Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 30
Batas Langit Dunia Fana – Selubung Atmosfer Luar.
TAAAK!
Suara ketukan itu terdengar begitu renyah, persis seperti suara biji kemiri yang dipukul dengan palu batu di atas talenan kayu. Namun, gema dari ketukan tersebut merambat melalui kehampaan, menciptakan riak gelombang yang membatalkan seluruh hukum fisika dan sihir di sekitarnya.
Kerikil kali yang dilontarkan dari ketapel kayu mainan Shi Hao melesat tanpa cahaya, tanpa aura, murni hanya membawa berat dari Jalan Kemanusiaan (Mortal Dao) yang kuat.
Batu sebesar ibu jari itu menghantam tepat di tengah-tengah dahi Kagendra, sang Leluhur Gagak Pemakan Matahari, entitas yang ukurannya mampu menelan sebuah benua.
Pada detik kerikil itu bersentuhan dengan dahi Kagendra...
Api hitam pemusnah galaksi yang sedang berkobar di dalam paruhnya padam seketika, seolah-olah ditiup oleh embusan angin sejuk musim gugur. Bulu-bulu materi gelap yang menyelimuti tubuh raksasanya berhenti beriak.
Kagendra membelalakkan kedua mata apinya. Otak purbanya yang telah hidup sejak zaman sebelum cahaya diciptakan, tiba-tiba mengalami kemacetan total.
"A-Apa yang menabrakku...?" batin Kagendra, suaranya bergetar dipenuhi ketidakpercayaan. "Ini... ini bukan pusaka tingkat Kaisar Dewa... Ini bukan sihir penciptaan... Ini hanya... sebuah batu fana?!"
Namun, batu fana itu tidak memantul. Kekuatan Mortal Dao yang meresap di dalam kerikil tersebut tidak berniat melubangi kepala Kagendra; kekuatan itu berniat mendidiknya.
KRETAK!
Retakan mengerikan bergema dari dalam lautan kesadaran Kagendra. Inti Kekacauan Purba miliknya pusat kekuatannya yang membuatnya abadi retak layaknya kulit telur busuk. Seluruh keangkuhan, keilahian, dan ukuran raksasanya dihancurkan secara konseptual oleh kesederhanaan dari kerikil tersebut.
"NGAAAAAK!"
Kagendra menjerit. Bukan auman purba yang menggetarkan bintang, melainkan suara serak dan menyedihkan dari seekor gagak biasa yang kepalanya baru saja ditimpuk batu oleh anak nakal.
Tubuh raksasanya yang seukuran benua dengan cepat menyusut. Kekuatan karma dari kerikil itu mengompresi wujudnya, melucuti segala hukum pertahanan abadinya, dan menariknya jatuh dari luar angkasa dengan kecepatan yang mengerikan. Gesekan dengan atmosfer dunia fana membakar habis sisa-sisa bulu hitam kebanggaannya.
Kagendra jatuh menukik, berputar-putar layaknya gasing yang terbakar, menuju langsung ke arah sebuah desa kecil di Benua Tengah.
Dunia Fana – Halaman Belakang Gubuk Keluarga Shi.
Shi Hao masih memegang ketapel kayunya dengan tangan kiri yang terangkat, sementara tangan kanannya baru saja selesai melakukan gerakan melepaskan tembakan. Ia menengadah, mengarahkan telinganya ke atas langit yang perlahan mulai kembali cerah.
"Ah, sepertinya kena," gumam Shi Hao santai, menurunkan ketapelnya dan menyelipkannya kembali ke balik sabuk raminya.
SWUUUSH... PUK!
Tepat dua langkah di depan gundukan tanah tempat tunas Surgawi ditanam, sebuah benda hitam berasap jatuh menghantam tanah. Tidak ada kawah raksasa, tidak ada gempa bumi. Hanya suara Gedebuk pelan, persis seperti ayam mati yang dilempar ke atas lumpur.
Debu mengepul tipis.
Gu Qing Yi melangkah maju, tangannya memegang handuk kecil suaminya. Nyonya Raja Dewa itu menunduk, melihat ke arah benda yang baru saja jatuh. Senyum anggun tak pernah lepas dari bibirnya.
Di atas tanah, tergeletak seekor burung gagak sebesar ayam kampung jantan. Bulunya rontok parah hingga menyisakan kulit yang memerah karena panas, membuatnya terlihat seperti ayam potong cacat yang lupa direbus sebelum dicabut bulunya. Di tengah dahinya yang botak, terdapat benjolan merah sebesar telur puyuh yang masih berasap.
Itu adalah sisa dari wujud fana Kagendra. Monster pemakan bintang itu kini pingsan dengan mata berputar ke atas, lidahnya menjulur keluar, dan kedua kaki cakar kecilnya bergerak-gerak kejang karena syok.
"Wah, tangkapan yang bagus, Suamiku," puji Qing Yi dengan nada istri yang bangga melihat suaminya membawa pulang hasil buruan. "Burung gagak liar ini lumayan gemuk. Apakah kau mau aku membuatkannya sup obat kental? Daging burung liar bagus untuk memanaskan tubuh di malam hari."
Shi Hao melangkah mendekat, menggunakan ujung tongkat bambunya untuk menyodok-nyodok pantat gagak botak itu.
"Jangan, Istriku. Daging gagak itu keras dan rasanya sedikit asam," kata Shi Hao, menggelengkan kepalanya. "Lagipula, bulunya rontok semua. Sepertinya dia sedang sakit kulit. Jangan sampai kita sakit perut memakannya."
Bagi Kagendra, sungguh sebuah berkah luar biasa bahwa ia sedang pingsan. Jika ia mendengar bahwa ia, salah satu Seratus Raja Leluhur dari Jurang Kekacauan, ditolak menjadi sup karena dianggap berpenyakit kulit, sisa Inti Purba-nya pasti akan meledak karena penghinaan.
Shi Hao berjongkok, meraba leher gagak itu lalu mengangkatnya dengan satu tangan layaknya memegang botol kecap.
"Kita jadikan penjaga kebun saja," putus Shi Hao. Ia berjalan ke arah tiang jemuran dari bambu, lalu mengambil seutas tali rami sisa mengikat kayu bakar. Dengan sangat cekatan, Shi Hao mengikatkan tali rami itu ke kaki Kagendra, lalu menggantung burung purba yang tak sadarkan diri itu secara terbalik di ujung tiang jemuran.
"Jika dia bangun nanti, biarkan dia mengepak-ngepak di sana. Suaranya pasti bisa menakuti tikus sawah yang sering mencuri gabah kita," ujar Shi Hao puas, menepuk tangannya membersihkan debu.
Seekor Dewa Purba yang turun membawa kiamat kini resmi beralih profesi menjadi orang-orangan sawah penakut tikus.
Hitam Satu berjalan mendekat, mengendus gagak yang digantung terbalik itu, lalu bersin karena bau hangus yang menyengat, memutuskan bahwa burung botak itu tidak pantas dijadikan camilan.
Di Atas Dahan Bambu Kuno (Kejauhan).
Lima elit Transformasi Dewa yang menjadi saksi mata sejarah hanya bisa berpelukan satu sama lain untuk mencegah kaki mereka lemas dan jatuh dari pohon.
"Sebuah... ketapel kayu mainan..." Lu Bai menatap kosong ke arah langit yang kini biru cerah, lalu beralih menatap gagak botak yang digantung di tiang jemuran. Jati diri pedang dan pemahaman sihirnya hancur lebur.
Shui Di menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang pucat. "Ketapel yang bahkan getahnya dibeli seharga dua keping tembaga di pasar malam... menembak jatuh Seratus Raja Leluhur dari luar angkasa."
Hei Gen sedang menulis di atas gulungan bambunya dengan kecepatan kilat, air matanya menetes tanpa henti. "Hukum Alam ke-89: Jangan pernah terbang di atas halaman Tuan Besar saat beliau sedang menjemur baju. Bahkan jika kau adalah wujud kiamat itu sendiri, kau akan berakhir menjadi hiasan jemuran."
Hong Hua menutup wajahnya dengan kipas, menahan tawa histeris yang nyaris membuatnya gila. "Kalian dengar apa yang dikatakan Nyonya? Nyonya ingin merebusnya menjadi sup! Pasangan suami istri ini benar-benar memperlakukan ancaman kosmik layaknya berbelanja sayur di pasar!"
Kedalaman Jurang Kekacauan Purba.
Di atas altar tulang naga raksasa, keheningan yang mencekam menyelimuti ruang dimensi terlarang tersebut.
Sosok bersayap enam dengan tiga pasang mata emas Leluhur Zun mencengkeram tombak bintangnya hingga buku-buku jarinya memutih. Di sebelahnya, siluman bermuka harimau menggeram tertahan, bulu-bulu peraknya meremang karena teror yang tak bisa dijelaskan.
Koneksi mereka dengan Kagendra belum terputus sepenuhnya, namun fluktuasi keilahian gagak itu telah musnah sama sekali. Mereka bisa merasakan, melalui ikatan jiwa purba, bahwa Kagendra tidak mati terbunuh dalam pertempuran epik. Ia ditumbangkan dengan cara yang... sangat menghina akal sehat.
"Satu serangan... Tidak, itu bahkan bukan sihir," desis Leluhur Zun, matanya menyipit membelah kegelapan. "Kagendra dipukul mundur oleh sebongkah tanah yang tidak memiliki fluktuasi Qi sama sekali. Kekuatan pria buta itu berada di luar sistem penciptaan, kehancuran, bahkan kekacauan."
Siluman harimau menelan ludah. "Zun... jika Tatanan Surgawi saja bisa ditebasnya, dan kini Kagendra ditangkap hidup-hidup olehnya layaknya ayam hutan... apakah kita harus membangunkan Leluhur Agung? Mengerahkan seluruh Armada Kekacauan?"
"Bodoh!" bentak Leluhur Zun, suaranya menciptakan badai lokal di altar tersebut. "Apakah kau tidak melihat?! Mengirim entitas kosmik berukuran raksasa dan kekuatan yang menggelegar ke wilayahnya sama saja dengan melempar kayu kering ke dalam lautan. Mortal Dao miliknya secara pasif menekan segala bentuk kebesaran!"
Leluhur Zun menurunkan tombaknya. Matanya memancarkan kelicikan purba yang licin.
"Pria itu bermain sebagai fana. Dia memanipulasi hukum kesederhanaan," gumam Zun. "Jika kita menyerangnya dengan badai kosmik, dia hanya akan melihatnya sebagai 'angin kencang' dan menutup jendelanya. Jika kita ingin menembus pertahanannya dan mencabut Benih Surga itu, kita harus bermain dengan aturannya."
"Maksudmu...?"
"Kita tidak akan mengirim dewa," kata Zun, sebuah senyum mengerikan terbentuk di wajah purbanya. "Kita akan mengirim 'manusia'. Sesuatu yang sangat fana, sehingga Mortal Dao miliknya tidak akan bereaksi sebagai ancaman hingga racunnya menusuk jantung dari dalam."
Leluhur Zun memutar tangannya. Dari dalam lautan kekacauan di bawah altar, segumpal bayangan kelabu merangkak naik, membentuk sosok seorang manusia berjubah.
Dunia Fana – Gerbang Masuk Desa Angin Lembut.
Menjelang senja, ketika langit berubah warna menjadi jingga keemasan dan asap dapur mulai mengepul dari cerobong-cerobong rumah warga, kedamaian desa sedikit terganggu oleh kedatangan seorang musafir.
Musafir itu mengenakan jubah abu-abu sederhana namun terlihat terbuat dari kain sutra yang sangat halus. Rambutnya diikat rapi layaknya cendekiawan terpelajar. Wajahnya tampan, pucat pasi, namun memancarkan senyum hangat yang bisa menenangkan hati siapa pun yang melihatnya. Di punggungnya, terdapat sebuah kotak buku dari anyaman rotan.
Pria itu berjalan melintasi gapura desa. Sepatu kainnya memijak tanah berbatu.
Tidak ada ledakan Qi. Tidak ada aura membunuh. Pria itu tampak seperti seorang sarjana fana biasa yang sedang mencari tempat menginap.
Namun, jika ada mata dewa yang melihatnya, mereka akan menyadari bahwa setiap kali kaki pria berjubah abu-abu itu memijak tanah, rumput fana di sekitarnya tidak mati atau terbakar. Rumput itu... dilupakan. Eksistensi rumput itu menua puluhan tahun dalam sekejap mata, hancur menjadi abu tanpa sisa, namun segera tertutup oleh ilusi tanah normal.
Ini adalah Cendekiawan Wu, perwujudan Avatar dari Jurang Kekacauan Purba yang telah menekan seluruh esensi nya hingga ke tingkat fana absolut. Ia menyusup ke dunia manusia tanpa memicu alarm Tatanan Langit (karena Surga sudah mati) dan tanpa memicu pertahanan Mortal Dao Shi Hao.
Cendekiawan Wu berjalan menuju sumur desa, tempat Kepala Desa Gou sedang menimba air bersama beberapa warga.
"Permisi, Tuan-tuan yang baik," sapa Cendekiawan Wu, suaranya halus dan sangat sopan. Ia menangkupkan tangannya memberi hormat. "Saya adalah seorang musafir pengelana dari Ibu Kota. Saya mendengar bahwa desa ini sangat damai dan memiliki pemandangan yang indah. Bolehkah saya bertanya?"
Kepala Desa Gou menoleh, mengelap keringatnya, lalu tersenyum ramah melihat penampilan terpelajar tamu tersebut. "Tentu saja, Tuan Sarjana! Apa yang ingin Anda cari di desa terpencil kami ini?"
Cendekiawan Wu tersenyum. Mata kelabunya yang ramah menyembunyikan jurang maut di baliknya.
"Saya adalah seorang pecinta tanaman langka," kata sang cendekiawan, suaranya tenang seperti danau tanpa riak. "Saya mendengar kabar angin... bahwa seseorang di desa ini baru saja menanam sebuah biji buah yang sangat aneh di halaman belakangnya hari ini. Bolehkah Tuan menunjukkan di mana letak rumah petani tersebut?"