NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 06

~Es Degan Gula Merah untuk Naira~

Deru motor mereka baru benar-benar berhenti di depan warung degan yang bertuliskan "Es Degan dan Mojito". Tulisan itu dibuat di atas kertas HVS dengan spidol hitam, lalu ditempel sembarangan di sisi meja.

Beberapa glundungan kelapa muda menggunung di satu sisi. Sementara toples kaca, plastik, dan beberapa botol tampak berjajar rapi di atas meja.

Naira menoleh ke arah seberang.

Ke Warung Lotek Mbak Retno.

Tempat di mana informasi satu desa bisa tersebar lebih cepat daripada siaran radio.

Ia bahkan sudah mendengar beberapa bisikan dari sana. Jalanan yang cukup sepi memberi ruang bagi udara untuk membawa percakapan ke mana-mana.

"Itu Naira, kan?"

Naira langsung mengenali suara itu.

Seorang wanita paruh baya—mungkin sebaya ibunya—berdiri di depan warung. Gincu merahnya mencolok. Bedak tebal di wajahnya tampak mulai luntur di beberapa bagian.

"Nai!"

Wanita itu melambaikan tangan dengan senyum lebar. Sepasang taring emasnya berkilauan di bawah terik matahari.

"Bude Wati?" gumam Naira lirih.

Yang ditakutinya justru muncul lebih cepat dari perkiraan.

Bude Wati sudah menyeberang ke sisi lain jalan. Kini wanita itu berdiri tepat di hadapan Naira dan Arka yang sedang memesan beberapa bungkus es degan sesuai permintaan dari rumah.

Mata Wati melirik Arka sesaat sebelum kembali kepada Naira.

"Kok udah pergi berdua saja?"

Bibir Naira langsung setengah terbuka.

"Maksud Bude?"

"Loh, ini kan..."

Wati menunjuk ke arah Arka yang sedang memperhatikan penjual membungkus minuman.

"Anak Mas Seno."

Jantung Naira serasa melorot.

Sedikit kelegaan muncul.

"Oh... iya, Bude. Kami disuruh beli es degan."

"Disuruh siapa?"

"Sama Bapak."

Bibir Wati membentuk huruf O.

"Berdua dari rumah?"

Naira melirik Arka sekilas.

"Iya, Bude."

Arka yang baru saja selesai membayar ikut tersenyum melihat wanita itu.

"Eh, Nak. Tadi Bude lupa. Siapa namamu?"

"Arka."

"Kerja di mana?"

"Perwira di Barak Kota."

Lagi-lagi bibir Wati ber-oh ria.

Pandangannya sempat melayang ke gerombolan temannya di warung seberang. Ia menyeringai sambil mengangkat alis beberapa kali.

"Wah, bagus dong."

Ia menepuk pundak Naira beberapa kali. "Kalian kelihatan cocok, deh."

Arka dan Naira saling pandang sesaat.

"Sepertinya Bude salah paham."

Wati tersenyum semakin lebar.

"Salah paham gimana?"

"Bukan begitu..."

Ucapan Naira terpotong ketika Wati kembali menepuk pundaknya.

Gadis itu membeku sesaat.

"Udah-udah, mampir ke warung yuk, Nak Arka. Di sana ada lotek, gado-gado, sama pecel."

"Gak usah, Bude. Kami udah makan."

Naira lebih dulu menyela.

Rona kesal di wajahnya semakin kentara.

"Udah makan? Masakannya Naira?"

Naira langsung mengerucutkan bibir.

Tatapannya penuh curiga kepada wanita bertaring emas itu.

"Iya."

Jawaban yang datang lebih cepat dari Arka justru membuat seringaian Wati semakin melebar.

"Bagus dong. Udah belajar."

Naira semakin tidak betah berada di sana.

Ia menoleh kepada Arka.

"Mas, udah?"

"Sudah."

Arka mengangkat sebuntel kantong kresek berisi beberapa minuman.

"Ayo pulang, Mas."

Naira kembali menoleh kepada Wati yang tampak menahan senyum.

"Kami pergi dulu ya, Bude."

"Iya, Nai. Ka. Hati-hati."

Naira hanya menjawab dengan deheman pelan. Sedangkan Arka mengangguk sopan.

"Iya, Bude."

Setelah kedua orang itu pergi bersama deru motor yang menjauh, Wati menoleh ke arah teman-temannya.

"Gimana, Wat?"

"Tadi sampai mana kita?"

"Ke orangnya."

"Itu tadi ganteng, kan?"

"Iya, ganteng."

Wati menyeringai puas.

"Mas Doyok gak salah pilih mantu."

...----------------...

Deru motor kembali melaju pelan di jalanan yang berpoles semen. Namun sejak meninggalkan warung, dua orang di atas motor itu lebih banyak diam.

"Nai."

Arka akhirnya membuka percakapan lebih dulu.

"Ya, Mas?"

"Ku pikir tadi jatuh."

Naira langsung nyengir. "Jatuh?"

"Iya. Soalnya diem aja."

Untuk sesaat ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Perpaduan antara kaget dan takjub.

Lelaki sependiam Arka ternyata bisa melontarkan candaan receh seperti itu.

"Tadi itu namanya siapa?"

"Bude Wati."

"Oh."

Arka mengangguk kecil.

"Orangnya lumayan aneh."

Naira yang duduk di belakang langsung mengernyit.

"I-iya."

"Besok udah kerja?"

"Iya."

"Oh."

Setelah itu percakapan kembali berhenti.

Angin siang berembus pelan, menerbangkan debu yang sesekali melintas di jalan.

Mereka tetap diam bahkan hingga tiba di rumah.

"Hati-hati."

Arka mengucapkannya saat motor berhenti.

Naira tersenyum lembut.

"Terima kasih, Mas."

Gadis itu segera turun dan berjalan menuju teras rumah.

Tiga orang tua di sana tampak sudah menunggu.

"Lama amat?"

"Gak juga."

Naira meletakkan bungkusan minuman di meja. Lalu mengambil satu miliknya. Es Degan gula merah.

"Naira ngantuk. Mau tidur."

Ia segera berpamitan dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan tiga orang tua yang tampak sedikit heran.

"Lama amat, Mas Arka?" tanya Ibu Naira setelah pria itu duduk di bangku rotan.

"Iya, Bu. Tadi ketemu beberapa tetangga."

"Oh..."

Nada suara wanita itu terdengar sedikit menyelidik.

"Di mana?"

"Di jalan sama warung."

"Ketemu siapa?"

Arka berpikir sesaat.

"Bude Wati yang tadi pagi ngobrol sama Om Doyok dan Bapak."

Ayah dan Ibu Naira saling pandang.

"Pantas."

Sementara itu, di kamarnya, Naira duduk di tepi dipan.

Ia membuka ikatan plastik minumannya lalu menusukkan sedotan.

Satu teguk.

Dua teguk.

Matanya memandang ke arah jendela berteralis dengan gorden yang terbuka separuh.

Angin sepoi-sepoi dari luar membuat kain gorden bergerak pelan.

Naira mencoba mengingat kembali seluruh kegiatan hari itu.

Mulai dari pergi ke pasar becek sebelum matahari terbit.

Bergurau dengan ibunya di dapur.

Makan siang bersama.

Lalu berakhir dengan perjalanan membeli es degan bersama Arka.

Dan tentu saja,

bertemu Bude Wati.

"Tadi aku kenapa sih?" gumamnya pelan.

Ingatannya kembali pada Arka.

Kaos pria itu yang sedikit basah oleh keringat. Dan bagaimana candaan keringnya ternyata masih teringat jelas sampai sekarang.

Setelah menghabiskan es degannya, tenggorokannya memang terasa lebih lega.

Namun dadanya tetap bergemuruh dengan cara yang sulit dijelaskan.

"Dasar Bude Wati."

Ia mendengus kesal.

Kantong plastik itu diletakkan begitu saja di meja kecil dekat dipan.

Kemudian ia menyalakan kipas angin tua yang sejak dulu selalu berbunyi:

grek... grek... grek...

Naira merebahkan diri. Matanya menatap langit-langit cukup lama. Lalu tanpa sengaja teringat lagi.

"Ku pikir tadi jatuh."

Seketika ia tertawa tanpa suara. Wajahnya memanas. Gadis itu meraih bantal lalu menutup wajahnya.

Ia malu.

Padahal, kalau dipikir-pikir lagi...

seharusnya Arka yang malu.

...----------------...

1
NonaAns
🤭 tiba2 pengen batuk. uhuuuk uhuuukk
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!