Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Ortu yang Protektif
Di tengah keriuhan Pasar Induk yang berbau tanah dan sisa sayuran, Ray berdiri kaku di depan Mang Somad. Kepalanya tertunduk, namun telinganya menangkap setiap kata sang mandor seperti tetesan asam yang membakar kulit.
Hari itu adalah tepat sepekan dia bekerja paruh waktu di pasar. Masih ada sepekan lagi dari hukuman yang dijalaninya, tapi kali ini Mang Somad malah memintanya berhenti. Memang benar kalau dia hanya membantu sedikit tapi dalam perjanjian, tidak ada syarat yang mendetail. Bahkan Fifi menolak uang harian buruhnya karena katanya cukup uang donatur dari orang tuanya saja.
"Pekerjaan ini nggak sesuai untukmu, Ray. Lagipula, kamu masih sekolah," ucap Mang Somad datar. "Waktu itu Mamang terima kamu hanya karena Den Vyan yang minta. Sekarang dia bilang nggak apa-apa kamu berhenti."
Ray mendongak, matanya menyipit. "Kelihatannya Mang Somad sangat menurut pada Vyan."
"Mamang kenal dia sejak kecil, waktu masih kerja di rumah Pak Rizal Hadyanata," kenang Mang Somad, nada suaranya berubah hangat. "Den Vyan itu pintar, serba ingin tahu, dan baik sama siapa saja. Orang seperti dia... siapa pun yang pernah mengenalnya pasti akan selalu setia membantunya."
Ray terdiam. Ia tahu pengaruh Vyan besar, tapi ia tidak menyangka bahwa "kerajaan" Vyan meluas hingga ke urusan perut orang-orang di pasar ini. Namun, kalimat Mang Somad selanjutnya adalah yang benar-benar mematahkan hati Ray.
"Den Vyan nggak pernah cerita, tapi Mamang dengar ... sekitar setengah tahun lalu Pak Rizal menikah lagi. Katanya sama karyawatinya, janda yang punya anak satu. Kasihan Den Vyan, sampai harus keluar dari rumahnya sendiri." Mang Somad mendesah prihatin. "Mungkin anak tirinya itu merasa bisa menggantikan posisi Den Vyan, tapi Mamang rasa nggak akan pernah bisa. Apalagi soal warisan perusahaan."
Darah Ray mendesir hebat. Rahangnya mengatup rapat hingga giginya bergemeretak.
"Aku tidak berniat menggantikan Vyan. Dan Mama ... Mama sama sekali bukan karyawati Papa," ucap Ray, suaranya rendah tapi bergetar oleh amarah yang tertahan.
Mang Somad tersentak, matanya membelalak menyadari orang yang dia bicarakan ternyata adalah Ray dan ibunya. Namun, Ray tidak memberi ruang untuk permohonan maaf. Ia berbalik dan melangkah pergi, menembus kerumunan orang seolah-olah ia sedang melarikan diri dari sebuah mimpi buruk.
Ray berjalan lurus tanpa memperhatikan sekitar, telinganya mendengung. Anak tiri. Pengganti. Benalu. Dunia seolah memudar, meninggalkan ia sendirian dalam badai pikirannya. Ia tidak mendengar panggilan orang-orang, bahkan tidak sadar saat sebuah deru motor semakin mendekat di sisi kanannya.
"Ray! Awas!"
Satu sentakan kuat di lengannya menarik Ray kembali ke bumi. Tubuhnya limbung ke belakang tepat saat sebuah motor melintas dengan cepat, nyaris menyerempet kakinya. Napas Ray tersenggal, jantungnya berpacu liar. Saat ia menoleh, ia menemukan sepasang mata bulat yang menatapnya penuh kekhawatiran.
"Jangan jalan sambil melamun ...," gumam Yasmin, napasnya masih memburu karena panik.
Melihat wajah polos Yasmin dan tatap matanya yang tulus, pertahanan Ray runtuh total. Tanpa peduli pada tempat dan waktu, ia menarik Yasmin ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di puncak kepala gadis itu, menghirup aroma ketenangan yang sejenak mematikan rasa sakit di hatinya.
"Ray ... lepaskan ...," bisik Yasmin, tubuhnya menegang karena kaget. Namun, Ray justru mempererat dekapannya, seolah Yasmin adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam.
"Terima kasih, Yasmin... terima kasih," gumam Ray parau.
"Cepat lepaskan, Ray. Bisa gawat!" Yasmin mendesak, suaranya mulai gemetar.
"Gawat apanya?" bisik Ray.
"Ehm... tolong lepaskan putri saya."
Suara dingin dan berat itu terasa seperti siraman air es. Ray melepaskan pelukannya seketika. Wajah yang tadinya memerah kini berubah pucat pasi saat melihat Pak Danang berdiri dengan tangan mengepal dan tatapan yang siap membunuh.
"Cepat pergi, Yasmin! Jangan dekati lagi anak ini!" perintah Pak Danang tajam.
"Eh ... a ... Maaf, Pak ... saya ...." Ray terbata, lidahnya terasa kelu.
"Tapi Ayah—"
"Sekalipun sudah tua, Bapak masih sanggup menghadapi pemuda kurang ajar seperti kamu. Ayo maju!"
Pak Danang menyingsingkan lengan bajunya, memasang kuda-kuda bela diri yang mantap tepat di depan hidung Ray.
Ray ternganga. Perjuangannya selama ini untuk terlihat sopan di depan Pak Danang hancur dalam hitungan detik. Ia menatap kuda-kuda pria tua itu yang sangat serius—sebuah peringatan bahwa ia benar-benar dalam bahaya.
"Saya tidak sengaja, Pak. Tadi Yasmin menyelamatkan saya ... saya hanya terharu," bela Ray lemas, tangannya terangkat tanda menyerah.
"Pergi sekarang!" gertak Pak Danang.
Ray menghela napas panjang, menatap Yasmin yang menunduk sedih. "Baiklah, saya pergi. Yasmin ... maaf, dan terima kasih untuk yang tadi."
Ray berbalik, berjalan menjauh dengan bahu yang merosot. Di belakangnya, suara Pak Danang yang masih mengomel dan gumaman lirih Yasmin yang memanggil namanya terasa seperti melodi perpisahan yang menyesakkan. Hari ini, ia tidak hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga celah kecil menuju restu Pak Danang.
...****************...
Yasmin berjalan lunglai menyusuri aspal menuju rumahnya. Pikirannya masih tertinggal pada wajah pucat Ray dan kuda-kuda kokoh ayahnya di pasar tadi. Yasmin sadar, tumbuh besar di bawah pengawasan orang tua yang protektif membuatnya seolah hidup dalam sangkar kaca.
Beberapa laki-laki yang mencoba mendekat selalu dibuat kapok dan takut oleh ayahnya. Banyak dari mereka memang berengsek, tapi ada juga orang baik seperti Ray dan Dean. Yasmin tahu orang tuanya sering menghardik mereka di belakangnya, meski ia sering berpura-pura tidak tahu. Hanya Vyan yang tampaknya menjadi pengecualian—entah karena Vyan terlalu cerdik atau karena orang tuanya memang tidak bisa menemukan celah untuk mengusir pemuda itu.
Sedangkan untuk teman perempuan, adalah kemewahan baginya. Sekalipun Reka kini sudah duduk sebangku dengannya, dan Dhini mendadak sangat baik padanya, semua itu masih terasa baru dan asing bagi Yasmin. Ada kehangatan yang aneh, seolah-olah dunia yang biasanya dingin mendadak memberikan selimut, tapi ia tidak tahu siapa yang menjahitnya.
"Yasmin ...."
Sebuah suara akrab menghentikan langkahnya. Yasmin menoleh dan menemukan Dean berdiri di sana. Dean tidak pernah lagi menginjakkan kaki di dekat rumahnya sejak insiden di kelas tiga SMP dulu.
"Dean ...," gumam Yasmin tak percaya.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan," ucap Dean serius. Yasmin melirik ke arah rumahnya dengan cemas. Dean yang peka segera menangkap kegelisahan itu. "Kita bicara sambil jalan ke sana saja."
Dean menunjuk arah yang menjauhi rumah Yasmin. Mereka melangkah bersama, menciptakan jarak aman dari pengawasan Pak Danang ataupun ibunya.
"Ibumu ... masih marah padaku?" tanya Dean pelan.
Yasmin menunduk, merasa bersalah. "Maafkan aku, Dean. Padahal kamu selalu baik dan membantuku. Sebenarnya ... aku sangat senang berteman denganmu."
Dean tersenyum pahit. "Tidak apa-apa, kok. Aku mengerti kenapa mereka marah. Waktu itu kita memang ceroboh, belajar sampai ketiduran sampai pagi di ruang tengah."
"Apa Kak Vyan dan Kak Ray pernah bertemu mereka? Bagaimana sikap mereka?" tanya Dean kemudian.
"Itulah. Baru saja Ayah memarahi Kak Ray di pasar," Yasmin mendesah berat, lalu menoleh pada Dean. "Sebenarnya, ada apa, Dean?"
Dean berhenti melangkah. Tatapannya menerawang. Sebenarnya, Dean sempat mengintip ke kelas Yasmin tadi. Ia melihat suasana yang jauh lebih kondusif karena keberadaan Reka di samping Yasmin. Namun, pemandangan Tegar yang diam-diam merekam proses Sandra meminta maaf terus mengusik pikirannya.
Apa Vyan sudah turun tangan? batin Dean gelisah. Kalau benar Vyan sudah bergerak secepat itu, berarti pengorbananku memacari Reka akan menjadi sia-sia. Aku sudah terlanjur basah masuk ke dalam hubungan yang tidak kuinginkan ini demi melindungi Yasmin, tapi mungkinkah pelindung yang sebenarnya justru adalah Vyan?
Dean menarik napas panjang, mencoba mengusir keraguan itu. Ia tidak boleh mundur sekarang.
"Yasmin, kita tidak sekelas lagi. Aku tidak bisa menjagamu langsung. Bagaimana sikap teman-teman sekelasmu?"
"Dean jangan khawatir. Mereka semua baik-baik saja. Terutama Reka dan Dhini. Mereka sangat baik padaku."
'Selalu begitu. Di matamu, semua orang baik,' batin Dean.
"Kamu yakin?"
"Iya. Mereka sangat perhatian. Bahkan sekarang aku duduk sama Reka."
Dean mematung sejenak, lalu menatap Yasmin dengan intensitas yang lebih dalam. "Yasmin, bisakah kamu berjanji satu hal padaku?"
"Janji apa?"
"Kalau Reka bertanya tentang hubungan kita ... katakan padanya kalau kita adalah sepupu, ya?"
Yasmin mengerutkan kening, tampak heran. "Tapi kenapa? Kita kan bukan sepupu?"
"Ehm ... aku ingin jadi sepupumu, memangnya tidak boleh?" Dean mencoba bercanda, meski matanya memohon.
"Maksudmu ... sepupu angkat?"
"Bukan sepupu angkat. Pokoknya, tolong janji saja. Katakan kalau kita sepupu," ucap Dean dengan nada yang semakin serius.
Yasmin terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah. Aku janji."
"Tidak akan lupa?"
"Tidak akan lupa, Dean."
Dean tersenyum lega. Sebuah senyum yang menyembunyikan badai di dadanya. Ia tahu ia sedang menipu Yasmin, tapi ini satu-satunya cara agar Reka tidak mencium aroma persaingan yang bisa membahayakan posisi Yasmin di kelas.
'Aku mencintaimu, Yasmin. Dan jika menjadi sepupumu adalah satu-satunya topeng agar aku bisa terus menjagamu melalui Reka, maka aku akan memakainya terus,' batin Dean saat menatap Yasmin berjalan menjauh.