NovelToon NovelToon
HUSH, LITTLE BIRD

HUSH, LITTLE BIRD

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."

Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.

Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.

Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.

"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14. Jejak Yang Hilang

Beberapa hari setelah kecelakaan yang mengerikan itu, kediaman Baskara berubah menjadi semacam sanatorium mewah yang sunyi. Suasana rumah terasa begitu tenang, seolah-olah dunia luar telah berhenti berputar demi memberikan waktu bagi Alea untuk pulih.

Namun, bagi Alea, ketenangan ini adalah sesuatu yang baru sekaligus membingungkan. Ia merasa seperti sedang berada di dalam sebuah bola kaca yang indah, di mana segala kebutuhannya terpenuhi bahkan sebelum ia sempat mengucapkannya.

Lutut dan telapak tangannya masih terbalut kain kasa putih yang bersih. Setiap kali ia mencoba menggerakkan kakinya untuk turun dari tempat tidur, rasa nyeri yang tajam menyentak sarafnya, membuatnya kembali terduduk dengan ringisan kecil.

Trauma dari benturan keras malam itu masih membekas di kepalanya, membuatnya seringkali terjaga di tengah malam karena suara deru motor yang imajiner.

Di sinilah Bima mengambil peran penuh, peran yang bahkan mulai menggeser posisi ayahnya sendiri.

Bima seolah-olah telah mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk memastikan Alea nyaman. Pria itu tidak lagi membiarkan Alea menggunakan kruk atau menyentuh lantai dengan kakinya yang terluka.

Setiap kali Alea ingin berpindah tempat, sesederhana ingin duduk di balkon kamarnya untuk mencari udara segar, Bima akan selalu muncul tepat pada waktunya. Seolah-olah pria itu memiliki radar yang tertanam di tubuh Alea.

"Uncle, aku bisa berjalan pelan-pelan sendiri. Dokter bilang aku harus mulai melatih kakiku," protes Alea pagi itu saat Bima masuk ke kamarnya dan langsung merentangkan tangan untuk mengangkat tubuhnya.

"Jangan membantah, little bird. Dokter bilang kau harus meminimalisir gerakan agar jahitannya tidak terbuka," sahut Bima dengan suara yang begitu lembut, namun ada ketegasan di dalamnya yang tidak menerima penolakan sama sekali.

Tanpa menunggu persetujuan, Bima menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Alea, lalu mengangkatnya dengan sangat mudah. Alea secara insting melingkarkan lengannya ke leher kokoh Bima, mencari keseimbangan.

Di jarak sedekat ini, aroma cedarwood, tembakau mahal, dan parfum maskulin Bima kembali memenuhi indra penciumannya, memicu rasa pening yang aneh di kepala Alea.

Alea merasa begitu aman. Begitu terlindungi. Rasa takut dan kebencian yang dulu sempat ia agungkan kini telah bermutasi menjadi ketergantungan yang manis. Bima memperlakukannya seperti sebuah porselen paling mahal di dunia.

Pria itu menyuapinya bubur hangat dengan ketelatenan yang luar biasa, membacakannya bab-bab dari novel favoritnya saat ia sulit tidur, dan memastikan suhu pendingin ruangan selalu tepat untuk kenyamanannya.

Alea merasa benar-benar telah mendapatkan kembali "Uncle Bima"-nya yang hilang sepuluh tahun lalu. Sosok pelindung yang takkan pernah membiarkannya terluka lagi.

Di Sebuah Lokasi Tersembunyi, Tengah Malam.

Sementara Alea tertidur lelap dengan perasaan aman yang semu di kamarnya yang harum bunga lili, Bima berdiri di tengah sebuah gudang tua yang pengap di pinggiran kota. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip memberikan suasana mencekam di ruangan yang penuh dengan noda oli dan debu itu.

Di hadapannya, seorang pria dengan wajah yang sudah hancur babak belur terikat kuat di sebuah kursi besi. Pria itulah sang pengendara motor yang mencelakakan Alea dan Revan.

Bima menyesap wiskinya perlahan dari sebuah gelas kristal, matanya yang tadi siang tampak begitu penuh cinta saat menatap Alea, kini telah berubah total. Sepasang mata itu kini sehitam lubang tanpa dasar, dingin, dan memancarkan aura kematian yang nyata.

"Aku sudah memberimu instruksi yang sangat spesifik," suara Bima rendah, nyaris seperti bisikan, namun frekuensinya membuat pria yang terikat itu menggigil ketakutan.

"Hanya buat bocah itu celaka. Patahkan kakinya, buat dia cacat untuk beberapa bulan. Tapi kau... kau membuat little bird-ku ikut tersungkur. Kau membuatnya berdarah."

"Maaf... Pak Bima, saya bersumpah... saya tidak sengaja. Gadis itu tiba-tiba merangkul si pemuda dan mereka terjatuh bersama, saya kehilangan kendali..." pria itu merintih, darah menetes dari sudut bibirnya yang sobek.

Brak!

Bima menendang kursi besi itu dengan satu hentakan kuat hingga pria tersebut terjungkal ke lantai beton bersama kursinya. Bima tidak menunjukkan emosi apa pun. Ia berjongkok, menjambak rambut pria itu dengan kasar agar sang pengendara motor itu terpaksa menatap matanya yang mematikan.

"Tidak ada kata tidak sengaja dalam kamusku, apalagi untuk kesalahan yang melukai apa yang sudah aku tandai sebagai milikku," desis Bima tepat di depan wajah pria itu.

Bima berdiri, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal berisi uang tunai dan sebuah paspor palsu dari dalam saku jasnya yang mahal. Ia melempar amplop itu ke dada pria yang merintih di lantai.

"Ambil ini. Keluar dari negara ini dalam waktu tiga jam. Jika aku melihat wajahmu lagi, atau jika intelijenku melaporkan kau masih berada di radius seratus kilometer dari kota ini besok pagi... aku pastikan kau tidak akan pernah melihat matahari lagi. Selamanya."

Pria itu mengangguk-angguk ketakutan seolah nyawanya sedang berada di ujung tanduk. Setelah pria itu diseret keluar oleh dua anak buah Bima yang bertubuh kekar, Bima menoleh ke sudut gudang. Di sana, sebuah motor sport hitam yang sudah hancur dipotong-potong menjadi bagian-bagian kecil terlihat berserakan.

"Bakar semuanya. Hancurkan hingga menjadi debu. Pastikan kepolisian tidak akan pernah menemukan satu baut pun yang berkaitan dengan kecelakaan itu," perintah Bima dingin kepada sisa anak buahnya.

Keesokan paginya, Bima kembali ke kamar Alea dengan nampan sarapan yang diatur dengan sangat indah. Ada buah-buahan segar yang sudah dipotong kecil-kecil dan segelas jus jeruk peras. Wajahnya kembali cerah, senyumnya kembali manis dan hangat, seolah ia baru saja bangun dari tidur yang paling nyenyak di dunia.

"Daddy bilang polisi menyerah, Uncle. Mereka tidak menemukan jejak motor itu. CCTV di sekitar jalan itu katanya mati semua secara bersamaan. Benar-benar aneh," ujar Alea dengan nada sedih saat Bima duduk di tepi tempat tidurnya untuk menyuapinya.

Bima mengusap pipi Alea dengan sangat lembut, jemarinya membelai bekas luka kecil di sana yang kini sudah mulai mengering. Senyumnya tampak sangat tulus, seolah ia benar-benar ikut prihatin.

"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi, Sayang. Dunia luar memang penuh dengan orang jahat yang tidak bertanggung jawab. Itulah kenapa aku selalu bilang... kau tidak boleh jauh-jauh dariku. Hanya di dekatku kau benar-benar aman."

Alea mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya yang terasa sedikit berat di bahu kokoh Bima. "Terima kasih sudah menjagaku, Uncle. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau tidak ada kau yang bergerak cepat membawa Daddy dan mengurus semuanya."

Bima menyeringai tipis di balik helai rambut Alea yang harum. Ia telah berhasil menghapus jejak kejahatannya sebersih mungkin, sekaligus mengunci hati Alea dalam sebuah penjara ketergantungan yang manis. Alea kini percaya sepenuhnya bahwa dunia luar adalah tempat yang kejam dan hanya Bima-lah pelabuhan teramannya, tanpa ia sadari sedikit pun bahwa sang pemangsa sebenarnya adalah pria yang sedang memeluknya dengan begitu hangat ini.

Bima mencium puncak kepala Alea lama, menghirup aroma gadis itu seolah itu adalah udara yang ia butuhkan untuk tetap hidup. "Kau tidak akan pernah pergi lagi, little bird. Kali ini, pintunya sudah terkunci dari dalam," batinnya penuh kemenangan.

1
Niaja
anjr serius baskara bilang cinta ke cowo? /Sweat/
Senja_Puan: Kalau ga baca lanjutannya, aku yang buat juga geli kak🤣but, yang dicintai Baskara kan kepintarannya 🤭
total 1 replies
Niaja
sukaa sama ceritanya
Senja_Puan: jangan lupa di like kakak😍
total 1 replies
Anom
Tumpengan Bima
Anom
akhirnya pecah telor 🤭
Anom
kaya ABG anjir🤣
Anom
Good Alea
Yasa
Kak, aku jujur aja ya. kayanya kamu lebih cocok garap novel yang hot/dark gini deh😄 lebih ngena dari pada yang komedi🤣
Yasa
Bima, U bener2 ya. Ini masih hari pertama kah???
Yasa
Gila kak, baru episode pertama udah sat set.
Senja_Puan: thanks kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!