NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 - Gus yang Ikhlas

Kesunyian yang menyusul penolakan Naura terasa seperti benda padat yang bisa disentuh.

Udara di ruang tamu keluarga Mahendra membeku. Mahendra terlihat seperti ingin menelanjangi putrinya hidup-hidup. Diana menutup wajahnya dengan kedua tangan, malu yang tak terkira. Kyai Hanan hanya diam, matanya yang tajam mengamati segala sesuatu tanpa berkata-kata.

Dan Gus Azzam...

Pria itu tetap duduk dengan postur yang sama tegak, tenang, seolah permintaan penolakan tadi bukan sertu hujan yang mengenai bahunya.

Naura masih berdiri di ambang pintu, dagunya terangkat, matanya menantang. Jantungnya berdebar brutal di telinganya, tapi ia tak akan mundur. Ia sudah mengatakan apa yang ingin ia katakan. Toh, pria itu pasti akan terdiam selayaknya ustaz kaku yang hanya bisa menunduk dan berkata "sabar"

"Baik." Satu kata. Datar. Tanpa emosi.

Naura berkedip. "A-apa?"

Azzam berdiri perlahan, mengibaskan sarung putihnya dengan gerakan tenang yang terlalu merepotkan untuk dilihat. Ia menatap Naura benar-benar menatap, bukan sekadar melirik dan untuk pertama kalinya, Naura menyadari betapa dalamnya mata pria itu.

Bukan dingin. Bukan juga marah. Tapi menerima.

"Kamu menolak, dan itu hakmu," ucap Azzam, suaranya tenang seperti aliran sungai di pagi hari. "Aku tidak akan memaksa."

Naura terdiam, bingung. Ini... bukan skenario yang ia bayangkan.

Mahendra melompat dari kursinya. "Gus Azzam, mohon maaf, anakku ini—"

"Pak Mahendra," Azzam mengangkat tangan, memotong dengan sopan namun tegas. "Tidak perlu meminta maaf atas nama putri Anda. Dia berhak atas pendiriannya."

Kyai Hanan mengangguk pelan di sudut ruangan, wajahnya tak terbaca.

Azzam kembali menatap Naura. "Tapi izinkan aku mengatakan satu hal sebelum kami pulang."

Naura mempertahankan tatapannya, meski lututnya terasa seperti jelly. "Katakan."

"Penolakanmu tidak mengubah wasiat kakekku. Dan penolakanmu juga tidak mengubah kenyataan bahwa takdir ini datang bukan karena kami memilih, tapi karena kita dipilihkan." Azzam mengambil jeda, suaranya turun, lebih lembut, hampir seperti bisikan. "Aku tidak datang ke sini untuk merampas kebebasanmu, Naura. Aku datang karena ada wasiat di ujung sajadah yang harus aku jalankan."

Lalu, tanpa menunggu respons, Azzam menunduk sedikit sebuah isyarat hormat yang sangat jarang dilakukan pria usianya kepada gadis muda dan berbalik menuju pintu.

"Wassalamu'alaikum," ucapnya, lalu melangkah keluar bersama Kyai Hanan.

Pintu depan tertutup perlahan. Naura masih berdiri di tempat yang sama, menatap pintu yang baru saja ditutup. Dadanya naik-turun. Tangannya mengepal kuat.

"Wasiat di ujung sajadah"

Kata-kata itu berdenging di kepalanya seperti gema yang tak mau hilang. Ada sesuatu dalam cara Azzam mengucapkannya bukan ancaman, bukan paksaan tapi semacam kepasrahan yang justru membuat Naura merasa... salah.

Ia menggeleng keras. "Nggak. Jangan tertipu, Naura. Dia tetap orang yang mau merampas hidupmu."

.

.

.

Perjalanan pulang dari kediaman keluarga Mahendra berlangsung dalam kebisinan.

Kyai Hanan mengemudi sendiri mobil hitam yang membelah jalanan sore itu. Di kursi penumpang, Azzam menatap jendela, memandangi gedung-gedung pencakar langit yang berlalu dengan tatapan yang tak terfokus.

Hujan rintik-rintik mulai turun, membasahi kaca dan mengaburkan pemandangan kota.

Kyai Hanan tak bisa menahan diri lagi. "Azzam."

"Abii?."

"Kamu kemapa tenang sekali." Kyai Hanan menyelip kata-kata dengan hati-hati. "Tadi... dia menolakmu di depan semua orang. Dan kamu hanya bilang 'baik'?"

Azzam menoleh perlahan, menatap ayahnya dengan mata yang damai. "Apa yang Abi harapkan untuk aku lakukan? Berteriak? Memaksa? Mengancam?"

"Bukan. Tapi setidaknya... membantah?"

"Abi sendiri yang mengajarkanku," Azzam menatap lurus ke depan lagi, "bahwa air yang mengalir tidak pernah berteriak saat menemui batu. Ia hanya mencari jalan lain, sampai batu itu lapuk dimakan waktu."

Kyai Hanan terdiam, terkejut oleh analogi putranya. Bibirnya tersentak samar-samar. Anak ini... terlalu dewasa untuk usianya.

"Dia menolak karena dia tidak tahu," lanjut Azzam pelan. "Dia tidak tahu siapa diriku, tidak tahu mengapa wasiat ini ada, tidak tahu bahwa pernikahan ini bukan penghargaan untuk merenggut hidupnya dan aku tidak bisa menyalahkannya karena takut pada sesuatu yang ia tidak mengerti."

Kyai Hanan menghela napas panjang. "Lalu apa rencanamu? Karena pernikahan ini... harus terjadi, Azzam. Bukan hanya karena wasiat, tapi karena situasi keluarga Mahendra benar-benar terancam."

Azzam tak menjawab segera. Ia meraih tas kecil di pangkuannya, mengeluarkan Al-Qur'an saku yang kulitnya sudah pudar. Ia membuka halaman acak, matanya menyapu ayat-ayat yang telah ia hafal sejak kecil.

"Aku akan menunggu," bisik hatinya. "Aku tidak akan memaksa, tapi aku tidak akan pergi."

"Abi," ucap Azzam akhirnya, suaranya tenang namun pasti. "Biarkan aku yang mengurus ini. Dengan caraku."

Kyai Hanan menatap putranya dari sudut matanya. Ada keyakinan di wajah Azzam, keyakinan yang datang bukan dari arogansi, melainkan dari kepasrahan seorang hamba yang percaya pada takdir-Tuhannya.

"Baik," Kyai Hanan mengangguk. "Dengan caramu."

Mobil memasuki gerbang Pesantren Al-Farizi, dan pemandangan berubah drastis. Dari hiruk-pikuk kota, kini digantikan oleh ketenangan taman, suara murdu santri yang mengaji, dan menara masjid yang menjulang di antara pohon-pohon rindang.

Azzam turun dari mobil, berjalan melewati koridor yang sudah hafal di luar kepala. Santri-santri yang lewat menyapanya dengan hormat, dan ia membalas dengan anggukan kecil serta senyum tipis yang selalu membuat santriwati bersorak dalam hati.

.

.

.

Malam ini, langkahnya tidak menuju ruang kerja atau perpustakaan. Ia menuju masjid.

Masjid utama pesantren megah dengan kubah birunya yang memantulkan cahaya bulan. Di dalam, hanya ada beberapa santri yang sedang i'tikaf. Azzam berjalan ke shaf pertama, tepat di tengah, lalu duduk bersimpuh di atas sajadah kegemaran almarhum kakeknya.

Ia menyingkap sorbannya, membiarkan rambutnya yang lebat dan gelap terlihat. Tangannya meraih Al-Qur'an besar dari rak, membukanya dengan kelembutan yang luar biasa.

Lalu, ia mulai membaca.

Suara merdunya mengalir, meresap ke dalam setiap sudut masjid, meresap ke dalam setiap celah dinding, meresap ke dalam jiwanya sendiri. Ayat-ayat tentang kesabaran, tentang takdir, tentang cinta yang datang dari tempat yang tak disangka.

Air mata mengalir di pipinya tanpa ia sadari. Bukan karena sedih. Bukan karena tertolak. Tapi karena ia merasa sendirian.

Selama ini, Azzam hidup dalam kesempurnaan yang ditetapkan oleh dunia pesantren. Ia adalah Gus yang ideal, taat, berwibawa, hafal kitab, tampan, dikagumi. Tapi tak ada seorang pun yang bertanya apakah ia lelah. Tak ada yang bertanya apakah ia ingin hidup lain.

Kakeknya tahu. Kakeknya pasti tahu. Itulah sebabnya kakeknya meninggalkan wasiat ini.

"Bahwa di balik sajadah yang selalu kubasahi dengan air wuduh dan air mata, aku butuh seseorang yang membawa warna ke dalam duniaku yang hitam-putih, Kakek?" bisik Azzam dalam hati. "Benarkah gadis itu orangnya?"

Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu kembali menunduk pada Al-Qur'an.

"Ya Allah, jika ini takdir-Mu, permudahkan jalannya. Dan jika ini bukan, tunjukkan jalan yang lain."

Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, Azzam tahu ia tidak pernah merasa ragu. Sejak membaca wasiat itu, ada ketenangan yang ia rasakan, seolah ada tangan tak kasat yang menekan bahunya dan berkata: Ini jalanmu, Azzam. Dan ujung jalan ini, ada cinta yang belum kamu kenali.

Azzam tersenyum sendirian di tengah kesunyian masjid.

"Gadis yang menolakku hari ini," bisiknya, "kita akan lihat siapa yang lebih kuat keraskan kepalamu, atau ketenanganku."

.

.

.

Di malam yang sama, di kamar kosongnya, Naura berbaring di atas kasur dengan mata menatap langit-langit.

Ponselnya bergeta. Pesan dari Cipa.

Cipa: Gimana?? Lo udah bilang belum??

Naura: Udah. Gue tolak.

Cipa: TRUS?! DIA NGAPAIN?! Marah?? Nangis?? Meratap??

Naura: Nggak. Dia cuma bilang "baik" trus pulang.

Hening beberapa detik.

Cipa: GILA. Dia green flag BANGET. Lo musti nikah sama dia Nau. GUE SERIUS. ORANG KAYA GITU YG DIJULIN NOLAK DIA CUMA "BAIK"?? DI DUNIA INI MANA ADA??

Naura mendengus, melempar ponselnya ke samping. Tapi saat ia memejamkan mata, bayangan pria di ruang tamu itu kembali muncul. Sorban putihnya. Matanya yang hitam dan dalam. Senyum tipisnya yang menyebalkan itu.

Dan suaranya. 'Wasiat di ujung sajadah.'

Naura membuka mata, menatap langit-langit dengan rasa frustrasi.

"Kenapa suaranya se-enak itu sih," gerutunya pelan. "Kesal banget."

Ia membalikkan badan, memeluk bantal, dan memaksa dirinya tidur. Tapi di sudut hatinya yang paling tersembunyi, ada benih kecil yang tak ia sadari benih penasaran yang mulai tumbuh.

"Siapa sebenarnya Gus Azzam Al-Farizi itu?"

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!