NovelToon NovelToon
Istri Yang Tak Pernah Dicintai

Istri Yang Tak Pernah Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Alya terbangun di tubuh Sabrina—seorang wanita hamil yang dibenci suaminya sendiri. Dalam novel yang pernah ia baca, Sabrina akan mati tragis setelah melahirkan.

Kini hidup sebagai Sabrina, Alya berusaha mengubah takdirnya dan menjauh dari Leon, suami dingin yang tak pernah mencintainya. Namun semakin ia mencoba pergi, semakin Leon mulai memperhatikannya.

Di balik kebencian, perlahan tumbuh rasa yang tak seharusnya ada. Tapi apakah cinta bisa lahir dari hubungan yang sejak awal dipenuhi luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 — Nama yang Belum Terucap

Suasana kamar rawat inap langsung berubah canggung.

Leon berdiri di dekat pintu dengan tatapan dingin khasnya, sementara Armand duduk di sisi ranjang sambil menggendong Liora.

Tatapan kedua pria itu bertemu.

Tidak ada yang bicara.

Namun udara di ruangan terasa tegang.

Dan di tengah suasana itu, Liora justru tersenyum ceria sambil melambaikan tangan kecilnya.

“Om taman!”

Leon langsung menatap gadis kecil itu.

Entah kenapa setiap melihat Liora, semua ketegangan dalam dirinya perlahan menghilang.

Pria itu berjalan mendekat perlahan.

“Pagi.”

Liora mengangguk semangat.

“Om mandi?”

Pertanyaan polos itu membuat Alya langsung memalingkan wajah menahan malu, sementara Armand terlihat mengernyit bingung.

Leon sendiri sedikit terpaku sebelum akhirnya menjawab pelan—

“Iya.”

“Wangi.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Leon terangkat tipis.

Alya yang melihatnya langsung membeku sesaat.

Leon benar-benar berbeda saat bersama Liora.

Lebih lembut.

Lebih manusiawi.

Dan itu justru membuat hati Alya semakin kacau.

Armand akhirnya membuka suara dingin.

“Kamu datang lagi.”

Leon mengalihkan pandangan pada pria itu.

“Iya.”

Jawaban singkat.

Datar.

Namun ketegangan di antara mereka jelas terasa.

Liora yang tidak paham apa-apa malah melihat mereka bergantian dengan bingung.

“Kakek marah sama Om?”

Alya hampir tersedak mendengar pertanyaan itu.

Sementara Armand langsung menghela napas panjang.

“Enggak.”

“Bohong,” gumam Liora polos.

Leon sampai menunduk kecil menahan senyum.

Anak ini terlalu jujur.

“Kamu udah enakan?” tanya Leon sambil mendekati ranjang.

Liora mengangguk kecil.

“Udah nggak panas.”

“Bagus.”

Leon refleks mengusap pucuk kepala anak itu perlahan.

Gerakan sederhana.

Namun membuat semua orang di ruangan diam sesaat.

Termasuk Leon sendiri.

Karena sentuhan itu terasa terlalu alami.

Seolah tubuhnya sudah mengenal anak kecil ini sejak lama.

Alya langsung menegang kecil melihatnya.

Sementara Armand memperhatikan semua itu dalam diam.

Tatapan pria paruh baya itu berubah rumit.

Karena untuk pertama kalinya…

Ia melihat sesuatu di mata Leon yang dulu tidak pernah ada saat bersama Sabrina.

Perhatian.

Ketulusan.

Dan rasa memiliki.

---

Tak lama kemudian dokter datang memeriksa kondisi Liora.

“Demamnya sudah turun cukup bagus,” ujar dokter sambil tersenyum. “Kalau sampai malam tidak naik lagi, besok sudah boleh pulang.”

Alya langsung terlihat lega.

“Syukurlah…”

Liora malah tersenyum bangga sambil mengangkat tangan kecilnya.

“Karena aku minum obat!”

Dokter tertawa kecil.

“Anak pintar.”

Setelah dokter keluar, suasana kamar kembali tenang.

Kate datang membawa sarapan dan langsung membeku begitu melihat Leon dan Armand ada di ruangan yang sama.

“Wow…” bisiknya pelan. “Tegang banget.”

Alya langsung menatap tajam seolah menyuruh diam.

Kate buru-buru pura-pura sibuk membuka makanan.

Sementara Liora sudah mulai aktif kembali.

“Mama lapar.”

“Iya, kita makan.”

Alya baru ingin menyuapi putrinya ketika Leon tiba-tiba mengambil mangkuk bubur dari tangannya.

“Aku aja.”

Alya langsung mengernyit.

“Kamu?”

Leon menatap datar.

“Kenapa? Aku nggak bisa?”

“Bukan gitu…”

Namun sebelum Alya selesai bicara, Liora sudah bersorak kecil.

“Mau sama Om!”

Alya langsung kalah telak.

Leon duduk di sisi ranjang lalu mengambil sendok kecil.

“Buka mulut.”

Liora langsung membuka mulut lebar-lebar seperti bayi burung kecil.

Pemandangan itu membuat Kate diam-diam menahan senyum gemas.

Sementara Armand hanya mengamati tanpa bicara.

Dan Alya…

Ia justru merasa dadanya makin sesak.

Karena pemandangan itu terlihat terlalu sempurna.

Seperti keluarga kecil yang utuh.

Padahal mereka bukan itu lagi.

“Pelan,” ujar Leon saat melihat bubur menempel di sudut bibir Liora.

Pria itu refleks menghapusnya dengan tisu.

Liora terkikik kecil.

“Om kayak Mama.”

Leon sedikit terpaku.

“Hmm?”

“Kalau suapin cerewet.”

Kate langsung batuk pura-pura.

Alya menahan malu sambil memalingkan wajah.

Sementara Leon…

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa hangat.

Hangat sekali.

---

Siang hari Armand akhirnya pamit karena ada urusan pekerjaan.

Sebelum pergi, pria itu sempat menghampiri Alya terlebih dahulu.

“Kamu nggak perlu takut lagi,” ucapnya pelan. “Papa ada sekarang.”

Mata Alya langsung memanas.

Sudah lama sekali ia ingin mendengar kalimat itu.

Armand lalu menatap Leon dingin sesaat sebelum pergi.

“Aku percaya keputusan tetap di tangan Sabrina.”

Leon tidak menjawab.

Namun rahangnya terlihat menegang.

Begitu Armand pergi, kamar mendadak jauh lebih sunyi.

Kate yang sadar suasana mulai aneh langsung buru-buru mencari alasan.

“Aku beli kopi dulu!”

Dan wanita itu kabur begitu saja meninggalkan mereka bertiga.

Alya langsung menghela napas pelan.

“Kate…”

Namun temannya sudah menghilang.

Kini hanya tersisa dirinya, Leon, dan Liora yang sedang bermain boneka di atas ranjang.

“Om lihat,” ujar Liora sambil menunjukkan boneka kelincinya. “Namanya Mimo.”

Leon memperhatikan serius.

“Mimo suka makan apa?”

“Wortel.”

“Bagus.”

Percakapan sederhana itu terdengar lucu sekaligus hangat.

Dan entah kenapa…

Leon merasa tidak ingin pergi dari ruangan ini.

“Om.”

“Hm?”

Liora memiringkan kepala kecilnya polos.

“Kenapa Om sering lihat Lio?”

Pertanyaan itu membuat Leon terdiam sesaat.

Tatapannya perlahan melembut.

Karena bahkan sekarang pun ia masih sulit percaya…

Bahwa anak kecil ini benar-benar putrinya.

Leon menatap wajah mungil itu cukup lama sebelum akhirnya menjawab lirih—

“Karena Om suka lihat Lio.”

Dan tanpa sadar…

Kata “Om” mulai terasa semakin salah di hatinya.

1
wulaniii
gais komen like dan kasih gift dong biar tambah semangat 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!