NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:881
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Menjebak Sang Pengkhianat

Jarum jam dinding di ruang kerja eksekutif menunjukkan pukul 23.45 malam. Gedung pencakar langit Rani Group yang siangnya riuh rendah oleh kesibukan bisnis, kini telah bertransformasi menjadi labirin beton yang sunyi dan mencekam. Sebagian besar lampu koridor telah dimatikan, menyisakan pendaran temaram lampu darurat yang melemparkan bayangan panjang di atas lantai marmer.

Di dalam ruang kerja Rani yang gelap gulita, dua pasang mata sedang menatap tajam ke arah layar monitor laptop yang menyala redup di pojok ruangan tersembunyi.

Riko dan Rani duduk berdampingan, sangat dekat hingga lengan mereka saling bersentuhan. Riko telah memasang tiga buah kamera mata-kucing nirkabel berukuran mikro yang tidak akan terdeteksi oleh pemindai frekuensi standar. Kamera-kamera itu menyorot langsung ke arah meja kerja utama Rani dan brankas baja di balik lukisan dinding.

"Kamu yakin dia akan memakan umpannya malam ini, Riko?" bisik Rani lirih. Suaranya yang biasa terdengar angkuh kini dipenuhi ketegangan.

Sore tadi, atas saran Riko, Rani sengaja meninggalkan sebandel berkas tebal bersampul merah di atas mejanya dengan label mencolok: REVISI ANGGARAN UTAMA CENTRAL DISTRICT - KONSORSIUM HENDRA. Berkas itu adalah umpan palsu berisi angka-angka rekayasa yang jika jatuh ke tangan Hendra, akan membuat Wijaya Group melakukan investasi salah langkah yang bisa membangkrutkan mereka.

"Orang yang berani membobol brankas rahasiamu untuk mencuri dokumen pernikahan kontrak adalah orang yang sangat rakus, Rani," jawab Riko, suaranya berat dan sangat tenang di dalam kegelapan. Tangannya bergerak, menggenggam jemari Rani yang terasa dingin di atas meja, memberikan suntikan kekuatan emosional yang instan. "Hendra pasti menuntut informasi baru setelah Paman Broto gagal memeras kita siang tadi. Tikus ini tidak punya pilihan selain bergerak malam ini."

Monolog batin Rani bergejolak hebat saat merasakan kehangatan tangan Riko. Di tengah situasi menegangkan berburu mata-mata seperti ini, kehadiran Riko di sisinya terasa seperti jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam dalam badai pengkhianatan orang dalam. Dia perlahan mengetatkan genggaman tangannya pada jemari kekar Riko.

Klik.

Suara halus dari arah pintu ganda depan seketika memotong aliran pemikiran mereka. Genggaman tangan Riko menegang, memberi isyarat tak bersuara agar Rani menahan napas.

Di layar monitor taktis, mereka bisa melihat daun pintu ganda perlahan terbuka beberapa sentimeter. Sebuah siluet tubuh ramping menyelinap masuk dengan gerakan yang sangat terlatih dan sunyi. Sosok itu mengenakan pakaian serba hitam, lengkap dengan sarung tangan kain dan masker yang menutupi sebagian besar wajahnya.

Sosok misterius itu tidak menyalakan lampu. Dia menggunakan lampu senter kecil dari ponselnya yang sorot cahayanya sengaja ditutupi sebagian dengan jemari agar tidak memantul ke jendela kaca luar.

Dengan langkah kaki yang nyaris tanpa suara, mata-mata itu langsung berjalan menuju meja kerja Rani. Begitu melihat berkas umpan bersampul merah tergeletak di sana, gerakan tubuhnya tampak menegang penuh kegembiraan. Dia langsung mengeluarkan sebuah ponsel khusus dari saku celananya, membuka lembar demi lembar berkas tersebut, lalu mulai memotretnya dengan cepat.

Rani yang menyaksikan hal itu dari balik layar monitor merasakan dadanya bergemuruh hebat oleh amarah yang membakar. 'Kurang ajar! Dia benar-benar melakukannya di depan mataku!'

"Sekarang, Riko?" bisik Rani, giginya gemeretak.

"Tunggu. Biarkan dia menyelesaikan babak pertamanya agar bukti hukumnya mutlak," bisik Riko dingin, mata elangnya berkilat berbahaya di dalam kegelapan.

Setelah selesai memotret seluruh halaman berkas umpan, sosok hitam itu merapikan kembali posisi dokumen tersebut seperti semula agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dia berbalik, bersiap untuk menyelinap keluar lewat jalur yang sama.

"Sekarang," perintah Riko tegas.

Riko langsung menekan satu tombol di keyboard laptopnya. Detik itu juga, seluruh lampu sorot LED di langit-langit ruang kerja eksekutif menyala serentak dengan tingkat kecerahan maksimal, mengubah ruangan yang tadinya gelap gulita menjadi benderang seketika.

Klik!

Sosok berpakaian hitam itu tersentak hebat, berteriak kecil karena terkejut, dan langsung mengangkat tangannya untuk menghalau cahaya silau yang mendadak menyerang matanya. Ponsel di tangannya hampir saja terjatuh ke lantai.

"Pekerjaan lembur yang sangat mengesankan, Tikus Kantor," suara bariton Riko yang berat, dingin, dan sarat akan dominasi mematikan menggema keras memecah kesunyian malam.

Riko dan Rani melangkah keluar dari balik sekat ruang tersembunyi. Riko berjalan dengan langkah tegap, menopang tangannya di saku celana dengan wibawa elang pemangsa yang siap mencabik mangsanya. Di sampingnya, Rani berdiri dengan keangkuhan Alpha Woman-nya yang telah kembali sepenuhnya, matanya menatap tajam penuh kebencian ke arah sang penyusup.

Sosok hitam itu mundur dua langkah hingga punggungnya membentur tepi meja kerja. Dia menatap Riko dan Rani dengan tubuh yang gemetar hebat karena ketakutan. Menyadari dirinya telah masuk ke dalam jebakan yang sempurna, dia mencoba berbalik untuk berlari menuju pintu keluar.

Namun, sebelum dia sempat melangkah, pintu ganda depan sudah didorong terbuka dari luar. Dua orang petugas keamanan internal bertubuh kekar yang sudah disiapkan oleh Riko langsung masuk dan menutup jalur pelarian, mengunci ruangan tersebut rapat-rapat.

"Buka maskermu sendiri, atau aku yang akan meminta tim keamananku merobeknya dari wajahmu," perintah Rani dengan nada suara yang begitu dingin, tajam, dan menusuk hingga ke tulang.

Sosok itu menundukkan kepalanya, napasnya memburu panik. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia perlahan meraih ujung masker hitamnya, lalu menariknya turun ke bawah dagu.

Begitu wajah di balik masker itu terekspos sepenuhnya di bawah cahaya lampu LED, mata Rani seketika melebar sempurna. Langkah kakinya sempat terhuyung mundur satu tapak karena rasa tidak percaya yang luar biasa dahsyat menghantam dadanya.

"M-Maya?!" suara Rani tercekat di tenggorokan, bergetar hebat antara kemarahan dan rasa sakit hati yang teramat dalam.

Wanita di hadapan mereka, yang mengenakan pakaian hitam penyusup itu, adalah Maya—orang yang sementara mengantikan posisi gita, yang sudah bekerja bersamanya selama lima tahun terakhir, wanita yang memegang seluruh jadwal rahasia, dan orang ke 2 setelah Gita yang paling Rani percayai di dalam korporasi ini.

Maya langsung bersujud di atas lantai marmer, air matanya tumpah ruah membasahi pipinya yang pucat pasi. "I-Ibu Rani... Maafkan saya, Ibu! Saya... saya terpaksa melakukan ini!"

"Terpaksa?!" Rani melangkah maju, suaranya meninggi penuh emosi yang meledak-ledak. Rasa dikhianati oleh orang terdekat adalah luka terdalam bagi seorang pemimpin. "Aku menaikkan gajimu dua kali lipat tahun lalu, Maya! Aku membiayai pengobatan ibumu di rumah sakit! Dan ini caramu membalas kepercayaanku?! Kamu yang membobol brankas ku dan memberikan dokumen pernikahan kontrakku kepada Paman Broto?!"

"S-saya diancam oleh Tuan Hendra, Ibu!" tangis Maya pecah, tubuhnya gemetar di atas lantai. "Tuan Hendra memegang dokumen utang judi adik laki-laki saya di kasino luar negeri sebesar tiga miliar rupiah. Dia mengancam akan menghabisi nyawa adik saya jika saya tidak memberikan dokumen pernikahan kontrak Anda dan memotret revisi anggaran malam ini! Saya tidak punya pilihan, Ibu!"

Mendengar nama Hendra disebut, Riko berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di hadapan Maya yang sedang bersujud. Riko membungkuk sedikit, mengambil ponsel milik Maya yang tergeletak di lantai, lalu memeriksa isinya dengan mata elangnya yang jeli.

"Utang judi adikmu bukan alasan untuk menjual harga diri perusahaan yang sudah menghidupimu, Maya," ujar Riko dengan suara rendah yang sangat mengintimidasi. Dia menegakkan tubuhnya, menatap Maya dari atas ke bawah tanpa ada rasa kasihan sedikit pun. "Dan dengan memotret berkas anggaran palsu ini, kamu baru saja membantu kami mengirim Hendra Wijaya ke dalam jurang kebangkrutan yang sesungguhnya."

Riko menoleh menatap Rani yang masih tampak terguncang di tempatnya berdiri. Riko melangkah mendekati istrinya, lalu dengan lembut merangkul bahu Rani, menyalurkan kehangatan dan kekuatan pelindung mutlak yang membuat Rani perlahan bisa menguasai emosinya kembali.

"Bawa dia ke ruang interogasi bawah tanah, serahkan seluruh bukti rekaman kamera dan ponsel ini kepada tim hukum luar negeri kita. Pastikan dia tidak berkomunikasi dengan Hendra sampai pasar saham dibuka besok pagi," perintah Riko tegas kepada dua petugas keamanan.

"Baik, Tuan Riko!" Kedua petugas itu langsung membopong Maya yang masih menangis histeris keluar dari ruangan.

Pintu kembali menutup, menyisakan keheningan yang intim dan sarat emosi di dalam ruang kerja yang luas itu. Rani menyandarkan kepalanya pada dada bidang Riko, memejamkan matanya rapat-rapat demi menahan air mata kekecewaan yang hampir menetes.

"Semua orang yang dekat denganku selalu berakhir dengan pengkhianatan, Riko..." bisik Rani lirih, suaranya terdengar begitu rapuh—sisi seorang wanita biasa yang tidak pernah dia perlihatkan pada dunia. "Pertama Haris yang mengkhianatimu, lalu Paman Broto, dan sekarang Maya... Apakah di dunia ini tidak ada lagi komitmen yang nyata?"

Riko mempererat rangkulannya di bahu Rani, lalu menggunakan tangan kanannya untuk mendongakkan dagu cantik istrinya agar mata mereka saling mengunci di bawah pendaran cahaya ruangan.

"Ada, Rani," bisik Riko dalam, mata elangnya memancarkan ketulusan mutlak yang mengunci seluruh jiwa Rani. "Komitmen itu berdiri di depanmu sekarang. Aku tidak tahu seberapa banyak orang yang akan mengkhianatimu di masa depan, tapi aku pastikan... Riko Pratama tidak akan pernah menjadi salah satu dari mereka. Aku bersamamu, bukan karena selembar kertas kontrak itu lagi."

Dada Rani berdesir hebat mendengarnya. Kata-kata Riko malam itu menjadi obat penawar paling mujarab bagi luka pengkhianatan di hatinya. Di dalam ruangan kantor yang menjadi saksi bisu pembersihan musuh dalam selimut mereka, Rani tahu... dia tidak hanya berhasil menyingkirkan pengkhianat, tapi dia telah sepenuhnya menemukan pelindung sejati yang siap meruntuhkan dunia demi dirinya.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!