Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad yang dingin
Zahra tidak bermimpi malam itu. Mungkin karena otaknya terlalu lelah untuk bermimpi. Atau mungkin karena bahkan alam bawah sadarnya pun sudah menyerah dan memilih mati suri daripada harus memproses semua yang akan terjadi besok.
Alarm berbunyi jam lima pagi. Zahra menatap langit-langit selama tiga menit penuh sebelum akhirnya bangun.
"Hari ini."
Dua kata yang terasa seperti tembok beton jatuh di atas dadanya.
Rumah sudah ramai sejak subuh. Tim makeup datang jam enam. Bude-bude dari pihak keluarga sudah berkeliaran di ruang tamu sejak sebelum matahari benar-benar naik, ngobrol dengan suara yang terlalu keras untuk jam segitu. Aroma masakan menguar dari dapur, catering sudah mulai setup dari semalam.
Zahra duduk di kursi rias, membiarkan tangannya dirias, rambutnya diatur, wajahnya diubah jadi versi yang lebih layak tampil di hari pernikahan.
Di cermin, dia menatap bayangannya sendiri. Gadis di cermin itu kelihatan cantik. Tenang. Siap. Zahra tidak merasa satupun dari tiga hal itu.
"Dek, senyum dong," kata si mbak makeup sambil mengoleskan blush on.
"Pengantin kok mukanya kayak mau ujian."
Zahra tersenyum tipis. Otomatis. Kosong.
"Lebih buruk dari ujian, Mbak. Jauh lebih buruk." batinnya
Sinta datang, langsung nyerobot masuk kamar dan mengusir semua orang dengan alasan "mau ngobrol dulu sama pengantin."
Begitu pintu tertutup, Sinta menatap Zahra dari ujung kepala ke ujung kaki, kebaya putih krem, sanggul rendah, riasan natural yang tetap bikin Zahra kelihatan lebih dewasa dari biasanya.
"MashaAllah. Lo cantik banget," kata Sinta. Tulus. Tanpa basa-basi.
Zahra menghela napas. "Gue takut, Sin."
"Gue tau."
"Bukan takut nikahnya." Zahra duduk di tepi kasur, hati-hati supaya kebayanya nggak kusut.
"Gue takut... gue nggak tau apa yang sebenernya terjadi. Semua orang nyimpen sesuatu Dariki. Mama, Papa, bahkan Rafandra sendiri. Dan gue masuk ke pernikahan ini kayak orang buta."
Sinta duduk di sebelahnya. Diam sebentar.
"Lo inget nggak waktu kita SMA, lo pernah ikut lomba debat?" kata Sinta tiba-tiba.
Zahra mengernyit. "Iya? Terus?"
"Lo nggak tau sama sekali topiknya bakal apa. Lo masuk ruangan itu tanpa persiapan matang dan lo menang." Sinta menatapnya.
"Lo selalu lebih kuat waktu dilempar ke situasi yang lo nggak siap, Zah. Itu bukan kelemahan lo. Itu justru kekuatan lo."
Zahra menatap sahabatnya itu lama. Lalu tersenyum.
"Lo terlalu banyak nonton video motivasi," kata Zahra.
"Mungkin." Sinta nyengir. "Tapi gue bener kan?"
.
.
.
Akad nikah dilangsungkan jam sepuluh pagi. Sederhana, itu kata ayahnya waktu merencanakan ini. Tapi "sederhana" versi keluarga Hendra tetap berarti gedung pernikahan kelas satu, tamu undangan ratusan orang, dan dekorasi yang bikin Zahra yakin harganya bisa bayar uang kuliahnya dua semester.
Zahra berjalan masuk dengan tangan di lengan ayahnya. Matanya langsung mencari Rafandra di depan dan menemukannya tanpa susah.
Pria itu berdiri di depan penghulu dengan setelan beskap gelap, rambut tersisir sempurna seperti biasa. Tegak. Tenang. Seperti ini bukan pernikahan tapi rapat dewan direksi.
Matanya menoleh saat Zahra masuk.Mereka bertatapan. Zahra tidak tahu apa yang dia cari di mata itu. Keraguan, mungkin. Atau rasa bersalah. Atau setidaknya, kebingungan, sama seperti yang Zahra rasakan.
Tapi yang Ia temukan hanya ketenangan yang dalam dan gelap. Tidak terbaca.
"Dia nggak gugup sama sekali?"
Entah kenapa itu bikin Zahra lebih gugup dari sebelumnya.
Prosesi akad berlangsung khidmat. Penghulu membacakan ijab. Wali hakim mewakili. Tamu duduk tenang. Semua berjalan sesuai rundown.
Lalu tiba giliran Rafandra mengucapkan kabul.
"Saya terima nikahnya Zahra Aldiva Hendra binti Hendra Kusuma, dengan mas kawin tersebut, tunai."
Satu kali ucap. Jelas! Lancar! Penghulu bertanya ke para saksi. Dua suara menjawab: "Sah."
Dan dalam hitungan detik itu hanya detik itu, Zahra merasakan dunianya bergeser. Bukan dramatis. Bukan seperti di sinetron yang ada angin sepoi-sepoi dan musik mengharukan.
Hanya... bergeser. Seperti ada sesuatu yang terkunci, dan kuncinya baru saja diputar. Sekarang ia istri Rafandra Surya Wibowo.
"Ya Allah."
.
.
.
Resepsi berlangsung dua jam. Zahra tersenyum. Bersalaman. Difoto. Tersenyum lagi. Bersalaman lagi. Difoto lagi. Semua diulang dalam loop yang melelahkan sementara kakinya mulai protes di dalam heels-nya dan senyumnya makin lama makin terasa seperti topeng yang di-lem ke wajah.
Rafandra ada di sebelahnya sepanjang waktu tapi "ada di sebelah" dalam artian fisik saja. Dia tidak menggenggam tangan Zahra. Tidak berbisik apapun. Tidak mendekat lebih dari jarak yang diperlukan oleh protokol acara.
Dua orang asing yang kebetulan duduk di pelaminan yang sama. Satu tamu tante dari pihak keluarga Zahra sempat berkomentar dengan suara yang sedikit terlalu keras.
"Wah, Mas Rafandra pendiem ya. Tapi gagah sih."
Zahra cuma senyum.
"Pendiem. Itu kata yang paling halus yang pernah gue denger buat mendeskripsikan pria ini."
Jam dua siang, semua tamu sudah pulang. Keluarga Hendra berkumpul sebentar di dalam pelukan, tangisan ibu, adik-adik Zahra yang memeluknya bergantian dengan ekspresi yang campur aduk antara sedih dan bingung.
Rafandra menunggu di luar, di dekat mobil. Tidak tergesa. Tidak terlihat tidak sabar. Hanya... menunggu, dengan tangan di saku dan mata menatap ke arah jalan.
Pak Hendra mengantar Zahra keluar terakhir. Di depan pintu, ayahnya berhenti. Memegang bahu Zahra sebentar.
"Papa minta maaf," katanya pelan. Pertama kali Zahra mendengar kata-kata itu dari mulut ayahnya dalam waktu yang sangat lama.
"Tapi percayalah, Rafandra bukan orang jahat."
Zahra menatap ayahnya.
Ada banyak hal yang ingin dia katakan. Ada amarah yang masih membara di suatu tempat di dalam dadanya. Tapi melihat mata ayahnya lelah, bersalah, tua tiba-tiba Zahra menelan semuanya sendiri.
"Aku harap Papa bener," kata Zahra akhirnya. Lalu dia melangkah keluar.
Mobil Rafandra. hitam, mewah, jenis yang Zahra nggak hafal merknya tapi yakin harganya bisa beli rumah di komplek perumahan meluncur keluar dari halaman gedung dalam diam.
Supir di depan. Rafandra di sebelah kiri Zahra. Jarak di antara mereka di bangku belakang cukup untuk duduk satu orang lagi.
Zahra menatap jendela. Jakarta bergerak di luar sana macet, ramai, tidak peduli bahwa ada gadis dua puluh satu tahun di dalam mobil ini yang baru saja menikah dengan orang yang hampir tidak dia kenal dan sekarang tidak tahu harus ngapain.
Dua puluh menit berlalu dalam sunyi. Zahra tidak tahan.
"Kita mau ke mana?" tanyanya, masih menatap jendela.
"Rumah."
"Rumah lo maksudnya."
"Rumah kita."
Zahra menoleh ke arahnya. Rafandra tidak membalas tatapan itu matanya tetap ke depan.
"Rumah kita." Dua kata yang terasa sangat asing di telinga Zahra.
"Gue boleh tau aturannya nggak?" kata Zahra. "Maksud gue... gue nggak mau masuk ke tempat baru tanpa tau gue boleh ngapain dan nggak boleh ngapain."
Rafandra diam sebentar. Lalu, tanpa menoleh:
"Tidak ada aturan yang perlu kamu khawatirkan."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban yang cukup untuk sekarang."
Zahra menggigit pipi bagian dalam. Kebiasaan lama waktu dia menahan diri untuk tidak ngomong hal-hal yang mungkin akan dia sesali.
"Cukup untuk sekarang. Dia selalu ngomong gitu. 'Sekarang'. 'Belum waktunya'. Kayak semua jawaban ada jadwal rilisnya sendiri."
Mobil akhirnya masuk ke kawasan perumahan elite di selatan Jakarta rumah-rumah besar di balik pagar tinggi, pohon-pohon rindang di sisi jalan, sunyi yang terasa berbeda dari sunyi di tempat lain.
Lalu berhenti di depan sebuah rumah. Besar. Lebih besar dari yang dia bayangkan. Dua lantai, arsitektur modern yang bersih dan dingin, taman depan yang rapi tanpa satu daun pun jatuh sembarangan.
Terlihat sempurna. Dan sama sekali tidak terasa seperti rumah.
Supir membuka pintu. Rafandra keluar duluan, lalu berdiri di samping pintu — bukan menawarkan tangan, hanya berdiri, menunggu.
Zahra keluar sendiri. Mereka berjalan masuk berdampingan. Asisten rumah tangga menyambut di depan pintu dua orang, wajah sopan dan tunduk sebagai sambutan.
Rafandra berbicara singkat ke salah satu dari mereka dalam bahasa yang terlalu pelan untuk Zahra dengar. Asisten itu mengangguk lalu menghilang ke dalam.
Rafandra berbalik ke Zahra.
"Kamarmu di lantai dua. Sudut kanan." Dia menyebut ini seperti menyampaikan informasi logistik.
"Kalau ada yang kamu butuhkan, bilang ke Mbak Reni."
Zahra menatapnya. "Kamar." Dia mengulang kata itu. "Kamar sendiri?"
"Ya."
"Kita... nggak satu kamar?"
Sesuatu di ekspresi Rafandra bergerak samar sekali, nyaris tidak terdeteksi. "Kamu ingin satu kamar?"
"Bukan gitu—" Zahra menahan diri. "Gue cuma mau tau aja."
"Kamu punya kamar sendiri. Aku punya kamar sendiri." Rafandra menatapnya sebentar.
"Aku tidak akan memaksamu untuk apapun yang tidak kamu inginkan. Itu janjiku."
Lalu dia berbalik dan naik tangga. Langkahnya teratur. Tidak tergesa. Punggungnya lurus.
Zahra berdiri di foyer rumah yang besar dan sunyi itu, sendirian, menatap tangga yang sudah tidak ada Rafandra-nya lagi.
Dia menikah hari ini. Dia tinggal di rumah orang asing. Dan satu-satunya hal yang suaminya katakan di hari pertama pernikahan mereka adalah bahwa dia tidak akan dipaksa untuk apapun.
Zahra tidak tahu apakah itu seharusnya membuat lebih lega. Tapi lumaya , lumaya sedikit iya.
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼