Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.
Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Kecelakaan
# Di LPPA
Setelah semua pekerjaan di kantor selesai dan berkas-berkas sudah rapi disusun, Eric menoleh ke arah Anqi yang sedang membereskan barang-barangnya.
“Sudah cukup larut dan jalan pasti sepi. Lebih baik aku antarkan kau pulang saja,” ucapnya dengan nada lembut namun tegas.
Anqi mengangguk sambil tersenyum tipis. “Baiklah, terima kasih. Tapi apakah tidak terlalu merepotkanmu?.”
“Sama sekali tidak. Ayo kita pergi,” jawab Eric sambil berjalan mendahuluinya menuju pintu keluar.
Mereka pun menuju mobil dan pergi dari sana. Perjalanan itu berjalan tenang, hanya diisi suara musik mobil yang pelan. Sesampainya di depan rumah Anqi, Eric mematikan mesin sejenak.
“Terima kasih sudah mengantar. Hati-hati di jalan, ya,” ucap Anqi sambil membuka pintu mobil.
“Baik, kau juga istirahatlah. Sampai jumpa besok di kantor,” balas Eric sambil tersenyum.
Anqi masuk ke dalam rumah dan memastikan pintu terkunci rapat. Eric pun menyalakan kembali mesin mobilnya dan mulai pergi meninggalkan area perumahan itu. Namun, ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak ia keluar dari tempat parkir kantor, sebuah mobil berwarna hitam tanpa plat nomor yang jelas telah mengikuti dari jarak yang cukup jauh, menjaga jarak agar tidak terlihat mencurigakan.
Semakin jauh Eric melaju kencang, jalanan yang dilaluinya semakin sepi dan minim penerangan. Lampu jalan hanya terpasang sedikit, sehingga sebagian besar jalan diselimuti kegelapan. Tiba-tiba, dari arah persimpangan yang gelap dan tidak terlihat jelas, mobil hitam yang sedari tadi mengikutinya melaju dengan kecepatan tinggi dan langsung memotong jalur mobil Eric.
BRAK!
Suara benturan keras menggema di malam itu. Sisi kanan mobil Eric terhantam dengan kuat, membuat kendaraannya oleng ke kiri. Eric terkejut bukan main, tangannya mencengkram kuat kemudi.
“Apa-apaan ini?! Siapa yang berani?!” serunya dengan napas memburu, matanya melotot melihat mobil asing itu.
Belum sempat ia menstabilkan kendaraannya, mobil hitam itu kembali bergerak mendekat dan dengan sengaja menabrak sisi kanannya lagi, mendorong mobil Eric semakin menjauh dari jalur utama.
“Berhenti! Siapa kau sebenarnya?!” teriak Eric sambil membuka kaca mobilnya, meskipun sadar suaranya tidak terlalu terdengar, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia berusaha menginjak rem perlahan agar tidak kehilangan kendali.
Namun, jalan di bagian itu berbukit dan pinggirannya tidak memiliki pagar pengaman, hanya dipenuhi semak belukar dan tanah yang agak curam. Karena dorongan yang kuat dan kurangnya pencahayaan yang membuatnya sulit melihat, roda depan mobil Eric tergelincir dari tepi jalan.
BRAK! BRUK!
Mobil itu terguling beberapa kali menuruni lereng sebelum akhirnya berhenti terbalik, tersangkut di antara akar pohon dan semak-semak. Kaca-kaca pecah berhamburan, dan asap tipis mulai mengepul dari bagian mesin.
Di dalam mobil, Eric terjepit di antara kemudi dan kursi. Ia merasakan sakit yang begitu hebat di seluruh tubuhnya, terutama di kepala dan bahu kanannya. Darah segar mulai menetes perlahan dari luka di keningnya, mengalir turun membasahi pipinya. Ia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya satu per satu, rasa sakit yang menusuk membuatnya mengerang pelan.
“Sial... Sebenarnya apa yang terjadi?” gumamnya lemah, pandangannya mulai sedikit kabur.
Sementara itu, di atas tepi jalan, mobil hitam yang menyebabkan kecelakaan itu hanya berhenti sejenak. Sebuah bayangan terlihat mengintip sebentar dari balik jendela, memastikan kondisi di bawah, sebelum akhirnya pergi dengan kecepatan tinggi, tanpa meninggalkan jejak yang jelas.
Keesokan paginya, Anqi berangkat ke kantor seperti biasa. Sesampainya di ruang rapat yang sudah mulai dihadiri para rekannya, ia melihat tempat duduk Eric masih kosong. Ia lalu mendekati Mira dan bertanya dengan nada penasaran. “Permisi, Mira. apakah Pak Eric belum datang? Bukankah biasanya ia selalu tiba lebih awal.”
Mira lalu menjawab. “Pak Eric belum datang. Kami juga belum menerima kabar apapun darinya. Biasanya jika ada halangan, dia pasti akan mengirim pesan terlebih dahulu padaku.”
Anqi mengerutkan kening. Ia merasa ada sesuatu yang telah terjadi, namun mencoba menenangkan dirinya. “Mungkin dia terjebak macet atau ada urusan mendadak yang harus diselesaikan,” gumamnya pelan.
Waktu terus berjalan. Tiga puluh menit berlalu, namun Eric belum juga datang dan tidak ada kabar sedikit pun. Perasaan cemas mulai menyelimuti hati Anqi. Ia mondar-mandir, sesekali melirik pintu berharap Eric akan masuk.
Tiba-tiba, suara dering ponselnya memecah keheningan ruangan. Anqi segera meraih ponselnya dan mengangkatnya. “Halo, selamat pagi. Ini dengan siapa?” tanyanya sopan.
Di dalam telepon, terdengar suara seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai petugas kepolisian. “Selamat pagi. Kami dari kantor polisi sektor selatan. Kami ingin memberitahukan bahwa pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan lalu lintas tadi malam dan saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit Pusat Kota "Nuwa". Kami meminta agar kerabat atau rekannya dapat segera datang untuk keperluan identifikasi.”
Jantung Anqi seakan berhenti berdetak sesaat. Tangannya terasa lemas, hingga ponselnya hampir terlepas dari genggamannya. Wajahnya seketika berubah pucat.
“Apa... apa yang Anda katakan? Kecelakaan? Dia... dia tidak apa-apa, kan?” tanyanya dengan suara cemas, namun hanya terdengar hening sejenak sebelum sambungan itu terputus.
Anqi diam terpaku, matanya kosong menatap lantai. Melihat reaksinya yang aneh, Mira, segera mendekat dan menepuk bahunya pelan.
“Anqi? Ada apa? Siapa yang menelpon? Kenapa wajahmu pucat sekali?” tanya Mira cemas.
Karena Anqi tidak menjawab, rekannya yang lain, Alan, mengambil ponsel itu dan kembali berbicara. Setelah mendengarnya hingga selesai, wajah mereka pun berubah serius.
“Ya Tuhan... Pak Eric mengalami kecelakaan?” gumam Alan terkejut.
“Kita harus segera ke sana! Jangan buang waktu lagi!” seru Anqi yang tersadar, lalu segera meraih tasnya.
Tanpa membuang waktu, mereka semua bergegas meninggalkan ruang rapat dan menuju mobil untuk segera pergi ke rumah sakit yang disebutkan.
Di dalam mobil, suasana terasa hening dan mencekam. Anqi duduk di kursi penumpang belakang, wajahnya pucat dan tangannya terus meremas ujung bajunya. Rasa cemas yang luar biasa menyelimuti hatinya, membuatnya terus melirik ke luar jendela seolah ingin mempercepat perjalanan.
Melihat kegelisahan yang terlihat jelas di wajah Anqi, Mira yang duduk di sampingnya mencoba menenangkan. Ia menepuk pelan bahu Anqi.
“Anqi, tarik napas pelan-pelan. Jangan terlalu cemas dulu. Kita belum tahu pasti kondisinya seperti apa. Mungkin saja luka-lukanya tidak terlalu parah,” ucap Mira dengan suara lembut berusaha menenangkan.
Anqi menggeleng pelan, suaranya terdengar bergetar. “Tapi mengapa dia tidak memberi kabar sama sekali? Dan kenapa polisi yang menelpon, bukan dia sendiri? Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya...”
“Semua akan baik-baik saja. Kita akan segera sampai, dan nanti kita bisa melihat keadaannya langsung. Percayalah,” jawab Mira berusaha memberi semangat.
Tak lama kemudian, mobil mereka tiba di halaman rumah sakit. Begitu kendaraan berhenti, Anqi segera turun dan berlari menuju pintu masuk utama, diikuti oleh Mira dan rekan lainnya.
Sesampainya di Resepsionis, Anqi mendekat dengan napas yang sedikit terengah-engah.
“Permisi, Bu! Kami ingin menanyakan pasien yang baru saja dirawat akibat kecelakaan kendaraan tadi malam. Namanya Eric,” ucapnya dengan nada terburu-buru namun sopan.
Suster di meja informasi menoleh dan menatap mereka. “Baik, boleh sebutkan nama lengkapnya?”
“Namanya Eric Tan.” jelas Anqi.
Suster itu memeriksa buku catatan di hadapannya, lalu mengangguk. “Ah, ada. Pasien itu sudah ditangani dan sekarang sedang di ruang rawat inap lantai dua, ruang nomor 205. Silakan ikut saya, saya akan antarkan kalian ke sana.”
Tanpa membuang waktu, mereka segera mengikuti langkah suster itu. Jantung Anqi berdebar kencang seiring mereka menaiki lift dan berjalan menuju ruangan yang dimaksud.