya bersama Arlo. Mereka adalah dua kehidupannya yang kini ia telah kehilangan keduanya
***
Waktu berlalu, hari ini adalah sidang putusan perceraian Reya dan Reyhan suaminya
Keduanya hadir disana, Reyhan menunduk, menyembunyikan raut kesedihan begitu palu pengadilan berbunyi sebagai tanda jika pernikahan indahnya benar-benar berakhir
Reyhan lebih dulu menatap wajah cantik wanita yang telah menemani hidupnya selama tujuh tahun lamanya
Langkah Reya terhenti begitu ia merasakan jika lengannya ditarik oleh seseorang dan pelaku nya adalah Reyhan
"Aku mau minta maaf!" Ucapnya lirih
"Kita lupakan semuanya Reyhan, kita mungkin bukan suami istri lagi, tapi kamu tetap Papa nya Arlo!" Reya tersenyum, seolah ia menerima semua yang telah terjadi padanya
"Andai waktu bisa diputar kembali, aku gak akan pernah melakukan kesalahan itu!" Cairan bening kembali luruh membasahi pipi Reyhan
"Aku gak pernah menyesali semua yang terjadi Rey, karena pernikahan ini memberikan aku seorang putra seperti Arlo!"
Reyhan tersenyum, keduanya saling bersalaman sebelum akhirnya benar-benar berpisah. Reyhan menatap punggung wanita itu hingga Reya masuk kedalam mobilnya
Reya memutuskan untuk menenangkan diri di sebuah taman, ia duduk dikursi menghadap langsung ke arah danau yang tenang
Ia lega, tapi di saat yang bersamaan ia juga merasa hampa. Pria yang telah mengisi hidupnya pada akhirnya pergi meninggalkannya