NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 Langit Runtuh

Sudah sebulan berlalu sejak aku pertama kali menaruh serbuk gergaji itu ke dalam plastik bening.

Setiap kali membuka pintu kecil lemari itu, aku hampir tak bisa menahan diri.

Apa lagi begitu melihat tubuh putih jamur yang tumbuh subur. Aku sampai-sampai melompat kecil di tempat, seakan energi dari mereka terpancar ke dalam tubuhku.

"Astaga… kalian tumbuh!" seruku pelan, sambil menepuk tangan sendiri dengan riang. Senyumku melebar, mataku berkilat.

Aku berputar sebentar di kamar, lalu kembali mendekat, menatap jamur‑jamur itu dengan wajah yang penuh rasa kagum.

Begitu senangnya sampai aku menepuk‑nepuk lantai dengan kaki, seperti anak kecil yang tak sabar menunjukkan mainan barunya.

Rasanya dada ini penuh. Aku ingin berteriak ke seluruh dunia bahwa keajaiban kecilku benar‑benar hidup.

Tanganku meraih plastik, menepuknya lembut, lalu aku melompat sekali lagi, kali ini lebih tinggi, sambil tertawa kecil. "Kalian benar‑benar berhasil… aku berhasil!"

Di kamar gelap itu, kegembiraanku memantul ke dinding, membuat ruangan sempit terasa luas.

Di mataku jamur‑jamur itu bukan sekadar tumbuhan, melainkan sahabat yang menyalakan cahaya di dalam hati.

Siangnya, aku memberanikan diri.

Nafas panjang kutarik, senyum tak bisa kutahan. Aku ingin bapak dan ibu tahu, bahwa aku juga bisa menumbuhkan sesuatu untuk festival.

"Buk, Pak… lihat ini!" seruku riang, membuka lemari kecil di kamar. Plastik bening penuh jamur putih kutunjukkan dengan bangga.

"Jamurnya tumbuh subur. Aku rawat sendiri. Aku boleh ya buat lebih banyak lagi, buat nanti di jual di festival."

Ibu menatap dengan mata terbelalak, antara heran dan bingung. Tapi sebelum ia sempat berkata apa‑apa, bapak melangkah cepat mendekat. Tatapannya tajam, wajahnya mengeras.

"Mira!" suaranya berat, penuh amarah yang jarang sekali kudengar. Aku terdiam, senyum di wajahku perlahan memudar.

Belum sempat aku bicara, bapak menghempas keras baglog jamur itu. Plastik bening pecah, serbuk gergaji dan tubuh jamur berhamburan ke lantai. Bau lembap langsung memenuhi kamar.

"Berapa kali bapak bilang?!" bentaknya. "Kamu pikir yang begitu bisa bikin bapak senang? Hah!?

Aku mundur, mataku membesar, dada terasa sesak. Jamur yang tadi kulihat sebagai keajaiban, kini berantakan.

Tubuh putihnya hancur bercampur dengan serbuk basah di lantai.

Ibu menahan lengan bapak, suaranya gemetar. "Udahlah, Pak. Jangan begitu."

Tapi bapak tetap berdiri tegak, napasnya berat. "Aku sudah bilang, jangan. Kenapa kamu masih melawan?"

Aku menunduk, air mata menetes tanpa bisa kutahan. Di dalam hati, aku berbisik pada diri sendiri, kenapa jadi begini. Aku, cuma mau membantu.

Bapak akhirnya menghela napas panjang, wajahnya masih tegang. Ia menatap lantai kamar yang penuh serbuk dan tubuh jamur hancur, lalu menoleh sebentar padaku. Tatapan itu dingin, tapi juga menyimpan sesuatu yang tak ia ucapkan.

Tanpa berkata lagi, bapak berbalik. Langkahnya berat di lantai, suara pintu depan terbuka, lalu tertutup kembali dengan keras.

Dari celah jendela, aku bisa melihat punggungnya menjauh, menuju ladang kecil di belakang rumah. Bayangan tubuhnya perlahan hilang di antara rumpun bambu.

Aku kini terduduk di lantai, air mata jatuh tanpa henti. Jamur‑jamur itu… sahabat kecilku, keajaiban yang kutumbuhkan dengan penuh cinta, kini tidak berdaya seperti anak kecil yang baru dipukul.

Ibu mendekat, wajahnya penuh iba. Ia berjongkok di sampingku, tangan hangatnya mengelus pundakku yang bergetar.

Aku menoleh, mata basah menatap ibu. "Buk… jamur itu… aku rawat setiap hari. Mereka susah-susah tumbuh, kenapa harus diancurin bapak?"

Ibu menarik napas panjang, lalu mengusap pipiku dengan jemari yang kasar tapi penuh kasih. "Ibu tahu kamu sayang sama mereka. Ibu tahu kamu ingin membantu. Jadi kamu jangan pikir aneh-aneh soal bapakmu ya, ibu tau kalo bapakmu tuh sayang sama kamu."

Aku menunduk lagi, menatap lantai yang penuh serpihan jamur. Bau lembap masih menusuk hidung, tapi kini terasa pahit. Aku menggenggam erat baju ibu dengan rasa kecewa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!