NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

BAB 33: Penawar Luka di Tengah Dinginnya Malam Bogor

Keheningan malam di kawasan agrowisata Bogor terasa berkali-kali lipat lebih pekat di dalam tenda komando khusus pengurus OSIS. Struktur tenda yang besar dan kokoh itu berhasil menghalau embusan angin gunung yang kian menusuk tulang. Satu-satunya sumber penerangan di dalam ruangan tertutup itu berasal dari sebuah lampu petromaks portable yang tergantung di tiang tengah, memancarkan pendaran cahaya kekuningan yang temaram, hangat, dan memberikan kesan terisolasi seutuhnya dari riuh kepanikan murid-murid di area api unggun luar.

Zayn Dominic melangkah masuk dengan napas yang masih terengah-engah. Tubuh tingginya yang tegap tampak sedikit kaku saat dia perlahan menurunkan Elva Ileana dari gendongan ala bridal style-nya. Zayn meletakkan tubuh mungil gadis itu dengan sangat hati-hati di atas tumpukan kasur lipat empuk yang dilapisi karpet bulu tebal. Begitu kedua kaki Elva menyentuh lantai tenda, Zayn langsung membalikkan badannya untuk menarik ritsleting pintu tenda hingga rapat sempurna, lalu menguncinya dari dalam dengan sentakan yang tegas.

Zayn mengembuskan napas panjang yang berat melalui sela-sela bibirnya. Dia tidak langsung duduk di sebelah Elva. Cowok itu berdiri diam di tengah tenda, membelakangi gadisnya dengan kedua tangan yang mengepal kuat di samping tubuh. Bahunya yang lebar tampak naik-turun dengan cepat. Sisa-sisa adrenalin dan luapan emosi pasca-perkelahian brutal satu lawan satu melawan Christian Narendra di bawah kobaran api unggun tadi masih membakar isi kepalanya. Ego, arogansi, dan sifat pelindung posesif sang tuan muda benar-benar terkoyak hebat malam ini.

"Zayn..." panggil Elva lirih, suara lembutnya bergetar hebat menahan tangis yang kembali membuncah di dalam dadanya.

Mendengar suara cemas dari mentari kecilnya, ketegangan di punggung tegap Zayn seketika melunak dalam satu kedipan sekon. Dia membalikkan tubuhnya perlahan, lalu melangkah kaku mendekati kasur lipat dan mendudukkan dirinya di atas lantai karpet, tepat di hadapan Elva.

Di bawah pendaran cahaya kekuningan lampu petromaks, Elva seketika menangkupkan kedua tangan kecilnya di depan mulut, menahan pekikan ngeri melihat kondisi wajah tampan cowoknya. Penampilan Zayn malam ini benar-benar berantakan. Sudut bibir kirinya pecah, mengeluarkan aliran darah segar yang mulai mengering di sekitar rahang tegasnya.

 Pipi kanannya tampak memar kebiruan akibat hantaman pukulan mentah Christian, dan ada luka robek kecil di dekat pelipis mata elangnya yang terus meneteskan darah, membasahi sebagian kaos lengan panjang hitam yang dikenakannya.

Air mata yang sedari tadi ditahan Elva akhirnya luruh kembali dengan sangat deras, membasahi pipi polosnya yang tanpa polesan kosmetik. Rasa bersalah yang teramat sangat besar mendadak menghantam ulu hatinya.

"Zayn... wajah kamu luka semua begini... ini semua gara-gara aku... Maafkan aku, Zayn..." cicit Elva di sela-sela isak tangisnya.

Zayn menggerakkan tangan kekarnya, meraih kedua pergelangan tangan kecil Elva yang sedang gemetar, lalu menurunkannya dengan sangat lembut. Sepasang mata elang Zayn yang semula sedingin es kini sepenuhnya dipenuhi oleh kelembutan yang tiada tara khusus hanya untuk gadis di depannya.

"Jangan nangis, Elva. Ini bukan salah lo," ucap Zayn rendah, suara baritonnya terdengar serak dan dalam di dalam kesunyian tenda.

 "Gue nggak apa-apa. Luka kecil kayak gini nggak ada artinya dibanding rasa kesal gue pas liat anak London itu deket-deket lo."

Meskipun dalam kondisi terluka, sifat cemburu posesif Zayn yang kaku dan menggemaskan tetap keluar seutuhnya. Elva yang melihat hal itu langsung menyeka air matanya dengan punggung tangan, mencoba menguatkan hatinya sendiri. Dia tahu dia tidak boleh terus menangis; sekarang adalah gilirannya untuk menjadi sosok yang merawat dan menenangkan sang singa pelindung yang sedang terluka.

Elva berdiri sejenak, melangkah cepat menuju ke sudut tenda tempat kotak P3K darurat milik OSIS diletakkan. Setelah mengambil sebotol cairan antiseptik, beberapa lembar kapas bersih, salep medis, dan sebotol air mineral, Elva kembali duduk lesehan di atas karpet bulu tepat di sela-sela kedua kaki panjang Zayn yang terbuka, memposisikan tubuh mungilnya agar bisa menjangkau wajah tegap cowok itu dengan mudah.

"Zayn, agak menunduk sedikit," perintah Elva lembut, suaranya kini terdengar jauh lebih stabil dan jernih.

Zayn menurut tanpa banyak protes—sebuah kepatuhan langka yang hanya akan dia berikan jika Elva yang memintanya. Zayn menundukkan kepala tegapnya, membiarkan wajah tampannya berjarak hanya beberapa senti saja dari wajah polos Elva. Jarak yang begitu dekat ini membuat Elva bisa menghirup aroma maskulin khas perpaduan mint dan keringat panas dari tubuh tegap Zayn, sementara napas hangat Zayn yang teratur berembus menerpa permukaan kulit leher Elva yang dihiasi tanda merah pekat baru buatan sore tadi.

Elva menuangkan sedikit cairan antiseptik ke atas kapas, lalu dengan gerakan tangan yang sangat telaten, hati-hati, dan luar biasa lembut, dia mulai mengusap sisa darah yang mengalir di pelipis kanan Zayn.

"Ssshh..." Zayn mendesis pelan, otot-otot di rahang tegasnya refleks menegang saat alkohol menyentuh luka robeknya.

"Maaf... perih ya, Zayn? Aku pelan-pelan kok," ucap Elva panik, matanya menatap cemas ke arah mata elang Zayn. Secara refleks, Elva memajukan wajahnya sedikit lalu meniup luka di pelipis Zayn dengan embusan napasnya yang lembut untuk meredakan rasa perihnya.

Tindakan polos dan penuh perhatian dari Elva seketika mengirimkan desiran nyaman yang luar biasa ke seluruh saraf tubuh tegap Zayn. Emosi dan bara kemarahan yang sempat tersisa di dalam kepalanya mendadak padam tanpa sisa, runtuh seutuhnya di hadapan kemurnian mentari kecilnya. Zayn menatap intens ke dalam sepasang manik mata bulat milik Elva yang terfokus merawat lukanya, merasakan rasa sayang yang kian membuncah di dalam ulu hatinya.

Setelah selesai membersihkan pelipis, Elva mengambil kapas baru untuk menyeka sudut bibir pecah Zayn. Ibu jari tangan kecil Elva menempel lembut di dagu kaku Zayn untuk menahan posisinya. Sentuhan jemari lentik Elva begitu hangat, seolah sedang menyembuhkan setiap luka fisik dan ego yang sempat terkoyak akibat perkelahian tadi siang.

"Zayn... berantemnya jangan diulangi lagi, ya?" ucap Elva lirih sambil mengoleskan salep tipis-tipis di sudut bibir cowoknya. "Aku beneran takut setengah mati tadi pas liat kamu sama Christian saling pukul di depan semua orang. Aku nggak peduli seberapa berkuasanya Christian atau strategi apa yang dia punya... di mataku, cuma ada kamu seutuhnya..."

Mendengar janji ketulusan dan kepasrahan mutlak yang diucapkan langsung oleh bibir manis Elva, tatapan mata elang Zayn berubah menjadi begitu redup, pekat oleh gairah cinta dan dorongan protektif yang teramat sangat mendalam. Semua rasa lelah, pegal, dan sisa emosi dari perkelahian brutal di api unggun tadi mendadak menguap tanpa sisa dari kepala Zayn.

Zayn mengulurkan tangan kekarnya, menyingkirkan kotak P3K di samping mereka. Namun kali ini, alih-alih menarik Elva ke dalam pelukannya seperti biasa, Zayn justru mencondongkan tubuhnya ke depan, memerangkap tubuh mungil Elva di antara kedua lengan kekarnya yang kokoh menumpu di lantai marmer berlapis karpet.

Zayn menatap lurus ke dalam manik mata bulat Elva yang sayu. Hawa dingin dari luar yang menyelinap ke dalam tenda terasa berbanding terbalik dengan panas yang mendadak menjalar di antara mereka. Dengan gerakan lambat yang sangat provokatif, Zayn meraih sebutir es batu kecil yang tadi dibawa Elva di dalam kantung P3K untuk mengompres memar.

Bukannya ditempelkan pada wajahnya sendiri yang terluka, Zayn justru mengarahkan es batu dingin itu ke leher putih bersih Elva. Sensasi dingin yang mendadak menyentuh kulit hangat Elva membuat gadis itu refleks mendesah tertahan, tubuh mungilnya sedikit meremang di bawah kurungan tubuh tegap Zayn. Zayn mengusapkan es batu itu perlahan, membiarkan lelehan air sedingin es mengalir lambat menyusuri lekuk leher, melintasi kalung perak mereka, hingga berhenti tepat di atas tanda merah yang dia buat sore tadi.

"Z-Zayn... dingin..." bisik Elva lirih, napasnya mulai tidak beraturan.

Zayn tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melempar sisa es batu itu ke samping, lalu memajukan wajah tampannya tanpa sisa jarak. Bibir hangatnya yang sedikit terluka langsung menempel di atas permukaan kulit leher Elva yang baru saja basah dan mendingin akibat es batu tadi. Perbedaan suhu yang ekstrem antara dinginnya kulit Elva dan panasnya bibir Zayn menciptakan sengatan gairah yang begitu intim dan menggoda.

Zayn menyesap sisa air dingin di leher Elva dengan lumatan-lumatan kecil yang lambat namun sangat dalam. Setiap hisapan lembut dari bibir Zayn tidak lagi kasar seperti sore tadi, melainkan sebuah permainan sensual yang menuntut kepatuhan mutlak dari gadisnya. Elva mencengkeram kuat bagian depan kaos hitam Zayn, kepalanya refleks terdongak ke belakang, memberikan akses yang jauh lebih luas bagi sang penguasa sekolah untuk merajai lehernya di bawah temaram lampu petromaks.

"Zayn... ah..." Elva melenguh rendah, kehilangan seluruh pijakan akal sehatnya saat bibir hangat Zayn perlahan bergerak naik menyusuri rahangnya, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan belahan bibir manisnya.

Zayn menatap mata bulat Elva yang kini sepenuhnya sayu dan berkaca-kaca karena terhanyut. "Buka bibir lo" perintah Zayn, suaranya terdengar begitu rendah, kaku, dan serak di tenggorokan—sebuah perintah posesif yang sangat seksi.

 "Gue mau rasa stroberi lo, bukan rasa darah dari anak London itu."

Elva menurut pasrah, perlahan membuka sedikit belahan bibirnya yang merekah indah. Namun kali ini, Zayn tidak langsung menerobos masuk dengan lidahnya. Alih-alih melakukan dominasi cepat, Zayn justru hanya menempelkan bibirnya, menyesap bibir bawah Elva dengan lumatannya yang sangat pelan, ber-ritme, dan penuh perasaan cinta yang mendalam.

 Ciuman kali ini terasa begitu menggairahkan karena Zayn sengaja menahan diri, mempermainkan sensitivitas bibir Elva dengan pagutan-pagutan lembut yang sengaja dia jeda setiap beberapa sekon, memancing Elva untuk gantian meremas bahu kokohnya demi menuntut ciuman yang lebih dalam.

Ketika Elva sudah bener-bener tidak tahan dan melenguh manja di dalam dekapannya, barulah Zayn mempererat cengkeraman tangannya di pinggang mungil Elva, menarik tubuh gadis itu hingga terangkat dan melekat sempurna di atas pangkuannya. Zayn menyatukan bibir mereka tanpa ada celah udara sedikit pun, membiarkan lidah mereka saling bertautan erat dalam sebuah ciuman panas yang basah, intim, dan mengunci seutuhnya takdir mereka di dalam kesunyian malam Bogor.

Ketika tautan bibir itu akhirnya terlepas dengan sangat perlahan, Elva langsung menyandarkan kepalanya yang lemas dengan napas yang terengah-engah di atas dada bidang Zayn. Wajah polosnya sudah merah sempurna bagai buah stroberi. Zayn tersenyum puas, sebuah senyuman penuh kemenangan yang sangat tampan di wajahnya yang dipenuhi memar, lalu dia mendekap pinggang mungil Elva erat-erat di dalam jaket denimnya yang hangat.

Di bawah pendaran lampu petromaks yang temaram ini, janji perlindungan mereka telah berakar semakin kuat, menyisakan kepastian mutlak bahwa fajar kehidupan baru Elva tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh pengacau mana pun dari luar sana.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!