Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 PEMBUKTIAN KEDUA
Dalam kondisi kepala yang semakin berdenyut, Abdul akhirnya tidak mampu lagi menahan kantuk yang luar biasa berat.
Pikirannya yang lelah akibat memikirkan ancaman penjara dan kondisi Bapaknha seketika tumbang. Di atas kasur lantai yang tipis itu, Abdul kembali terlelap, menyerah pada rasa pusing yang menghimpit kesadarannya.
Ia tidak tahu berapa lama dirinya tertidur. Namun, ketika kelopak matanya kembali terbuka, Abdul mendapati suasana kamarnya sudah jauh lebih remang.
Cahaya matahari yang tadinya terik dari atap seng kini telah bergeser. Saat menoleh ke arah jam dinding plastik di atas pintu, jarum jam sudah menunjukkan pukul satu siang.
Tepat di saat kesadarannya pulih sepenuhnya, getaran kuat kembali terasa dari balik bantal.
Ting!
Suara notifikasi SMS itu kembali memecah kesunyian kamar. Dengan jantung yang berdebar cepat, Abdul langsung merogoh kolong bantal dan menyambar HP jadulnya. Begitu layar LCD buram itu menyala, sebuah pesan baru dari nomor yang sama kembali muncul.
[BANK SUKA] INFO: Dana Masuk Rp50.000.000,00 ke rek.025-xxxx-ABDUL pada 24/05/2020 12:45:10. Pengirim: ANONYMOUS INT OVERSEAS. Saldo akhir: Rp60.002.150,00.
Abdul terhenyak, napasnya tertahan di tenggorokan. Kali ini bukan lagi sepuluh juta, melainkan lima puluh juta rupiah. Total saldo di rekeningnya kini melonjak menjadi enam puluh juta rupiah.
"Ini... ini bukan salah transfer," bisik Abdul dengan bibir gemetar.
Otak Abdul yang sempat mumet kini mulai menyadari hal yang tidak masuk akal ini. Uang pertama masuk setelah ia tidur seharian sejak kemarin sore. Dan uang kedua ini masuk tepat setelah ia ketiduran lagi selama beberapa jam sejak pukul sepuluh pagi tadi. Doa asal-asalannya tentang menghargai waktu rebahan ternyata benar-benar menjadi kenyataan.
Belum sempat Abdul mencerna keajaiban yang menakutkan itu, suara erangan berat dari arah kamar belakang kembali terdengar, kali ini diikuti oleh suara batuk ibunya yang panik.
"Bapak... istighfar, Pak. Tahan sebentar," terdengar suara Ibu Yanti yang terisak dari balik dinding pembatas.
Suara rintihan Bapak menjadi alarm yang seketika menghancurkan keraguan Abdul. Persetan dengan ketakutan akan polisi atau sistem bank yang eror. Saat ini, nyawa bapaknya sedang di ujung tanduk dan uang puluhan juta sudah ada di dalam rekeningnya.
Abdul langsung bangkit berdiri. Rasa pusing di kepalanya mendadak hilang digantikan oleh tekad yang bulat. Ia memasukkan kartu ATM BANK SUKA yang sudah memudar ke dalam saku celana, lalu bergegas keluar dari kamar.
Di ruang tengah, Ibu Yanti sedang memandangi stoples obat yang kosong dengan wajah pucat.
"Bu, Abdul keluar sebentar. Ibu jagain Bapak aja di dalam," ujar Abdul cepat tanpa memberikan waktu bagi ibunya untuk bertanya.
"Tapi, Dul—"
"Abdul jalan dulu, Bu. Siang ini obat Bapak pasti ada," potong Abdul tegas, lalu melangkah lebar keluar menembus angin panas Bekasi.
Tujuannya adalah minimarket berjarak lima ratus meter di pinggir jalan raya. Sepanjang jalan, Abdul berjalan dengan langkah cepat. Setiap kali ada motor yang lewat, ia refleks menegangkan bahu karena cemas. Namun, bayangan kondisi Bapak yang sudah parah membuat Abdul terus memaksakan kakinya melangkah.
Begitu sampai di depan minimarket bercat merah biru itu, Abdul langsung masuk menuju ruangan kaca ATM BANK SUKA yang berada di pojok bangunan itu. Beruntung, siang itu area ATM sedang sepi.
Dengan tangan sedikit gemetar, Abdul memasukkan kartu ATMnya dan menekan nomor PIN. Ia memilih menu "Informasi Saldo" untuk memastikan sekali lagi.
Layar monitor berkedip, menampilkan angka: Rp 60.002.150,00.
Abdul menarik napas dalam-dalam. Tanpa ragu lagi, ia memilih menu "Penarikan Tunai" dan menekan tombol nominal penarikan pecahan seratus ribu sebesar: Rp 1.500.000,00.
Suara mesin yang menghitung uang di dalam kotak besi terdengar sangat menegangkan di telinga Abdul. Matanya waspada melirik ke luar melalui cermin cembung di atas mesin.
Sret.
Sebanyak lima belas lembar uang pecahan seratus ribuan keluar dari celah mesin dengan rapi. Abdul dengan gerakan cepat menyambar tumpukan uang merah tersebut, memastikan jumlahnya pas, lalu langsung memasukkannya ke dalam saku celana.
"Cukup. Segini dulu buat obat bapak dan beli beras. Kalau aku ambil terlalu banyak sekarang, satpam atau orang luar bisa curiga," bisik Abdul menenangkan dirinya sendiri.
Ia segera menekan tombol "Cancel", mencabut kartu ATM, lalu melangkah keluar dari minimarket.
Langkah kaki Abdul terasa jauh lebih ringan saat menyeberang jalan menuju apotek. Rasa takut dipenjara perlahan terkikis oleh rasa lega yang luar biasa karena ia tahu, siang ini bapaknya akan mendapatkan obat pengencer darah dosis tinggi yang sangat dibutuhkan.
Abdul tidak pernah menyadari, bahwa tepat di saat ia melangkah masuk ke dalam apotek, layar HP jadul di dalam sakunya kembali menyala dan menampilkan sebaris teks keemasan,
[System Message: Penarikan dana pertama berhasil. Pengguna telah mengaktifkan mode 'Pemanfaatan Saldo'. Bersiaplah, fase tidur berikutnya akan melipatgandakan nilai konversi waktu rebahan Anda.]
Abdul segera mendorong pintu kaca apotek, disambut oleh embusan dingin AC dan aroma khas obat-obatan. Di balik etalase kaca, seorang karyawan wanita menatapnya dengan pandangan bertanya.
Tanpa membuang waktu, Abdul merogoh saku celananya dan mengeluarkan bungkus obat kosong milik bapaknya yang sempat ia bawa dari rumah.
"Mbak, mau tebus obat pengencer darah yang ini. Ada?" tanya Abdul dengan sisa napasnya yang masih sedikit memburu.
Karyawan itu mengambil bungkus kosong tersebut, membaca labelnya sejenak, lalu mengangguk. "Ada, Mas. Tapi ini obat dosis tinggi dan harganya lumayan mahal. Satunya tiga puluh ribu, kalau satu strip isi sepuluh jadi tiga ratus ribu. Mau diambil semua?"
Mendengar angka tiga ratus ribu rupiah, mental miskin Abdul sempat membuat jantungnya mencelos. Biasanya, uang segitu adalah anggaran makan mereka bertiga untuk dua minggu.
Namun, bayangan saku celananya yang kini tebal oleh tumpukan uang seratus ribuan baru seketika mengembalikan kepercayaan dirinya.
"Ambil dua strip sekalian, Mbak. Sama saya mau beli vitamin untuk ibu saya, cari yang paling bagus," ujar Abdul dengan nada suara yang sengaja dikuatkan agar tidak terdengar gemetar.
Karyawan itu sempat menatap Abdul dengan heran, menilai penampilan pemuda di depannya yang hanya memakai kaos oblong pudar dan celana pendek longgar, tetapi bisa memesan obat mahal tanpa menawar. Namun, ia tetap bergerak profesional mengambilkan obat-obatan yang diminta.
Saat total belanjaan disebutkan mencapai tujuh ratus lima puluh ribu rupiah termasuk vitamin, Abdul dengan tenang mengeluarkan delapan lembar uang seratus ribuan dari sakunya.
Begitu menerima uang kembalian dan kantong plastik berisi obat, Abdul langsung berbalik dan setengah berlari keluar dari apotek.
Sebelum pulang, ia menyempatkan diri berhenti di agen beras dan toko kelontong di dekat gang rumahnya. Abdul membeli satu karung beras kualitas super ukuran sepuluh kilogram, satu krat telur, minyak goreng, dan beberapa potong ayam segar.
Total belanjanya habis lima ratus ribu rupiah. Karena tidak mungkin membawa semuanya sendiri dengan cepat, Abdul membayar salah satu tukang becak di depan gang sebesar lima puluh ribu rupiah hanya untuk mengantarkan belanjaan itu sampai ke depan pintu kontrakannya.
Ketika becak itu berhenti di depan kontrakan nomor 4B, Ibu Yanti yang sedang duduk cemas di teras langsung berdiri dengan mata membelalak.
Ia menatap tidak percaya saat tukang becak menurunkan satu karung beras dan dua kantong kresek besar berisi bahan makanan mewah, disusul Abdul yang berlari kecil membawa kantong obat.
"Dul... ini... ini semua apa? Kamu dapat uang dari mana, Nak?" tanya Ibunya dengan suara gemetar, wajahnya seketika dipenuhi rasa takut yang teramat sangat.
"Ibu gak usah mikirin itu dulu. Ini obat Bapak, tolong cepat kasih minum," sergah Abdul sambil menyodorkan bungkusan dari apotek. "Beras sama ayam ini aman, Bu. Teman SMK Abdul yang udah sukses itu, beneran berbaik hati meminjamkan uang. Abdul janji gak bakal macem-macem."
Meskipun masih dirundung sejuta tanya dan rasa curiga, Ibu Yanti memilih mengalah demi suaminya. Ia segera berlari ke dapur mengambil segelas air hangat, lalu masuk ke kamar belakang untuk meminumkan obat pengencer darah itu kepada Pak Rohman.
Abdul bersandar di tembok ruang tengah yang lembap, mendengarkan suara helaan napas bapaknya yang perlahan-lahan mulai terdengar lebih teratur setelah meminum obat. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya, membuat lututnya lemas hingga ia terpaksa merosot dan duduk di lantai semen.
Uang di sakunya kini hanya tersisa dua lembar seratus ribuan, tetapi di dalam rekeningnya masih ada puluhan juta rupiah yang utuh.
Sambil menyeka keringat di lehernya, Abdul merogoh HP jadul di saku celana untuk mengecek apakah SMS dari bank tadi benar-benar nyata atau hanya ilusi.
Namun, layar biru ponselnya justru menampilkan baris teks keemasan aneh yang sama sekali tidak ia mengerti maksudnya.
Abdul hanya mengernyitkan dahi, mengira ponselnya sedang rusak atau terkena virus, lalu buru-buru memasukkannya kembali ke dalam saku tanpa memikirkannya lebih jauh. Yang terpenting baginya saat ini, bapaknya sudah bisa bernapas dengan lega.