Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkebunan
Motor melaju pelan menyusuri jalan tanah menuju perkebunan. Selina menyandarkan kepalanya di punggung Adipati, menarik napas dalam-dalam.
Kenapa rasanya nyaman banget… batinnya.
Aroma parfum Adipati yang lembut bercampur dengan udara pagi membuat hatinya terasa tenang.
Tak lama, motor berhenti didepan saung. Adipati mematikan mesin dan turun lebih dulu, lalu membantu Selina.
Seorang pria paruh baya menghampiri mereka.
“Eh, Mas Adipati,” sapa Budi ramah. “Ada perlu apa nih ke kebun?”
Adipati tersenyum sopan.
“Iya, Pak Budi. Saya sama istri mau ngecek kebun. Bapak lagi kurang enak badan, jadi kami gantikan dulu.”
“Ooh, begitu,” Pak Budi mengangguk. “Ini Bu dokter Selina ya?”
Selina tersenyum kecil.
“Iya, Pak.”
Pak Budi tersenyum lebar.
“Sudah jadi bu dokter, ya sekarang?”
Selina cepat menggeleng halus.
“Belum, Pak. Saya masih sarjana kedokteran. Doain aja ya biar lancar koasnya.”
“Amin,” jawab Pak Budi tulus. “Cantik, pintar pula. Mas Adipati beruntung dapat istri seperti mbak Selina.”
Adipati melirik Selina sambil tersenyum bangga.
“Alhamdulillah, Pak. Saya sangat beruntung.”
Selina menunduk malu, lalu berbisik pelan ke Adipati,
“Mas, aku jadi malu.”
Adipati tertawa kecil.
“Biarin, Mas bangga punya istri kayak kamu.”
Mereka pun berjalan masuk ke area perkebunan, suasana pagi terasa hangat dan penuh ketenangan.
Mereka berjalan menyusuri barisan tanaman yang tertata rapi. Udara kebun terasa sejuk, sesekali angin menggerakkan dedaunan.
Pak Budi berjalan di depan sambil menunjuk beberapa titik.
“Yang sebelah sini panennya bagus, Mas. Tapi yang bagian barat perlu pupuk tambahan.”
Adipati mengangguk memperhatikan.
“Iya, Pak. Nanti tolong dicatat ya. Kalau kurang, langsung lapor ke saya.”
“Siap, Mas,” jawab Pak Budi mantap.
Selina melangkah di samping Adipati, matanya memperhatikan sekitar.
“Mas, kebun Bapak luas juga ya.”
Adipati tersenyum.
“Lumayan. Dulu bapak yang ngurus semua. Sekarang pelan-pelan kita bantuin Bapak.”
Selina menoleh.
“Mas capek nggak?”
Adipati menggeleng.
“Kalau bareng kamu, capeknya jadi ringan.”
Selina tersenyum kecil.
“Kamu tuh kalau ngomong gitu bikin aku salah tingkah.”
Pak Budi yang mendengar sekilas terkekeh.
“Masih pengantin baru ya, Kalian? Kelihatan banget romantis.”
Selina langsung menunduk malu.
“Pak Budi…”
Adipati tertawa ringan.
“Doain aja, Pak, semoga langgeng.”
“Amin,” sahut Pak Budi. “Oh iya, Mas, nanti siang ada kiriman bibit baru.”
“Bagus,” jawab Adipati. “Tolong disimpan di gudang dulu.”
Setelah berkeliling hampir satu jam, mereka berhenti di bawah pohon rindang. Adipati duduk di bangku kayu kecil, Selina ikut duduk di sampingnya.
“Panas nggak?” tanya Adipati.
“Enggak,” jawab Selina. “Aku malah seneng. Baru kali ini ngerasain suasana kebun begini.”
Adipati menatapnya lembut.
“Iya,nanti kalau kamu lagi libur kita bisa kesini.”
Selina tersenyum hangat.
“Iya,Mas.”
“Janji,” kata Adipati mantap.
Pak Budi pamit kembali bekerja.
“Saya lanjut dulu ya, Mas.”
“Iya, Pak. Terima kasih,” jawab Adipati.
Tinggal berdua, Selina menyandarkan kepalanya ke bahu Adipati.
“Mas…”
“Hm?”
“Makasih udah selalu ada untuk aku dan Bapak.”
Adipati mengusap pelan rambut Selina.
“Mas akan terus ada. Kamu nggak sendirian lagi.”
Selina menutup mata, menikmati ketenangan itu—merasa, untuk pertama kalinya, hatinya benar-benar pulang.
Angin kembali berhembus pelan. Selina masih bersandar, sementara Adipati menatap hamparan hijau di depan mereka.
“Mas,” ucap Selina lirih.
“Iya?”
“Kalau nanti aku koas dan sering capek… kamu masih mau dengerin keluhanku, kan?”
Adipati tersenyum kecil.
“Mas justru nunggu itu. Biar kamu nggak numpuk semuanya sendirian.”
Selina mengangguk pelan.
“Takut aja… aku berubah jadi orang yang ribet.”
Adipati tertawa singkat.
“Kamu ribet juga mas tetep sayang.”
Selina mencubit lengannya pelan.
“Ih.”
Adipati berdiri lebih dulu lalu mengulurkan tangan.
“Ayo, kita pulang. Keburu panas.”
Selina menggenggam tangannya dan ikut berdiri.
“Iya.”
Mereka berjalan kembali ke motor. Selina naik lebih dulu, memeluk pinggang Adipati.
“Pegang yang kenceng,” kata Adipati.
“Aku dari tadi juga megang kenceng,” jawab Selina jujur.
Adipati tersenyum, menyalakan mesin. Motor melaju perlahan meninggalkan kebun.
Di perjalanan, Selina berbisik dari belakang.
“Mas wangi.”
" Kamu suka?,” jawab Adipati singkat.
“Aku suka banget,” Selina menempelkan pipinya sedikit lebih erat.
Adipati melambatkan motor.
“Kamu ngantuk?”
“Enggak. Nyaman aja.”
Tak lama, rumah Pak Bejo terlihat. Adipati memarkir motor dan turun lebih dulu, membantu Selina.
Pak Bejo keluar dari teras.
“Gimana kebunnya, Di?”
“Baik, Pak. Tinggal nambah pupuk di bagian barat,” jawab Adipati.
“Syukurlah,” Pak Bejo mengangguk. “Selina capek?”
“Enggak, Pak. Seneng malah,” jawab Selina sambil tersenyum.
Bu Sri menyusul membawa minum.
"Kalian minum dulu pasti haus,udaranya lagi panas banget diluar.”
“Makasih, Bu,” kata Selina.
Selina menoleh ke arah Adipati sambil merapikan tas belanja.
“Ayo pulang ayo, Mas,” katanya lembut.
Bejo mengangkat alis.
“Lho, buru-buru banget, Sel.”
Selina tersenyum kecil.
“Iya, Pak. Soalnya perabotan di rumah baru kan baru datang. Kami mau bersih-bersih rumah dulu.”
Adipati mengangguk membenarkan.
“Biar cepat rapi, Pak.”
Sri keluar dari dapur sambil membawa dua kantong plastik.
“Nah, ini tadi ibu belanja. Yang kemarin kalian beli dipasar biar Ibu masak aja. Kalian bawa pulang yang baru aja.”
Adipati langsung menolak halus.
“Terima kasih banyak, Bu. Tapi nggak usah repot-repot.”
Sri menggeleng.
“Ah, nggak repot. Ibu senang kok.”
Lalu nada suaranya melembut.
“Ibu malah ngerasa… belum bisa ngasih yang terbaik buat kamu, Selina.”
Selina kaget.
“Ibu kok ngomong gitu?”
Sri menatap Selina penuh rasa bersalah.
“Kamu dari kecil sudah banyak ngalah. Ibu sama Bapak sering keras, sering salah paham.”
Bejo ikut menimpali, suaranya berat.
“Bapak juga minta maaf, Sel. Kalau dulu banyak bikin kamu sakit hati.”
Selina mendekat, menggenggam tangan Sri.
“Jangan gitu, Bu. Selina baik-baik aja. Selina malah bersyukur masih punya ibu sama bapak.”
Sri menepuk tangan Selina.
“Kamu anak yang sangat berbakti.Dan selalu menurut kata orang tua,tapi Bapak dan Ibu belum bisa ngasih yang terbaik.”
Adipati ikut bicara dengan nada tenang.
“Selina bahagia kok, Bu. Saya jaga dia, insyaAllah.”
Bejo menatap Adipati lama, lalu mengangguk mantap.
“Bapak titip Selina sama kamu, Di.”
Adipati membalas dengan sopan.
“InsyaAllah, Pak. Saya akan menjaga Selina .”
Selina tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca.
“Yaudah, Bu, Pak… kami pamit dulu.”
Sri mengangguk.
“Hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut ya.”
“Iya, Bu,” jawab Selina.
Adipati menggandeng tangan Selina, lalu mereka melangkah pergi—dengan hati yang terasa lebih ringan dari sebelumnya.
Selina naik ke motor dan memeluk pinggang Adipati dari belakang. Baru saja mesin dinyalakan, ponsel Adipati berdering.
“Bentar ya,” kata Adipati sambil menghentikan motor.
“Iya, Mas,” jawab Selina, melepas pelukannya sebentar.
Adipati mengangkat telepon.
“Halo.”
Di seberang sana terdengar suara formal.
“Pak Raden, apakah malam ini bisa meluangkan waktu untuk makan malam bersama para investor dan pemegang saham?"
Adipati menjawab tenang.
“Boleh. Kita ketemu di tempat biasa.”
“Baik, Pak. Kami tunggu.”
Telepon ditutup. Adipati menyimpan ponselnya dan kembali menyalakan motor.
Selina langsung mencondongkan tubuhnya.
“Siapa yang nelepon, Mas?” tanyanya kepo.
“Teman,” jawab Adipati singkat.
Selina mengerucutkan bibir.
“Teman kok bahasannya berat banget. Mas tuh sebenarnya kerja apa sih? Uangnya banyak, tapi kelihatannya kayak nggak kerja.”
Adipati tersenyum kecil.
“Kamu pengen tahu?”
“Iya,” jawab Selina cepat. “Aku pengen tahu.”
“Nanti,” ujar Adipati santai. “Mas bakal ceritain. Sekarang kita pulang dulu.”
“Ih,” Selina mendengus kecil. “Mas bikin aku makin kepo aja.”
Adipati tertawa pelan, lalu mulai menjalankan motor.
“Pegangan yang kuat.”
Selina kembali memeluk pinggang Adipati, menyandarkan kepalanya.
“Iya, Mas.”