Dikira hoki dapet kontrakan 500rb. Ternyata isinya kuntilanak nagih utang nyawa.
Bima kuli miskin terpaksa "kawin" sama Sumi demi nyawanya. Kirain lunas?
SEASON 2 DIMULAI: Bakri penghuni baru masuk. Nyawa jadi DP kontrakan.
Berani baca jam 12 malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maulana Alhaeri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 :Epilog - Kembange Suargo
Lima tahun sudah berlalu sejak Bima mengubur masa lalunya di bekas Kontrakan 3 Pintu. Lima tahun yang penuh air mata, keringat, dan sujud. Bima yang dulu buta karena nafsu, kini matanya terbuka karena azan maghrib. Fitri yang dulu hatinya retak karena dikhianati, kini utuh karena sabar dan doa. Adek yang dulu kejang-kejang karena diganggu demit, kini ranking 2 di SD Negeri 1 Sumberwaras. Dan Melati... kembang suargo titipan Sumi, kini tumbuh jadi anak sholehah, pinter ngaji, penyejuk hati.
Masjid Al-Ikhlas kini tak pernah sepi. Setiap Maghrib, suara Pak Modin Samingan menggema, menggetarkan sawah, menggetarkan kuburan, menggetarkan hati yang dulu lalai. Di serambi masjid, ada papan marmer putih bertuliskan: _"Di atas tanah ini pernah berdiri Kontrakan 3 Pintu. Di tanah ini pernah tumpah darah Sumi. Di tanah ini pernah Bima kalah oleh setan. Tapi di tanah ini juga Bima menang oleh tobat. Jadikan ini pelajaran: Jangan jual iman demi ati pitek."_
Bima kini jadi ketua takmir masjid. Tiap Jumat Kliwon, dia yang mimpin tahlil di kuburan Sumi. Tiap subuh, dia yang ngaji paling depan. Sawahnya makin luas, panennya makin berkah. Tapi Bima selalu bilang ke anak-anaknya: *"Rezeki paling besar bukan sawah sak-ubeng, Nak. Tapi istri sholehah, anak nurut, dan dosa diampuni Gusti Allah."*
Fitri melahirkan Muhammad Arka tepat di malam Jumat, diiringi suara ngaji dari masjid. Bayinya sehat, ganteng, pipinya tembem persis Dede Arka yang ada di mimpi Melati. Waktu azan pertama dikumandangkan di telinga Arka, Bima nangis lagi. Nangis syukur. *"Mi... Karno... Anakmu sudah lahir lewat rahim bojoku. Jenengmu tak abadikne. Utangku lunas."*
Adek sekarang jadi abang yang sayang adik. Ngajarin Melati ngaji, ngajarin Arka jalan. Kalo Melati nangis, Adek yang pertama lari. *"Tante Sumi nitip Melati ke kita, Dek. Kita jaga bareng."* kata Bima tiap malam.
Dan Melati... setiap ke kuburan, selalu bawa melati sak-tekong. Tanda lahir di lehernya makin jelas kalau kena matahari sore. Kata orang desa: *"Itu Sumi yang nitip badan ke Melati. Biar Bima inget terus."* Tapi bagi Bima, itu bukan beban. Itu amanah. Itu bukti Gusti Allah Maha Pengampun.
Pak Kontrakan H. Dulmajid? Kabarnya mati di Nusakambangan karena dipukuli napi lain. Badannya kurus, matanya bolong, meninggal dalam keadaan gila, teriak-teriak *"Sumi... Ngapuro... Aku diobong..."* setiap malam. Kuburannya tak ada yang ziarah. Beda dengan kuburan Sumi yang selalu basah oleh kembang dan doa.
Desa Sumberwaras kini jadi desa percontohan. Aman, tentram, warganya rajin ke masjid. Anak-anak muda yang dulu mabuk-mabukan, kini ikut pengajian Bima. Semua gara-gara satu cerita: *"Kontrakan 3 Pintu"*. Cerita yang awalnya horor, berakhir jadi hidayah.
Bima sering duduk di beranda joglonya sore-sore, ngopi sambil mantau sawah. Fitri di sampingnya, nyuapin Arka bubur. Adek sama Melati lari-larian di halaman, kejar-kejaran sama ayam. Angin semilir, azan maghrib sayup-sayup. Damai. Halal. Berkah.
Kadang Bima masih mimpi Sumi. Tapi bukan Sumi daster putih berlumur darah. Sumi yang datang pakai gamis putih, mukanya bercahaya, gandeng tangan Pak Karno yang ganteng, gendong Dede Arka. Sumi cuma mesem, bilang: *"Wes Mas... Aku ikhlas... Kowe apik... Jogoen anakku..."* Lalu hilang jadi cahaya.
Bima bangun, istighfar, wudhu, sholat tahajud. Bisik dalam sujud: *"Ya Allah... Matur nuwun sudah kasih aku hidup kedua. Matur nuwun sudah kasih aku Fitri. Matur nuwun sudah kasih aku Melati dan Arka. Matur nuwun sudah jadikan dendam jadi masjid."*
**Pesan Bima untuk semua pembaca:**
*Ojo gampang nuruti nafsu, Cak. Ojo dolanan setan. Ojo ngelarani bojo sing setia. Ojo mikir dalan pintas. Nek kowe tibo, tobat o. Nek kowe salah, njaluk ngapuro. Nek kowe disakiti, ngapura o. Gusti Allah iku Maha Ngapuro, luwih gede ngapurane tinimbang dosamu.*
*Kontrakan 3 Pintu wes rata. Setan e wes mati. Sing urip: tobatmu. Sing langgeng: amalmu. Sing tak entekne: dosaku, dudu keluargaku.*
**Al-Fatihah kanggo Sumi, Pak Karno, Dede Arka.**
**Al-Fatihah kanggo kita semua sing masih diberi kesempatan tobat.**