Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Biasanya pagi hari di lobi utama Baskara Group dipenuhi oleh suara langkah kaki terburu-buru para karyawan yang mengejar absen, aroma kopi instan, dan sapaan formal yang monoton. Namun, pagi ini berbeda. Atmosfer di gedung berlantai 40 itu terasa seperti pasar malam, suara bising, penuh bisik-bisik, dan aroma gosip mewarnai setiap sudut.
Pemicunya hanya satu yaitu sebuah artikel digital dari Executive Magazine yang rilis pukul enam pagi tadi, lengkap dengan foto utama beresolusi tinggi yang menampilkan Sekretaris Eksekutif, Kirana Larasati, sedang berlutut dengan di depan CEO mereka, Raditya Baskara.
"Selamat pagi, Mbak Kiranaa" sapa resepsionis lobi dengan nada yang dibuat-buat manis namun matanya melirik penuh selidik.
"Selamat pagi" jawab Kirana datar.
Kirana berjalan melewati lobi dengan punggung tegak, pandangannya lurus ke depan, serta langkah kaki yang stabil. Di luar, dia tampak seperti batu granit yang tidak terpecahkan. Namun di dalam hatinya, Kirana sedang menghitung apakah uang pesangonnya cukup untuk membeli sebidang tanah di planet Mars agar dia bisa pindah negara.
Begitu Kirana sudah sampai di atas pintu lift khusus eksekutif terbuka, Ferdy yang merupakan asisten juga tangan kanan Radit sudah berdiri di sana dengan tablet di tangan dan wajah yang terlihat seperti orang yang belum tidur 3 hari.
"Kirana! Demi apa pun, tolong jelaskan ini padaku sebelum aku jantungan" cerocos Ferdy dengan langsung mengekor di belakang Kirana. "Kalian berdua beneran tunangan? Sejak kapan? Kenapa bos tidak bilang apa-apa? Saham kita meroket tujuh persen pagi ini karena investor mengira Radit akhirnya bertobat dan mau berkomitmen" lanjutnya dengan nada heboh.
Kirana meletakkan tas kerjanya di atas meja dengan ketukan yang sedikit lebih keras dari biasanya.
"Itu bukan lamaran, Fer. Itu adalah aksi penyelamatan darurat terhadap celana edisi terbatas senilai lima puluh juta akibat insiden kopi tumbah karna bersin" jawab Kirana.
"Hah? Jadi kalian nggak...?" Ferdy melongo.
"Nggak. Dan kalau kamu punya waktu untuk bergosip, tolong siapkan draf rilis pers untuk klarifikasi" potong Kirana dingin, lalu melirik ke arah pintu ruang kerja CEO yang masih tertutup rapat. "Apakah Pak Radit sudah datang?" lanjutnya.
"Sudah. Dia datang satu jam lebih awal. Dan anehnya, dia diam saja di dalam. Tidak minta kopi, tidak memutar musik dangdut, bahkan tidak menyuruhku membelikan mainan aneh di e-commerce. Ini menakutkan Ra," bisik Ferdy bergidik ngeri.
Kirana menghela napas pendek. Ia merapikan blazer hitamnya, mengambil beberapa dokumen yang perlu ditanda tangani, lalu berjalan mendekati pintu kayu jati tersebut. Setelah mengetuk tiga kali, Kirana membuka pintu.
Di dalam ruangan yang luas itu, Raditya Baskara sedang duduk di balik meja kerjanya. Alih-alih memeriksa dokumen, pria itu sedang menatap layar ponselnya dengan ekspresi yang sulit diartikan juga kedua telinganya tampak sedikit memerah.
"Selamat pagi Pak Raditya. Ini dokumen laporan kuartal kedua yang perlu Anda periksa" ucap Kirana memecah keheningan dengan suara profesionalnya yang khas.
Radit tersentak kecil, hampir saja menjatuhkan ponselnya ke atas meja lau dia berdeham keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah lama hilang.
"Ah, Kirana. P-pagi" jawab Radit. Suaranya agak gugup—sebuah kelangkaan yang sangat mencurigakan dan tidak pernah terjadi.
Kirana melangkah mendekat dan meletakkan map dokumen di atas meja. Mata tajamnya tidak sengaja menangkap apa yang ada di layar ponsel Radit sebelum pria itu buru-buru membaliknya. Itu adalah foto mereka berdua di restoran kemarin.
"Pak Radit, seperti yang sudah saya duga, artikel fiksi romantis kemarin telah menyebabkan perbincangan di kalangan internal maupun eksternal" ujar Kirana langsung pada inti masalah. "Ferdy melaporkan adanya fluktuasi saham yang cukup agresif. Saya menyarankan kita agar segera merilis pernyataan resmi bahwa foto tersebut hanyalah kesalahpahaman dari sudut pandang kamera" lanjutnya.
Radit diam sejenak. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, lalu mendongak menatap Kirana. Untuk pertama kalinya, tidak ada binar usil atau senyum konyol di wajah CEO random itu.
"Bagaimana kalau... kita tidak usah klarifikasi, Ra?" tanya Radit pelan.
Mendengar itu Kirana menyipitkan matanya, mengira pendengarannya sedang bermasalah.
"Maaf, Pak? Anda ingin membiarkan seluruh dunia mengira kita memiliki hubungan asmara?" tanya Kirana memastikan.
Radit berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan kota, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Kakek baru saja menelepon saya dari London sepuluh menit yang lalu" kata Radit, suaranya terdengar serius. "Beliau telah melihat berita itu. Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, beliau tidak memaki saya. Beliau malah menangis terharu, mengira saya akhirnya menemukan wanita waras yang bisa mengendalikan kelakuan saya. Beliau bahkan bilang kalau berita ini bohong, beliau akan memotong seluruh dana investasi untuk proyek masa depan kita di Eropa" lanjutnya di akhiri helaan nafas panjang.
Kirana membeku. Otak komputer di kepalanya langsung memproses informasi tersebut dengan cepat, dan hasilnya adalah bencana besar.
"Jadi... maksud Anda, Pak?" tanya Kirana wanti-wanti.
Radit membalikkan badannya, menatap Kirana dengan senyum tipis yang kali ini terlihat agak pasrah, namun ada sedikit kilatan usil yang perlahan kembali di matanya.
"Kontrak kerja kamu masih berlaku dua tahun lagi kan, Ra? Bagaimana kalau kita buat satu pasal tambahan di dalamnya?" Radit melangkah mendekati posisi Kirana. "Jadilah pacar pura-pura saya di depan publik. Saya akan naikkan gaji kamu tiga kali lipat, tambah tunjangan kesehatan mental sebesar yang kamu mau, dan..." Radit mendekatkan wajahnya lalu berbisik, "Saya akan mengambil alih cicilan KPR kamu sampai lunas dan menjamin kelangsungan hidup ibumu dan kamu sendiri" lanjutnya dengan harapan Kirana tertarik walaupun sedikit.
Kirana menatap bosnya dengan pandangan tidak percaya. Di satu sisi, ini adalah pelanggaran profesionalisme terbesar dalam kariernya. Di sisi lain... kenaikan gaji tiga kali lipat dan tunjangan kesehatan mental adalah penawaran yang sangat tidak sopan untuk ditolak oleh seorang budak korporat yang memiliki banyak cicilan. Dan juga kalau dia menerima tawaran dari sang bos dia tidak perlu lagi memikirkan cicilannya bukan?.
"Pak Radit, saya rasa kita masih bisa melakukan cara lain selain saya harus menjadi pacar pura-pura bapak" ucap Kirana.
"Kamu jangan langsung menolaknya, coba pertimbangan lagi. Saya tidak akan membiarkan kamu rugi sedikitpun" ucap Radit dengan ekspresi memohon. "kamu sendiri tau kan hubungan saya dengan kakek tidak pernah membaik sebelumnya. saya hanya tidak ingin membuatnya kecewa lagi" ucap Radit.