Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Mending Reinkarnasi Jadi Orang Kaya, Lah Ini Jadi Mesin Cetak Batako!
Bau dupa melati yang menyengat langsung menusuk hidung Alesia. Kepalanya pusing bukan main, seperti habis dihantam kompor gas melon tiga kilo. Samar-samar, telinganya menangkap suara isak tangis yang mendayu-dayu dan sangat berisik.
"Ya Tuhan, Yang Mulia Permaisuri... Sadarlah! Jangan tinggalkan kami!"
Alesia mengernyitkan dahi. Siapa sih yang berisik banget? Orang lagi pusing juga!
Ingatan terakhirnya berputar cepat. Sore itu di pinggiran Jakarta, ia sedang asyik makan bakso urat. Tiba-tiba tawuran antar-STM pecah di depan matanya. Sebagai anak kandung Abah—jawara silat Betawi tulen—darah Alesia mendidih melihat anak-anak ingusan saling tebas pakai celurit. Ia pun maju melerai pakai jurus silat warisan bokapnya.
Sialnya, saat ia berhasil melumpuhkan tiga bocah, sebuah gerobak gorengan yang lepas kendali meluncur bebas dari turunan jalan dan langsung menghantam tubuhnya sampai terpental.
Alesia mencoba membuka mata. Begitu pandangannya jelas, ia tidak melihat plafon tripleks kamarnya yang penuh stiker klub bola. Alih-alih, ia menatap langit-langit ranjang raksasa yang dihiasi tirai sutra emas dan ukiran kayu yang luar biasa mewah.
"Buset dah... Gue di mana nih? Rumah sakit mana yang kamarnya begini mentereng? Ganti rugi BPJS gue tembus berapa puluh juta emangnya?" gumam Alesia dengan suara serak.
"Yang Mulia! Anda sudah sadar?! Syukurlah kepada Dewa!"
Seorang gadis remaja dengan pakaian ala pelayan Eropa abad pertengahan tiba-tiba menubruk pinggiran kasurnya. Matanya sembap dan merah.
Alesia melongo. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Putih, mulus, dan jarinya lentik-lentik tanpa ada bekas kapalan akibat latihan memukul samsak.
"Heh, Neng! Lu siapa? Ini daerah mana? Jatinegara bukan?" tanya Alesia blak-blakan dengan logat Betawinya yang kental.
Gadis pelayan itu terbengong-bengong. Air matanya berhenti mengalir seketika. "Yang Mulia... Apa yang Anda bicarakan? Ini hamba, Lily. Pelayan setia Anda di Istana Mawar Kerajaan Orizon!"
"Kerajaan Orizon?! Lu jangan ngadi-ngadi ya. Lu lagi syuting drakor kolosal apa gimana nih?"
"Syu... syuting? Drakor? Apa itu, Yang Mulia? Anda baru saja keguguran untuk kelima kalinya, hamba mohon jangan banyak bergerak dulu!" Lily histeris memegangi selimut Alesia.
Alesia menyentuh perutnya yang terasa nyeri dan kosong. Ingatan dari pemilik tubuh asli mendadak mengalir deras ke otaknya bagai air bah. Alessia yang asli adalah wanita bangsawan lemah lembut yang dinikahi sang raja hanya demi melahirkan penerus. Dan yang lebih parah, keguguran berulang ini bukan karena rahimnya lemah, tapi karena racun yang sengaja ditaruh di makanannya oleh para selir licik!
"Buset dah, nasib amat badan begini cakep tapi hidupnya merana bener..." gumam Alesia prihatin.
Belum sempat Alesia mencerna keadaan lebih jauh, pintu kamar raksasa itu didobrak kasar dari luar. BRAAAK!
Seorang pria jangkung dengan jubah hitam berbulu melangkah masuk. Wajahnya luar biasa tampan, rahangnya tegas, dan matanya setajam elang. Tapi sayang, mukanya ditekuk sedemikian rupa seperti orang yang belum bayar utang sepuluh tahun. Dingin dan kaku.
Pria itu adalah Raja Magnus. Sang suami yang paling ditakuti seantero kerajaan.
"Kau sudah bangun, Alessia?" tanya pria itu dengan suara berat yang sangat dingin, tanpa ada nada khawatir sedikit pun.
Alesia refleks bangkit dan duduk tegak di kasur. Ia menatap pria itu dari atas sampai bawah. Wah, ini lakinya nih. Tampang sih spek dewa, tapi kok mukanya kayak kanebo kering begini ya?
"Iya, udah bangun. Kagak liat mata gue melotot begini?" jawab Alesia ketus tanpa saringan.
Magnus sempat tertegun sesaat mendengar nada bicara istrinya yang mendadak tidak tahu aturan. Namun, ia dengan cepat mengembalikan ekspresi datarnya. Ia berjalan mendekat dan berdiri di samping ranjang dengan angkuh.
"Baguslah kalau kau tidak mati. Tapi kau gagal lagi, Alessia. Ini sudah kelima kalinya kau keguguran dan gagal melahirkan ahli waris untukku. Apakah rahimmu itu memang selemah itu?" ujar Magnus tajam, tanpa perasaan.
Darah anak jawara silat di dalam diri Alesia langsung mendidih sampai ke ubun-ubun mendengar ucapan suaminya yang luar biasa tidak punya empati tersebut.
Alesia langsung menyibak selimutnya dan berdiri di atas ranjang. Ia berkacak pinggang menatap lurus ke arah mata Raja Magnus yang tingginya menjulang.
"Eh, denger ya, lu cowok kaku!" semprot Alesia dengan suara menggelegar. "Gue baru aja siuman dari maut, bukannya ditanya 'lu gapapa?' malah langsung nagih anak! Lu pikir gue mesin cetak batako yang bisa keluarin anak tiap jam?!"
Lily, sang pelayan, langsung menutup mulutnya dengan syok sampai hampir pingsan di lantai. "Ya ampun, Yang Mulia... Jaga bicara Anda di depan Yang Mulia Raja!"
Raja Magnus melebarkan matanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh wibawa, ada seorang wanita—bahkan istrinya yang biasanya selalu menangis ketakutan—yang berani membentaknya tepat di depan muka.
"Kau... berani bicara seperti itu padaku, Permaisuri?!" desis Magnus dengan aura membunuh yang dingin. "Sepertinya kepalamu terbentur sangat keras saat pingsan tadi!"
"Kagak ada yang kebentur ya! Otak gue masih lempeng!" balas Alesia kencang. Ia justru maju selangkah di atas kasur yang empuk itu, membuat wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti saja.
"Apa kau tidak tahu batasanmu? Tugasmu di istana ini hanyalah melahirkan seorang pangeran untuk mengamankan takhta Orizon! Hanya itu!" bentak Magnus yang mulai tersulut emosi.
"Dih, maksa! Kalau lu mau anak buru-buru, noh sono suruh gundik-gundik lu yang hamil! Kenapa kudu nuntut gue mulu?!"
"Karena kau adalah Ratu yang sah! Anak dari selir tidak akan pernah bisa menduduki takhta utama! Kau harus tahu kewajibanmu!"
Alesia tertawa mengejek, "Kewajiban ndasmu! Lu dengerin gue baik-baik ya, Tong! Rahim gue keguguran mulu itu karena diracun, bukan karena lemah! Lu jadi laki mending buka mata lebar-lebar, selidiki dulu tuh bini-bini simpanan lu yang bermuka dua! Jangan cuma bisanya nyalahin bini doang! Paham lu?!"
Ruangan megah itu mendadak hening seketika. Magnus terpaku menatap mata Alesia yang menyala-nyala penuh amarah dan keberanian. Belum pernah ada manusia yang mengatainya "Tong" seumur hidupnya, apalagi menuduh adanya konspirasi racun di istananya yang dijaga ketat.
"Apa katamu? Diracun? Jangan mencari alasan yang konyol untuk menutupi ketidakmampuanmu, Alessia!" sahut Magnus dengan nada yang merendah, tapi penuh ancaman.
"Konyol kata lu? Sini lu deketan!" Alesia menarik kerah jubah berbulu milik Magnus dengan kasar sampai tubuh kekar sang raja sedikit membungkuk.
Lily di pojokan sudah menangis tanpa suara melihat ratunya menjambak pakaian sang penguasa tertinggi.
"Lu cium nih bau dupa di kamar ini!" Alesia menunjuk wadah dupa di sudut ranjang. "Ini namanya dupa melati dicampur ekstrak akar darah. Kalau dihirup bumil tiap hari, janin di perut auto wassalam! Lu kate gue bego apa kaga tahu herba ginian?!"
Magnus terdiam. Ia menatap wadah dupa itu dengan kening berkerut. Sebagai ksatria yang sering berperang, ia memang tahu beberapa jenis racun, tapi ia tidak pernah mendalami urusan herba khusus wanita di dalam harem.
"Jika apa yang kau katakan adalah sebuah kebohongan untuk menarik perhatianku, aku tidak akan segan-segan menjebloskanmu ke penjara bawah tanah, Alessia," ucap Magnus dingin, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Alesia dari kerah jubahnya.
"Lepaskan tanganmu dari bajuku, Alessia!" seru Magnus lagi.
"Gue kaga bakal bohong soal nyawa anak gue sendiri ya, Bambang! Eh, sori, nama lu siapa tadi? Mangnus? Magnus? Bodo amat lah ya. Pokoknya kalau lu emang pinter jadi raja, lu buktiin omongan gue! Panggil tabib paling jujur di luar istana, suruh periksa nih dupa!" tantang Alesia seraya melepaskan cengkeraman tangannya dengan dorongan kuat.
Magnus terhuyung selangkah ke belakang. Ia benar-benar syok. Istrinya yang biasanya bicaranya selembut sutra dan selalu menunduk ketakutan, kini mendadak menjadi sangat beringas, bermulut kotor, dan bahkan memiliki tenaga yang cukup kuat untuk mendorongnya.
"Siapa yang mengajarimu berbicara kasar dan bertingkah tidak tahu sopan santun seperti ini, Alessia?!" tanya Magnus dengan tatapan menyelidik yang tajam.
Alesia berkacak pinggang lagi, melompat turun dari kasur dengan lincah seperti kucing, dan berdiri tegak menghadap Magnus. "Kagak ada yang ngajarin! Ini gaya asli gue! Lu kaga suka? Ya udah, ceraiin gue aja ribet amat! Keluarin gue dari istana lu yang penuh ular kobra ini!"
Mendengar kata 'cerai', rahang Magnus langsung mengeras. Entah mengapa, ada letupan emosi aneh yang tidak ia mengerti di dalam dadanya mendengar wanita ini begitu mudah meminta berpisah.
"Minta cerai? Tidak akan pernah!" desis Magnus sambil mencengkeram kedua bahu Alesia dengan kuat. "Kau adalah milikku, Alessia. Kau masuk ke istana ini sebagai ratuku, dan kau hanya akan keluar dari sini sebagai mayat!"
Alesia tidak gentar. Ia justru tersenyum miring, lalu dengan gerakan kilat yang tidak terduga, ia melakukan teknik kuncian silat. Ia memutar pergelangan tangan Magnus dan menekuknya ke belakang punggung sang raja dalam sekejap mata.
"Aww!" Magnus meringis tertahan saat merasakan nyeri di persendian lengannya. Ia terpaksa membungkuk karena kuncian Alesia yang sangat presisi.
"Eh, denger ya Bos kaku!" bisik Alesia tepat di telinga Magnus yang sedang terkunci. "Jangan main fisik sama gue kalau lu kaga mau tulang lu geser! Mulai hari ini, gue bukan Alessia yang lemah lembut lagi. Kalau lu mau anak dari gue, lu kudu pastiin dulu keamanan gue dari racun-racun gundik lu! Dan yang paling penting... lu kudu buat gue jatuh cinta dulu sama lu! Lu pikir bikin anak kagak butuh perasaan?!"
Alesia melepaskan kunciannya dengan sekali sentakan kuat, membuat sang raja sempat terhuyung ke depan sebelum akhirnya berhasil menyeimbangkan tubuhnya kembali.
Magnus membalikkan badannya dengan napas yang memburu. Matanya menatap Alesia dengan campuran rasa marah, tidak percaya, dan... sedikit ketertarikan yang tidak bisa ia pungkiri. Istrinya yang sekarang benar-benar terasa sangat hidup dan menantang.
"Baik," ucap Magnus akhirnya dengan suara yang berusaha ia buat setenang mungkin, meski jantungnya berdegup kencang karena syok sekaligus berdebar aneh. "Aku akan memanggil tabib pribadiku dan menyelidiki dupa ini. Tapi ingat, Alessia... Jika kau terbukti hanya mengada-ada demi menghindar dari tugasmu melahirkan ahli waris, aku sendiri yang akan menghukummu di atas ranjang ini sampai kau memohon ampun!"
Setelah mengucapkan kalimat bernada ancaman (yang diam-diam diselimuti rasa gengsi yang tinggi itu), Raja Magnus berbalik dan melangkah lebar meninggalkan kamar dengan jubah hitamnya yang berkibar emosional.
Alesia hanya mencibir melihat kepergian suaminya. "Dih, ngancemnya ngeri amat si Bambang kaku! Lu pikir gue takut?! Sini lu kalau berani tanding silat lawan anak Abah!"
"Yang... Yang Mulia..." Lily yang sejak tadi terduduk di lantai akhirnya berani bersuara dengan tubuh yang masih gemetaran hebat. "Tadi itu... tadi itu Anda apakan tangan Yang Mulia Raja? Kenapa beliau sampai tidak berkutik?!"
Alesia menoleh ke arah pelayannya yang masih ketakutan itu, lalu menyeringai lebar. "Itu namanya jurus 'Tekuk Lele' warisan Abah gue, Neng! Mulai hari ini, lu tenang aja. Kagak bakal ada lagi yang berani nindas kita di istana ini. Ayo bantuin gue, gue laper pengen makan bakso! Eh, di sini ada tukang bakso urat keliling kaga?!"
Lily hanya bisa melongo lebar, bertanya-tanya apakah jiwa ratunya yang malang beneran sudah tertukar dengan mahluk gaib dari dimensi lain.
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii