NovelToon NovelToon
Kutukan Santau

Kutukan Santau

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:

---

*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti

pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*

_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Hujan perlahan mulai reda dan yang tinggal cuma gerimis tipis yang jatuh dari genteng, bunyinya seperti jari-jari kurus mengetuk pelan.

Satu per satu tetangga mulai berdatangan buat tahlilan malam ketiga Midah, Kadir dan menantunya langsung menyambut tamu di pintu masuk dan Lampu neon di ruang tengah di nyalain, cahayanya putih terang. Tapi bau kemenyan bercampur tanah basah bikin hawa di rumah makin berat, seperti ada sesuatu yang ikut duduk di pojokan.

anak-anak kadir dan menantunya sibuk mengatur tikar dan air putih. “Alhamdulillah ya, hujannya berhenti. Biar tetangga tetangga kehujanan saat pulang,” katanya, tapi suaranya pelan, tidak ada lega di situ.

Ayu masih duduk dekat pojokan ruang tamu, punggungnya nempel ke tembok, badannya dingin, dan keringat dingin keluar dari pelipisnya dan dia melihat tetangganya mulai masuk dan berdatangan sambil mengucap salam...? Tetangga masuk satu per satu, “Assalamualaikum…”, suara mereka pelan, seperti tidak mau ganggu malam ini. Mereka duduk melingkar,siapin tasbih. Bau kemenyan yang Wati bakar barusan menyebar, tapi tidak bisa menutupi bau anyir tanah basah yang masih nyangkut di hidung Ayu.

Makhluk tinggi besar itu sudah tidak ada, tapi Bekas telapak tangan basah di kaca masih ada....lima jari! menghadap ke dalam.

Ayu duduk di pojokan ruang tamu, punggungnya nempel ke tembok. Badannya dingin meski keringat tipis naik di pelipis.

Semua orang fokus ke depan, ngikutin komando Pak Ustadz yang udah buka kitab.

"Al-Fatihah… ilaa hadroti…"_

Tapi mata Ayu tidak bergerak dan duduknya mulai gelisah, jendela samping itu kelihatan jelas. Wati yang melihat adiknya mulai tidak nyaman".kamu kenapa dek".tapi ayu hanya diam dan tidak menyahut panggilan kakaknya

Sekali kedip aja rasanya seperti mengasih jalan, Jadi dia tahan. Sampai matanya perih, sampai pandangan mulai buram, dia tetap bertahan. Di pangkuannya, jari-jari Ayu saling meremas ujung sajadah sampai kainnya kusut dan tubuhnya mulai dingin dan tangannya mulai gemetar

Badannya pengen mundur, tapi kakinya seperti ditahan tembok. Dingin dari lantai merayap naik ke tulang punggung, pelan-pelan, sampai ke tengkuk. Rasanya seperti ada tangan tak terlihat lagi mengusap dari bawah.

_Krek… krek…_

Suara kecil itu ketutup sama bacaan tahlil, tapi Ayu dengar jelas. Di luar tidak ada orang, tidak ada bayangan Cuma gerimis yang sudah mati, ninggalin hawa pengap yang bikin napas berat.

Wati makin bingung melihat wajah adiknya pucat seperti kertas. Dia mau mengulang panggil, tapi tiba-tiba ayahnya dari depan angkat tangan, isyarat buat diam.

Semua orang berhenti baca.....Hening!

di tengah hening itu, suara napas basah dari balik jendela kedengaran lagi, Lebih dekat.

Di kepalanya, suara kakek muncul terakhir kali malam itu, pendek dan berat.“Tahan, Ayu. Kalau kau buka mulut sekarang, malam ketiga jadi milik dia.”Ayu tidak menjawab. Dia cuma makin menahan napas, menahan air mata yang sudah ngumpul di pelupuk mata.

Pak Ustadz yang duduk paling depan langsung berhenti baca, Dia dengar juga Suara napas basah dari balik jendela itu tidak wajar—berat, serak, seperti orang yang baru naik dari kubangan lumpur. Setiap tarikannya bikin kaca berembun, tapi embunnya mengalir ke bawah, bukan ke atas, seperti ditarik gravitasi yang salah.

Semua orang di ruang tamu ikut diam, Tasbih di tangan berhenti berputar. Bahkan anak kecil yang tadi mengantuk, sekarang menempel erat ke ibunya, tidak berani nangis atau bersuara

Wati menahan napas, tangannya menggenggam lengan Ayu pelan dan saudara nya yang lain juga mengelilingi ayu, takut terjadi dengan adiknya . “Ayah…” bisiknya, tapi suaranya ketelan hening.

Kadir cuma mengaangkat tangan.... Lebih tinggi!. Isyarat buat jangan ada yang bersuara.

Di pojokan, Ayu ngerasa dunia menyempit. Mata tidak boleh kedip, napas tidak boleh lepas. Di kepalanya cuma terulang suara kakeknya.“Kalau kau buka mulut sekarang, malam ketiga jadi milik dia.”Air mata yang sudah ngumpul di pelupuk akhirnya tumpah satu.... Jatuh ke sajadah.

Dari luar, suara napas itu berhenti dan berganti suara kuku.

_Krek… krek… krek…_

Pelan, sabar, menggesek kaca tepat di tengah bekas telapak tangan basah. seperti lagi mengukur apakah kaca ini kuat atau Ayu yang duluan menyerah.

Pak Ustadz pelan-pelan buka kitabnya lagi. Jari tuanya gemetar waktu nemu halaman Yasin. Dia tidak lihat ke jendela tapi Dia melihat ke arah Ayu.“Anak-anak,” suaranya rendah, tapi mengena ke seluruh ruangan, “kalau ada yang merasa tidak enak, baca dalam hati saja dan Jangan dilawan pakai suara.”

Baru kalimat itu selesai, kaca di jendela samping…retak. Garis tipis, dari tengah bekas telapak tangan itu menjalar pelan ke pinggir,

tidak pecah Cuma retak.

**seperti peringatan#

Pak Ustadz langsung mulai baca, suaranya tegas, tidak ada ketakutan ataupun keraguan:

“Yaa siin… walqur’anil hakiim…”

Setiap ayat yang keluar seperti menarik udara berat di ruangan itu untuk ke luar. Lampu neon yang tadi bergoyang-goyang, sekarang diam Bahkan gerimis yang sudah mati pun rasanya tidak berani balik lagi.

Garis retak di kaca berhenti dan tidak menjalar lagi. Tapi bekas telapak tangan basah itu seperti ditekan lebih kuat dari luar. Jari-jarinya makin kelihatan jelas, kuku-kukunya panjang, item, ngorek-ngorek pelan dari dalam retakan.

Di pojokan, Ayu merasa dadanya sesak. Suara kakek di kepalanya sudah tidak ada lagi.....Hening.

Yang ada cuma suara Pak Ustadz dan suara sesuatu yang ngeden dari balik kaca, seperti menahan biar tidak masuk.

Tetangga yang duduk melingkar pada menunduk. tidak ada yang berani melihat ke arah jendela Tapi semua merasa seperti sesuatu yang lagi didorong keluar pakai bacaan itu.

Sampai di ayat keempat,

_“‘Alaa shirootim mustaqiim,”_

suara ketawa serak dari luar langsung pecah seperti orang yang tau dia akan kalah, tapi tidak mau pergi dengan tenang.

Retakan di kaca bergetar, Satu tetes air hitam menetes dari ujung jari di kaca, jatuh ke lantai. Langsung berasap begitu menyentuh ubin, Bau anyir tanah basah bercampur amis jadi satu, menyengat sampai ke hidung.

Pak Ustadz tidak berhenti. Suaranya makin keras, makin cepat dan yang lainnya juga ikut membantu dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an.“Tanziilal ‘aziizir rahiim…”

Dan di luar, suara itu mendesis.

_“Ayu…”_setelah mendengar itu, suaranya langsung hilang di kegelapan malam seperti tidak pernah ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!