NovelToon NovelToon
Gairah Suami Kakakku

Gairah Suami Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Jejak Merah di Balik Kerah

Jejak Merah di Balik Kerah

​Pagi itu, sinar matahari yang masuk lewat celah gorden terasa seperti ejekan bagiku. Aku terbangun dengan kepala yang berat dan jantung yang langsung berdegup kencang saat ingatan tentang "sepuluh menit" bersama Gavin semalam menyerbu otakku.

​Aku segera berlari ke depan cermin rias. Napasku tertahan. Di sana, di ceruk leher sebelah kiri, sebuah tanda kemerahan—hickey yang sangat jelas—tercetak dengan angkuhnya. Gavin benar-benar meninggalkan jejaknya. Dia sengaja menandaku seperti hewan buruan.

​"Gila... dia beneran gila," bisikku sambil mencoba menutupi tanda itu dengan fondasi dan bedak tebal.

​Namun, rasa panas di leherku seolah tidak mau hilang. Setiap kali jemariku menyentuh bekas hisapan Gavin, tubuhku meremang. Aku benci fakta bahwa aku tidak bisa menolak sentuhannya semalam. Aku benci fakta bahwa sebagian dari diriku merindukan tekanan tubuhnya yang keras di atas tubuhku.

​"Arum! Sayang, bangun! Ayo sarapan dulu, Mas Gavin sama Mbak Siska mau pamit pulang pagi ini!" suara Mama berteriak dari lantai bawah.

​Aku tersentak. Pulang? Syukurlah. Aku butuh jarak dari pria itu sebelum aku benar-benar kehilangan kewarasanku. Aku segera mengenakan kemeja dengan kerah tinggi—satu-satunya cara untuk menyembunyikan dosa semalam—dan turun ke bawah.

​Di meja makan, suasananya tampak sangat normal. Mbak Siska sedang sibuk menyiapkan roti bakar, sementara Papa sedang asyik berbincang mengenai berita ekonomi di televisi. Dan di sana, di kursi yang sama seperti kemarin, Gavin duduk dengan kemeja navy yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang kokoh.

​"Pagi, Arum. Wah, rapi sekali pakai kemeja kerah tinggi pagi-pagi begini. Memangnya mau ke mana?" tanya Mbak Siska sambil tersenyum ceria.

​Aku duduk di kursi yang paling jauh dari Gavin, namun tetap saja, aku bisa merasakan tatapannya yang tajam sedang menelanjangi penampilanku. "Mau ke perpustakaan kampus, Mbak. Ada tugas yang harus dikumpul besok."

​"Rajin banget sih adikku ini," Mbak Siska mencubit pipiku sayang. "Mas Gavin, liat tuh Arum, rajin banget kan?"

​Gavin meletakkan cangkir kopinya perlahan. Dia menatapku lurus, tepat ke arah kerah kemejaku yang tinggi. Sebuah seringai tipis yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya. "Iya, sangat rajin. Bahkan sepertinya dia harus menutupi lehernya agar tidak kedinginan di perpustakaan, ya kan, Arum?"

​Aku nyaris menjatuhkan sendokku. Dia tahu. Dia tahu persis kenapa aku memakai baju ini.

​"Iya, Mas. AC di perpustakaan memang dingin sekali," sahutku dengan suara yang bergetar.

​"Oh ya, Sayang," Mbak Siska menoleh ke Gavin. "Sebelum pulang, temani aku mampir ke toko bunga depan komplek ya? Aku mau beli beberapa anggrek buat di apartemen kita."

​"Tentu, Sayang. Apapun untukmu," jawab Gavin lembut, suaranya terdengar begitu manis di depan istrinya, namun kakinya di bawah meja mulai bergerak.

​Aku membeku saat merasakan ujung sepatu kulit Gavin mulai menggesek punggung kakiku. Aku mencoba menarik kakiku, namun dia justru mengejarnya, menjepit pergelangan kakiku dengan kekuatannya yang tak tertahankan.

​Jangan di sini, Mas. Tolong... pintaku dalam hati sambil menatapnya dengan tatapan memohon.

​Gavin justru semakin berani. Dia menatap Mbak Siska sambil mengusap tangan istrinya itu di atas meja, sementara di bawah meja, kakinya terus memberikan tekanan yang membuat napasku mulai memburu. Ini benar-benar gila. Dia sedang bercinta secara simbolis denganku melalui kakinya, tepat di saat istrinya sedang merencanakan masa depan mereka.

​"Arum, kamu kenapa? Wajahmu merah lagi. Apa bedakmu ketebalan?" tanya Mama yang baru datang membawa teko kopi tambahan.

​"N-nggak, Ma. Mungkin karena udara pagi ini agak gerah," jawabku sambil buru-buru berdiri. "Pa, Ma, Mbak... Arum berangkat duluan ya. Takut nggak dapet tempat duduk di perpus."

​"Lho, ini rotinya belum dimakan!" seru Papa.

​"Bawa aja, Rum!" Mbak Siska menyodorkan kotak makan.

​Aku menyalami Papa dan Mama dengan cepat. Saat tiba giliran Gavin, aku ragu. Namun, dia sudah mengulurkan tangannya lebih dulu. Saat tanganku menyentuh tangannya, dia tidak melepaskannya. Dia menggenggam jemariku dengan sangat erat, lalu menarikku sedikit mendekat hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang mematikan.

​"Hati-hati di jalan, Adik Ipar," bisiknya, suaranya sangat rendah hingga hanya aku yang bisa mendengarnya. "Dan jangan coba-coba menghapus 'hadiah' dariku di lehermu itu. Biarkan dia tetap di sana sebagai pengingat."

​Aku segera menarik tanganku dan lari keluar rumah tanpa menoleh lagi.

​Di perpustakaan kampus yang sepi, aku tidak bisa fokus pada buku di depanku. Pikiranku terus melayang pada ancaman Gavin. Aku meraba kerah kemejaku, merasakan denyut di balik hickey itu. Rasanya seperti ada stempel "Milik Gavin" yang tertanam di kulitku.

​Ting!

​Ponselku bergetar di atas meja kayu. Sebuah pesan dari nomor yang semalam.

​Gavin Pratama:

"Aku baru saja sampai di apartemen bersama Siska. Dia sedang mandi, dan aku sedang membayangkan kamu yang ada di balik pancuran air itu, Arum. Pakai kemeja itu sepanjang hari, jangan biarkan pria lain melihat apa yang sudah aku buat di lehermu. Kalau aku tahu bedakmu luntur dan tanda itu terlihat oleh si Raka... aku akan membuat tanda yang lebih besar di tempat yang tidak bisa kamu tutupi dengan kemeja."

​Aku menjatuhkan ponselku ke atas buku. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku merasa seperti tawanan. Dia tahu segalanya, dia mengawasi segalanya, bahkan saat dia sedang bersama istrinya sendiri.

​"Rum? Lu kenapa nangis?"

​Aku tersentak dan melihat Raka berdiri di samping mejaku dengan tumpukan buku di tangannya. Dia menatapku cemas. "Ada masalah? Atau tugasnya terlalu susah?"

​"Nggak, Rak. Nggak apa-apa," aku buru-buru menghapus air mataku dan membenarkan kerah kemejaku yang sedikit melonggar.

​Raka duduk di depanku, suaranya berubah lembut. "Lu aneh deh hari ini. Kenapa pake kemeja formal gitu ke perpus? Gerah lho, Rum. Eh, itu di leher lu kenapa? Merah-merah gitu di pinggir kerahnya?"

​Jantungku berhenti berdetak. Raka melihatnya? Bedakku pasti luntur karena keringat dingin.

​"Ah, ini... ini digigit serangga semalam. Gatal banget makanya jadi merah," bohongku dengan suara yang hampir menghilang.

​"Serangga ya? Kok merahnya kayak..." Raka tidak melanjutkan kalimatnya, namun tatapannya menjadi sangat intens. Dia bukan orang bodoh, dia pasti tahu itu bukan sekadar gigitan serangga. "Lu beneran nggak apa-apa kan, Rum? Kalau ada yang gangguin lu, cerita sama gue."

​Tepat saat Raka hendak menyentuh kerah kemejaku untuk memastikan, ponselku kembali bergetar. Kali ini sebuah panggilan masuk. Nama yang muncul di layar membuatku ingin pingsan seketika.

​Gavin Pratama is calling...

​Aku menatap layar itu, lalu menatap Raka yang bingung. Aku tahu, jika aku mengangkat telepon ini di depan Raka, Gavin akan tahu. Dan jika aku tidak mengangkatnya, Gavin akan marah.

​Predator itu sedang bermain-main denganku, dan dia tidak akan berhenti sampai aku benar-benar hancur dalam pelukannya.

1
gendiz
aseek, makasih ya, Akhirnya Arumi ada yang mau kawal juga 😊
Moms Shinbi
q kawal sampai semua happy end thor
Moms Shinbi
cerita akhirnya siska end so pasti.psangn selingkuh happy dong..


jngan y thor
gendiz: hmmm belum tentu🤭, lihat bab selanjutnya, sudah up tapi belum lolos review nih kayaknya, jadi belum bisa terbit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!