Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuknya Sang Penyanyi (Kael
Hujan deras mengguyur istana Mobelle sejak fajar, menciptakan tirai abu-abu yang memisahkan dunia luar dari kemewahan tertutup di dalam tembok batu. Bagi Floren, hujan itu adalah berkah. Ia memberinya alasan untuk tetap berada di dalam, menghindari audiensi publik, dan menyendiri dengan tumpukan dokumen reformasi yang harus ia baca.
Namun, ketenangan itu pecah ketika kepala pelayan wanita, Nyonya Elara, mengetuk pintu kamarnya dengan gugup.
"Yang Mulia," suara Elara bergetar di balik kayu. "Para utusan dari Kerajaan Zenthoria telah tiba. Mereka membawa... 'hadiah perdamaian'."
Floren meletakkan pena buluhnya. Matanya menyipit. Hadiah perdamaian. Dalam bahasa diplomasi kuno, itu biasanya berarti emas, permata, atau tanah. Tapi dalam konteks hubungan antar-kerajaan di benua ini, di mana pria dianggap sebagai komoditas sekunder, "hadiah" sering kali merujuk pada sesuatu yang lebih hidup.
"Mereka menunggu di Aula Timur," lanjut Elara. "Mereka bersikeras bahwa Yang Mulia harus melihatnya secara langsung sebelum menandatangani perjanjian dagang sementara."
Floren menghela napas panjang. Ia tahu apa yang akan terjadi. Zenthoria, kerajaan tetangga yang agresif dan kaya, sering menggunakan "diplomasi harem" untuk menyusupkan mata-mata atau menciptakan ketergantungan emosional pada penguasa lawan. Dan karena Floren baru saja merebut takhta melalui darah, Zenthoria ingin memastikan siapa yang sebenarnya memegang kendali: Ratu baru yang dingin, atau hasrat manusiawinya.
"Aku akan datang," kata Floren. "Tapi siapkan pengawal. Dan ingatkan mereka tentang Dekrit Dua Meter. Jika salah satu dari 'hadiah' itu melangkah terlalu dekat, pengawal diperintahkan untuk menembak."
"Siap, Yang Mulia."
Aula Timur adalah ruangan luas dengan langit-langit kubah yang dilukisi dengan adegan pesta para dewa. Lantainya terbuat dari marmer putih yang mengkilap, memantulkan cahaya dari ratusan lilin. Di tengah ruangan, berdiri dua puluh pria.
Mereka bukan sembarang pria. Mereka dipilih dengan cermat. Tinggi, berotot, atau ramping dan anggun. Wajah-wajah mereka tampan dengan standar universal, dihias dengan pakaian sutra tipis yang sengaja dirancang untuk menggoda. Ada penyair dari selatan dengan jari-jari lentik, penari dari timur dengan pinggang fleksibel, dan prajurit tangkapan dari utara dengan otot-otot yang menonjol.
Di ujung barisan, berdiri seorang pria yang berbeda.
Dia tidak mengenakan sutra mencolok seperti yang lain. Dia mengenakan tunik hitam sederhana dengan kerah tinggi, celana panjang ketat, dan sepatu bot kulit. Rambutnya hitam pekat, dipotong rapi namun sedikit berantakan, memberikan kesan liar yang terkendali. Matanya gelap, tajam, dan sedang mengamati sekeliling dengan ketenangan predator.
Itu Kael.
Sebagai mata-mata Zenthoria, tugas pertamanya adalah menilai target. Dan targetnya, Ratu Floren, baru saja memasuki aula.
Floren berjalan masuk dengan langkah tegas. Jubah ungunya menyeret di lantai, menciptakan suara desis halus. Di belakangnya, empat penjaga wanita dengan tombak siap siaga. Di sampingnya, meski menjaga jarak tiga meter, berdiri Jenderal Kaelia dengan tangan di gagang pedangnya, wajah datar.
Suasana di aula berubah seketika. Para pria di barisan itu menundukkan kepala, beberapa gemetar karena ketakutan akan reputasi "Tiran Berdarah". Beberapa lainnya mengangkat wajah dengan senyuman menggoda, mencoba menangkap perhatian Ratu.
Semua kecuali satu.
Kael tidak menunduk. Dia menatap Floren lurus-lurus. Tatapannya tidak mengandung hawa nafsu, ketakutan. Itu adalah tatapan analitis. Dia sedang mengukur ketinggian Floren, lebar bahunya, cara dia memegang tongkat kerajaan. Dia sedang mencari celah.
Floren merasakan tatapan itu. Instingnya waspada. Ada sesuatu tentang pria berbaju hitam itu yang terasa... berbahaya. Bukan karena ancamannya fisik, tapi karena intensitasnya.
Floren berhenti di tengah ruangan, tepat di depan barisan pria-pria itu. Ia menjaga jarak aman, lebih dari dua meter dari orang terdekat.
"Utusan Zenthoria," suara Floren bergema, dingin dan jernih. "Jelaskan maksud 'hadiah' ini."
Seorang diplomat wanita dari Zenthoria, berpakaian mewah dengan bulu-bulu eksotis, melangkah maju dan membungkuk hormat.
"Yang Mulia Ratu Floren," kata diplomat itu dengan suara manis yang dibuat-buat. "Raja Kami—maaf, Ratu Zenthoria—mengirimkan tanda persahabatan. Dua puluh pria terbaik dari seluruh penjuru Zenthoria. Mereka ahli dalam musik, seni, pijat, dan... hiburan malam. Mereka adalah simbol ketundukan Zenthoria terhadap kekuatan baru Mobelle. Semoga mereka dapat menghibur Yang Mulia di malam-malam yang sunyi setelah beban pemerintahan."
Kalimat itu disampaikan dengan nada yang sopan, tapi implikasinya jelas: Kami pikir Anda kesepian. Kami pikir Anda butuh pelarian. Terimalah mainan-mainan ini, dan kami akan menganggap Anda lemah dan mudah dikendalikan.
Kaelia mendengus pelan di sebelah Floren. "Berani sekali mereka," gumam Kaelia cukup keras untuk didengar Floren. "Mengira Anda bisa dibeli dengan daging cantik."
Floren tidak bereaksi emosional. Ia memindai barisan pria itu satu per satu. Wajah-wajah kosong. Wajah-wajah takut. Wajah-wajah ambisius.
Lalu, pandangannya tertuju kembali pada Kael.
Pria itu masih menatapnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, hampir tak terlihat. Sebuah ejekan? Atau tantangan?
Floren berjalan perlahan menyusuri barisan, menjaga jarak dua meter. Ia berhenti di depan Kael.
"Siapa kamu?" tanya Floren.
Kael membungkuk singkat, gerakan yang elegan. "Nama hamba Kael, Yang Mulia. Hamba adalah... penyanyi."
"Penyanyi?" Floren mengangkat alis. "Kau tidak terlihat seperti penyanyi. Kau terlihat seperti seseorang yang biasa memegang pisau, bukan mikrofon."
Kael tersenyum tipis. Senyuman itu licin, seperti minyak di atas air. "Musik dan perang memiliki ritme yang sama, Yang Mulia. Keduanya membutuhkan ketepatan waktu, ketajaman pendengaran, dan... keberanian untuk mengambil risiko."
Jawaban itu cerdas. Terlalu cerdas untuk sekadar harem boy biasa. Floren merasa bulu kuduknya merinding. Pria ini berbahaya. Dia bukan hadiah. Dia adalah senjata yang dibungkus kain sutra.
Dalam hati, Amel berteriak: Jangan dekati dia! Dia mata-mata! Aku tahu dia mata-mata!
Tapi Floren, sang Ratu, harus bertindak sesuai peran. Jika ia menolak Kael secara spesifik, itu akan menunjukkan bahwa ia curiga. Jika ia menerimanya, ia mengundang ular ke dalam kamarnya.
Ada pilihan ketiga. Mengabaikannya sepenuhnya. Merendahkan nilainya hingga tidak layak menjadi ancaman.
Floren menatap Kael dengan ekspresi bosan, seolah-olah dia hanyalah patung yang kurang estetis.
"Ritme?" kata Floren dingin. "Saya tidak tertarik pada risiko. Saya tertarik pada ketertiban. Dan kau, Kael, terlihat kacau."
Floren berbalik dari Kael, membelakanginya. Tindakan penghinaan terbesar bagi seorang pria yang dikirim sebagai hadiah: diabaikan.
"Dengarkan baik-baik," Floren berbicara kepada seluruh barisan, suaranya lantang. "Saya tidak membutuhkan hiburan. Saya tidak membutuhkan pijatan. Dan saya pasti tidak membutuhkan 'teman tidur'."
Para pria terdiam. Diplomat Zenthoria tampak bingung. "Tapi Yang Mulia..."
"Diam!" potong Floren tajam. "Dekrit Dua Meter berlaku untuk kalian semua. Kalian akan ditempatkan di Sayap Timur. Kalian akan diberi makanan, pakaian, dan tunjangan bulanan. Sebagai gantinya, kalian akan belajar. Membaca. Menulis. Berhitung. Dan jika kalian punya bakat musik, kalian akan berlatih untuk orkestra istana, bukan untuk menghibur ranjangku."
Kael, yang masih berdiri di tempatnya, menyipitkan mata. Belajar? Orkestra? Ini bukan reaksi yang diharapkan. Biasanya, Ratu-Ratu akan memilih favorit mereka dalam seminggu pertama. Floren justru mengubah harem menjadi... sekolah asrama?
"Jika ada di antara kalian yang mencoba melanggar jarak dua meter," lanjut Floren, matanya menyapu barisan itu seperti elang, "hukumannya adalah pengusiran segera kembali ke Zenthoria tanpa uang sepeser pun. Dan jika kalian mencoba menyentuh saya... hukumannya mati."
Hening mencekam.
Kemudian, Floren menoleh sekilas ke arah Kael.
"Termasuk kamu, Penyanyi. Jangan harap aku akan mendengarkan lagumu. Kecuali jika lagu itu tentang laporan pajak yang akurat."
Floren berbalik dan berjalan keluar dari aula, jubahnya berkibar dramatis. Kaelia mengikuti di belakangnya, menahan tawa yang hampir lolos.
Saat pintu aula tertutup, meninggalkan para "hadiah" itu dalam kebingungan, Kael tetap diam di tempatnya. Dia menatap pintu yang tertutup itu, senyum tipisnya menghilang, digantikan oleh ekspresi serius.
"Dia tidak tergoda," bisik Kael pada dirinya sendiri. "Dia tidak takut. Dia... memerintah."
Kael mengepalkan tangannya. Tugasnya adalah mendapatkan kepercayaan Floren, menemukan kelemahannya, dan melaporkan setiap gerakannya ke Zenthoria. Tapi bagaimana cara mendekati wanita yang membangun tembok es setinggi dua meter di sekelilingnya?
Dia harus mengubah strategi. Rayuan seksual tidak akan bekerja. Kekuatan tidak akan bekerja.
Dia harus menjadi sesuatu yang tidak bisa ditolak Floren: Utilitas.
Kael menatap langit-langit kubah yang dilukisi dengan dewa-dewa.
"Baiklah, Yang Mulia," gumamnya. "Jika Anda ingin permainan catur, saya akan menjadi bidak yang paling sulit Anda prediksi."
Di koridor luar, Floren berjalan cepat, napasnya sedikit tersengal-sengal. Jantungnya berdebar kencang bukan karena kegembiraan, tapi karena adrenalin akibat pertemuan dengan Kael.
"Dia aneh," kata Floren tiba-tiba kepada Kaelia.
Kaelia menoleh. "Siapa? Penyanyi itu?"
"Ya. Matanya... tidak seperti pria lain di sana. Dia tidak melihatku sebagai wanita. Dia melihatku sebagai target."
Kaelia tertawa pendek. "Mungkin dia hanya ambisius. Banyak pria yang masuk harem berharap bisa menjadi 'Raja Konsort' dan mendapatkan kekuasaan lewat ranjang. Dia mungkin berpikir dia bisa menaklukkanmu."
"Tidak," shake head Floren. "Itu bukan ambisi. Itu kalkulasi."
Floren menghentikan langkahnya, menatap jendela yang basah oleh hujan.
"Awasi dia, Kaelia. Jangan biarkan dia keluar dari sayap timur tanpa pengawasan. Dan pastikan dia tidak bertemu dengan siapa pun dari faksi Vane."
"Anda curiga dia mata-mata?" tanya Kaelia, suaranya rendah.
"Saya curiga pada semua orang," jawab Floren jujur. "Tapi terutama pada pria yang terlalu tenang di tengah badai."
Kaelia mengangguk. "Akan saya lakukan. Tapi Yang Mulia... Anda tahu kan, semakin Anda menekan, semakin kuat pegas itu memantul. Pria seperti itu... jika dia benar-benar berbahaya, dia tidak akan mundur karena diabaikan. Dia akan mencari cara lain untuk masuk."
Floren tersenyum dingin.
"Biarkan dia mencoba. Saya sudah menyiapkan jebakan. Sekolah itu bukan hanya untuk Julian. Itu juga filter. Jika Kael benar-benar pintar, dia akan menyadari bahwa satu-satunya cara untuk mendekatiku adalah melalui otak, bukan tubuh. Dan jika dia gagal..."
Floren tidak menyelesaikan kalimatnya. Tapi matanya berkata segalanya: Maka dia akan hancur.
Hujan terus turun di luar, mencuci dosa-dosa lama, namun membawa badai baru yang belum pernah dilihat Mobelle sebelumnya. Badai bernama Kael.