Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANJI UNTUK MELINDUNGI
Langit pagi itu kelabu dan pekat, seolah awan sengaja menggantung rendah untuk menyembunyikan kota yang perlahan-lahan berubah menjadi kuburan massal.
Dari atap gedung tempat kelompok mereka menumpang tidur semalam, Damar berdiri mematung. Angin pagi yang berembus pelan membawa aroma busuk yang belakangan ini mulai akrab di hidungnya—bau kematian. Di bawah sana, jalanan tampak mati, dipenuhi rongsokan mobil yang ditinggalkan begitu saja.
Beberapa mayat hidup—orang-orang menyebut mereka *infected*—berkeliaran tanpa arah. Langkah mereka tertatih, diselingi geraman rendah yang sanggup membuat bulu kuduk merinding. Damar mengeratkan pegangannya pada senapan di dada, menatap nanar pemandangan di bawahnya.
Baru tiga minggu sejak dunia kiamat, tapi rasanya sudah seperti tiga tahun. Damar mendengus pelan, teringat saat pertama kali ia menginjakkan kaki di kota ini sebagai perantau biasa. Cari kerja, cari modal, mimpi punya masa depan cerah. Sekarang? Semua ambisi itu terasa seperti memori milik orang lain.
"Melamun terus dari tadi."
Suara Alya memecah lamunannya. Gadis itu muncul dari pintu tangga sambil membawa dua botol air mineral.
Alya menyodorkan satu botol, yang langsung diterima Damar. "Makasih."
"Mikirin apa sih?" tanya Alya lagi.
Damar memutar tutup botol, meneguk isinya sedikit sebelum menjawab pendek, "Banyak hal."
Alya tersenyum tipis. "Bukan jawaban yang memuaskan."
Damar menghela napas panjang, matanya kembali melempar pandang ke jalanan di bawah. "Saya cuma kepikiran... kalau situasinya terus-terusan kayak begini, kita bakal bertahan sampai kapan?"
Alya ikut bersandar pada pembatas atap, menatap kosong ke arah yang sama. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Memang tidak ada yang tahu jawabannya. Setelah keheningan yang mencekat selama beberapa saat, Alya akhirnya berbisik lirih, "Kita bertahan sebisanya, Mar. Selama yang kita mampu."
Damar mengangguk, meski di dalam hatinya ada pergolakan yang berbeda.
Dulu, saat kekacauan ini baru dimulai, egoismenya mutlak. Dia cuma mikirin perut sendiri, nyari tempat tidur yang aman sendiri, dan gimana caranya biar besok gak mati. Tapi sekarang, segalanya berubah. Setiap kali dia melihat wajah-wajah di kelompok ini Damar sadar satu hal: dia sudah tidak bisa lagi berjuang hanya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.
Menjelang siang, suasana di dalam gedung mulai sibuk. Tempat bernaung sementara ini sudah tidak aman lagi; persediaan makanan menipis dan pergerakan *infected* di sekitar area makin hari makin padat.
Pak Hendra mengumpulkan semua orang di ruang tengah. "Kita gerak tiga puluh menit lagi. Bersiap."
Instruksi itu langsung disambut kesibukan. Ada yang buru-buru mengepak pakaian, ada yang sibuk memeriksa magasin dan ketajaman senjata. Damar sendiri kebagian tugas memindahkan tas-tas logistik ke dekat pintu keluar. Saat sedang mengangkat kardus terakhir, telinganya menangkap suara isakan kecil.
Dia menoleh. Di sudut ruangan yang agak gelap, seorang anak perempuan duduk meringkuk sambil memeluk lutut. Nisa. Umurnya baru delapan tahun. Seminggu lalu, bocah itu harus menyaksikan kedua orang tuanya tewas tercabik. Sejak hari mengerikan itu, Nisa berubah menjadi patung yang nyaris tak pernah bersuara.
Damar melangkah mendekat, lalu berjongkok di hadapannya. "Nisa?"
Anak itu perlahan mendongak. Matanya merah dan sembab. "Kak Damar..."
"Kenapa nangis?" tanya Damar lembut.
Nisa menggigit bibir bawahnya, menahan tangis yang hampir pecah lagi. "Aku takut."
Kata sederhana itu telak menghantam dada Damar. Takut. Siapa yang tidak takut di dunia yang gila ini? Damar pun merasakannya setiap detik. Tapi mendengar ketakutan itu keluar dari mulut polos seorang anak kecil, rasanya jauh lebih menyakitkan.
"Takut apa, hm?"
"Takut nanti ada monster-monster itu lagi..." Suara Nisa bergetar hebat. "Takut... nanti aku ditinggal sendiri."
Tatap mata Damar melunak. Detik itu juga, bayangan adiknya di kampung halaman melintas di kepala. Sudah berminggu-minggu dia kehilangan kontak. Entah adiknya masih hidup, entah sudah menjelma menjadi salah satu dari monster di luar sana. Rasa sesak yang familier kembali mencengkeram dadanya.
Damar mengulurkan tangan, menyentuh pundak kecil Nisa. "Nisa, dengerin Kakak. Kakak gak akan pernah ninggalin kamu. Janji."
Mata Nisa agak melebar, mencari kesungguhan di wajah Damar. "Beneran janji?"
Damar mengangguk mantap. "Iya, janji."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya, tapi setelah diucapkan, Damar tahu dia tidak sedang membual. Dia bersungguh-sungguh. Apa pun yang terjadi nanti, dia bersumpah tidak ingin melihat ada lagi anak kecil yang menangis sendirian kehilangan keluarga di depannya. Selama dia punya nyawa dan tenaga untuk mencegahnya, dia akan berdiri di garda paling depan.
Rombongan mulai bergerak lepas tengah hari, menyusuri gang-gang sempit demi menghindari jalan utama yang rawan kerumunan *infected*. Damar berjalan di barisan depan, mengapit Pak Hendra bersama Rani. Semua indra mereka dipaksa bekerja maksimal. Mata mereka awas memindai setiap sudut jendela, gang mati, bahkan pergerakan sekecil apa pun.
Kota ini tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada gema geraman di kejauhan, jeritan histeris entah dari mana, dan perasaan konstan bahwa mereka sedang diintai dari balik kegelapan.
Baru satu jam perjalanan, langkah mereka terpaksa mandek.
"Berhenti," bisik Pak Hendra sambil mengangkat tangan kanan, memberi isyarat komando.
Seluruh rombongan langsung merapat ke dinding bangunan. Di depan mereka, tepat di sebuah persimpangan, ada sekitar dua puluh *infected* yang sedang berkeliaran acak. Jumlah yang terlalu berisiko kalau nekat diterobos.
Alya mengumpat pelan di sebelah Damar. "Kalau kita muter lewat jalur barat gimana, Pak?"
Pak Hendra menggeleng berat. "Bisa makan waktu dua jam lebih. Terlalu berisiko buat orang tua dan anak-anak."
Damar memicingkan mata, menganalisis situasi di sekitar persimpangan. Pandangannya terpaku pada sebuah toko elektronik di sudut jalan. Pintunya tertutup rapat, tapi sebagian kaca jendelanya sudah pecah berantakan. Sebuah ide gila mendadak melintas di kepalanya.
"Aku punya cara," bisik Damar.
Beberapa menit kemudian, rencana darurat itu dieksekusi. Damar dan Alya menyelinap lewat celah jendela toko elektronik tersebut. Beruntung, sistem listrik cadangan toko itu tampaknya masih berfungsi. Damar menemukan beberapa unit speaker display berukuran besar di dekat konter. Dengan cepat, dia menyambungkan ponselnya ke kabel audio, lalu memutar audio suara sirene ambulans dengan volume maksimal.
**WUUUUUUUUUUUUU—!!!**
Suara pekikan melengking itu seketika memekakkan telinga, menggema keras di sepanjang jalanan sepi. Efeknya instan. Gerombolan *infected* di persimpangan langsung berbalik serentak, lalu berlari kesetanan menuju sumber suara seperti kawanan serigala kelaparan.
"Sekarang! Jalan!" perintah Pak Henda setengah berbisik namun tegas.
Kelompok itu langsung bergerak cepat, setengah berlari memanfaatkan momentum untuk menyeberangi persimpangan lewat jalur yang kosong. Dalam hitungan menit, mereka berhasil lolos dari zona bahaya tanpa perlu mengotori senjata atau memicu pertumpahan darah.
Beberapa anggota kelompok mengembuskan napas lega sambil tersenyum ke arah Damar. Pak Hendra sendiri berjalan mendekat, lalu menepuk pundak anak muda itu dengan mantap. "Kerja bagus, Mar."
Damar hanya mengangguk pelan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa hangat yang asing. Untuk pertama kalinya sejak wabah ini pecah, dia merasa dirinya benar-benar berguna. Bukan cuma sekadar numpang bertahan hidup, tapi menjadi alasan kenapa orang lain bisa menyambung nyawa.
Sore mulai temaram ketika mereka akhirnya tiba di sebuah kawasan perkantoran tua. Kompleks itu tampak merana; beberapa bangunan sudah hangus terbakar dan runtuh. Namun, perhatian Pak Hendra tertuju pada sebuah gedung berlantai lima dengan cat abu-abu yang mengelupas.
Strukturnya masih kokoh, pagar besinya tinggi dan utuh, serta akses masuknya cukup sempit—tipe bangunan yang ideal untuk dipertahankan.
"Tempat ini lumayan," ujar Pak Hendra setelah mengamati sekeliling.
Damar bersama beberapa pria dewasa langsung merangsek masuk untuk menyisir lantai dasar. Nihil. Tidak ada tanda-tanda keberadaan *infected* maupun penyintas lain. Yang ada hanya tumpukan debu tebal dan sisa-sisa berkas yang berserakan akibat kepanikan massal di masa lalu.
Setelah dipastikan aman, seluruh rombongan sepakat untuk bermalam di sana. Mungkin untuk beberapa hari ke depan, atau lebih lama lagi, tergantung bagaimana situasi berkembang.
Begitu matahari tenggelam sepenuhnya, mereka mulai menutup rapat seluruh jendela dengan kain hitam agar cahaya lampu minyak tidak bocor ke luar. Pos-pos jaga darurat segera dibentuk. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama berpindah-pindah, tempat suram ini terasa sedikit menyerupai 'rumah' bagi mereka.
Suasana malam semakin larut. Sebagian besar anggota kelompok sudah terlelap di atas tikar seadanya, sementara beberapa orang masih mengobrol berbisik demi mengusir penat dan ketakutan.
Damar kebagian sif jaga malam pertama. Dia duduk di dekat bingkai jendela lantai dua, memangku senapannya dengan pandangan lurus ke luar. Di sampingnya, Alya menemani sambil memeluk lutut.
"Kamu banyak berubah, Mar," celetuk Alya tiba-tiba, memecah keheningan.
Damar menoleh sedikit. "Berubah gimana?"
Alya tersenyum, matanya menatap lurus ke depan. "Dulu... pas awal-awal kita ketemu, kamu itu sinis banget. Kelihatan cuma mikirin diri sendiri."
Damar terkekeh pelan, sadar omongan Alya ada benarnya. "Kedengarannya jahat banget ya?"
"Ya memang begitu kenyataannya," sahut Alya geli, membuat keduanya tertawa kecil bersamaan. Namun, tawa itu cepat surut, digantikan atmosfer serius yang kembali turun. "Tapi sekarang... kamu beda."
Damar kembali melempar pandangannya ke luar jendela. Kota di bawah mereka benar-benar gelap gulita; jaringan listrik sudah mati total sejak lama, menyisakan siluet hitam bangunan yang menyeramkan.
"Dunia yang sekarang gak ngizinin kita buat egois lagi, Al." ucap Damar lirih. "Kalau di situasi kayak begini kita cuma mikirin diri sendiri, cepat atau lambat kita pasti mati konyol."
Alya mengangguk setuju. "Dan gara-gara cara pikirmu yang sekarang, orang-orang mulai menaruh harapan sama kamu."
Damar terdiam. Kata *harapan* dan *kepercayaan* terasa begitu berat di pundaknya. Dia yang dulunya cuma pemuda biasa yang luntang-lantung cari kerja, kini justru dipandang sebagai pelindung oleh belasan nyawa. Tanggung jawab itu rasanya mencekik, tapi anehnya... Damar tidak punya niat sedikit pun untuk lari.
Tengah malam merayap, sunyi digantikan oleh suara seretan langkah kaki kecil dari arah belakang. Damar spontan menoleh cepat dan mendapati Nisa berdiri di sana sambil menyeret selimut lusuhnya.
"Kok belum tidur, Nis?" tanya Damar dengan suara selembut mungkin.
Bocah itu berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di samping Damar. "Kak Damar..."
"Kenapa?"
"Kakak beneran bakal jagain kami semua, kan?" Pertanyaan polos itu meluncur begitu saja dari bibir Nisa, membuat Damar tertegun selama beberapa detik.
Dia menatap wajah kecil di depannya—wajah yang sudah kehilangan terlalu banyak hal di usianya yang masih sangat belia. Damar kemudian tersenyum. Bukan senyuman formalitas untuk menenangkan anak kecil, melainkan senyum yang lahir dari sebuah ketetapan hati yang mutlak.
"Iya. Kakak bakal lakuin apa pun buat jagain kalian."
Nisa mengangguk pelan, lalu seulas senyum kecil terbit di wajahnya. Itu adalah senyuman pertama Nisa yang dilihat Damar sejak tragedi seminggu lalu. Setelah merasa tenang, bocah itu berbalik dan berjalan kembali ke pelukan selimutnya, meninggalkan Damar yang kembali berteman dengan keheningan malam.
Angin malam yang dingin menyelinap masuk lewat celah ventilasi, membawa serta gema geraman statis dari radius beberapa blok di luar gedung. Damar mempererat genggamannya pada gagang senapan.
Dunia memang sudah hancur dan berubah menjadi tempat yang luar biasa kejam, tempat di mana harapan bisa direnggut dalam kedipan mata. Tapi selama masih ada orang-orang yang harus dia lindungi, selama masih ada orang-orang yang menggantungkan keselamatan mereka di pundaknya, Damar bersumpah akan terus berdiri. Dia akan terus bertarung.
Bukan lagi sekadar untuk bertahan hidup hari demi hari. Tapi untuk melindungi sisa-sisa kemanusiaan yang kini dia sebut sebagai keluarga.
Malam itu, di bawah kesaksian kegelapan kota, Damar mematri sebuah janji mati di dalam dadanya. Apa pun yang menghadang di depan—entah itu ribuan monster kelaparan, atau kekejaman manusia lain yang kehilangan akal sehat—dia tidak akan membiarkan kelompok ini hancur.
Mulai malam ini, Damar Prakoso bukan lagi sekadar seorang penyintas yang melarikan diri dari takdir. Dia telah memilih jalan hidupnya yang baru: menjadi perisai bagi mereka yang rapuh.