Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#03 Kenangan Dan Rahasia
Ayla mencengkeram kuat pagar pembatas di balkon kamarnya. Ia menatap kosong ke sekeliling halaman rumahnya. Dari tempat itu, ia bisa melihat jelas kolam renang tempat ia hampir kehilangan nyawanya kemarin, serta taman samping rumah yang dulu sering ia kunjungi saat masih kecil.
Setiap kali ia memandangi tempat-tempat itu, bayangan masa lalu yang penuh kebahagiaan selalu menghantui pikirannya.
“Dulu, Kak Bastian sangat menyayangiku. Dia selalu membelaku, bahkan saat aku yang bersalah sekalipun. Tapi sekarang... aku yang sama sekali tidak bersalah, selalu saja dianggap salah di mata kalian semua,” gumam Ayla lirih. Kenangan indah masa kecilnya bersama kakak laki-lakinya itu kini terasa begitu menyakitkan.
“Kak Adnan pun dulu rela berkelahi dengan orang lain hanya demi membela aku. Dia sangat menyayangiku. Namun kini, aku seolah menjadi orang yang paling berdosa di matanya,” sambungnya lagi, suaranya bergetar menahan tangis.
Matanya kembali basah. Air mata itu jatuh tanpa henti, membasahi pipinya yang mulus namun kini terlihat pucat dan lesu.
“Mama... Papa... Kalian juga sama. Di mana sosok orang tua yang dulu begitu menyayangiku?” batin Ayla, tak sanggup lagi menahan rasa sakit yang menggerogoti hatinya.
Usia Ayla kini genap dua puluh tahun. Tragedi kebakaran itu terjadi tepat lima belas tahun yang lalu. Sejak hari nahas itulah, Ayla merasa kehilangan segalanya dalam hidupnya, terutama kasih sayang keluarga dan jati dirinya sendiri.
“Mereka selalu menyalahkanku sejak kejadian itu... padahal aku sendiri sama sekali tak bisa mengingat apa pun. Aku koma selama satu minggu setelah kebakaran hebat itu. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku dan pada Bibi... aku juga tak mengerti bagaimana Bibi bisa meninggal saat itu. Yang aku ingat hanya, saat aku sadar, Kak Alena baik-baik saja, dan Bibi sudah tiada... Ah, kepalaku sakit sekali setiap kali mencoba mengingat kejadian itu,” keluh Ayla sambil memijat pelan pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.
Memang, Ayla sama sekali tak memiliki ingatan tentang peristiwa mengerikan itu. Setiap kali ia berusaha membayangkan atau mengingatnya kembali, kepalanya selalu terasa sakit luar biasa. Bayangan api yang berkobar seolah menyeruak kembali dan membakar pikirannya, membuatnya berhenti seketika.
Sementara itu, di ruang rawat inap rumah sakit...
“Alena, bagaimana keadaanmu? Apakah kau sudah merasa lebih baik sekarang?” tanya Reyhan lembut, duduk di sisi ranjang gadis itu.
“Reyhan? Kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau ada di rumah menemani Ayla? Kasihan dia sendirian... dia juga sedang sakit, bukan? Ah, semua ini salahku. Kak Adnan terlalu marah dan sampai mendorong Ayla ke kolam. Kalau bukan karena aku, Ayla tak mungkin jatuh sakit seperti ini,” ucap Alena dengan nada yang terdengar sangat sedih dan penuh rasa bersalah. Wajahnya dipasang seolah-olah ia sangat peduli dan khawatir pada Ayla.
“Sudahlah, Alena. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Aku hanya membuat dia merasakan sedikit saja rasa sakit yang selama ini kau rasakan. Itu belum seberapa dibanding apa yang dia lakukan padamu,” sahut Adnan santai. Ia duduk di sofa ruangan itu dengan wajah datar, seolah apa yang dilakukannya kemarin adalah hal yang wajar.
“Adnan benar. Ayla itu terlalu manja dan keras kepala. Semua masalah ini justru karena kebaikan hatimu, Alena. Setiap kali dia berbuat salah, kau selalu saja berusaha membelanya. Bukannya dia berubah menjadi lebih baik, kau malah semakin menderita karenanya,” tambah Reyhan, lalu beranjak duduk di samping Adnan.
“Kalian berdua ini... terlalu berlebihan. Aku sudah baik-baik saja kok. Ayla kan masih labil, kalian tak perlu terlalu menyalahkannya seperti itu. Salahkan saja aku yang terlalu lemah dan mudah sakit, jadi merepotkan semua orang,” ucap Alena, sambil menundukkan wajah seolah sedang menahan sedih.
Adnan dan Reyhan seketika terdiam. Mereka menatap Alena dengan tatapan penuh rasa iba. Semakin Alena bersikap lemah, lembut, dan rendah hati, semakin besar pula rasa kasihan dan kagum mereka pada gadis itu.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Tampak Tina dan Bayron yang baru saja kembali dari kantor, langsung menyempatkan diri menjenguk Alena ke rumah sakit.
“Alena, kau sudah bangun, Nak?” sapa Mama Tina, bergegas menghampiri ranjang itu dengan wajah lega.
“Mama...” panggil Alena, lalu tersenyum bahagia dan memeluk erat wanita paruh baya itu.
“Syukurlah kau baik-baik saja. Mama dan Papa sangat khawatir,” ujar Papa Bayron, ikut merasa lega melihat keadaan putri angkatnya itu membaik.
“Kalian juga ada di sini rupanya,” ucap Mama Tina, menatap sekilas ke arah Reyhan dan Adnan.
“Iya, Bu. Alena kan lebih membutuhkan kami saat ini,” jawab Adnan dengan nada santai.
“Huuh... Jujur saja, Mama benar-benar kecewa sekali dengan sikap Ayla. Dia sama sekali tidak berubah sejak lima belas tahun lalu. Masih saja keras kepala, pembangkang, dan bikin masalah. Andai saja dia bisa lebih penurut dan lembut seperti Alena, mungkin kejadian-kejadian buruk seperti ini tak akan pernah terjadi,” ungkap Mama Tina dengan nada penuh ketidaksukaan, seolah Ayla adalah aib besar bagi keluarga mereka.
“Sudahlah, Ma. Jangan begitu... Ayla kan masih seperti anak kecil yang belum paham,” sela Alena, seolah membela adiknya itu.
“Alena... kau ini benar-benar gadis yang baik. Terbuat dari apa hatimu itu sampai sebegini tulusnya? Aku sendiri, sebagai pacar Ayla, jujur saja sudah muak dan lelah menghadapi perilaku jahat dan sifatnya itu,” sahut Reyhan dengan nada kesal.
“Kalau begitu, kenapa kau tidak segera mengakhiri hubungan saja? Kau terlihat jauh lebih cocok dan sejalan dengan Alena, bukan dengan Ayla,” celetuk Adnan dengan suara lantang dan tegas.
Semua orang di ruangan itu seketika terdiam mendengar ucapan Adnan, termasuk Alena sendiri. Gadis itu menatap wajah Reyhan dengan pandangan yang sulit diartikan, ada kilatan bahagia yang berusaha disembunyikan.
“Kak Adnan, bagaimana kau bisa bicara sembarangan seperti itu? Kau tahu sendiri kan betapa besarnya rasa cinta Ayla pada Reyhan?” ucap Alena, berusaha terlihat marah meski ujung bibirnya hampir tak bisa menahan senyum.
“Kakakmu ada benarnya juga. Reyhan itu anak baik, rasanya memang tak cocok jika dia harus bersama dengan Ayla yang berhati keras dan kejam. Bagaimana menurutmu, Reyhan?” tanya Papa Bayron, ikut menimpali sambil menatap tajam ke arah pemuda itu.
Reyhan terdiam. Mendengar ucapan mereka bertubi-tubi, hatinya semakin ragu. Jujur saja, ia pun sudah mulai tak yakin dengan perasaannya sendiri, apalagi setelah melihat sikap Ayla yang dianggapnya semakin sulit diatur.
“Keluargaku sangat menginginkan aku beristri dari kalangan yang kuat dan terpandang. Jika aku tetap menikah dengan Ayla, mungkin aku juga akan ikut dibenci oleh seluruh keluarga Gunawan. Tapi... jika aku memilih Alena... bukan saja aku akan dipuji dan disayangi mereka, tapi aku juga bisa saja mendapatkan akses atas sebagian besar saham dan kekayaan keluarga Gunawan nantinya,” batin Reyhan, mulai memikirkan keuntungan yang bisa ia dapatkan.
Di tempat lain, di pusat kota...
Perusahaan Keluarga Gunawan – Gunawan Group
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya