“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Benar Saja, Pak ?
Rhea akhirnya berjalan menuju kursinya dengan wajah pasrah. Begitu duduk, ia langsung meletakkan tasnya pelan di atas meja sambil mengembuskan napas lega.
“Gila…” bisik teman bernama Lusi yang duduk di sebelahnya.
Rhea hanya menutup wajahnya sebentar. Sementara itu di depan kelas, Arga kembali mengambil spidol hitamnya seolah kejadian barusan bukan sesuatu yang penting.
“Baik, kita lanjut.”
Suasana kelas perlahan kembali normal meski beberapa mahasiswa masih diam-diam melirik ke arah Rhea.
“Komunikasi massa tidak lagi berjalan satu arah seperti era media konvensional,” jelas Arga sambil menulis beberapa poin di papan tulis. “Media digital membuat audiens ikut membentuk arus informasi.”
Rhea berusaha fokus mendengar materi, tetapi rasa malu tadi masih belum benar-benar hilang. Apalagi setiap kali ia mendongak ke depan, sosok Arga yang berdiri dekat meja dosen itu selalu berhasil membuatnya kembali tegang sendiri.
“Saudari Rhea.”
Deg!
Rhea yang sejak tadi berusaha mengecilkan diri di balik layar laptop langsung menegakkan tubuhnya cepat. Tangannya refleks merapikan rambut yang sedikit berantakan, sementara beberapa mahasiswa di dekatnya mulai menoleh penasaran.
“I-Iya, Pak?”
“Karena tadi jawaban kamu cukup bagus…”
Kalimat itu langsung membuat suasana kelas berubah sedikit ramai. Beberapa mahasiswa saling melirik kecil, jelas tidak menyangka Arga yang terkenal dingin bisa memuji seseorang secepat itu di hari pertama kelas.
Arga menutup spidolnya pelan lalu menyandarkan satu sisi tubuhnya ke meja dosen.
“Coba lanjutkan pendapat kamu tentang algoritma media sosial.”
Mata Rhea langsung membesar.
“...Saya lagi, Pak?”
“Iya.”
Rhea langsung menoleh cepat ke samping seolah mencari korban lain untuk dilempar ke depan.
“Lusi nih, Pak. Dia mau jawab katanya.”
“Heh?” Lusi spontan melotot. “Kok gue sih? Lo, Rhe-...”
Belum sempat melanjutkan protesnya, beberapa mahasiswa di belakang langsung tertawa kecil melihat ekspresi panik mereka berdua. Bahkan ada yang sampai menunduk sambil menahan tawa di balik buku catatan.
Rhea sendiri langsung menahan senyum bersalah sambil mendorong pelan lengan sahabatnya itu.
“Temenan kok tega,” bisik Lusi pelan.
Sementara itu di depan kelas, Arga hanya memandang mereka datar tanpa ekspresi berubah sedikit pun. Tatapannya tenang, tapi justru membuat suasana kembali hening perlahan.
“Kamu mau jawab atau tidak?”
Nada suaranya tidak keras, namun cukup membuat Rhea langsung duduk tegak lagi.
“Ya ampun…”
Ia mengembuskan napas panjang sambil menggaruk pelipisnya pelan. Otaknya terasa dipaksa bekerja dua kali lebih keras pagi itu. Baru saja lolos dari hukuman terlambat, sekarang malah dijadikan mahasiswa dadakan untuk sesi diskusi kelas.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Rhea kembali menatap ke depan.
“Menurut saya… algoritma media sosial sekarang bikin audiens lebih sering menerima informasi yang sesuai sama preferensi mereka sendiri, Pak.”
Arga tidak menyela. Pria itu hanya melipat tangan di depan dada sambil memperhatikan Rhea dengan tatapan fokus.
“Jadi orang-orang cenderung terus melihat opini yang mirip dengan apa yang mereka suka,” lanjut Rhea lebih tenang. “Akhirnya sudut pandang mereka bisa semakin sempit karena jarang terpapar pendapat yang berbeda.”
Suasana kelas perlahan kembali hening. Bahkan beberapa mahasiswa yang tadi sibuk bercanda mulai benar-benar mendengarkan.
“Makanya sekarang opini publik gampang banget terpecah di media sosial,” ujar Rhea lagi. “Karena algoritma terus menampilkan konten yang bikin pengguna bertahan lebih lama di platform.”
Setelah selesai bicara, Rhea langsung menelan ludah kecil. Baru sekarang ia sadar satu kelas sedang melihat ke arahnya.
Di depan kelas, Arga masih berdiri sambil memperhatikan Rhea beberapa detik tanpa berkata apa-apa.
“Good.”
Satu kata itu langsung membuat beberapa mahasiswa saling menoleh lagi. Lusi bahkan perlahan mendekat ke arah Rhea sambil berbisik tidak percaya,
“Buset… dipuji, coy.”
Sedangkan Rhea sendiri hanya berkedip pelan sambil menatap ke depan kelas, masih agak sulit percaya dirinya baru saja mendapat pujian langsung dari dosen paling menyeramkan di fakultas mereka.
Suasana kelas perlahan kembali tenang setelah sesi tanya jawab singkat itu selesai. Beberapa mahasiswa mulai kembali membuka laptop dan mencatat materi, sementara yang lain masih sesekali melirik ke arah Rhea yang sejak tadi sukses menjadi pusat perhatian tanpa sengaja.
Di depan kelas, Arga kembali berdiri tegak sambil mengambil spidol hitamnya.
“Baik, kita lanjut.”
Nada suaranya tetap tenang dan datar seperti biasa.
Slide presentasi kembali berpindah satu per satu di layar proyektor. Cahaya dari layar besar itu memantul samar di wajah Arga saat pria itu menjelaskan materi dengan runtut dan cepat.
Sesekali ia berjalan pelan dari sisi kanan ke kiri kelas sambil menjelaskan poin-poin penting tentang komunikasi digital dan perubahan pola konsumsi media.
Tidak ada mahasiswa yang benar-benar berani bermain ponsel terang-terangan di kelasnya.
Cara Arga mengajar terlalu fokus dan menekan untuk diabaikan begitu saja.
Rhea sendiri akhirnya mulai benar-benar memperhatikan materi. Jemarinya bergerak cepat mengetik beberapa poin penting di laptop, meski sesekali ia masih menguap kecil karena kepanikan sejak pagi tadi benar-benar menguras tenaganya.
*****
Waktu berjalan tanpa terasa. Suara Arga yang tenang memenuhi ruangan selama hampir satu jam penuh, ditemani bunyi ketikan laptop dan gesekan bolpoin para mahasiswa yang sibuk mencatat materi.
Slide demi slide terus berganti di layar proyektor, sementara suasana kelas tetap fokus meski udara dingin ruangan mulai membuat beberapa mahasiswa diam-diam menguap kecil.
Hampir satu jam berlalu sampai akhirnya slide terakhir muncul di layar proyektor.
Arga menghentikan penjelasannya lalu menoleh ke arah seluruh mahasiswa di kelas. Spidol hitam di tangannya diketukkan pelan ke meja sebelum akhirnya ia meletakkannya begitu saja.
“Apa ada pertanyaan?” tanyanya tenang. “Jika tidak, saya anggap kalian sudah mengerti.”
Suasana kelas sempat hening beberapa detik. Beberapa mahasiswa saling melirik kecil, seolah sedang menentukan siapa yang cukup berani membuka sesi tanya jawab pertama dengan dosen baru mereka itu.
Sampai akhirnya seorang mahasiswa laki-laki di barisan tengah mengangkat tangan pelan.
“Silakan.”
“Pak, kalau media sosial sekarang lebih dikendalikan algoritma, berarti media konvensional bakal kehilangan pengaruhnya sepenuhnya atau tidak, Pak?”
Arga mengangguk kecil sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Tidak sepenuhnya,” jawabnya tenang. “Karena media konvensional masih punya kredibilitas yang tidak selalu dimiliki media sosial. Yang berubah hanyalah cara distribusi dan konsumsi informasinya.”
Beberapa mahasiswa langsung mengangguk sambil mulai mencatat lagi.
“Media digital memang cepat,” lanjut Arga sambil berjalan pelan ke sisi meja dosen, “tapi kecepatan tidak selalu sejalan dengan validitas informasi.”
Ruangan kembali hening beberapa saat.
“Ada lagi?”
“Pak…”
“Ya?”
“Ini…” Lusi langsung menoleh ke arah sahabatnya sambil menahan senyum jahil. “Rhea mau tanya, Pak.”
Suara itu langsung membuat beberapa kepala menoleh bersamaan ke arah Rhea. Rhea sendiri langsung membelalak ke arah Lusi yang duduk di sampingnya.
“Ya Tuhan, Lusi…”
Lusi malah menahan tawa sambil menunjuk ke depan kelas. “Kesempatan lo tuh.”
Arga mengangkat pandangannya ke arah Rhea.
“Ada yang ingin kamu tanyakan, Rhea?”
Puluhan pasang mata langsung kembali tertuju padanya.Rhea langsung salah tingkah sendiri. Jemarinya sibuk memainkan ujung bolpoin, sementara otaknya mendadak kosong karena seluruh kelas sekarang menunggu dirinya bicara.
“Eh… anu, Pak…” Ia berdeham kecil sebelum akhirnya membuka mulut asal. “Kalau misalnya algoritma media sosial terus berkembang… apakah nanti opini publik bisa sepenuhnya dikendalikan platform digital?”
Begitu selesai bicara, Rhea langsung menyesal sendiri. Ia bahkan nyaris memejamkan mata karena malu pada dirinya sendiri.
Namun alih-alih langsung menjawab, Arga justru menatap Rhea beberapa detik tanpa berkata apa-apa. Tatapan pria itu terasa sulit ditebak sampai akhirnya sudut bibirnya terangkat tipis disertai gelengan kecil.
Dan itu sukses membuat satu kelas langsung diam.
Karena sejak awal kelas dimulai, Arga hampir tidak pernah menunjukkan ekspresi apa pun. Bahkan mahasiswa di barisan belakang mulai saling melirik pelan.
“Eh… Pak Arga senyum?”
“Gue nggak salah lihat kan?”
Sementara Rhea sendiri cuma bisa menatap bingung dari tempat duduknya.
Arga kemudian berbalik pelan menuju meja dosennya lalu duduk di kursi sambil mematikan slide presentasi dan layar proyektor. Cahaya di ruangan langsung berubah sedikit redup setelah layar putih di depan kelas perlahan menggelap.
“Loh, Pak… kok tidak dijawab?” protes Rhea spontan.
Arga menyandarkan tubuhnya santai di kursi.
“Karena pertanyaan yang kamu berikan…” tatapannya kembali tertuju pada Rhea, “saya tahu kamu sebenarnya sudah mengerti jawabannya.”
Seketika suasana kelas langsung berubah ramai kecil.
“Wih…”
“Gila...gila…”
“Ini dia, favorit dosen baru.”
Sedangkan Rhea langsung menunduk sambil menahan malu sendiri. Wajahnya mulai terasa panas, sementara Lusi di sebelahnya sudah sibuk mencubit lengannya pelan sambil menahan tawa.
“Tuh kan…” bisiknya pelan.
“Baik,” ujar Arga kembali tenang sambil mulai merapikan laptop dan beberapa lembar materinya ke dalam tas. “Cukup sampai di sini kelas hari ini.”
Para mahasiswa mulai menutup laptop dan merapikan barang masing-masing.
“Untuk presentasi kita tunda di kelas saya berikutnya.”
“Baik, Pak…” jawab mahasiswa hampir bersamaan.
Arga berdiri setelah selesai merapikan barang-barangnya lalu melangkah menuju pintu kelas. Namun tepat sebelum membuka pintu, pria itu berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.
“Rhea.”
Deg!
Rhea langsung menegakkan tubuhnya refleks.
“Datang ke ruangan saya.”
“B-Baik, Pak…”
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Beberapa menit kemudian, lorong lantai tiga fakultas sudah mulai jauh lebih sepi dibanding sebelumnya. Suara mahasiswa yang tadi memenuhi koridor perlahan menghilang satu per satu, menyisakan langkah kaki samar dan suara pendingin ruangan yang terdengar dari beberapa kelas.
Kini Rhea berdiri tepat di depan ruangan dosen dengan tulisan “Arga Mahendra, S.I.Kom., M.I.Kom.” terpasang rapi di samping pintu.
Ia mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya mengangkat tangan dan mengetuk pintu itu perlahan.
Tok… tok…
“Masuk.”
Suara Arga terdengar tenang dari dalam.
Rhea segera membuka pintu perlahan lalu melangkah masuk sebelum kembali menutup pintu di belakangnya.
Ruangan itu tidak terlalu besar, tetapi terasa sangat rapi. Rak buku tinggi memenuhi salah satu sisi dinding dengan deretan jurnal komunikasi, beberapa map tebal, dan buku-buku akademik yang tersusun nyaris tanpa cela.
Aroma pengharum ruangan samar bercampur dengan dinginnya pendingin ruangan membuat suasana di dalam terasa tenang sekaligus sedikit menekan.
Di balik meja kerjanya, Arga duduk sambil membuka laptop dan beberapa lembar dokumen. Kemeja hitamnya masih rapi meski lengan bajunya sudah digulung sejak tadi pagi.
Rhea berjalan mendekat lalu berdiri tepat di depan meja kerja pria itu.
“Saya sudah pikirkan hukuman untuk kamu.”
Mata Rhea langsung membesar sedikit. “Bapak serius ya?”
Arga mengangkat pandangannya pelan.
“Tentu saja serius. Dua kesalahan dalam satu waktu, Rhea.”
Rhea langsung mengembuskan napas panjang sambil memasang wajah pasrah.
“Ya udah deh, Pak… jangan yang susah-susah…”
Alih-alih menjawab cepat, Arga justru menyandarkan tubuhnya lebih santai ke kursi sambil memperhatikan
Rhea beberapa detik.
“Jadi asdos saya.”
“Hah?” Rhea langsung refleks melotot. “Asdos?”
“Mulai hari ini dan selama satu bulan.”
“Hah? Satu bulan?” Rhea menatap Arga tidak percaya.
“Pak… yang benar saja…”
“Kalau tidak mau juga tidak apa-apa,” jawab Arga tenang sambil kembali melihat layar laptopnya. “Tapi mau tidak mau nilai kamu tidak akan memuaskan di semester ini.”
Deg!
Rhea langsung diam.
“Pak, itu ancaman…”
“Itu konsekuensi.”
Rhea langsung memegangi dahinya pelan sambil mengeluh kecil.
“Tapi kelas saya gimana, Pak?”
“Saya tidak akan mengganggu kelas kamu.” Arga akhirnya kembali menatapnya. “Kamu tetap ambil kelas seperti biasa. Setelah kelas selesai, kamu temui saya.”
“Gak ada hukuman lain, Pak?”
“Tidak ada.”
Rhea langsung terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menyerah pasrah.
“Ya udah deh… mau gimana lagi.”
“Bagus.”
Arga membuka salah satu laci mejanya lalu mengambil sebuah flashdisk hitam sebelum mengulurkannya ke arah Rhea.
“Sekarang kamu boleh kembali. Dan datang ke ruangan saya sore nanti.”
Rhea menerima flashdisk itu dengan bingung.
“Bawa ini lalu print masing-masing seratus lembar.”
“Seratus lembar?!” Mata Rhea langsung membulat.
“Apa ada masalah?”
“Dompet saya yang bermasalah, Pak…”
Arga hanya menatapnya datar. “Ajukan penggantian nanti.”
Rhea langsung mengembuskan napas panjang dramatik sebelum akhirnya menggenggam flashdisk itu dengan wajah sedikit masam.
“Baik, Pak…”
Ia kemudian berbalik pelan lalu berjalan menuju pintu ruangan. Tepat sebelum keluar, Rhea sempat melirik Arga yang sudah kembali fokus pada laptopnya seolah percakapan tadi bukan sesuatu yang besar.
Dan entah kenapa… itu justru membuat Rhea semakin merasa hidupnya mulai masuk ke masalah baru.