NovelToon NovelToon
Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Penyelamat / Action
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Aldiaza Ahyani

Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.

Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.

Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Menyusun Masa Depan di Bawah Langit yang Sama

Waktu terus berjalan mengalir tenang, bagai air sungai yang meluncur lancar menuju muara. Sudah hampir dua minggu berlalu sejak malam pertarungan itu, dan benar-benar tidak ada lagi tanda-tanda gangguan dari luar. Tuan Arga seolah menghilang begitu saja, mungkin terlalu takut untuk menampakkan diri lagi, atau menyadari bahwa dia tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mengganggu kedamaian tempat ini.

Ketenangan ini terasa begitu nyata, menembus hingga ke dalam hati setiap orang yang bekerja dan tinggal di sini. Pagi hari dimulai dengan kicauan burung dan wangi kopi serta teh hangat, siang hari diisi dengan kesibukan yang terasa ringan, dan sore hari selalu menjadi waktu yang paling dinanti — saat pekerjaan selesai, dan waktu untuk berdua pun tiba.

Suatu sore, setelah semua karyawan pulang meninggalkan gedung, aku dan Anindya duduk bersandar di bangku panjang di taman belakang. Matahari mulai merunduk ke barat, mewarnai awan dengan gradasi jingga, merah muda, dan keemasan yang sangat indah. Angin sejuk khas Malang berhembus perlahan, membawa wangi melati dan kenanga yang tumbuh rapi di sekitar kolam ikan.

Anindya menyandarkan kepalanya dengan lembut di bahuku, sementara tangannya menggenggam erat jari-jariku. Suasana begitu sunyi, hanya terdengar suara air yang mengalir pelan dan sesekali bunyi ikan yang melompat di permukaan kolam.

“Mas…” panggilnya pelan, memecah keheningan yang indah itu.

“Ada apa, Nin?” jawabku lembut, membalas genggaman tangannya.

“Kadang aku masih terbangun di tengah malam dan merasa ini semua hanyalah mimpi indah,” katanya dengan suara yang sedikit berbisik. “Rasanya terlalu sempurna — kedamaian ini, kehadiranmu, restu Ayah dan Ibu, serta tidak ada lagi ancaman yang membayangi. Kalau ini mimpi, tolong jangan biarkan aku terbangun ya.”

Aku menoleh, lalu mencium puncak kepalanya dengan lembut. “Ini bukan mimpi, Nin. Semua ini nyata. Dan justru karena terasa sempurna, itu tandanya inilah jalan yang seharusnya kita lalui. Kita sudah melewati banyak rintangan, jadi berhak menikmati ketenangan ini sepuasnya.”

Dia mengangkat wajahnya, menatap mataku dengan pandangan yang dalam dan penuh harap. “Kalau begitu… apakah kita boleh mulai membicarakan apa yang akan kita lakukan ke depannya? Bukan hanya soal hari ini atau besok, tapi rencana yang lebih panjang lagi?”

Aku tersenyum, hatiku terasa hangat mendengar pertanyaan itu. Selama hidup ribuan tahun, aku tidak pernah berani memikirkan masa depan yang jauh — aku selalu merasa diriku hanyalah seorang pengembara yang tidak memiliki tempat menetap. Tapi sekarang, segalanya berubah.

“Tentu saja boleh,” jawabku mantap. “Justru itu yang ingin aku dengar. Aku tidak pandai menyusun rencana panjang, karena selama ini hidupku terasa tanpa arah. Tapi sekarang, karena ada kamu, aku ingin memiliki tujuan yang jelas. Katakan saja apa yang ada di hatimu, dan aku akan mendengarkannya dengan sepenuh jiwa.”

Wajah Anindya berseri-seri mendengar jawabanku. Dia duduk lebih tegak, namun tetap tidak melepaskan genggamanku, seolah takut aku akan hilang jika melepaskannya.

“Aku membayangkannya begini, Mas,” katanya sambil menatap ke kejauhan, seolah sedang melihat gambaran masa depan itu di langit. “Setelah semuanya benar-benar aman dan tenang, kita bisa mempersiapkan segalanya dengan baik. Bukan terburu-buru, tapi dengan langkah yang pasti. Kita akan mengadakan acara yang sederhana namun penuh makna, mengundang keluarga dekat dan sahabat, serta mengundang juga utusan dari tanah leluhurmu agar mereka bisa melihat sendiri tempat yang menjadi rumah barumu.”

Jantungku berdebar kencang mendengarnya, bukan karena takut, melainkan karena rasa haru yang meluap-luap. Aku menelan ludah sebentar, tiba-tiba merasa pipiku terasa panas lagi — kebiasaan bodoh yang selalu muncul setiap kali topik ini dibahas.

“Maksudmu… kita akan melangkah ke jenjang yang lebih serius?” tanyaku dengan suara yang sedikit tercekat, tidak berani menyebutkan kata itu secara langsung karena tiba-tiba menjadi sangat gugup.

Anindya melihat wajahku yang mulai memerah, lalu dia tertawa kecil geli melihatku yang kembali terlihat salting. Dia mencubit pelan lengan bajuku, lalu mendekatkan wajahnya lagi.

“Iya, Mas. Maksudku begitu. Kenapa wajahmu memerah lagi? Bukankah kita sudah berjanji untuk selalu bersama? Apa kamu tiba-tiba menjadi ragu?” godanya dengan senyum yang menggoda tapi lembut.

Aku segera menggeleng cepat, takut dia salah mengerti. “Tidak! Sama sekali tidak ragu! Justru sebaliknya, Nin. Aku hanya… merasa sangat terharu dan sedikit kaget. Rasanya seperti mimpi yang semakin nyata. Aku tidak menyangka akan ada seseorang yang ingin menghabiskan seluruh hidupnya bersamaku, apalagi setelah mengetahui siapa diriku yang berbeda ini.”

Anindya meletakkan telapak tangannya di atas pipiku, memutar wajahku agar menatap matanya lurus. Pandangannya sangat tulus dan meyakinkan.

“Bagiku, perbedaan itu justru menjadi anugerah. Kamu memiliki kekuatan yang melindungi, hati yang lembut meski terlihat gagah, dan kesetiaan yang jarang dimiliki orang lain. Tidak ada alasan untuk ragu, Mas. Aku memilihmu, apa adanya — masa lalumu, kekuatanmu, kelembutanmu, dan bahkan sifatmu yang gampang malu ini pun aku sukai,” katanya sambil tersenyum manis.

Kata-katanya seperti air sejuk yang menenangkan sekaligus membakar rasa sayang di hatiku. Aku memegang tangannya yang ada di pipiku, lalu mencium telapak tangannya dengan penuh rasa hormat dan cinta.

“Kalau begitu, Nin… dengarkan janjiku yang baru ini,” ucapku dengan suara yang tegas namun lembut. “Di masa depan itu, aku akan tetap menjadi Kaito yang kamu kenal. Aku tidak akan berubah menjadi orang yang sombong atau melupakan siapa diriku. Aku akan tetap bekerja dengan jujur, menjaga tempat ini, dan menjagamu lebih dari apa pun. Kalau kamu menginginkan rumah yang sederhana, aku akan membangunnya dengan tanganku sendiri. Kalau kamu menginginkan ketenangan, aku akan menjadi perisai yang memastikan tidak ada badai yang mengganggu kita. Katakan saja apa yang kamu harapkan, dan aku akan berusaha mewujudkannya semampuku.”

“Yang aku harapkan cuma satu, Mas,” potongnya lembut. “Bahwa kamu akan selalu ada di sampingku, berbagi tawa dan air mata, menjaga satu sama lain sampai rambut kita memutih nanti. Tidak butuh kemewahan, tidak butuh kemegahan — hanya kebersamaan kita yang tulus.”

Aku menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukanku, memeluknya erat seolah ingin menyatukan dua jiwa menjadi satu. Di dalam pelukan ini, aku merasa lengkap.

“Baiklah, itu aku janjikan. Sampai rambut kita memutih, sampai napas terakhirku, aku akan tetap di sini,” bisikku di telinganya.

Saat kami sedang larut dalam suasana romantis itu, tiba-tiba terdengar suara berisik dan langkah kaki yang agak tergesa dari arah samping.

“Wah, maaf mengganggu! Sepertinya aku datang di waktu yang kurang tepat!”

Suara Budi terdengar sambil tertawa terkekeh, tangannya menutup mata pura-pura tidak melihat, tapi jari-jarinya sengaja dibuka sedikit untuk mengintip. Di belakangnya ada Pak Suryo yang tersenyum malu-malu, seolah ikut serta tapi merasa bersalah.

Aku segera melepaskan pelukan itu sedikit, merasa wajahku memerah habis tertangkap basah. Anindya pun menunduk malu, menutupi separuh wajahnya dengan kedua tangan sambil menahan tawa.

“Budi! Kamu ini memang tidak punya rasa hormat waktu dan tempat!” bentakku pura-pura marah, padahal ujung bibirku tidak bisa berhenti tersenyum.

“Ya ampun, Mas Kaito! Aku cuma mau menyampaikan kabar baik saja, kok malah dimarahi,” jawab Budi sambil tertawa lepas. “Tapi lihat saja, wajah kalian berdua itu… merah seperti cabai besar yang baru dipetik! Pantesan saja, suasana tadi memang sangat manis sampai-sampai udara di sekitar terasa lebih hangat!”

Pak Suryo ikut menambahkan sambil terkekeh, “Sudahlah, Budi. Jangan menggoda mereka terus. Memang sudah waktunya, dan kami semua sangat mendukung. Kami hanya datang untuk mengingatkan, Pak Harjo dan Bu Siti sudah menunggu di ruang makan untuk makan malam bersama. Mereka bilang ingin mengobrol santai juga soal rencana ke depannya.”

Mendengar nama orang tuanya disebut, Anindya mengangkat wajah dan menatapku dengan pandangan bertanya. Aku mengangguk memberinya semangat, lalu berdiri dan merapikan pakaianku yang sedikit berantakan.

“Baiklah, terima kasih sudah memberitahu. Kami akan segera menyusul,” kataku sambil tersenyum lega.

Dalam perjalanan menuju ruang makan, Anindya berjalan berdampingan denganku, lalu berbisik pelan agar hanya aku yang mendengar:

“Lihat kan? Bahkan Ayah dan Ibu juga sudah menunggu untuk membicarakannya. Rasanya semua jalan terbuka lebar untuk kita, Mas.”

Aku membalas bisikannya, “Iya, Nin. Dan aku bersyukur sekali memiliki kalian semua. Apa pun yang terjadi nanti, asalkan kita berjalan bersama, semuanya akan terasa indah.”

Begitu masuk ke ruang makan, Pak Harjo dan Bu Siti sudah menunggu dengan senyum yang sangat lebar. Seolah mereka sudah menduga pembicaraan apa yang akan muncul malam itu.

“Duduklah, Nak Kaito, Anin,” kata Bu Siti ramah. “Makan dulu sampai kenyang. Malam ini kita tidak membahas soal pekerjaan atau urusan perusahaan. Kita hanya berbicara sebagai keluarga, membahas apa yang terbaik untuk masa depan kalian berdua.”

Malam itu berlangsung sangat hangat. Diiringi makanan lezat dan tawa yang lepas, kami mulai membayangkan langkah demi langkah yang akan diambil. Ada gurauan dari Budi yang membuat kami tertawa terbahak-bahak, ada nasihat bijak dari Pak Harjo, ada perhatian lembut dari Bu Siti, dan di tengah semuanya ada kami berdua — yang semakin yakin bahwa jalan yang dipilih ini adalah jalan yang paling indah.

Di luar jendela, bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu, menyaksikan janji yang terjalin bukan hanya di atas kertas, melainkan di dalam hati yang tulus. Masa depan mungkin masih menyimpan banyak hal yang belum diketahui, tapi dengan cinta, restu, dan keyakinan yang sama, aku tahu kami akan melangkah melaluinya dengan bahagia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!