kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan Amarah dan Siasat Petir
Aula makan Istana Atlas tidak pernah terasa senyap ini, meskipun meja panjang di tengah ruangan dipenuhi oleh hidangan mewah yang mengeluarkan aroma menggoda. Daging panggang pilihan, buah-buahan yang disiram madu, dan anggur merah terbaik tersaji di atas piring perak yang berkilau. Namun, suasana di dalam ruangan itu jauh dari kata nikmat. Ratu Layla duduk di ujung meja, masih mengenakan jubah perang milik Delta yang kini telah dibersihkan. Wajahnya sedingin es, matanya menatap kosong ke arah lilin yang menari-nari. Luka di batinnya akibat kejadian yang baru saja terjadi belum mengering, namun rasa lapar akan balas dendam jauh lebih besar daripada rasa lapar fisiknya. Ia mulai memotong daging di piringnya dengan gerakan mekanis, setiap denting pisau yang beradu dengan perak terdengar seperti dentang pedang di medan tempur.
Di sisi kanannya, Penyihir Petir, sang penasihat kerajaan, duduk dengan gelisah. Jubah ungunya sesekali memercikkan aliran listrik kecil, pertanda bahwa pikirannya sedang bekerja keras. Sementara di sisi kiri, Delta sang Panglima duduk dengan tegak, tangannya mengepal di atas meja, tidak menyentuh makanan sedikit pun. Matanya terus mengawasi setiap gerak-gerik di ruangan itu, seolah-olah musuh bisa muncul dari balik tirai beludru kapan saja.
"Kita tidak bisa membiarkan Gris bernapas lebih lama lagi di atas tanah ini, Yang Mulia," Penyihir Petir akhirnya memecah keheningan. Suaranya berat,"Sihir transportasi yang digunakan Penyihir Hutan itu meninggalkan jejak energi yang tipis. Jika kita mengerahkan seluruh pasukan Naga Api dan Griffon sekarang, kita bisa melacak koordinat pelarian mereka sebelum jejak itu benar-benar menguap. Saya memiliki solusi saya bisa merapal mantra pelacak berantai yang akan menuntun pasukan kita langsung ke jantung pertahanan mereka."
Delta mendongak, matanya berkilat tidak setuju. "Itu adalah rencana bunuh diri!" potongnya kasar. "Kau lupa dengan siapa kita berhadapan? Penyihir Hutan bukan sekadar ahli tanaman. Kekuatan hitamnya mampu memanipulasi udara dan aroma. Jika kita mengejar mereka dalam keadaan emosi yang tidak stabil, dia akan menjebak seluruh pasukan kita dalam ilusi yang mematikan. Siapapun bahkan prajurit Minotaur yang paling berani sekalipun bisa terjebak dalam mimpi buruk yang dibuatnya hingga mereka saling membantai satu sama lain. Kita akan kehilangan sisa pasukan kita sebelum sempat melihat wajah Gris."
Penyihir Petir berdiri dari kursinya, wajahnya memerah karena tersinggung. "Kau meragukan kemampuanku untuk menetralisir sihir rendah seperti itu, Panglima? Aku adalah penguasa petir! Cahayaku bisa membakar kabut ilusi manapun. Kau hanyalah seorang prajurit yang terlalu banyak menghabiskan waktu di atas punggung hewan terbang hingga otakmu tumpul oleh ketakutan!"
"Ketakutan?" Delta ikut berdiri, suaranya menggelegar di dalam aula. "Ini adalah kewaspadaan! Aku melihat bagaimana Ratu kita diseret barusan! Aku melihat bagaimana sihir mereka bekerja dengan licik! Jika kau memaksakan pasukan kita masuk ke wilayah mereka tanpa persiapan matang, kau sama saja menyerahkan Atlas di atas nampan kepada kerajaan faramis!"
Pertengkaran itu semakin memanas. Keduanya saling berhadapan di atas meja makan, mengabaikan protokol istana. Penyihir Petir mulai merapal gumaman kecil yang membuat udara di sekitar mereka berderak, sementara Delta sudah memegang gagang belatinya. Suara mereka saling bersahutan, mengisi aula dengan cacian dan argumen teknis tentang strategi dan sihir yang tak kunjung usai.
"CUKUP!"
Suara Layla tidak keras, Ia membanting garpunya ke atas meja. Ratu bangkit dari kursinya, auranya yang gelap dan kejam terpancar kuat. Ia berjalan perlahan mengitari meja, langkah kakinya bergema di atas lantai batu. Ia berhenti di belakang Delta, yang masih berdiri dengan bahu tegang.
Layla meletakkan tangannya di bahu Delta, jemarinya yang lentik namun kuat merayap naik ke leher sang panglima. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga Delta yang membuat pria perkasa itu sedikit gemetar. Layla mengusap pipi Delta dengan gerakan yang hampir terlihat lembut, seolah sedang menggoda kekasihnya di tengah peperangan. Delta terpaku, matanya terpejam sesaat, terbuai oleh sentuhan sang ratu yang jarang ia dapatkan. Namun, sedetik kemudian, Layla menarik tangannya dan—plak!—ia menoyor kepala Delta dengan cukup keras hingga panglima itu terhuyung ke depan.
"Kau terlalu berisik untuk seorang panglima, Delta," ucap Layla dengan nada datar yang kemudian berubah menjadi seringai tipis.
Melihat ekspresi kaget dan konyol di wajah Delta yang biasanya garang, Penyihir Petir tidak bisa menahan diri. Ia meledak dalam tawa yang tulus. "Lihat wajahmu, Panglima! Kau seperti kadal yang baru saja dipukul ekornya!" Delta, yang awalnya ingin marah, melihat sisa-sisa kegarangan di mata Layla yang kini sedikit melunak, akhirnya ikut terkekeh sambil mengusap kepalanya. Suasana mencekam yang menyelimuti aula itu seketika pecah. Para pelayan yang tadinya bersembunyi di balik pilar mulai berani menampakkan diri. Tawa memenuhi ruangan,
Layla kembali ke tempat duduknya, menyesap anggurnya sedikit. "Sekarang, Penasihat, katakan solusi sebenarnya. Aku tahu kau punya rencana lain selain hanya mengejar jejak sihir yang menguap."ujarnya.
Penyihir Petir berdehem, mencoba merapikan jubahnya dan kembali serius. "Benar, Yang Mulia. Jika kita tidak bisa menyerang secara langsung karena risiko ilusi, kita harus memancing mereka keluar. Kita tahu Gris sangat haus akan pengakuan. Saya bisa menciptakan 'umpan sihir'—sebuah artefak palsu yang memancarkan energi seolah-olah itu adalah sumber kekuatan utama Atlas yang sedang melemah. Pasukan Orc dan Echidna mereka pasti akan terpancing untuk keluar dari perlindungan hutan mereka untuk merebutnya. Saat itulah, pasukan Minotaur dan Centaur kita akan menyergap mereka di medan terbuka, di mana naga air mereka tidak akan memiliki keunggulan."
Layla mengangguk pelan, menyukai ide tentang jebakan yang licik. "Lakukan. Persiapkan semuanya dalam tiga hari. Aku ingin kepala Gris dipajang di gerbang istana ini."
Setelah perjamuan makan malam yang melelahkan itu berakhir, Layla meninggalkan aula dan menuju kamar pribadinya. Para pengawal Minotaur berdiri tegak di setiap tikungan koridor, memberikan penghormatan saat ia lewat. Sesampainya di kamar, Layla melepaskan jubah dan perhiasannya. Ia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya sendiri. Bayangan kejadian yang barusan terjadi kembali melintas, namun kali ini tidak ada air mata. Hanya ada kebencian yang murni.
Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang luas dengan sprei sutra hitam. Di luar, suara kepakan sayap Griffon yang berpatroli memberikan ritme yang menenangkan, malam itu Ratu Layla tertidur dengan sangat lelap. Dalam tidurnya, ia tidak bermimpi tentang kehilangan, melainkan tentang api yang membakar seluruh kerajaan faramis hingga menjadi abu, dengan ia yang berdiri di puncaknya, tertawa terbahak-bahak di atas takhta darahnya.