NovelToon NovelToon
Akhirnya Menemukan Mu

Akhirnya Menemukan Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Nunna_Re

Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Pagi itu, Sagita berdiri di depan cermin besar di ruang rias pribadinya. Gaun sutra putih melingkari tubuhnya dengan sempurna. Bibir merahnya tersenyum samar, seakan ia sedang menenangkan diri setelah pertengkaran semalam. Namun, jauh di lubuk hatinya, kegelisahan masih berkecamuk.

“Kenapa aku harus merasa bersalah? Aku cuma butuh bahagia, aku wanita normal, batin ku juga butuh kepuasan sebagai istri…” gumamnya lirih.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang belakangan ini sering membuat jantungnya berdebar,

Reza: “Good morning, cantik. Jadi nanti sore kita photoshoot bareng? Aku udah nggak sabar lihat kamu di depan kamera.”

Sagita tersenyum tipis. Nama itu sudah menjadi semacam penghiburan baginya. Reza Aditya, fotografer muda yang karismatik, pernah bekerja sama dengannya beberapa kali untuk pemotretan brand ternama. Dari sekian banyak pria yang mengaguminya, Reza berbeda. Tatapannya hangat, ucapannya manis, dan yang paling mematikan: ia tahu cara membuat wanita merasa diinginkan.

Berbeda sekali dengan Haikal, yang meski setia, selalu dingin.

Sore itu, studio pemotretan dipenuhi cahaya lampu dan suara kamera. Sagita berpose anggun, gaun glamor menempel di tubuhnya. Reza berdiri di balik kamera, matanya tak pernah lepas dari setiap lekuk gerakan Sagita.

“Bagus sekali… ya, tahan… sempurna,” ujar Reza sambil terus menekan shutter.

Di sela jeda, Reza menghampirinya dengan sebotol air mineral.

“Kamu selalu bikin aku lupa waktu kalau lagi di depan kamera.”

Sagita tertawa kecil. “Hati-hati, nanti aku jadi GR.”

“Kalau itu kenyataan, bukan GR namanya,” bisik Reza, matanya menatap dalam.

Ada sesuatu dalam sorot mata itu yang membuat Gita terdiam. Sebuah tatapan yang penuh gairah, bukan sekadar profesionalitas fotografer. Tatapan yang membuatnya merasa hidup.

Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, Gita merasakan kembali debaran yang lama hilang sejak menikah.

Pemotretan selesai menjelang malam. Kebanyakan kru sudah pulang. Tinggal Sagita dan Reza yang masih membereskan perlengkapan.

“Gita,” panggil Reza tiba-tiba.

Sagita menoleh, sedikit terkejut saat pria itu melangkah mendekat. Jarak mereka terlalu dekat. Nafasnya terasa, hangat.

“Aku tahu ini mungkin salah… tapi setiap kali lihat kamu, aku nggak bisa tahan,” suara Reza rendah, penuh getaran. “Kamu itu… lebih dari sekadar model buat aku.”

Sagita terpaku. Hatinya bergejolak. Bagian dirinya ingin mundur, mengingat Haikal yang menunggunya di rumah. Tapi bagian lain, bagian yang haus akan belaian, ingin menyerah.

“Reza… jangan bicara begitu,” bisiknya dengan suara hampir tak terdengar.

Namun saat Reza menyentuh tangannya—sekadar sentuhan ringan—Gita merasa seperti tersengat listrik. Kehangatan itu berbeda. Kehangatan yang ia rindukan selama bertahun-tahun.

Matanya berkaca-kaca. Ia tahu batas itu tipis sekali. Satu langkah lagi, ia bisa terjatuh ke jurang yang tak mungkin ia kembali.

Dilema yang Membakar.

Malam itu, Gita pulang larut. Haikal sudah tertidur di sofa ruang kerja, laptopnya masih terbuka. Gita berdiri menatap suaminya lama, hatinya diliputi rasa bersalah.

“Mas…” bisiknya pelan.

Ada cinta di sana, masih ada. Tapi juga ada rasa hampa yang terus menggerogoti.

Ia menggenggam ponselnya. Pesan dari Reza belum ia balas,

“Aku nggak mau jadi orang ketiga. Tapi aku juga nggak bisa pura-pura kalau aku nggak punya perasaan ini. Kamu terlalu berharga buat aku.”

Air mata Sagita menetes. Ia tahu dirinya sedang berjalan di atas api. Sekali salah langkah, rumah tangga yang dibangun empat tahun bisa runtuh.

Namun bisikan hatinya juga tak bisa ia abaikan: apakah ia harus terus bertahan dalam pernikahan yang tak memberinya kehangatan? Atau menyerah pada godaan pria yang bisa membuatnya merasa hidup kembali?

Dan malam itu, pertanyaan itu membayangi Gita hingga ke dalam mimpi.

Malam itu, ketegangan kembali menyelimuti ruang makan. Piring-piring porselen berisi hidangan mewah tersaji di atas meja panjang, tapi tak satupun dari mereka benar-benar menikmati.

Haikal meletakkan sendoknya perlahan. Pandangannya lurus ke arah istrinya yang duduk anggun dengan gaun tidur satin.

“Gita,” ucapnya dengan nada serius. “Mulai besok, aku ingin kamu lebih banyak di rumah. Aku capek pulang selalu nggak ada kamu. Rumah ini berantakan, kosong. Seharusnya istri bisa menyambut suami pulang kerja.”

Sagita mendengus kecil, lalu meletakkan garpu dengan keras. “Mas, jangan mimpi aku jadi pembantu di rumah sendiri. Kalau Mas mau rumah rapi, kenapa nggak cari pembantu aja? Aku ini istri, bukan babu!”

“Bukan begitu maksudku—”

“Sudahlah, Mas!” potong Sagita ketus. “Aku nggak mau buang waktu cuma buat beresin rumah. Aku masih punya dunia aku sendiri, pekerjaan aku, teman-teman aku. Kalau Mas butuh seseorang standby di rumah, ya sewa aja orang lain!”

Haikal menatap istrinya lama, rahangnya mengeras. “Kamu serius ngomong begitu, Gita?”

Sagita menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap sinis. “Kenapa nggak? Lagipula, siapa sih wanita yang mau dengan laki-laki impoten kayak Mas?”

Kata-kata itu bagai petir menyambar dada Haikal. Selama ini ia sudah cukup sakit menahan hinaan terselubung istrinya, tapi malam itu, Gita mengucapkannya tanpa memikirkan perasaan Haikal.

“Apa kamu baru saja… menghina aku?” suara Haikal bergetar menahan amarah.

Sagita malah tertawa, tawa nyaring yang menusuk telinga. “Hahaha! Kenapa? Marah? Mas nggak usah sok berani. Coba tunjukin, Mas. Apa yang bisa Mas banggakan selain uang dan properti? Di ranjang, Mas nol besar!”

Harga Diri yang Terkoyak. Wajah Haikal memerah. Tangannya mengepal di atas meja. Ia ingin membalas dengan kata-kata, tapi lidahnya kelu. Yang ada hanya amarah dan rasa terhina yang membakar dadanya.

“Baiklah, Gita.” Suaranya kini dingin. “Kalau begitu… aku akan lakukan seperti katamu.”

Sagita mengerutkan alis, sedikit bingung.

“Maksud Mas?”

Haikal berdiri, meraih ponselnya, lalu menekan nomor dengan cepat.

“Beni,” suaranya tegas saat sekretaris pribadinya menjawab. “Besok pagi aku mau ada pembantu baru di rumah. Cantik, muda, seksi. Aku nggak peduli caranya, kamu hubungi yayasan legal apa saja. Pastikan dia datang ke rumah jam delapan pagi. Mengerti?”

Di ujung sana terdengar suara Beni yang sempat ragu. “Tapi, Pak—”

“Ini perintah, Ben!” potong Haikal tajam. “Besok pagi!”

Ia menutup telepon dengan keras, lalu menatap Gita dengan sorot mata penuh tantangan.

“Kamu nggak usah repot lagi urus rumah, Gita. Besok ada orang lain yang akan melakukannya. Cantik dan muda. Aku harap… kamu nggak akan pernah cemburu.”

Tawa yang Menyakitkan

Bukannya gentar, Sagita justru tertawa terbahak. “Hahaha! Mas ini benar-benar konyol! Apa ada wanita cantik yang rela jadi pembantu di rumah lelaki impoten? Mas pikir bisa bikin aku panas dengan ancaman kayak gitu?”

Haikal menunduk sejenak, menahan perih yang menusuk hatinya. Tapi kali ini, tekadnya bulat.

“Kamu akan lihat, Gita,” katanya pelan tapi mantap. “Kamu akan lihat.”

Setelah itu, Haikal meninggalkan meja makan dengan langkah berat. Ia masuk ke ruang kerjanya, menyalakan rokok untuk menenangkan diri. Tangannya masih gemetar, pikirannya kacau.

Baginya, perintah tadi bukan sekadar emosi. Itu semacam pertaruhan harga diri. Ia ingin membuktikan pada Gita bahwa meski ia lemah di satu sisi, bukan berarti ia tak punya daya tarik. Bahwa ada wanita lain yang masih bisa menghargai kehadirannya—meski hanya sebagai majikan.

Sementara di kamar, Gita tersenyum sinis di depan cermin. “Coba aja, Mas. Aku nggak akan pernah takut. Justru aku pengen lihat sejauh mana Mas bisa bertahan.”

Dan malam itu, keduanya tidur terpisah dengan hati penuh bara.

Keesokan paginya, sebuah kejutan akan mengguncang rumah tangga mereka. Karena kehadiran orang ketiga—sosok wanita muda yang cantik—akan membuka babak baru dalam kisah penuh luka dan godaan ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!