Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Ujian Sihir yang Menghasilkan Kekecewaan
Enam tahun telah berlalu sejak Rey terlahir kembali. Kini, ia telah tumbuh menjadi anak laki-laki berusia enam tahun dengan postur tubuh yang lebih tinggi dan tegap dibandingkan teman-teman sebayanya. Wajahnya tampak tenang dan matanya menyimpan pandangan yang lebih dewasa dari usianya, membuat siapa pun yang melihatnya merasa ada sesuatu yang berbeda dari anak ini.
Di Desa Lembah Angin, ada satu tradisi penting yang selalu ditunggu sekaligus ditakuti oleh warga: Upacara Pengujian Berkah Sihir. Setiap anak yang menginjak usia enam tahun akan dibawa ke balai desa untuk diperiksa apakah mereka memiliki bakat sihir atau tidak. Hasil dari pengujian ini akan sangat menentukan jalan hidup mereka ke depannya—mereka yang memiliki bakat bisa melanjutkan belajar di akademi, menjadi prajurit kerajaan, atau penyihir, sedangkan yang tidak memilikinya hanya bisa bergantung pada tenaga fisik seperti kebanyakan rakyat jelata.
Pagi itu, langit diselimuti awan putih tipis dan angin berhembus cukup kencang membawa hawa sejuk dari arah hutan. Seluruh keluarga Rey sudah bangun lebih awal dari biasanya. Elara sibuk menyiapkan pakaian bersih terbaik yang dimiliki keluarga itu, sedangkan Gareth terlihat berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang bercampur harapan dan kekhawatiran.
“Rey, datanglah kemari,” panggil Gareth lembut.
Rey berjalan mendekat dengan langkah tenang. Dalam hatinya, ia sudah tahu apa yang akan terjadi nanti, namun ia tetap berpura-pura merasa gugup seperti anak-anak lain.
“Nak, dengarkan baik-baik kata Ayah,” ucap Gareth sambil memegang kedua bahu putranya. “Hasil ujian hari ini bukanlah penentu apakah kau orang hebat atau tidak. Jika kau diberkahi sihir, itu anugerah yang patut disyukuri. Namun jika tidak, ingatlah: kerja keras, keberanian, dan kejujuran juga merupakan kekuatan yang tak kalah berharga. Jangan pernah merasa rendah diri, mengerti?”
Rey menatap mata ayahnya dalam-dalam, lalu mengangguk mantap. “Aku mengerti, Ayah. Apa pun hasilnya, aku akan tetap berusaha menjadi anak yang membanggakan Ayah dan Ibu.”
Elara mendekat dan memeluknya erat. “Benar kata Ayahmu. Bagi kami, kau tetaplah anak terbaik apa pun yang terjadi. Ayo, jangan sampai terlambat.”
Mereka bertiga berjalan menuju lapangan tengah desa yang sudah dipenuhi oleh warga dan puluhan anak seumur Rey beserta orang tua mereka. Di tengah lapangan, sudah didirikan sebuah meja kayu besar, dan di atasnya tergeletak benda yang sangat dikenal oleh semua orang: Bola Kristal Penilai.
Bola itu sebesar kepala orang dewasa, bening seperti air jernih, dan terlihat biasa saja jika tidak sedang digunakan. Namun konon, benda itu dibuat dari bahan langka yang mampu merespons dan memancarkan cahaya sesuai dengan jenis dan kekuatan energi sihir yang ada di dalam tubuh seseorang.
Di samping meja itu berdiri dua orang pria berjubah abu-abu—mereka adalah petugas yang dikirim langsung dari ibukota untuk melaksanakan ujian tahunan. Salah satunya tampak lebih tua dengan janggut putih panjang, sedangkan yang lain lebih muda dan memiliki tatapan mata tajam.
“Tenang semuanya!” teriak pria tua itu dengan suara lantang yang terdengar ke seluruh penjuru lapangan. “Hari ini kita akan melaksanakan ujian berkah sihir. Aturannya sederhana: panggil namamu, maju, letakkan kedua telapak tangan di permukaan bola ini, dan diamlah sebentar. Bola ini akan menunjukkan apa yang tersembunyi di dalam dirimu.”
Satu per satu nama dipanggil. Suasana menjadi hening sesaat, hanya terdengar suara napas dan desisan harapan.
“Anak pertama: Tomas!”
Seorang anak laki-laki berambut keriting berjalan gugup mendekat. Begitu tangannya menyentuh bola kristal, seketika memancarkan cahaya berwarna merah terang yang memantul ke wajah semua orang.
“Cahaya merah… elemen api. Kekuatannya cukup baik,” ujar petugas muda itu mencatat di atas kertas.
Terdengar suara tepuk tangan dan bisik-bisik kagum dari kerumunan. Orang tua Tomas terlihat sangat bangga hingga matanya berkaca-kaca.
Berikutnya, giliran anak bernama Lila. Begitu tangannya menyentuh bola, memancarkan cahaya biru lembut. “Elemen air, tingkat dasar.”
Satu per satu giliran berganti. Ada yang memancarkan cahaya hijau untuk elemen angin, cokelat untuk tanah, dan beberapa hanya memancarkan cahaya samar yang menandakan kekuatan sangat lemah. Namun ada juga beberapa anak yang saat menyentuh bola, tidak memancarkan cahaya apa pun sama sekali. Saat itu, raut wajah orang tua mereka langsung berubah muram, dan anak itu akan kembali ke tempatnya dengan kepala tertunduk malu.
Hingga akhirnya, suara panggilan itu terdengar:
“Rey, anak dari Gareth dan Elara!”
Detak jantung seolah terasa lebih kencang bagi kedua orang tuanya. Rey melangkah maju dengan tenang, tidak terlihat gugup sedikit pun. Ia berdiri di depan bola kristal, menatap permukaannya yang bening, lalu perlahan meletakkan kedua telapak tangannya di atasnya.
Seketika itu juga, di dalam tubuh Rey, kelima aliran energi sihirnya bergerak merespons kehadiran benda asing itu. Ia bisa merasakan tarikan halus dari bola tersebut seolah ingin menyerap dan mengidentifikasi energinya. Namun Rey segera mengambil keputusan.
“Jika aku membiarkannya mengalir sepenuhnya, bola ini mungkin akan meledak karena kewalahan menerima lima elemen sekaligus. Lebih baik aku menekan semuanya sepenuhnya, biarkan ia membaca apa yang terlihat dari luar saja.”
Dengan konsentrasi yang ia latih selama bertahun-tahun, Rey menahan semua aliran energinya agar tetap diam dan tidak merespons. Ia membiarkan hanya tubuh fisiknya yang menyentuh bola itu, tanpa mengeluarkan sedikit pun kekuatan di dalamnya.
Beberapa detik berlalu. Bola kristal itu tetap bening dan redup. Tidak ada kilatan cahaya, tidak ada perubahan suhu, tidak ada apa-apa.
Petugas tua itu mengerutkan dahi, lalu mengulurkan tangannya dan memutar bola itu sedikit, memastikan tidak ada kerusakan. “Coba diam lebih lama, Nak. Kadang butuh waktu sedikit lebih lama.”
Rey mengangguk dan tetap diam selama sepuluh detik lagi. Namun hasilnya tetap sama—bola itu tak memancarkan cahaya sedikit pun.
Akhirnya, petugas muda itu menggeleng pelan sambil menulis di catatannya. “Tidak ada reaksi sama sekali. Artinya… anak ini tidak memiliki benih sihir apa pun di dalam tubuhnya. Dia adalah manusia biasa murni.”
Kalimat itu menggema ke seluruh lapangan.
Suasana langsung berubah hening, lalu disusul bisik-bisik yang terdengar jelas.
“Kasihan sekali… anak itu terlihat cerdas dan sehat, tapi tidak diberkahi sihir sama sekali.”
“Nasibnya akan sama seperti kita—bekerja keras sampai tua tanpa kemudahan apa pun.”
“Sudah diduga, kan? Dari keluarga petani mana mungkin bisa punya keturunan penyihir?”
Gareth dan Elara hanya bisa menunduk. Wajah mereka terasa panas dan sedih mendengar bisikan-bisikan itu. Namun mereka tetap berdiri tegak dan menunggu Rey kembali.
Rey melepaskan tangannya dari bola itu, lalu menoleh dan berjalan kembali ke tempat orang tuanya dengan langkah tetap tenang, tanpa ekspresi sedih atau kecewa sedikit pun. Hal ini justru membuat orang lain semakin mengasihaninya—mereka mengira Rey sedang berusaha menyembunyikan rasa sakit hatinya.
Begitu tiba di samping mereka, Elara segera memegang tangannya erat-erat. Suaranya bergetar saat berbicara, “Rey… maafkan Ibu dan Ayah. Kita… kita akan berusaha mencari jalan lain untuk masa depanmu.”
Namun Rey hanya menoleh dan tersenyum tulus, senyum yang membuat hati kedua orang tuanya sedikit lega. “Tidak apa-apa, Ibu, Ayah. Tidak masalah sama sekali. Aku sudah mengira hasilnya akan seperti ini.”
“Kau… tidak sedih, Nak?” tanya Gareth dengan mata berkaca-kaca.
“Mengapa harus sedih?” jawab Rey pelan agar hanya mereka bertiga yang mendengar. “Justru ini hasil terbaik untuk saat ini. Kalau bola itu bersinar terang, mungkin justru akan membawa bahaya bagi kita semua. Tenang saja, aku punya keyakinan bahwa jalanku akan tetap terbuka lebar.”
Kata-kata itu terdengar sangat dewasa dan meyakinkan hingga membuat Gareth dan Elara tertegun. Mereka tidak mengerti sepenuhnya maksudnya, tapi melihat ketenangan hati putra mereka, perlahan rasa sedih itu berganti menjadi kekuatan kembali.
“Baiklah… jika kau merasa begitu, maka kita jalani saja apa yang ada di depan mata,” kata Gareth akhirnya sambil menepuk pundak Rey.
Setelah acara selesai dan semua orang pulang ke rumah masing-masing, malam harinya Rey kembali menyelinap pergi ke tempat latihan rahasianya di pinggir sungai. Langit malam itu terang diterangi cahaya bulan purnama dan ribuan bintang yang berkelap-kelip.
Begitu sampai di tempat sepi itu, Rey segera duduk bersila dan membuka seluruh penghalang energi yang ia pasang tadi siang. Dalam sekejap, udara di sekelilingnya terasa berubah. Suhu naik turun secara alami, angin berputar mengelilingi tubuhnya, dan tanah di bawahnya terasa lebih hidup.
“Bola kristal itu memang bagus untuk mengukur kekuatan biasa, tapi ia tidak bisa membaca apa yang tersembunyi dan dikendalikan dengan sadar,” gumam Rey sambil mengangkat kedua tangannya.
Di telapak tangan kanannya muncul nyala api kecil yang hangat dan terang, sedangkan di tangan kirinya terbentuk bola air yang berputar perlahan. Seketika itu juga, angin bertiup lebih kencang, beberapa gumpalan tanah terangkat membentuk bola kecil, dan di sela-sela jari-jarinya melintas kilatan cahaya petir yang menimbulkan bunyi berdengung lembut namun menggetarkan.
Kelima elemen itu berdampingan tanpa saling mematikan satu sama lain, melainkan terlihat harmonis dan indah, seolah menjadi satu kesatuan yang sempurna.
“Mereka semua mengira aku lemah dan tidak punya bakat. Itu bagus sekali. Semakin rendah ekspektasi mereka, semakin aman aku bisa berkembang dan mengasah kekuatanku ini tanpa gangguan,” ucap Rey sambil menatap kekuatannya sendiri dengan tatapan penuh semangat.
Ia tahu perjalanan ke depannya tidak akan mudah, namun dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya dan kekuatan langka yang dimilikinya, Rey merasa dia memegang kartu terbaik yang tidak dimiliki siapa pun.
“Baiklah… biarkan dunia ini menganggapku anak biasa saja untuk saat ini. Nanti ketika waktunya tiba, aku akan membuat mereka semua terkejut melihat siapa aku sebenarnya,” tekadnya dalam hati, lalu melanjutkan latihan malam itu dengan lebih giat lagi.
📌 jangan lupa follow,like,dan komen setiap novel di akun ini ya.. 🥰