Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Buta
Tak lama kemudian, tampak seorang perempuan cantik berpenampilan rapi dan terlihat kaya berjalan menghampiri Bahlil. Perempuan itu tersenyum ramah lalu menyalami suaminya. Bahlil membalas senyuman itu, lalu keduanya melangkah masuk lebih dalam ke gedung.
“Itu pasti Citra ... Pasti cewek yang ngaku-ngaku sayang itu,” batin Puann rasanya ingin runtuh di tempat.
Kepalanya terasa panas dan pening. Semua bukti yang telah dikumpulkannya kini terasa semakin nyata, dan menurut pemikirannya, tidak ada alasan lain bagi seorang suami untuk masuk ke hotel mewah berdua bersama perempuan cantik selain melakukan hal yang kotor.
“Jadi bener ya ... kamu selingkuh, Mas. Kamu diam aja selama ini, ternyata udah dapet cewek lain yang lebih cantik dan kaya dariku,” gumam Puann pelan, air matanya mulai menetes membasahi pipi.
Ia memberanikan diri mendekat ke arah pintu kaca lobi yang sedikit terbuka. Dari celah itu, ia dapat melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di dalam. Napas Puann tertahan, bersiap menyaksikan pemandangan yang akan menghancurkan pernikahannya.
Namun, apa yang dilihatnya justru membuatnya terkejut. Bahlil tidak sedang duduk berduaan dengan mesra, melainkan berdiri di atas sebuah kursi. Tangan dan gerak-geriknya sibuk mengutak-atik bagian dalam dari sebuah mesin pendingin ruangan yang besar.
Perempuan cantik itu berdiri di sampingnya sambil memegang buku catatan, sesekali berbicara dan memberikan arahan. Wajah perempuan itu tampak penuh rasa hormat dan percaya saat menatap Bahlil.
“Jadi ... dia lagi servis AC? Bukan lagi ngapain-ngapain?” batin Puann agak lega, meski rasa curiganya belum hilang sepenuhnya.
Tak lama kemudian, Bahlil turun dari kursi sambil mengelap keringat di dahinya. Perempuan itu langsung menyodorkan sebotol air minum sambil tersenyum lebar kepadanya.
“Makasih banyak ya, Mas Bahlil. Kalau nggak ada kamu, kita pasti udah pusing ngurusin ini. Kamu emang paling jago deh soal ginian,” ucap perempuan itu keras sampai terdengar ke luar.
“Sama-sama, Mbak Citra. Kan emang tugas saya kalau ada alat rusak di sini,” jawab Bahlil santai sambil menerima air itu.
Puann menahan napas saat nama itu disebut. Benar, perempuan itu memang Citra. Dari percakapan barusan, Puann baru menyadari bahwa Citra ternyata adalah manajer di hotel ini. Pekerjaan Bahlil selama ini yang sering membuatnya pulang malam ternyata adalah memperbaiki alat-alat yang rusak di tempat tersebut.
Rasa curiganya berkurang, tetapi rasa sakit hati masih terasa ada di sana. Ia belum melupakan pesan singkat yang dikirim Citra dulu, yang memanggil suaminya dengan sebutan sayang.
Puann berniat beranjak pulang, merasa cukup lega setelah mengetahui kebenarannya. Namun, ucapan yang diucapkan Citra selanjutnya membuat langkah kakinya terhenti kaku di tempat.
“Tapi serius deh Mas, kamu itu cakep, pinter, dan baik banget. Sayang banget lho kamu udah ada yang punya. Kalau misal kamu lajang, aku pasti bakal ngejar kamu mati-matian deh sampai dapet,” kata Citra terus terang sambil tertawa kecil, matanya menatap Bahlil penuh kekaguman dan harapan.
Bahlil hanya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala, menganggap itu cuma candaan biasa. Tapi buat Puann yang mendengar dari balik pintu, ucapan itu bukan bercandaan. Itu adalah pernyataan perang. Perempuan kaya dan cantik itu benar-benar berniat merebut suaminya.
Sejak hari itu, kehadiran Citra semakin sering mengganggu pikiran Puann.
Citra mencari berbagai alasan untuk bertemu Bahlil, baik di tempat kerja maupun hingga ke kontrakan mereka. Ia sering datang membawa makanan, pakaian baru, atau barang kebutuhan rumah tangga yang jarang dapat dibeli oleh Puann.
"Mas Bahlil, aku lewat sini kebetulan bawa nasi kotak lebih. Ini buat kamu dan istri kamu ya, lumayan buat tambah makan," kata Citra sambil menyodorkan bungkusan makanan mahal di depan pintu.
Puann yang sedang menyapu halaman kecilnya langsung berhenti bergerak. Ia menatap bungkusan itu, lalu menatap Citra yang berpenampilan mewah, sangat berbeda dengan dirinya yang hanya mengenakan daster lusuh.
"Makasih banyak ya, Mbak Citra. Tapi maaf banget, kami masih ada lauk kok di dalam," jawab Puann cepat, berusaha tersenyum meski hatinya terasa perih.
"Ya ampun, Puann. Jangan sungkan dong. Aku kan anggap Mas Bahlil itu teman baikku. Lagian ini cuma makanan biasa, bukan apa-apa. Jangan terlalu dibawa perasaan ya," ucap Citra santai sambil melirik ke arah Bahlil yang baru keluar dari kamar mandi.
Bahlil hanya tersenyum dan mengangguk. Ia langsung mengambil bungkusan itu dari tangan Citra tanpa keraguan sedikit pun. Sikap itu membuat harga diri Puann terasa terinjak-injak.
"Kan tadi aku bilang masih ada makanan, kenapa kamu terima aja sih?" tanya Puann pelan saat Citra sudah pergi menjauh.
"Pamali kalau ditolak, Sayang. Itu makanan enak lho, sayang kalau dibuang. Kita kan lagi irit-irit uang," jawab Bahlil santai sambil membuka bungkusan itu.
"Urusan kita irit atau enggak, bukan berarti kamu boleh terima pemberian dari perempuan yang terang-terangan mau ngerusak rumah tangga kita! Kamu nggak lihat dia tatap-tatap kamu terus?" bisik Puann dengan suara bergetar menahan tangis.
Bahlil berhenti mengunyah sejenak, lalu menatap Puann dengan ekspresi tidak mengerti.
"Kamu kok jadi aneh sih? Dia kan cuma baik sama kita. Kamu jangan mikir yang macem-macem ya, nanti malah jadi masalah sendiri," jawab Bahlil singkat, lalu kembali makan seolah tidak ada apa-apa.
Puann menghela napas panjang. Ia merasa kalah telak dibandingkan Citra yang cantik, kaya, berpenampilan bagus, dan memiliki jabatan.
Sebaliknya, Puann hanyalah istri sederhana yang tinggal di kontrakan sempit dan kerap dihina keluarganya karena memilih suami yang dianggap tidak mapan. Rasa rendah diri itu makin kuat setiap kali Citra datang.
Setiap kedatangan Citra membuat Puann merasa kecil dan tidak berharga. Rasa takut kehilangan Bahlil kini menjadi kekhawatiran yang selalu menghantuinya.
Suatu sore, Puann pergi ke tempat kerja Bahlil untuk mengantar bekal makan siang. Ia berjalan masuk ke area belakang hotel dengan hati-hati, berniat memberi kejutan kecil bagi suaminya.
Dari kejauhan, Puann melihat Bahlil berdiri dekat sebuah meja kerja. Citra berdiri sangat dekat di hadapannya sambil berbicara dengan senyum manis.
Tangan kanan Citra perlahan bergerak naik dan menyentuh pergelangan tangan Bahlil.
"Mas Bahlil, tangan kamu kotor banget sih. Sini aku lapin dulu ya," ucap Citra lembut sambil memegang erat pergelangan tangan itu, matanya menatap lurus ke manik mata Bahlil.
Gerakan itu terasa akrab dan penuh makna. Jarak tubuh mereka begitu dekat, tidak ada ruang kosong di antara keduanya. Bahlil diam saja dan tidak menarik tangannya menjauh. Ia membiarkan tangan wanita lain itu menyentuh kulitnya dengan santai.
Puann yang melihat kejadian itu dari balik dinding merasa sangat terpukul. Bekal yang dibawanya hampir terlepas dari tangan, napasnya tersendat, dan matanya memanas menahan rasa sakit luar biasa.
Kenyataan itu membuktikan bahwa Citra bersungguh-sungguh. Puann pun bertanya-tanya mengapa Bahlil diam saja dan tidak menolak?
Apakah suaminya juga mulai tertarik pada wanita kaya itu?
Kakinya terasa lemas, namun ia terpaku di tempat. Ia menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan hati yang makin hancur berkeping-keping.