Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengumuman Darurat
Lin Tian dan Bai Feng kembali ke sekte menjelang siang. Udara terasa berbeda, lebih tegang dari biasanya. Saat melewati gerbang utama mereka melihat puluhan murid sudah berkumpul di lapangan tengah, berkerumun di bawah papan pengumuman kayu jati yang jarang digunakan.
"Ada apa?" Bai Feng menghampiri seorang murid bertubuh kurus yang sedang membaca pengumuman dengan wajah pucat.
Murid itu menunjuk ke papan tanpa berkata sepatah kata pun.
Lin Tian mendekat dan membaca tulisan merah di atas kertas putih. "Seluruh murid tingkat Pendirian Fondasi ke atas wajib bersiap. Misi pencarian dan pemusnahan makhluk kegelapan akan dimulai dalam tiga hari. Semua tim akan dipimpin langsung oleh Tetua."
Bai Feng menelan ludah. "Ini serius sekali."
Dari kejauhan lonceng sekte berbunyi tiga kali, suaranya berat dan bergema hingga ke setiap sudut. Murid-murid mulai bergerak menuju lapangan utama dimana panggung batu berdiri kokoh. Di atas panggung itu Tetua Chen sudah berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung. Wajah tua itu tampak lebih serius dari biasanya, kerutan di dahinya semakin dalam.
Lin Tian dan Bai Feng berjalan cepat, mengambil posisi di barisan belakang karena mereka hanya murid baru. Di depan mereka berdiri puluhan murid lain, beberapa di antaranya sudah mencapai tingkat Inti Emas.
Setelah semua murid berkumpul, Tetua Chen mengangkat tangannya.
"Diam," suaranya tidak keras, tapi entah bagaimana terdengar jelas di telinga setiap orang.
Kerumunan langsung hening.
Tetua Chen memandangi wajah-wajah murid satu per satu sebelum akhirnya berbicara. "Kalian pasti sudah mendengar tentang serangan makhluk kegelapan di wilayah Bukit Kapur. Sekarang dari informasi terbaru, makhluk-makhluk itu tidak hanya menyerang satu wilayah. Sebanyak dua belas lokasi berbeda di Lingzhao selatan dilaporkan diserang dalam tiga hari terakhir. Desa-desa hancur, ribuan warga sipil tewas."
Bisik-bisik mulai terdengar lagi. Tetua Chen mengangkat tangannya sekali lagi, dan suasana kembali hening.
"Kita bukan satu-satunya sekte yang turun tangan. Sekte Pedang Langit, Sekte Mutiara Langit, dan enam sekte lainnya sudah mengirim pasukan. Tapi jumlah korban terus bertambah," lanjut Tetua Chen. "Pemimpin Sekte memutuskan untuk mengerahkan semua murid yang mampu bertarung. Kalian akan dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil, dipimpin oleh Tetua atau murid Inti Emas."
Seorang murid di barisan depan mengangkat tangan. "Tetua, apakah sudah diketahui dari mana makhluk-makhluk ini berasal?"
Tetua Chen menghela napas. "Informasi terbatas. Yang jelas mereka bukan dari Lingzhao. Diduga kuat berasal dari Shenxiou, benua timur. Tapi bagaimana mereka bisa menyeberangi samudera badai... itu masih misteri."
Lin Tian mendengar kata "Shenxiou". Benua asalnya. Benua dimana makam Kakek Han berada. Hatinya berdetak sedikit lebih cepat.
Tetua Chen melanjutkan, "Satu hal yang perlu kalian ketahui. Makhluk-makhluk ini tidak seperti monster biasa. Mereka memiliki kecerdasan, beberapa di antaranya bahkan bisa berbicara. Jangan anggap remeh lawan kalian."
Mata Tetua Chen beralih ke arah Lin Tian sejenak, lalu melanjutkan.
"Selain itu," suara Tetua Chen menurun, "kami menerima laporan dari tim lain bahwa makhluk-makhluk ini menyebut seseorang... seorang 'tuan'. Siapa tuan itu, kita belum tahu. Tapi satu hal yang pasti... orang di balik serangan ini memiliki kekuatan yang luar biasa."
Kerumunan murid terdiam. Beberapa wajah murid baru seperti Bai Feng mulai memucat.
"Tiga hari ke depan kalian akan berlatih intensif. Tidak ada waktu untuk bersantai. Persiapan fisik dan mental harus matang," Tetua Chen menggerakkan tangannya, dan beberapa lembar kertas terbang dari telapaknya menuju ke arah murid-murid. "Ini adalah informasi dasar tentang makhluk kegelapan. Pelajari dengan seksama."
Lin Tian menangkap satu lembar kertas yang melayang ke arahnya. Ia membaca cepat. Di sana tertulis ciri-ciri makhluk kegelapan, kelemahan mereka terhadap serangan elemen api dan cahaya, serta peringatan untuk tidak menghirup uap hitam yang keluar dari tubuh mereka saat terluka.
"Tim akan diumumkan besok pagi. Kalian boleh pulang," ucap Tetua Chen lalu berbalik dan melangkah turun dari panggung.
Murid-murid mulai bubar. Bai Feng menarik lengan Lin Tian. "Ayo ke perpustakaan. Aku harus mencari tahu lebih banyak tentang makhluk ini."
Lin Tian mengangguk.
Saat mereka berjalan melewati lorong batu menuju perpustakaan, Bai Feng berbicara dengan suara pelan. "Mungkinkah tuannya makhluk kegelapan itu... seorang praktisi?"
"Bisa jadi," jawab Lin Tian singkat.
"Kau tidak takut?" Bai Feng menatap Lin Tian dengan mata ingin tahu.
Lin Tian tersenyum kecil. "Takut tidak akan mengubah apapun. Lebih baik fokus pada apa yang bisa kita lakukan."
Bai Feng menghela napas. "Kau benar. Tapi tetap saja... ini gila. Dua belas wilayah diserang dalam tiga hari. Siapa pun yang memerintahkan ini pasti sangat kuat dan sangat gila."
Mereka akhirnya tiba di depan perpustakaan, sebuah gedung batu tiga lantai dengan ribuan jilid buku tersimpan di rak-rak kayu. Lin Tian menghabiskan sisa siang itu untuk membaca, mempelajari setiap detail tentang makhluk kegelapan. Bai Feng melakukan hal yang sama di sudut ruangan yang berbeda, meski sesekali terdengar menguap keras.
Sore harinya saat matahari mulai merunduk ke barat, Lin Tian keluar dari perpustakaan dengan kepala penuh informasi. Ia berdiri di halaman belakang, mengamati langit Lingzhou yang mulai kemerahan. Dari kejauhan terdengar suara latihan pedang dari murid-murid lain yang mulai mempersiapkan diri.
Bai Feng keluar menyusul, menggosok-gosok matanya yang mulai merah. "Aku jadi lapar."
Lin Tian tertawa kecil. "Kau selalu lapar."
"Makan adalah prioritas. Tapi sebelum itu... kau tidak merasa aneh?"
"Aneh bagaimana?"
Bai Feng mendekat, suaranya berbisik. "Makhluk kegelapan dari Shenxiou. Runtuhnya Kekaisaran Daxia. Pria berjubah putih yang misterius. Bukankah... semuanya terasa terhubung?"
Lin Tian terdiam. Ia memikirkan kata-kata Bai Feng. Pria berjubah putih itu... yang disebut-sebut tentara bayaran sebagai perusak Kekaisaran Daxia... mungkinkah ada hubungannya dengan makhluk kegelapan ini?
"Terlalu banyak hal yang belum kita tahu," ucap Lin Tian akhirnya. "Untuk sekarang, fokus dulu pada misi. Cari tahu saat kita sudah di lapangan."
Bai Feng mengangguk. Mereka berjalan menuju kantin sekte, melewati barisan murid yang berlatih dengan pedang masing-masing. Lin Tian melirik sekilas, mengamati teknik mereka. Beberapa terlihat cukup terampil, yang lain masih kaku dan ragu-ragu.
Besok tim akan diumumkan. Lusa mereka akan berlatih. Dan tiga hari lagi... mereka akan berhadapan langsung dengan makhluk kegelapan yang konon berasal dari benua asalnya.
Lin Tian tidak takut. Tapi rasa penasaran mulai menggerogoti hatinya. Shenxiou. Pria berjubah putih. Runtuhnya Kekaisaran Daxia. Makhluk kegelapan yang menyebut seorang 'tuan'.
Semua benang merah ini... entah bagaimana terasa seperti sedang menuntunnya ke suatu tempat. Ke sebuah jawaban yang selama ini ia cari.
Tapi untuk saat ini ia hanya akan tersenyum dan menikmati setiap langkahnya. Seperti pesan Kakek Han.