NovelToon NovelToon
Kontrak Hati Seorang CEO

Kontrak Hati Seorang CEO

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Akmaluddinl

Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 KHSC

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela besar rumah baru mereka, menyinari wajah Nares yang tampak pucat. Kehamilan Nares kini memasuki bulan ketiga, masa di mana mual dan pusing seharusnya mulai mereda. Namun, bagi Nares, pagi ini terasa berbeda. Ada rasa nyeri yang tajam di perut bawahnya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Nares mencoba bangkit dari tempat tidur, tetapi kepalanya berputar. Ia kembali terduduk, tangannya memegang perut dengan cemat.

Juna, yang baru saja selesai bersiap dengan jas birunya, menyadari perubahan ekspresi istrinya. Ia langsung menghampiri Nares, mengabaikan jam tangan mahalnya yang menunjukkan ia sudah terlambat untuk rapat penting dengan investor dari Singapura.

“Nares? Ada apa? Kau terlihat sangat pucat,” tanya Juna, suaranya dipenuhi kecemasan yang mendalam.

“Perutku… sedikit sakit, Juna. Mungkin aku hanya butuh istirahat sejenak,” bisik Nares, berusaha tidak membuat suaminya panik.

Namun, Juna melihat tetesan keringat dingin di dahi Nares. Tanpa berkata-kata lagi, ia mengangkat Nares dengan gaya bridal style.

“Juna, kau ada rapat penting hari ini,” protes Nares lemah.

“Persetan dengan rapat itu. Tidak ada yang lebih penting dari kau dan anak kita,” jawab Juna dengan nada final yang tidak bisa dibantah.

***

Di rumah sakit, Juna mondar-mandir di depan ruang periksa. Ia telah membatalkan semua jadwalnya hari itu. Rio, yang datang membawa laptop dan tumpukan berkas, hanya bisa berdiri diam. Ia tahu tidak ada gunanya membicarakan bisnis saat Juna sedang dalam mode "suami protektif".

“Pak, investor Singapura bertanya apakah pertemuan bisa dipindah ke Zoom sore ini?” tanya Rio hati-hati.

Juna menoleh, matanya tajam. “Katakan pada mereka, jika mereka tidak bisa menunggu sampai besok, mereka bisa mencari perusahaan lain untuk berinvestasi. Aku sedang tidak ingin membahas uang saat nyawa istriku sedang diperiksa.”

Rio mengangguk cepat. Ia belum pernah melihat Juna sesiap ini untuk melepaskan kesempatan bisnis besar.

Dokter kandungan, Dr. Sarah, keluar dari ruangan dengan ekspresi tenang. Juna langsung menyergapnya.

“Bagaimana keadaannya, Dok? Apakah bayinya baik-baik saja?”

“Tenang, Pak Juna. Nyonya Nareswari mengalami kontraksi dini akibat kelelahan dan stres. Ini sering terjadi pada kehamilan pertama, terutama jika sang ibu terlalu aktif bekerja. Kondisinya stabil, tetapi ia harus melakukan bed rest total selama minimal dua minggu,” jelas Dr. Sarah.

Juna menghela napas panjang, bahunya merosot karena lega. “Dia harus tinggal di sini?”

“Tidak harus, ia bisa pulang sore ini, asalkan benar-benar tidak boleh turun dari tempat tidur kecuali ke kamar mandi. Dan yang terpenting, ia tidak boleh memikirkan pekerjaan sama sekali.”

***

Setibanya di rumah, Juna mengubah kamar mereka menjadi pusat perawatan pribadi. Ia memesan tempat tidur medis yang paling nyaman dan mengatur pencahayaan agar tetap hangat.

Nares merasa bersalah melihat Juna yang kini sibuk menyiapkan bubur di dapur—sesuatu yang sangat tidak biasa bagi seorang pria yang terbiasa dilayani oleh koki pribadi.

“Juna, kau tidak perlu melakukan semua ini. Mbok Sum bisa melakukannya,” kata Nares saat Juna masuk membawa nampan.

“Mbok Sum sedang sibuk di taman. Dan aku ingin melakukannya sendiri,” jawab Juna, duduk di tepi tempat tidur. Ia meniup bubur itu perlahan sebelum menyuapkannya ke Nares.

“Kau tahu, dewan direksi pasti akan menganggapmu gila karena bolos kerja hanya untuk menyuapiku,” goda Nares.

Juna tersenyum tipis. “Biarkan saja mereka menganggapku gila. Aku sudah terlalu lama menjadi robot yang hanya mengejar angka. Sekarang, aku baru menyadari bahwa memiliki seseorang untuk dijaga adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan saham mana pun.”

Nares menatap suaminya. Juna telah benar-benar berubah. Tidak ada lagi jejak kedinginan di matanya. Yang ada hanyalah kasih sayang seorang suami dan calon ayah.

***

Satu minggu berlalu. Nares mulai merasa bosan dengan bed rest-nya, sementara Juna bekerja dari rumah, duduk di kursi di sudut kamar dengan laptopnya.

Tiba-tiba, sebuah masalah besar muncul. Gunawan, dari balik bayang-bayang meskipun sudah keluar dari dewan, mencoba melakukan sabotase pada proyek Sustainability yang sedang dijalankan Nares. Ia menyebarkan berita bahwa proyek itu hanya fiktif untuk menutupi penggelapan dana.

Rio menelepon Juna dengan nada panik yang terdengar sampai ke telinga Nares.

“Pak, kita harus segera melakukan konferensi pers di kantor. Jika tidak, reputasi divisi Nyonya Nareswari akan hancur sebelum berkembang,” lapor Rio melalui telepon.

Nares mencoba bangkit dari bantalnya. “Juna, aku harus bicara dengan Rio. Itu proyekku. Aku tahu datanya.”

Juna langsung berdiri dan menahan bahu Nares dengan lembut. “Tidak. Kau tidak ke mana-mana.”

“Tapi Juna, itu hasil kerja kerasku! Aku tidak mau proyek itu hancur karena fitnah kotor Gunawan!” Nares bersikeras, matanya mulai berkaca-kaca karena frustrasi.

Juna mengambil ponselnya dan mematikan sambungan telepon dari Rio. Ia menatap Nares dalam-diam.

“Nares, dengarkan aku. Proyek itu bisa dibangun kembali. Nama baik bisa dipulihkan. Tapi kesehatanmu dan anak kita… itu tidak bisa digantikan. Aku akan menangani Gunawan. Aku akan menggunakan caraku. Tapi aku butuh kau tetap tenang di sini. Percayalah padaku sebagai suamimu, bukan sebagai rekan bisnismu.”

Nares akhirnya mengangguk, menyadari bahwa emosinya bisa membahayakan janinnya. Ia memegang tangan Juna. “Berjanjilah kau tidak akan menggunakan cara kotor untuk melawannya.”

“Aku berjanji. Aku akan melawan dengan kebenaran yang kau ajarkan padaku,” bisik Juna.

***

Malam itu, Juna tidak pergi ke kantor. Ia tetap di samping Nares, tetapi ia mengumpulkan tim hukum dan tim humas melalui panggilan video masal di layar televisi kamar mereka.

Nares memberikan arahan teknis dari tempat tidur, sementara Juna mengeksekusi keputusan strategisnya. Mereka bekerja sebagai tim yang solid. Nares memberikan hati dan datanya, Juna memberikan otoritas dan keberaniannya.

Ternyata, bekerja bersama dalam kondisi sulit ini justru membuat mereka semakin dekat. Juna belajar menghargai ketajaman logika Nares, dan Nares belajar menghargai kecepatan eksekusi Juna.

Dalam waktu 24 jam, tuduhan Gunawan berhasil dipatahkan dengan bukti-bukti yang transparan. Publik justru semakin bersimpati melihat bagaimana pasangan ini tetap solid meskipun sang istri sedang berjuang dengan kesehatan kehamilannya.

Latar 6: Ketenangan Setelah Badai

Dua minggu berlalu, Dr. Sarah menyatakan Nares sudah boleh beraktivitas ringan kembali. Juna merayakan "kebebasan" Nares dengan makan malam romantis di taman belakang rumah mereka yang asri.

Sinar bulan menyinari wajah mereka. Juna memegang perut Nares yang kini mulai terlihat sedikit membuncit.

“Kita melewati ujian pertama kita sebagai orang tua, Nares,” kata Juna.

“Ya. Dan kau lulus dengan nilai sempurna, Juna. Kau memilih kami di atas segalanya,” jawab Nares, menyandarkan kepalanya di bahu Juna.

Juna mencium kening istrinya. “Dulu aku berpikir kekuatan adalah tentang menang dalam persaingan. Sekarang aku tahu, kekuatan sejati adalah tentang mengetahui apa yang layak untuk dipertahankan, dan apa yang harus dilepaskan.”

Mereka duduk dalam diam, mendengarkan suara jangkrik dan gemericik air di kolam ikan. Badai korporat mungkin akan datang lagi, masa lalu mungkin akan mencoba mengintip kembali, tetapi di taman itu, di bawah cahaya bulan, mereka tahu bahwa selama mereka memiliki satu sama lain, tidak ada ujian yang terlalu berat untuk dihadapi.

“Aku mencintaimu, Nareswari. Lebih dari semua harta di dunia ini,” bisik Juna.

“Aku juga mencintaimu, Juna. Selamanya,” balas Nares.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!