Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Akting si Singa Galak.
Jarum jam dinding di ruang tengah apartemen Rue de Rivoli berdetak dengan ritme yang terasa seperti hitung mundur eksekusi mati. 19:55. Lima menit lagi menuju penghakiman dari Jakarta.
Kiandra duduk tegak di sofa minimalis, punggungnya kaku seolah ada sebatang besi yang dipasang di sana. Ia menatap layar ponselnya yang masih gelap dengan napas tertahan.
Di pantulan layar itu, ia memeriksa wajahnya untuk kesekian kali. Tidak boleh ada jejak panik sisa interogasi Mei Ling tadi siang. Tidak boleh ada mata sembab. Ia harus terlihat seperti mahasiswi teladan yang hidupnya lurus-lurus saja di Paris.
Ia menyisir rambut hitam sebahunya dengan jari, lalu mengikatnya menjadi ponytail rapi. Ia merapikan kerah kardigannya, memastikan semuanya terlihat sopan. Pandangannya melirik ke arah pintu depan, lalu ke lorong kamar. Sunyi.
"Tolong, ya Tuhan. Biarkan pria itu tetap sibuk di luar. Biarkan dia lembur, atau tersesat di gudang wine, atau apa pun, asal jangan pulang sekarang," bisiknya dalam doa yang lebih mirip negosiasi dengan takdir.
Tepat pukul delapan malam, keheningan itu pecah. Nada dering video call WhatsApp melengking nyaring, membuat Kiandra nyaris melompat dari sofa. Dengan jemari yang terasa dingin dan lembap, ia menekan tombol hijau.
Wajah hangat Widia memenuhi layar. Ibunya itu sedang mengenakan daster batik, duduk di ruang makan rumah mereka di Jakarta Selatan.
"Halo, anak manis Mama! Kok wajahnya pucat begitu? Kamu belum makan ya di sana?" sapa Widia dengan senyum yang langsung membuat dada Kiandra berdenyut rindu.
Kiandra memaksakan senyum paling manis yang ia punya. "Sudah, Ma. Tadi makan quiche di kampus. Cuma cuaca Paris lagi agak galak hari ini, jadi agak lemas saja."
"Apartemennya kelihatan bagus. Bersih," suara berat Dirga terdengar saat pria itu muncul di samping Widia. Ayahnya mengenakan kacamata, menatap tajam ke arah latar belakang video Kiandra, seolah sedang melakukan inspeksi mendadak dari jarak ribuan kilometer.
"Papa harap kamu tidak malas bersih-bersih di sana, Ki. Jangan mentang-mentang jauh dari rumah jadi jorok."
"Nggak, Pa. Di sini rapi banget, kok. Kiandra rajin nyapu," jawab Kiandra cepat. Bohong. Yang rajin bersih-bersih itu sebenarnya Enzo—atau lebih tepatnya, Enzo yang sangat terobsesi dengan kebersihan hingga debu pun takut menempel di meja marmernya.
"Mana teman sekamarmu? Papa mau bicara sebentar. Mau titip kamu secara resmi biar Papa tenang, apalagi Papa juga kaget karena tahu kamu satu unit dengan pria," tuntut Dirga.
Jantung Kiandra seolah berhenti berdetak. Tenggorokannya mendadak kering kerontang.
"Eh... dia... dia lagi sibuk, Pa. Belum pulang. Dia orangnya sangat sibuk."
"Oh, begitu. Tapi syukur kalau orangnya sopan," Widia menimpali. "Papa kamu ini stres terus di sini, takut kamu tinggal sama pria berengsek atau lingkungan yang nggak bener."
Kiandra mengangguk kaku, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "Iya, Pa. Ma. Dia... pria yang sangat sopan. Profesional banget. Tipe yang sangat menjaga jarak, jadi Papa nggak usah khawatir. Kami jarang bicara kalau nggak penting."
"Sopan matamu, Ki! Dia hampir bikin kamu buta karena handuk melorot kemarin!" teriak batin Kiandra yang absurd.
Ceklek.
Suara kunci pintu depan yang berputar membuat seluruh bulu kuduk Kiandra berdiri tegak. Matanya melotot ke arah pintu masuk. Sosok tinggi besar dengan mantel wol panjang melangkah masuk. Aroma sandalwood yang tajam dan dinginnya udara malam Paris langsung menyerbu ruangan.
Enzo Romano berhenti di ambang lorong. Mata hazel-nya yang tajam langsung menangkap sosok Kiandra yang sedang mematung memegang ponsel. Pria itu meletakkan tas kulitnya di meja, lalu menatap Kiandra dengan alis terangkat.
Di bawah meja, tangan Kiandra memberikan isyarat 'pergi' yang panik. Wajahnya memohon dengan sangat, berharap pria Italia itu memiliki empati meski hanya seujung kuku.
Namun, Enzo adalah Enzo. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum jahil yang sangat provokatif. Bukannya masuk ke kamar, ia justru melangkah mantap mendekat ke arah sofa. Suara langkah sepatunya di lantai kayu terdengar seperti genderang perang bagi Kiandra.
"Pa, Ma, kayaknya sinyalnya jelek—"
Terlambat. Enzo sudah berdiri tepat di belakang Kiandra. Ia mencondongkan tubuhnya yang dominan, hingga wajah tampannya masuk dengan sempurna ke dalam bingkai kamera ponsel Kiandra.
"Buonasera," suaranya berat, dalam, dan berwibawa.
Dirga dan Widia tertegun di layar. Mereka menatap pria asing yang tiba-tiba muncul di belakang putri mereka.
Enzo berbicara dalam bahasa Inggris yang sangat formal, namun dengan aksen Italia yang kental dan maskulin.
"Maaf mengganggu momen keluarga kalian. Saya Enzo Romano, teman satu unit Kiandra, sekaligus dosennya di kampus Le Cordon Bleu."
"Dosen? Jadi Anda dosen putri kami?" Dirga bertanya, suaranya terdengar sangat terkejut namun penuh rasa hormat yang mendadak muncul.
"Benar. Apa Kiandra tidak bilang ke Anda?" Enzo melirik Kiandra yang kini sudah menunduk sedalam mungkin, ingin rasanya lantai apartemen ini terbelah dan menelannya bulat-bulat.
"Tidak, dia belum sempat bilang," Dirga berdehem, aura tegasnya sedikit melunak.
"Tapi saya semakin tenang mengetahui itu. Salam kenal, Monsieur Romano. Saya Dirga Pramono, ayah Kiandra, dan ini istri saya, Widia."
"Salam kenal, Monsieur Pramono dan MadameWidia," Enzo memberikan senyum ramah yang paling meyakinkan sedunia—tipe senyum yang bisa menipu seluruh Departemen Agama.
"Kiandra adalah mahasiswi yang sangat berbakat di kelas saya. Anda tidak perlu khawatir, saya menjaganya dengan baik di sini. Keamanannya adalah prioritas saya."
"Aduh, ganteng sekali! Dan sopan ya, Pa?" Widia berbisik, namun suaranya terdengar jelas di speaker. "Benar kata Kiandra tadi, Pa. Nak Enzo ini kelihatannya orang yang sangat baik dan bisa dipercaya."
"Ma, itu akting! Dia itu singa galak berkedok Chef!" batin Kiandra merana.
"Terima kasih, Monsieur Romano. Saya titip putri saya. Dia agak ceroboh, mohon bimbingannya," ucap Dirga dengan nada yang jauh lebih bersahabat.
"Tentu, Monsieur Pramono. Kiandra adalah 'tanggung jawab' saya selama di Paris," Enzo menekankan kata tanggung jawab sambil melirik Kiandra yang sedang meremas ujung bajunya. Tatapan pria itu penuh kemenangan.
"Saya pamit ke kamar dulu untuk ganti baju. Silakan dilanjutkan bincang-bincangnya."
Enzo menepuk bahu Kiandra sekilas—sebuah sentuhan singkat yang terasa seperti sengatan listrik yang menjalar hingga ke tengkuk wanita itu. Ia berjalan menjauh menuju kamarnya dengan langkah santai, meninggalkan Kiandra dalam kehancuran reputasi internal.
"Papa lega sekarang, Ki. Temanmu kelihatannya pria terhormat. Dosen pula. Jangan bikin malu Papa di sana, ya," ucap Dirga sebelum mengakhiri panggilan.
Begitu layar ponsel menjadi gelap, Kiandra meletakkan benda itu dengan kasar di meja. Wajahnya memerah padam, antara malu yang luar biasa dan amarah yang meledak. Ia menoleh ke arah lorong kamar Enzo dengan tatapan membunuh.
"Sopan apanya, itu akting, aslinya berengsek banget," geramnya.
Pintu kamar Enzo terbuka sedikit. Pria itu mengintip dari balik celah pintu, masih dengan kemeja yang setengah terbuka, memamerkan sedikit kulit olive-nya. Sebuah seringai berbahaya menghiasi wajahnya.
"Bagaimana? Aktingku bagus, kan, Piccola?"