NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 03

Dua bulan kemudian.

Alyra memilih bungkam, mengubur dalam-dalam peristiwa saat Ervin merenggut kehormatannya. Ia enggan menjadikan dirinya bahan perbincangan media, terlebih ayah sambungnya berada di industri hiburan yang begitu sensitif terhadap skandal.

Ia sadar, bila buka suara, Ervin pasti akan menggila. Berakhir menyebarkan berita ke para reporter yang dikenalnya.

Alyra memilih menjalani hari seolah tak terjadi apa-apa.

Hari ini, dirinya sedang berpesta di sebuah klub karaoke, merayakan atas suksesnya peluncuran film dari naskahnya yang memuncaki trending topik, menjadi viral di media sosial.

“Angkat gelas kalian semua! Kita harus merayakan keberhasilan ini, terutama untuk penulis Alyra, Anda layak dirayakan atas suksesnya karya yang luar biasa!” Annika mengangkat gelas, mengajak seluruh staf bersulang.

Semua orang terlihat antusias dan menikmati perayaan. Namun, tidak dengan Alyra, ia termenung di kursi paling ujung, sama sekali tak menunjukan raut puas atas keberhasilannya.

“Huek!”

Tiba-tiba rasa mual menyerbu. Alyra menutup mulut rapat-rapat.

“Kenapa, Al? Lo sakit?” Annika bertanya khawatir.

“Sorry, Ann. Gue ke toilet dulu, ya.” Alyra kemudian beranjak, melangkah cepat menuju toilet.

Detak jantung Alyra mendadak berdebar lebih cepat dari biasanya. Usai memuntahkan isi perutnya, ia berdiri di depan wastafel bercermin, perlahan mengangkat wajah, memandang dirinya sendiri dengan tatapan cemas.

“Kenapa tiba-tiba aku merasa mual? Jangan-jangan ….”

.

.

.

Esok harinya.

Alyra baru saja tiba di apartemen hunian lalu masuk ke kamar, menjatuhkan diri ke atas peraduan. Pandangan lurus, menatap hampa langit-langit kamar.

Ekor matanya basah, bulir kepedihan luruh tanpa bisa ditahan. Tangannya terangkat, menutup wajah bersimbah air mata.

Benaknya kembali berkelana, penuh akan kalimat sang dokter yang menyatakan hasil pemeriksaan, membuat Alyra tercekik dalam diam.

‘Yang kutakutkan selama ini … akhirnya terjadi.’

“Oma ….” Alyra memutar posisi, berbaring menatap tembok berwarna pucat. Suaranya parau memanggil sang nenek yang tinggal jauh darinya. “Gimana ini, Oma? Alyra harus gimana? Bayi ini nggak salah, tapi ... Alyra merasa belum cukup siap untuk menghadirkannya ke dunia …,” adunya pada potret sang nenek yang menggantung di dinding kamar. “Alyra … Alyra merasa rapuh, Oma. Merasa nggak layak jadi ibu untuk bayi yang sekarang ada di kandunganku.”

Isak tangisnya sendirian, hanya bertemankan sunyi dan kegelapan malam tak berbintang.

.

.

Matahari mulai menyingsing, namun sosok wanita berwajah pucat masih terbaring malas di atas kasurnya.

Semalaman ia tersedu dalam kesendirian, menguras air mata, sehingga wajah sembab, dan berakhir terlelap karena lelah.

Perlahan ia menoleh tatkala mendengar suara bel pintu berbunyi. Kelopak mata berkedip pelan, tatapan sayu, tubuh enggan beranjak.

Tring!

Ponselnya berdering. Tangan terangkat lemas, meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja kecil samping ranjang.

“Alyra!” Suara nyaring nan menyentak terdengar dari sambungan, begitu Alyra menggeser tombol hijau.

“Iya, Ma.” Yang dibentak hanya merespon malas.

“Kamu ngapain aja, sih! Cepat buka pintunya!”

Tak menjawab, pemilik ponsel akhirnya bangkit, melangkah lunglai keluar dari kamar.

“Anak gadis jam segini masih malas-malasan! Mau jadi apa kamu ini?” Nirmala Wahab menatap geram putri semata wayangnya yang baru saja membuka pintu.

Alyra mengerucutkan bibir, menutup pintu, kesal. “Mama ngapain ke sini? Kenapa nggak ngabarin dulu?”

Nirmala menenteng paper bag, di tangan satunya membawa tas bekal cukup besar. Berjalan cepat menuju ruang dapur.

“Kamu itu dari kemarin nggak pernah angkat telepon mama. Gimana mau ngasih kabar?”

Yang diomeli menunduk, melirik pasrah, mengakui kesalahannya. “Maaf, Ma. Alyra sibuk.”

Wanita bergaun ungu selutut itu masih menggerutu. “Sibuk apa kamu? Bukannya sekarang lagi nganggur, belum ada project baru, ‘kan?” Lirikan menelisik, menginterogasi sang putri.

“Nyiapin naskah baru, aku harus punya kesibukan,” sahut Alyra tanpa memandang sang mama.

Mama Nirmala geleng-geleng kepala, menatap jengah pada sang putri yang berpenampilan kacau.

Raut wajah layaknya baju yang belum disetrika, rambut kusut seperti sudah sepekan tak disisir.

“Alyra.” Mama Nirmala mengangkat alisnya. “Kamu sudah berapa hari nggak mandi?” Pertanyaan itu sontak membuat sang putri tersedak mineral yang baru saja diteguknya.

“Uhuk!” Yang ditanya terbatuk, mengusap tetesan air di sisi mulut. “Alyra mandi kok, kemarin,” balasnya.

“Kamu ini, ya. Nggak pernah bikin mama tenang, selalu saja bikin cemas. Entah tentang pekerjaan, soal makan, kesehatan, kamu selalu bikin mama kepikiran.” Ia mulai mengomel khas seorang mama. “Kapan kamu akan menikah? Kenalkan ke mama, laki-laki yang sudah kamu pacari selama lima tahun itu.” Nada suara merendah, berharap dibalas kata yang menenangkan.

Alyra tak menjawab, sibuk memainkan ponsel, duduk di depan meja makan.

Mama Nirmala menghela napas, terbiasa dengan sikap acuh tak acuh putrinya. Keduanya memang tak terlalu dekat, sebab sejak Alyra kecil, mama Nirmala sibuk bekerja, sementara Alyra dititipkan kepada sang oma.

Jemari lentik terdapat garis penuaan, membuka tas bekal. Dijejerkannya beberapa menu masakan hasil olahan tangan, tentu saja mama Nirmala yang memasak.

“Mama masakin menu kesukaan kamu.” Raut yang semula kesal, berubah tersenyum hangat. “Akhir-akhir ini kamu jarang pulang ke rumah besar, om Abi sudah menanyakan, khawatir kamu kenapa-kenapa. Sesekali cobalah beri kabar, atau berkunjung sekadar absen muka, setidaknya dia bisa tenang bila tahu kamu baik-baik saja.”

Alyra melirik, meski tampak cuek, kedua telinga tetap siaga mendengarkan. “Iya, Ma. Lusa Alyra bakal mampir ke rumah.”

“Oke.” Sang mama manggut-manggut bahagia.

Piring-piring tersusun rapi di atas meja. Terisi udang saus tiram, gurame bakar bumbu kecap, ayam suwir cabe hijau dan sup daging, semua itu adalah menu favorite Alyra.

Alyra yang masih duduk sambil menatap layar persegi, mendadak merasa aneh, segera menutup hidung dan mulut dengan jemari.

“Huek!”

Mama Nirmala spontan mengangkat wajah. “Why? Kamu sakit?”

Sang putri buru-buru berlari ke arah wastafel. Menunduk pada kotak pencucian piring.

Setelah beberapa menit, hanya mual tanpa mengeluarkan sedikitpun isi perut, membuat tubuh Alyra berubah pucat pasi.

Dipijatnya lembut tengkuk sang putri, mama Nirmala tampak khawatir. “Kita ke rumah sakit, ya.”

Alyra menggelengkan kepala, tanda tak mau.

“Alyra udah minum obat, palingan asam lambung naik.”

“Ya sudah, ayo Mama antar ke kamar, istirahat saja.” Dirangkulnya lengan kurus sang putri, menuntun menuju kamar.

Saat melewati meja makan, aroma masakan kembali menyergap inderanya. Alyra memutar badan, berlari lagi ke arah wastafel.

“Mama, tutup semua makanan itu!”

Nirmala bergerak gesit, menutup kembali makanan yang sudah dihidangkan.

Tanpa bicara lagi, Alyra berlari masuk ke kamar, mengunci pintu.

“Ada apa dengan gadis itu?” Mata sang mama memicing, terheran. Mengikuti ke arah kamar. “Alyra … Buka pintunya.”

“Singkirkan dulu makanan itu. Bikin Alyra mual!” Yang di dalam kamar berteriak.

“Mual karena makanan?” Sejenak Nirmala berpikir. “Kayak orang ngidam aja.” Celetukan meluncur tanpa sadar.

Segera ia kembali membereskan meja, memasukan seluruh makanan ke dalam lemari dingin.

“Ada-ada saja si pemalas itu. Sepertinya alasan saja, karena enggan mengobrol dengan mamanya,” tebak Nirmala yang sudah hafal gelagat putrinya.

Ia berjalan menuju bilik mandi, hendak berhajat kecil. Ditelisiknya dengan teliti setiap sudut toilet, memastikan tak ada hal aneh, atau obat-obatan terlarang yang disembunyikan oleh putrinya.

Sebelumnya, Alyra pernah mengalami depresi ringan, membuat Nirmala terus dirundung rasa was-was akan hal buruk tentang putrinya.

“Sepertinya dia sudah mulai membaik, syukurlah.” Helaan napas lega mengudara.

Nirmala meraih tisu, usai digunakan ia membuangnya ke tempat sampah. Tetapi, sorot matanya berubah tajam, menatap sesuatu yang aneh berada di kotak sampah.

“Apa itu?” Diambilnya stik berwarna biru sepanjang jari telunjuk. Betapa terkejutnya Nirmala, jantungnya bergemuruh tatkala mendapati dua garis merah pada stik tersebut.

Benaknya mulai berkelana, mengingat tingkah aneh putrinya, mual karena mencium aroma makanan seperti orang yang mengidam.

“Jangan-jangan ….”

Segera ia keluar dari toilet, mengetuk keras pintu kamar sang putri.

“Alyra! Kamu hamil?”

Pintu kamar seketika terbuka. Pupil Alyra membesar. “Apa maksud Mama?”

“Jelaskan ini!” Maniknya terlihat berapi-api. “Jelaskan ke Mama, apa ini, Alyra!”

Disodorkannya tepat di depan wajah sang putri stik yang baru saja ia temukan, Nirmala menahan napas, berharap Alyra memberi jawaban bertolak dengan apa yang ia takutkan.

Alyra menelan ludah, rautnya terlihat pasrah, bibir bergetar, tak satupun kata yang keluar.

Kemarin, sebelum pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan, Alyra sempat menggunakan tespeck. Sialnya, ia cukup takut dan membuangnya ke tempat sampah sebelum mengetahui hasilnya, berakhir ditemukan oleh sang mama.

“Alyra! Jawab!”

“M–ma … itu—”

“Jawab kalau ini bukan milik kamu, ini tidak seperti apa yang mama pikirkan, iya, ‘kan? Mama mohon ….”

Sorot mata bergetar, menatap netra sendu sang mama, Alyra tak berdaya, tak bisa lagi untuk berdusta.

“Maafin Alyra, Ma.”

Plak!

“Dasar anak tak tahu malu!” Amarah Nirmala tak tertahan, sangat ringan tangannya menampar pipi kiri putrinya. “Mama tidak pernah mendidik kamu untuk menjadi liar, Alyra! Mengapa bisa … mengapa ini bisa terjadi?”

Alyra menundukan wajah, pipi terasa panas, bersimbah air mata. Bahunya berguncang, tersedu penuh kepedihan.

“Alyra juga nggak mau ini terjadi, Ma.” Suara parau, nyaris tercekat.

Wanita bergincu merona, menatap tegas putrinya. “Siapa dia? Siapa pelakunya? Siapa badjingan yang berani berbuat demikian?” Rentetan tanya ia lontarkan.

“Ma, biarkan masalah ini Alyra urus sendiri. Mama tak perlu khawatir soal ayah biologis bayi ini.”

“Apa maksudmu dengan mengurus sendiri!” Intonasinya naik satu oktaf. “Kapan hari kamu bilang ingin mandiri, tapi apa ini! Tanpa pengawasan Mama kamu jadi liar dan berakhir hamil!”

“Alyra bukan liar, Ma. Ini bukan kemauan Alyra. Alyra diperkossa!”

“Apa! P–perkosaa?” Bibir Nirmala terbuka tak percaya. “Kapan itu terjadi, mengapa tak cerita ke Mama? Ini kasus besar, Alyra. Bukan masalah sepele, bisa-bisanya kamu diam saja selama ini.”

“Alyra hanya tak mau menyulitkan Mama. Bila om Abi tau, beliau pasti akan bertindak, Ervin adalah pria yang nekat, Ma. Bila dia terusik … skandal ini akan dikuak ke media, bukan hanya aku yang akan merugi, tapi Mama, nama Om Abi juga akan ikut terseret.”

“Alyra ….” Ditatapnya sendu manik kelam sang putri. “Kamu anggap apa mamamu ini? Bila menyangkut anak, Mama siap untuk bertempur, Mama akan melindungimu dengan segenap jiwa dan raga.”

“Ma ….” Alyra semakin tersedu.

“Sekarang beritahu Mama, siapa Ervin sebenarnya? Di mana rumahnya? Kita datangi dia.”

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!