NovelToon NovelToon
Ternyata Dia Masih Ada

Ternyata Dia Masih Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Auliya Wulandari

Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan yang Dinanti

“Fei Fei, kau pasti sudah sangat lelah setelah perjalanan panjang ini. Lebih baik beristirahatlah terlebih dahulu dan pulihkan tenagamu,” ujar Nyonya Duan dengan suara lembut namun tegas, sambil menatap putri semata wayangnya itu dengan tatapan penuh kasih sayang.

Namun gadis yang dipanggil Fei Fei itu hanya menggeleng perlahan, wajahnya terlihat cemas dan tak tenang. Matanya yang jernih memandang ibunya dengan pandangan yang memohon pengertian. “Ibu, sebelum aku beristirahat, aku mendengar kabar bahwa Nenek sedang kurang sehat. Aku ingin segera menjenguknya dan memastikan keadaannya sendiri. Sudah tujuh tahun aku tak melihat wajah Nenek, hatiku terasa gelisah jika tidak segera menemuinya.”

Memang benar, sejak kecil Nenek adalah orang yang paling menyayanginya selain orang tua kandungnya sendiri. Mendengar kabar bahwa kondisi kesehatan sang nenek mulai menurun seiring bertambahnya usia, ditambah lagi penyakit yang sempat menyerangnya, hati Fei Fei terasa seperti dihimpit sesuatu yang berat. Ia tak ingin membuang waktu sedetik pun begitu tiba di rumah, namun keinginannya itu seolah harus terbentur oleh kekhawatiran ibunya.

Nyonya Duan melangkah mendekat, lalu mengusap lembut bahu putrinya itu dengan gerakan penuh kelembutan. “Anakku yang baik, aku mengerti kerinduan dan kekhawatiran di hatimu. Namun perjalanan yang kau tempuh dari Desa Hufu hingga ke ibu kota ini memakan waktu hampir satu bulan penuh. Selama itu, kau harus melewati jalanan berbatu, hutan lebat, dan menghadapi cuaca yang sering berubah-ubah—terutama panasnya terik matahari belakangan ini yang pasti telah menguras seluruh tenaga dan kekuatan tubuhmu. Nenekmu tidak akan pergi ke mana-mana, jadi lebih baik kau istirahatlah dengan baik dulu, minum air putih yang cukup agar tubuhmu kembali segar.”

“Tapi Ibu…” Fei Fei masih ingin membantah, suaranya terdengar lemah namun penuh tekad.

“Dengarkan Ibu sebentar saja,” potong Nyonya Duan dengan nada membujuk, tanpa sedikit pun terlihat marah. “Sekarang hari sudah larut malam. Lampu-lampu di seluruh kediaman sudah banyak yang padam, dan sudah pasti Nenekmu sudah terlelap dalam tidurnya. Apakah kau ingin datang dan membangunkannya hanya untuk sekadar melihat wajahmu? Itu justru akan mengganggu istirahatnya yang sangat dibutuhkan oleh tubuhnya yang sudah tua. Belum lagi, jika Nenek sampai tahu bahwa kau memaksakan diri menemuinya dalam keadaan sangat lelah dan letih, bukannya merasa senang melihatmu pulang, ia malah akan marah dan khawatir bukan main pada dirimu sendiri.”

Mendengar penjelasan yang masuk akal itu, Fei Fei terdiam sejenak. Ia menatap wajah ibunya yang tampak sedikit lelah namun tetap berusaha menenangkannya, lalu perlahan rasa cemasnya berkurang dan digantikan dengan rasa bersalah. Ia baru sadar bahwa dalam kegembiraan dan kerinduannya, ia lupa memikirkan hal-hal lain yang juga penting.

Fei Fei tersenyum tipis, senyum yang sama seperti yang sering ia tunjukkan sejak kecil—manis dan tulus. Namun di balik senyum itu, ada perubahan yang tak luput dari pandangan ibunya. Tatapan matanya yang dulu selalu ceria, penuh tanya, dan berkilau seperti anak kecil yang lincah, kini terlihat jauh lebih tenang, damai, dan dalam. Seolah ia adalah danau air yang tenang, yang tak akan tergoyahkan oleh hembusan angin sekecil apa pun. Sebagai seorang ibu yang mengenali putrinya lebih dari siapa pun, Nyonya Duan bisa merasakan bahwa selama tujuh tahun terpisah dan menjalani pengobatan di tempat yang jauh, Fei Fei telah mengalami banyak hal, belajar banyak pelajaran hidup, dan tentu saja menanggung kesulitan yang tak sedikit pun diceritakannya dalam surat-surat yang dikirimkan.

“Benar kata Ibu, akulah yang terlalu terburu-buru dan kurang berpikir panjang. Maafkan Fei Fei ya, Ibu,” ujar Fei Fei dengan nada lembut, lalu menunduk sedikit sebagai tanda meminta maaf.

Nyonya Duan segera menggeleng dan tersenyum maklum, lalu mengusap pipi putrinya dengan penuh kasih sayang. “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Hati Ibu justru terasa senang melihat betapa perhatiannya kau pada keluarga. Sekarang jangan pikirkan hal apa pun lagi. Semuanya sudah berakhir, kau sudah pulang dengan selamat, dan ke depannya semuanya akan berjalan baik-baik saja. Percayalah pada Ibu.”

“Aku percaya, Ibu,” jawab Fei Fei mantap, lalu mengangguk setuju.

Mendengar jawaban itu, Nyonya Duan menghela napas lega sambil tersenyum lembut. Kehadiran putrinya kembali ke rumah ini adalah anugerah terindah yang diterimanya selama bertahun-tahun. Besok pagi, saat matahari terbit dan suasana rumah sudah segar kembali, barulah Fei Fei bisa menjenguk sang nenek dengan keadaan tubuh yang segar dan wajah yang cerah, sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran apa pun di hati wanita tua itu.

Nyonya Duan lalu menoleh ke samping, memandang pelayan pribadi yang telah mengurus Fei Fei selama perjalanan dan sejak kecil. “Li Xia, bawa Nona ke kamar tidurnya yang sudah disiapkan”

Saat melangkah pergi, Nyonya Duan masih menatap punggung putrinya dengan pandangan yang dalam dan penuh perasaan. Ia berharap, meski dunia luar telah berubah banyak dan Fei Fei pun telah tumbuh menjadi wanita dewasa, rumah ini akan tetap menjadi tempat yang paling aman dan nyaman baginya, tempat di mana ia bisa kembali menjadi gadis yang dicintai tanpa perlu takut atau khawatir lagi.

Kamar yang disiapkan untuk Fei Fei ini sudah lama kosong, namun tak pernah sekalipun dibiarkan berdebu atau terabaikan. Sejak hari kepergiannya tujuh tahun silam, Nyonya Duan selalu memerintahkan pelayan untuk membersihkannya setiap hari, mengganti seprai dengan kain terbaik, dan menaruh bunga segar di atas meja rias agar ruangan itu tetap terasa hidup, seolah-olah pemiliknya hanya pergi sebentar dan akan segera kembali.

Begitu memasuki kamar, Fei Fei menghirup udara dalam-dalam. Aroma bunga melati dan kayu cendana yang menjadi kesukaannya sejak kecil langsung menyapa hidungnya, membawa serta kenangan manis yang terkubur selama bertahun-tahun. Setiap sudut ruangan masih sama persis seperti yang ia ingat: tempat tidur dengan tirai sutra berwarna krem, lemari besar yang diukir motif bunga teratai, hingga rak buku yang berisi koleksi cerita dan puisi yang sering ia baca semasa kanak-kanak.

“Nona, lihatlah, semuanya tetap seperti dulu,” ujar Li Xia dengan suara lembut, matanya berkaca-kaca menahan haru. “Selama ini Ibu Nyonya selalu bilang, suatu hari Nona pasti akan kembali, jadi tak boleh ada yang berubah sedikit pun.”

Fei Fei berjalan perlahan mendekati jendela, membuka sedikit gorden untuk melihat halaman belakang yang diterangi cahaya rembulan. Pohon persik yang dulu masih kecil kini telah tumbuh besar dan rindang, bahkan sudah mulai bertunas bakal bunga. Ia tersenyum kecil, menyadari bahwa meski ia telah pergi sekian lama, rumah ini tetap menunggunya dengan setia.

“Terima kasih, Li Xia. Kau juga sudah lelah mengawasi ku sepanjang perjalanan ini,” jawab Fei Fei sambil duduk santai di tepi tempat tidur. “Istirahatlah juga, jangan memaksakan diri menjagaku terus-menerus.”

Li Xia mengangguk patuh, namun tetap memastikan air hangat dan minuman penyegar sudah tersedia sebelum akhirnya berpamitan keluar dan menutup pintu dengan hati-hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!