Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : PERINGATAN DARI SANG IBU
Satu Minggu Kemudian
Elara memulai harinya dengan rutinitas yang ketat. Membersihkan diri, lalu langsung berolahraga. Berkat bantuan pil dari sistem, ia merasa jauh lebih bertenaga. Elara sangat yakin, dalam waktu tiga bulan, ia bisa memangkas berat badannya hingga mencapai angka 40 atau 45 kilogram.
Awalnya, Leonard menganggap tekad Elara hanyalah lelucon mungkin sekadar taktik baru agar suaminya itu menaruh perhatian padanya. Namun, perlahan pertahanan Leonard mulai goyah. Perubahan sikap Elara selama seminggu terakhir benar-benar memicu rasa penasarannya.
Biasanya, Elara akan mengganggunya setiap malam, merengek meminta tidur bersama padahal sejak awal pernikahan, mereka sudah sepakat untuk pisah kamar. Elara yang dulu sangat manja dan menyebalkan kini menghilang. Selama seminggu ini, tidak ada gangguan, tidak ada keluhan, bahkan tidak ada tuntutan apa pun dari wanita itu.
Di meja makan, Leonard duduk sambil menyesap kopi hitamnya. "Mira," panggilnya dingin pada sang kepala pelayan.
"Ya, Tuan?" Mira segera menghampiri dan membungkuk hormat.
"Apa Elara benar-benar masih rutin olahraga dan diet?" tanya Leonard dengan nada serius.
"Benar, Tuan. Selama seminggu ini, Nona Elara tidak pernah absen menjalankan rutinitas itu," jawab Mira jujur.
Leonard terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke arah cangkir kopi. "Menurutmu, apa dia benar-benar berubah?"
"Maaf, Tuan, saya tidak bisa memastikan hal itu. Namun, saya akan terus mengawasi Nona selama Anda di kantor."
Leonard mengangguk singkat. Ia bangkit dari kursi, lalu melangkah meninggalkan mansion menuju mobilnya yang sudah menunggu. Di tengah perjalanan, bayangan Elara tiba-tiba melintas di pikirannya.
"Wanita itu..." gumam Leonard pelan. Pikirannya melayang kembali ke masa lalu, saat pertama kali ia bertemu dengan Elara.
•Flasback Malam Pertemuan
Malam itu, seluruh keluarga Quizel berkumpul di ruang tengah. Di samping ibunya, tampak sosok asing. Leonard memandangi wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh kejijikan.
'Gemuk sekali,' batin Leonard saat itu. Ia bergumam sangat pelan, memastikan hanya dirinya yang bisa mendengar hinaan tersebut.
"Leo," suara sang ibu memecah keheningan. "Perkenalkan, gadis ini namanya Elara. Calon istrimu."
JEDARR!
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Leonard mematung. Ia menatap Elara sekali lagi dengan mata membelalak. "Istri?"
Leonard spontan berdiri, suaranya meninggi. "Ibu jangan bercanda! Wanita ini jadi istriku? Tidak, aku tidak mau! Mau ditaruh di mana wajahku nanti, Bu?"
"Lihat dia! Tubuhnya gemuk seperti bola! Apa kata para investor, teman-teman, terutama Rachel mantanku? Tidak, aku tidak akan pernah mau!" protes Leonard habis-habisan.
Malam itu, Elara sebenarnya juga merasa enggan. Namun, ibu Leonard berhasil meyakinkannya. Sang ibu membisikkan bahwa jika Elara bersikap lembut, manja, dan agresif, hati Leonard yang keras pasti akan luluh.
protes Leonard malam tetap tidak didengar. Keluarga Quizel tetap pada pendirian mereka. Akhirnya, mereka mengambil jalan tengah, pernikahan Leonard dan Elara dirahasiakan. Hanya kerabat sangat dekat yang hadir saat itu. Namun seiring berjalan nya waktu pernikahan rahasia itu perlahan di ketahui oleh publik.
•Flashoff
"Tuan, kita sudah sampai."
Suara Arkan, asisten pribadinya, seketika membuyarkan lamunan Leonard.
"Oh, iya..." jawab Leonard singkat. Ia turun dari mobil, diikuti oleh Arkan. Langkahnya tegap dan penuh wibawa. Bagi Leonard, hidupnya hampir sempurna. Kehadiran Elara adalah satu-satunya "cacat" dalam hidupnya jika dilihat dari dalam.
"Jadwal hari ini?" tanya Leonard tanpa menghentikan langkah menuju lift.
"Sepuluh menit lagi ada pertemuan dengan pemegang saham. Setelah itu, Anda ada janji dengan klien di kafe," lapor Arkan.
Leonard melirik Arkan sesaat.
"Klien meminta bertemu di kafe sekalian makan siang, Pak. Lalu pukul dua siang, ibu Anda meminta Anda pulang ke rumah utama dan mengosongkan jadwal hingga malam hari."
TING!
Pintu lift terbuka. Leonard melangkah masuk ke ruang kerjanya. "Untuk apa Ibu memanggilku? Apa aku harus membawa Elara?"
Arkan menggeleng. "Saya tidak tahu, Tuan. Nyonya tidak menyebutkan Anda harus membawa Nona Elara."
Leonard mengangguk, merasa sedikit lega. Tiba-tiba, seorang karyawan wanita mengetuk pintu dan membukanya perlahan. "Ruang rapat sudah siap, Tuan. Para pemegang saham sudah tiba."
"Baik," sahut Leonard tegas, bersiap kembali ke dunianya yang dingin dan profesional.
Rapat dengan para pemegang saham berlangsung alot, namun pikiran Leonard sesekali terpecah. Di tengah presentasi grafik keuntungan perusahaan, wajah Elara yang belakangan ini terlihat "pendiam" terus muncul di benaknya. Ia terbiasa melihat Elara yang haus perhatian, bukan Elara yang disiplin dengan pil diet dan keringat.
Setelah rapat usai dan pertemuan di kafe selesai, Leonard segera memacu mobilnya menuju rumah utama keluarga Quizel. Pikirannya dipenuhi spekulasi tentang alasan ibunya memintanya pulang secara mendadak.
Begitu sampai di kediaman mewah orang tuanya, Leonard disambut oleh aroma masakan yang memenuhi ruangan. Di ruang makan, sang ibu, Nyonya Sofia, sudah menunggu dengan senyum yang sulit diartikan.
"Kau datang tepat waktu, Leo. Duduklah," sapa Sofia lembut.
Leonard menarik kursi, namun matanya menyisir ruangan. "Ibu ingin bicara apa? Kenapa harus mengosongkan jadwal sampai malam?"
Sofia menyesap tehnya perlahan. "Ibu dengar dari Mira, Elara sedang sangat giat berolahraga? Dia bahkan jarang keluar kamar untuk mengganggumu?"
Leonard mendengus, berusaha terlihat tidak peduli. "Dia mungkin hanya sedang mencari perhatian dengan cara baru. Paling hanya bertahan seminggu lagi."
"Jangan terlalu sombong, Leo," tegur Sofia dengan nada peringatan. "Ibu memanggilmu karena Rachel sudah kembali ke kota ini. Ibu tidak ingin kau melakukan hal bodoh yang bisa merusak nama baik pernikahan rahasiamu dengan Elara."
Nama itu membuat gerakan tangan Leonard yang hendak mengambil minum terhenti. Rachel. Mantan kekasihnya yang dulu ia agung-agungkan, wanita yang ia jadikan alasan untuk menghina fisik Elara di malam pernikahan mereka.
"Kenapa Ibu memberitahuku soal dia?" tanya Leonard, suaranya berubah berat.
"Karena Ibu tahu dia sudah mencoba menghubungimu, bukan?" Sofia menatap tajam putra satu-satunya itu. "Ingat, statusmu adalah suami Elara. Meskipun kau menganggapnya 'cacat' dalam hidupmu, dia adalah menantu pilihan keluarga Quizel."
Leonard terdiam. Tiba-tiba, ponsel di saku jasnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun ia tahu siapa pengirimnya.
‘Leo, aku di depan kantormu tadi, tapi asistenmu bilang kau pulang. Bisa kita bicara? Aku rindu.’
Seketika, bayangan Elara yang sedang berjuang dengan dietnya dan pesan manis dari Rachel bertabrakan di kepala Leonard. Ada rasa sesak yang aneh. Dulu, ia pasti akan langsung berlari menemui Rachel. Tapi sekarang? Entah mengapa, ia justru teringat laporan Mira bahwa Elara belum makan malam demi menjaga program dietnya.
"Leo? Kau mendengarkan Ibu?"
"Ya, Bu," jawab Leonard singkat sembari memasukkan kembali ponselnya. "Aku tidak akan melakukan hal bodoh."
Namun, jauh di lubuk hatinya, Leonard mulai merasa bahwa perubahan Elara dan kembalinya Rachel akan membuat hidupnya yang 'sempurna' menjadi sangat kacau mulai malam ini.
Bersambung 🧟♀️🧟♀️🧟♀️
Cuma satu yang dipertanyakan. Apakah Elara memikirkan solusi? Atau hanya mengikuti misi dari sistem dan bertahan hidup?
Harusnya Elara memikirkan solusi untuk mengembalikan keadaan. Misalnya dengan mencari sebab dulu, baru menemukan solusi (walau masih belum pasti) dan menjadikan solusi itu tujuan cerita. Kita jadi tahu akan dibawa ke mana cerita ini pada akhirnya. Kedamaian hakiki walau ga bisa mengembalikan dunia secara utuh. atau mereka bisa mereset semuanya? Tapi kalau reset, Elara waktu rebirth pun ga ada niatan menghentikan terjadinya chaos. hanya sibuk menyiapkan 'payung'.
dan ke mana manusia-manusia pengkhianat itu? Kenapa Elara tidak pernah mencari mereka untuk balas dendam?