Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 4 SELALU DIBEDAKAN
Setibanya di rumah, Aline langsung di sambut dengan kehadiran sang ayah.
Seperti biasa mata Aline langsung menangkap pemandangan yang sudah terlalu akrab: melihat ayahnya diapit ibu dan adik tirinya di ruang tamu.
Aline melangkah ke arah mereka, berharap bisa melepaskan rindu dengan sang ayah. Ia juga akan memberitahukan pada ayahnya tentang apa yang sudah mereka lakukan padanya. Namun, sebelum ia ingin menjelaskan pada sang ayah sebuah suara dingin menghentikan langkahnya.
"Apa selama Ayah tidak ada, kamu selalu keluyuran seperti ini?" tanya Dimas. Ia menatap putrinya dengan pandangan yang menghunjam.
DEGH!
Rasa kecewa langsung memenuhi hati Aline. Apakah ini sambutan pertama sang ayah untuknya. Tidak ada pelukkan bahkan menanyakan kabar dirinya pun seolah tidak penting.
Tiba-tiba suara ibu tirinya menambah suasana itu semakin memanas. "Memang semenjak, Mas! Nggak ada di rumah, aku sering melihat Aline selalu berada di luar." sambung Sinta sambil menampilkan senyum miring yang hanya ia tunjukkan ke arah Aline.
"Itu semua nggak benar, Ayah." Aline mencoba membela diri. "Sebenarnya mereka—"
Kalimat itu terhenti kala Nana menyela percakapan itu. "Bahkan aku pernah memperingatkan Kakak, saat dia mendatangi hotel bersaman laki-laki dan akhirnya Kak Aline malah memarahiku." Suara sedih Nana dan raut wajah sendu yang dibuat-buat membuat laki-laki paruh baya itu seketika menjadi geram.
"Apa seperti itu didikkan Ayahmu ini, Aline? Ayah tidak ingin mendengar alasan apa pun lagi dari kamu, mulai sekarang semua pekerjaanmu serahkan saja pada adikmu. Ayah tidak ingin perusahan yang Ayah bangun susah payah berantakan hanya karena kamu."
Kalimat itu lebih menyakitkan dari hal apa pun yang pernah Aline dapatkan, bahkan saat ia kehilangan harga dirinya tidak sampai sesakit ini.
Ayah kandungnya sendiri tidak percaya sama sekali dengannya, apakah jika ia tetap mengatakan hal yang sudah terjadi padanya ayahnya akan membelanya. Aline menggeleng tidak percaya ia tertawa miris dalam hati.
"Ayah! Aku nggak mungkin seperti itu. Ayah yang lebih tau putrimu ini seperti apa?" sela Aline, suaranya terdengar lirih.
Tanpa mendengarkan penjelasan Aline. Dimas, Sinta dan Nana berlalu pergi begitu saja meninggalkan Aline yang berdiri di tempatnya.
"Ayah! Tunggu... dengarkan Aku dulu!" Air matanya mulai luruh saat itu juga, Aline mencengkram plastik yang berisi obat tersebut dengan erat. Sambil menatap ayahnya masuk ke dalam kamarnya.
Dengan langkah gontai Aline masuk ke kamarnya, hari ini terlalu lelah baginya dan ditambah lagi rasa sakit di area pribadinya yang terasa sangat perih.
Di dalam kamar, Aline langsung menuju kamar mandi sambil membawa obat tersebut. Lagi-lagi Aline meneteskan air matanya saat sedang mengobati area intimnya.
"Kenapa mereka setega ini, selama ini aku nggak pernah memperlakukan mereka dengan buruk." Aline menatap pantulan dirinya di depan cermin wastafel. Satu-satunya yang tersisa dalam dirinya kini telah hilang.
Malam hari pun tiba. Semua masih terlihat normal untuk ketiga orang tersebut. Ayah, ibu dan adik tirinya duduk di meja makan, mereka tampak terlihat seperti keluarga harmonis. Makan bersama lebih dulu tanpa menunggu dirinya seolah kehadirannya memang tidak diinginkan.
Aline melangkah mendekat lalu menarik kursi dan duduk di antara mereka. Sebelum tangannya menyentuh makanan, lagi-lagi suara dingin ayahnya selalu berhasil membuatnya membeku.
"Malam ini, berkas pekerjaan yang kamu handle kasih pada adikmu."
"Aku akan kasih semuanya, tapi asal Ayah tau mereka sudah menghancurkan hidupku." Suara Aline terdengar naik satu oktaf.
"Jangan bicara omong kosong, Aline. Jangan menyalahkan mereka hanya karena ingin menyembunyikan kesalahanmu!" Suaranya terdengar dingin dan menusuk.
Setelah mengatakan itu, Dimas berlalu pergi begitu saja tanpa memandang atau menyapa putrinya.
Aline menatap punggung ayahnya dengan pandangan sendu, untuk hal seperti ini saja ayahnya tetap tidak mempercayainya. Ayahnya terkesan sangat membela adik dan ibu tirinya.
Aline kehilangan napsu makan, apalagi melihat kedua orang itu. Ingin sekali ia menumpahkan seluruh amarahnya, namun percuma saja ia tidak memiliki cukup bukti dan hanya akan menambah pertengkarannya dengan ayahnya. Ia lebih memilih untuk kembali ke kamar.
Di sisi lain, Nana dan Sinta tersenyum penuh kemenang mereka menatap ke dua ayah dan putri itu saling berjauhan.
Nana beralih duduk ke samping ibunya. "Ibu, rencana kita berhasil." bisik Nana tepat di samping ibunya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan situasi agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka.
"Bagus, kamu memang pintar Nana! Sekarang perusahaan ayahmu hanya akan menjadi milikmu."
Nana mengangguk antusias matanya berkilat bahagia. Dengan begitu sekarang ia bebas melakukan apa pun di perusahaan ayahnya, bebas mengambil berapa pun uang yang akan ia gunakan untuk perawatan tubuh dan mempercantik dirinya.
Ia tidak akan membiarkan kaka tirinya itu mempunyai segalanya, semua yang dia miliki harus menjadi miliknya. "Jangan harap! Kamu bisa hidup bahagia, Aline." Suaranya mengandung rasa iri dan dengki terhadap saudara tirinya sendiri.
Keduanya tertawa girang. Merencanakan apa pun untuk mengusir Aline dari rumah itu dan menguasi seluruh harta ayah Aline.
"Ibu, kalau begitu aku pamit dulu, ya. Aku harus menemui Pria Tua itu agar dia tetap tutup mulut." bisik Nana, merapatkan tubuhnya agar suaranya tidak terdengar oleh siapa pun.
Sinta mengangguk sambil menatap pintu kamarnya, takut suaminya tiba-tiba ke luar dan melihat gelagat aneh dirinya dan putrinya yang bisa menimbulkan kecurigaan suaminya.
"Kamu harus hati-hati, jangan sampai ada orang yang tau!"
"Ibu, tenang aja semuanya sudah aku urus dan akan tetap aman. Aku berangkat sekarang."
Setelah mengatakan itu, Nana langsung beranjak dari tempatnya, ia mengenakan tas selempang lalu mengambil kunci mobil yang tergantung.
Nana mengarahkan mobilnya menuju sebuah gedung tua. Tidak membutuhkan waktu lama ia akhirnya sampai di tempat itu.
Ia langsung turun dari mobil, seketika matanya menangkap beberapa orang yang tengah bermain judi. Bau minumanan keras menyengat dan beberapa botol berserakan di lantai gedung tua itu.
"Ada di mana, Bos! Kalian?" tanya Nana langsung pada intinya.
Mereka langsung menoleh di saat mendengar suara Nana. "Untuk apa kau mencarinya?" Salah satu dari mereka maju ke arah Nana.
"Aku ingin bertemu dengannya."
Tepat setelah Nana mengatakan itu, bos preman itu keluar dari salah satu kamar yang berada di gedung tua itu.
"Ada apa, kau mencariku lagi?"
Nana sedikit menciut dengan aura pria tua itu, yang terlihat sangat mengintimidasi dan mengancam. Jelas dia adalah seorang preman kelas kakap.
"Aku minta kau untuk tetap tutup mulut, jangan sampai ada orang yang tau bahwa aku telah membayarmu!"
Preman itu tersenyum miring. Ia menatap Nana dengan pandangan meremehkan. "Jika kau ingin aku tetap tutup mulut, berapa kau berani membayarku?"
"Apa-apan! Aku sudah membayarmu, tidak ada uang lagi. Urusan kita sudah selesai dan awas saja kalau sampai kau berani membongkarnya."
Pria tua itu tertawa renyah, namun terdengar mengerikan di telinga Nana. Ia semakin mendekat ke arah Nana mengikis jarak di antara mereka. Hingga Nana bisa mencium aroma tembakau dari pria tua itu.
"Menjauh lah dariku berengsek!"
"Kau berani sekali datang ke sini." ucap Pria Tua itu dengan nada mengancam.
Nana yang semakin terpojok, ia tidak ingin terjadi hal buruk padanya. Dengan hati yang tidak ikhlas ia menyetujui bahwa ia akan memberikan uang lagi pada mereka.
"Baiklah, aku akan transfer kalian lagi. Tapi ingat jangan sampai kalian membocorkan hal ini pada siapa pun." Nana langsung mengambil ponselnya dalam tas dan mengirim uang tersebut pada mereka.
"Sudah!"
"Ok, lagian wanita itu tidak pernah tidur denganku. Terima kasih untuk uang ini." Mereka semua menertawakan kebodohan Nana.
Nana terkejut bukan main. Jika bukan dengan pria tua itu, lalu siapa yang sudah tidur dengan Kakak tirinya. Ia telah ditipu para preman itu, uangnya lenyap begitu saja.
Dengan amarah yang tertahan dalam hati, Nana langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Seram, Erlangga seram😬😬😬😬🤣
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣