Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 22
Ayunda turun dari ranjang, rambutnya dibiarkan terurai karena masih sangat lembab.
Dari luar, gorden dibuka ketika mendengar langkah kaki ringan namun tertangkap oleh pendengaran sensitif, khas seorang pengawal diwajibkan memiliki insting tajam, gerakan tangkas, mata awas, dan kepekaan tinggi.
Ayunda berjalan dengan dikawal oleh kedua orang yang sering dimintai bantuan, menyelesaikan hal-hal remeh maupun serius.
Wanita yang beberapa waktu lalu menangis dalam diam sampai bahunya bergetar hebat, sama sekali tidak memusingkan kemungkinan dirinya tertangkap kamera cctv, sebab setelah ini – jejaknya pasti lenyap seperti biasanya.
Sebuah mobil berkaca gelap, menunggu di lobi luar rumah sakit. Yeri bergegas membukakan pintu, memastikan Ayunda duduk nyaman baru dirinya menyusul.
Sementara Ardo, mengurus sisa urusan di rumah sakit. Membungkam para dokter, menghapus nama Ayunda dalam daftar pasien, serta menghilangkan jejaknya pada kamera pengawas.
Di dalam mobil, Ayunda menyandarkan pelipisnya pada jendela mobil berwarna hitam mengkilap. Pandangannya tidak benar-benar melihat jalanan maupun bangunan.
‘Ada yang salah, tapi bagian apanya? Bagaimana mungkin aku bisa hamil? Terus, harus diapakan bayi ini?’ sedari di ruang IGD hingga kini, pertanyaan itu terus berputar-putar membuat kepalanya pusing.
Ayunda sampai terlonjak kala mendengar suara Yeri yang mengatakan sudah tiba di sebuah lapangan pacu, terdapat helikopter siap mengudara.
Dia pasrah, langkahnya begitu gamang dengan pundak terkulai bak memikul beban berat.
Yeri mengawal Ayunda, melindungi sang wanita yang diamanahkan untuk dijaga segenap jiwa raga.
Ketika Ayunda mengangguk saat ditanya sudah siap belum kembali dengan cara berbeda dari dia pergi ke pulau seribu, baling-baling helikopter pun bergerak kencang membuat debu di sekitar berterbangan, dan rumput hijau bergoyang.
Dalam perjalanan terasa teramat singkat itu, Ayunda asik melamun. Antara logika dan batin terus berperang, menghasilkan pikiran negatif memicu rasa cemas berlebihan.
***
Sementara itu – mobil hotel yang membawa Yusniar serta Seila, baru saja tiba. Kedua wanita tersebut sama seperti Ayunda, dalam hati sibuk menerka siapa ayah dari bayi yang sedang tumbuh di rahim Yunda.
“Seila, ayo turun! Kita sudah sampai.” Yusniar mengelus lengan gadis terlihat linglung.
Hanya anggukan sebagai respon, lalu mereka bersama-sama keluar dari dalam mobil.
Baru saja melangkah sebentar, sudah dicecar pertanyaan dari beberapa karyawan bahkan kepala divisi HRD, kebetulan ikut liburan.
Yusniar yang menjelaskan, tentu di bumbui dusta – mengatakan kalau keadaan Ayunda masih butuh perawatan berkelanjutan, sehingga harus dirawat.
Sebagian orang berempati, mendoakan semoga lekas sembuh. Ada beberapa diantara kumpulan itu – tersenyum miring, mereka sudah lama memendam iri, padahal lebih lama bekerja di Wangsa group. Namun, karir Ayunda jauh lebih cemerlang.
Dwira menyusul sahabatnya, tadi dia bersabar, ikut mendengarkan seperti yang lain.
“Seila! Beneran kan Yunda baik-baik aja?” tanyanya dengan ekspresi kentara cemas.
Langkah Seila terhenti, dia berdiri menyamping agar berhadapan dengan Dwira. “Tadi lu kan udah denger penjelasan bu Yusniar, apa kurang jelas? Atau berharap sebaliknya?”
“Lu apaan sih?! Gua nanya serius, ikutan khawatir!” Dwira mengeratkan pelukan pada sebuah sweater.
“Khawatir?” Seila mendengus, menatap serius. “Dimana lu sewaktu dia tenggelem?”
“Aku lagi bantuin Binar nyari power bank di kamar lantai tiga,” ia jujur.
“Terus, ceritanya lu ninggalin Ayunda pas lagi di kolam renang, gitu?” selidiknya.
“Dia yang minta. Katanya aman. Aku mana menyangka kalau kejadiannya kayak gini,” Dwira mencoba menjelaskan posisinya yang tidak bersalah.
“Udah deh, Ira. Gua lagi males ngomong sama sosok merasa paling benar. Lain kali aja kalau mau ngajak debat.” Seila berbalik badan, tapi urung ….
“Gua gak kayak yang lu tuduhkan. Sedikitpun gak ingin Ayunda kenapa-kenapa, Seila!” pekik Dwira, tangan kanannya terkepal kencang.
“Jangan teriak, Sialan! Gua gak budeg! Lu gak mau dianggap jahat, seolah sosok sahabat paling peduli, perhatian, tapi lu nyadar gak sih? Meninggalkan seseorang gak bisa berenang di tengah-tengah kolam memiliki kedalaman empat meter itu sama aja kayak ngedorong dia ke jurang_”
“Yunda yang maksa aku _”
Seila balas memotong kalimat Dwira. “Lain kali kalau ada yang maksa elu minum racun, tolong jangan pikir panjang lagi. Langsung tegak habis tanpa sisa. Dah lah, capek gua.”
Yusniar melerai, kebetulan dia berdiri tidak jauh dari Seila dan Dwira. Ada beberapa orang juga yang menonton perdebatan sengit itu. “Seila, sebaiknya kamu mandi, terus ganti pakaian, biar gak masuk angin.”
“Iya, Bu.” Seila mengangguk, menyebut formal, sadar sedang di tempat umum, banyak karyawan Wangsa group, dan jabatannya masih terbilang rendah.
“Dwira, apa yang kamu bawa itu sweaternya Ayunda.” Niar melirik tangan kanan Iran.
“Iya, Bu. Tadi pegawai hotel yang ngasih ke aku. Oh iya, Sei … ini ponselmu. Ditemukan dalam kolam renang.” Dwira mengambil handphone dalam saku celana jeans pendek.
Ponsel Seila mati. Tidak tahan air, apalagi tenggelam di kedalaman empat meter dalam kurun waktu lumayan lama.
Seila merebut kasar handphonenya, lalu melangkah lebar, tidak peduli tatapan wanita maupun pria yang memperhatikannya.
“Biar saya yang bawa saja, nanti saya kasihkan ke Ayunda,” pinta Yusniar, jika bersama Dwira, dia berbicara sedikit formal.
Dwira pun memberikan sweater sahabatnya. “Ayunda dirawat di ruangan apa ya, Bu? Saya berniat mau menjenguk.”
“Belum tahu. Tadi masih di IGD. Kamu tenang saja, nikmati liburan tahunan ini. Ayunda sudah dijaga salah satu karyawan Wangsa group. Saya ke kamar duluan ya.” Yusniar pun berlalu, meninggalkan rasa tidak puas dalam hati Dwira.
‘Siapa yang jagain dia? Apa aku cek satu persatu karyawan yang ikut liburan?’ usulan itu langsung ditepis, mana berani dia melakukannya.
***
Pada malam hari, di sebuah ruang rawat kelas satu, wanita yang tadi sore tenggelam, tengah asik sendiri.
Ayunda kembali mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit skala internasional dengan layanan VIP. Tangannya bebas infus. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menonton televisi menayangkan drama kolosal luar negeri.
Yeri, Ardo, ada di dalam kamar luas, memiliki ranjang cadangan, set sofa layaknya apartemen.
Tiba-tiba pintu dihempas menimbulkan bunyi keras.
Tubuh Ayunda menegang, remote dalam genggaman terlepas.
Seseorang melangkah cepat dengan wajah memerah, sorot mata menyimpan amarah. Penampilannya terlihat kusut – jaket jas blazer dilempar asal. Lengan kemeja ditarik hingga siku.
Tanpa aba-aba, kerah bulat kaos Ardo yang berdiri dengan kepala tertunduk, diremas kuat, lalu sebuah tinju mendarat tepat di bawah rahang kiri.
Bugh!
“Saya paling anti dengan seseorang tidak becus menjalankan tugas sampai hampir menimbulkan hal fatal,” desisnya sambil mendorong tubuh sang pengawal.
“Renungkan kesalahanmu! Enyahlah dari sini!” titahnya menggeram, masih dikuasai emosi.
Ardo menunduk dalam sampai bahunya membungkuk, lalu keluar. Di susul Yeri, yang sama-sama memberi salam hormat.
Tinggallah Ayunda, tubuhnya kaku. Paham jika pria ini tengah emosi tingkat tinggi. “Aku bisa jelasin, kehadiran bayi ini sama sekali bukan rencanaku, dan _”
“Bukankah dokter menyarankan banyak-banyak istirahat?” Ia mengikis jarak, semakin dekat dengan sang wanita, bertambah mengetat rahangnya.
“Tapi, tapi … kita harus bicara. Biar gak ada kesalahpahaman,” wajah Ayunda memerah, air matanya sudah berderai.
“Tidurlah. Saya sedang tidak ingin memulai obrolan apapun itu.” Bantal menopang punggung Ayunda diturunkan. Dalam sekali tarikan maju pada kedua pinggang, si wanita langsung berbaring.
Ayunda patuh, mengerti apabila memaksakan kehendak, yang ada hal tidak inginkan akan segera terjadi. Dia pejamkan matanya sampai menciptakan kerut pada dahi dan sudut mata.
Si pria tersenyum miring. Menaikan selimut sampai batas dada, menatap lama bagian perut wanita yang berbaring terlentang, berusaha keras untuk tertidur.
‘Jika harta dan kekuasaan tak mampu membuatmu tinggal, maka bayi ini cara ampuh menjeratmu seumur hidup tetap bersamaku, Ayunda.’
Flashback ….
.
.
Bersambung.
ingin bertanya ,apakah semua isu itu pada akhirnya kebenaran? ingin memaki dia begitu sayang pada ayunda meski mulutnya kadang terlalu mercon.
dan sudah pasti jawabannya di luar keingintahuan seila .
daripada dongkol lama2 mending menghindar🤣
kasihan pak satpam nanti jadi korban dak dik Duk der daksa kaya Iyan loh
eeh akhirnya di bikin Tekdung olala
okelah,menepati dulu
Kamu mungkin berpikir gak di anggap penting oleh Ayunda
tpi setiap orang punya privasi
nanti saatnya terbuka semua kamu pasti mengerti 🫂