we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 : Bayangan di Balik Kalung Naga
Teo masih menatap kalung naga emas di tangannya ketika batu permata merah pada mulut naga itu tiba-tiba bersinar samar.
Wuuung…
Gelombang cahaya menyebar pelan.
Sesaat kemudian, sebuah bayangan muncul di kepala Teo. Sosok pria berjubah hitam sedang berlari di tengah hujan sambil membawa koper besi.
“Itu...” gumam Teo.
Bayangan itu menghilang secepat kemunculannya. Namun Teo langsung mengenali simbol bulan sabit hitam pada jubah pria tersebut.
Simbol organisasi Black Moon.
Itu target buruannya.
Teo langsung menatap We Lin dengan penuh keterkejutan.
“Bagaimana kau bisa mengetahui lokasi targetku?”
We Lin ikut bingung.
Hah? Mengetahui lokasi? Bukannya itu cuma efek lampu dari batu merahnya?
Namun melihat ekspresi serius Teo, We Lin merasa tidak enak jika berkata jujur bahwa dirinya juga tidak paham apa yang terjadi.
“Kurasa... itu kebetulan?” jawab We Lin ragu.
Sayangnya, jawaban santai itu di telinga Teo justru terdengar seperti perkataan seorang master yang tidak peduli pada kemampuan luar biasa miliknya sendiri.
Teo menelan ludah.
Dia bahkan menganggap kemampuan membaca jejak musuh sebagai hal biasa...
Beberapa menit kemudian, Teo bersiap pergi.
“Aku harus mengejar target sekarang juga.”
We Lin mengangguk santai.
“Silakan.”
Baginya, Teo hanyalah pelanggan pertama yang kebetulan terlalu dramatis.
Namun tepat saat Teo hendak membuka pintu—
Brakkk!!
Pintu toko terbuka keras.
Seorang pria bertubuh besar memasuki toko sambil membawa pedang hitam raksasa di punggungnya.
Tatapan dinginnya langsung tertuju pada Teo.
“Jadi kau bersembunyi di sini.”
Tubuh Teo langsung menegang.
“Garrick...!”
Aura mengerikan memenuhi ruangan.
Rak-rak toko bergetar pelan.
Keringat dingin mengalir di pelipis Teo. Ia tahu betapa mengerikannya pria di depannya.
Namun berbeda dengan Teo...
We Lin justru hanya menghela napas kesal.
Kenapa orang sini suka masuk toko sambil banting pintu sih...?
Garrick melangkah maju perlahan.
Tatapannya lalu beralih menuju We Lin yang berdiri santai di balik meja kasir.
Mata Garrick menyipit.
Ia tidak bisa membaca kekuatan pria itu sama sekali.
Tidak ada aura.
Tidak ada energi.
Kosong.
Namun justru itu yang membuatnya merinding.
Dalam dunia para Hunter, hanya ada dua kemungkinan.
Orang itu benar-benar lemah...
Atau berada pada level yang mustahil dibaca.
Dan melihat semua relik mengerikan di toko ini…
Garrick lebih percaya kemungkinan kedua.
Sementara itu, We Lin sama sekali tidak
sadar kalau dirinya sedang ditakuti.
Ia malah sibuk khawatir tokonya rusak.
“Kalau mau berkelahi, jangan pecahkan barang ya,” ucap We Lin santai.
Teo membelalak.
Garrick ikut terdiam.
Barang?
Pemuda itu menyebut relik-relik legendaris di toko ini sebagai “barang” biasa?
Bahkan nada suaranya terdengar seperti seseorang yang tidak peduli jika artefak tingkat nasional hancur begitu saja.
Teo makin yakin.
Orang ini pasti monster tua yang menyamar sebagai pemuda!
Tiba-tiba—
Sebuah cincin perak di etalase melayang sendiri ke udara.
We Lin berkedip bingung.
“Eh?”
Cincin itu langsung terbang menuju Teo dan otomatis terpasang di jarinya.
Boom!!
Aura Teo langsung meningkat drastis.
Luka-luka kecil di tubuhnya sembuh seketika.
Bahkan energi miliknya melonjak beberapa kali lipat.
Teo terkejut bukan main.
“Relik pendukung otomatis?!”
We Lin ikut panik dalam hati.
KENAPA CINCINNYA GERAK SENDIRI?!
Namun di luar, ia tetap berusaha terlihat tenang.
“Oh... jadi yang itu aktif juga.”
Ucapan asal tersebut membuat wajah Garrick langsung pucat.
Aktif... juga?
Seolah-olah benda sehebat itu hanyalah salah satu koleksi biasa di toko ini.