NovelToon NovelToon
My Possessive Mafia

My Possessive Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?

Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.

Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.

Apakah Quinn mampu bertahan hidup?

Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?

୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

III. Penthouse

...୨ৎ──── Q U I N N ────જ⁀➴...

Astaga.

Ada kamera yang merekam kamar aku.

Mulutku langsung kering saat kepikiran Braun mungkin melihatku waktu ganti baju.

Apa dia melihat aku telanjang?

Sial.

Rasa takutku makin naik saat pertanyaan itu berputar di kepalaku.

Waktu Braun menjatuhkan remote ke meja lalu melepas jaketnya, pertanyaan itu langsung keluar dari mulutku, “Apa ... kamu juga ngintip aku waktu ganti baju?”

Mata kita bertemu sebentar, lalu dengan santainya dia mengeluarkan HP dari saku, sebelum taruh jaketnya di sandaran sofa. Dia taruh HP itu di samping remote, baru setelah itu menatapku lagi.

Aku enggak bisa menebak ekspresinya, tapi makin lama dia menatapku, makin cepat detak jantungku.

Tatapannya menyusuri tubuhku dan berhenti di kakiku yang telanjang, tempat tetesan darah kering masih menempel.

Akhirnya dia bilang, “Kayaknya kita perlu beli baju baru buat kamu pakai.”

Dia enggak menjawab pertanyaanku. Itu pasti berarti dia melihat aku telanjang.

Iya, kan?

Dia mengangkat HPnya lagi dan menelepon seseorang. Sesaat kemudian dia bicara, “Sambil ngantar Musielak, kemasi pakaian sama perlengkapan mandi Quinn dan bawa ke rumah aku.”

Dia tutup panggilan, lalu matanya balik lagi ke layar TV.

"Kamu belum jawab aku," bisikku. Jantung aku berdebar kencang, tanganku mengepal di pinggang.

Aku lihat sudut bibirnya terangkat sedikit, tatapannya masih menempel ke layar TV. "Mmh … Kamu enggak bakal mau tahu."

Alisku mengerut. Tepat saat aku mulai merasa benar-benar dilecehkan, mata kita lagi-lagi bertemu. Dia miringkan kepala, mengamati reaksiku, seolah-olah itu sesuatu yang menarik buat dia.

Aku angkat dua tangan, melingkarkannya erat di pinggangku sendiri, bahuku bungkuk, pandanganku jatuh ke ubin.

"Enggak. Aku enggak mau kamu lihat aku telanjang!"

Pandanganku kembali ke wajahnya, dan rasa lega langsung menyelimutiku. Itu berarti dia enggak bakal memaksaku.

Syukurlah.

Aku memandang sekeliling ruangan, yang didekorasi dengan nuansa abu-abu muda dan krem. Partisi kaca yang elegan kasih aku pemandangan dapur dan ruang makan yang modern.

Penthouse ini pasti harganya berkali-kali lipat lebih mahal dari rumah mewah kami, apalagi dengan lokasinya di SCBD.

Layar TV menarik perhatianku. Begitu aku melihat Papa didorong paksa ke aula rumah kami, tanganku refleks menutup mulut.

Matanya bengkak dan tertutup, darah menetes dari luka di atas alisnya. Dia kelihatan berantakan, sama sekali enggak seperti cowok kuat yang telah membesarkanku.

Sarrah keluar dari dapur, wajahnya terkejut melihat anak buah Braun dan kondisi Papa. Beberapa cowok naik ke kamar aku, sementara dua lainnya tetap berjaga di depan.

“Jadi gimana menurutmu, Tikus Kecil?” kata Braun. “Papa kamu bakal kabur ke polisi dan ambil risiko?” Braun miringkan kepala, matanya masih ke siaran TV. “Atau mungkin pembantu itu yang bakal bertanggung jawab atas kematian kamu.”

Suaraku cuma jadi bisikan serak waktu aku bilang, “Mereka enggak bakal ngelakuin apa pun yang bahayain nyawa aku.”

“Kamu kelihatan pede banget,” gumamnya. Dia menghela napas lalu menambahkan, “Oke. Ini bakal menyenangkan saat semuanya terungkap.”

Dia menoleh ke aku, tatapan predatornya menempel di aku. “Aku bakal biarin TV-nya nyala, biar kamu bisa ngawasin Papamu,” katanya dingin. “Kalau volumenya dinaikin, kamu bahkan bisa dengar suaranya.”

Seenggaknya aku masih bisa melihat Papa.

Dia masukkan tangannya ke saku. Posturnya kelihatan santai, tapi aku enggak ketipu. Aku tahu dia bisa melakukan kekerasan kapan saja.

"Kamu bakal tetap di sini. Anak buahku bakal jaga sepanjang waktu. Kalau kamu coba kabur, Papa kamu mati.” Matanya menyipit ke arahku. “Dan aku enggak bakal kasih dia kematian instan. Aku bakal mutilasi dia tepat di depan matamu.”

Ketakutan itu membuatku gemetar, karena aku tahu dia bakal menepati ancamannya.

Dia membolehkan kata-kata mengerikan itu meresap dulu sebelum lanjut, “Kamu bukan tamu aku. Kamu bakal nyiapin semua makananmu sendiri. Kamu bakal jaga tempat ini tetap bersih. Kalau kesehatan kamu memburuk, Papa kamu mati. Kalau aku lihat kamu nangis, Papa kamu bakal membayar setiap tetes air mata yang kamu tumpahin.”

Dia melangkah makin dekat, membuatku harus menengadah buat tetap menjaga kontak mata.

“Kamu mengerti?”

Bibirku yang kering terbuka sedikit. Satu kata itu keluar bergetar di antara kami. "Iya."

“Jangan halangin jalanku, dan kamu mungkin bisa bertahan hidup di sini,” gumamnya muram.

Aku sangat meragukan itu.

Dia mulai jalan, dan lengannya menyenggol lenganku waktu dia melewatiku. "Ayo, Tikus Kecil."

Pandanganku kembali ke TV, dan aku melihat Sarrah sedang mengusap wajah Papa.

Mereka diam saja.

Sarrah terus melirik gugup ke arah dua anak buah Braun yang masih mengawasi mereka.

Aku jadi kepikiran, apa yang bakal Papa bicarakan ke dia.

Bagaimana dia akan mejelaskan kenapa aku enggak ada di rumah?

Sekali lagi, kenyataan itu sungguh menusukku, Papa beli ginjal di pasar gelap.

Adik laki-laki Braun dibunuh supaya aku bisa bertahan hidup.

Dan sekarang, aku jadi tawanan cowok dengan jiwa yang rusak.

Tuhan, tolong aku.

"Quinn!" Suara Braun menggema seperti guntur.

Aku gemetar dan langsung lari mengejar dia, yang sudah ada di tengah tangga. Kalau ini terus berlanjut, aku yakin aku bakal mati terkena serangan jantung.

Aku mengikuti Braun ke sebuah ruangan yang bahkan lebih mewah dari kamar aku di rumah.

Di dalamnya ada tempat tidur ukurannya luas banget dengan seprai dan bantal abu-abu muda.

Jendela dan pintu geser kasih pemandangan balkon dengan tanaman pakis dalam pot yang mengelilingi kursi santai di luar ruangan itu. Dari situ kelihatan gedung-gedung pencakar langit, dan aku cuma bisa membayangkan betapa indahnya pemandangan itu di malam hari.

Dinding di belakang tempat tidur terbuat dari granit. Di sebelah kiri ada lemari besar yang kelihatan belum pernah dipakai sama sekali.

Aku menemukan satu pintu lagi. Dengan hati-hati aku pun mendekat dan mengintip ke dalam kamar mandi, lengkap dengan pancuran dan bak mandi yang sekilas mirip jacuzzi.

Lumayan … untuk sebuah penjara.

“Barang-barang kamu bakal nyampe bentar lagi,” gumam Braun, sebelum menjauh dari pintu dan menghilang.

Aku jalan ke pintu dan melihat dia masuk ke ruangan di ujung sana, yang aku duga itu kamarnya.

Sambil menghela napas, aku balik ke kamar dan menutup pintunya. Aku langsung lari ke kamar mandi buat buang air kecil, tubuhku masih tegang luar biasa.

Saat aku membasuh wajah, mataku bertemu bayangan diriku sendiri yang berantakan. Semua penderitaan dalam dua puluh empat jam terakhir langsung menyerbu seperti tsunami.

Dia menembak Dr. Nolan seolah-olah itu bukan apa-apa. Braun baru saja membunuh dia. Aku terpejam erat-erat, menahan air mata yang hampir jatuh.

Aku tawanan di penthouse milik monster berdarah dingin.

Ya Tuhan.

Setelah tiga tahun terakhir neraka itu, setelah aku dapat kesempatan kedua buat hidup … kenapa justru kegilaan ini yang terjadi?

Aku dengar ada pergerakan di kamar. Aku tarik napas dalam-dalam sebelum mengecek siapa itu.

Para cowok itu melempar kantong berisi pakaian dan barang-barangku ke lantai.

Mereka bahkan enggak sekalipun melihat ke arahku. Saat pergi pun, mereka enggak mau repot-repot menutup pintu.

Melihat pakaianku berserakan, akhirnya aku sadar, ini nyata.

Ini bukan mimpi buruk yang akan berakhir.

Ini bukan imajinasiku yang memainkan pikiranku.

Aku ditangkap oleh seorang bos mafia kejam yang membunuh tanpa ragu.

1
sleepyhead
Dan akhirnya A death pact with the Grim Reaper
sleepyhead
( -̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷄◞ω◟-̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷅ )
Adellia❤
jadi intinya q enggak bisa siksa Quin sampe 6 bulan kedepan??? setan .... hahahaha... ngakak pollll😂😂
Lisa Halik
kesianlah quiin klu dia pun di siksa
Rainn Dirgantara
Lanjut kak
Rainn Dirgantara
Cinta sma siapa, dia siapa? Salfok
Rainn Dirgantara
Emang, dokter apaan kek gitu
Rainn Dirgantara
Diem deh nolan, etdah santai bgt tuh org
Rainn Dirgantara
Lah enak pake bg lah quin ngapain polisi 😏
Adellia❤
dan dy bisa bunuh km kapanpun..
Rainn Dirgantara
Aduhh 💔😭
Rainn Dirgantara
Ga sepenuhnya salah quin juga, kalo dia tau dapet ginjal nya dngn cara gitu pasti dia gamau 🥺
Rainn Dirgantara
Naikin aja dulu harga awalnya, abis itu kalo masih minta diskon lagi tinggal kasih wkwk
Adellia❤
detak jantungnya enggak akan meningkat hanya karna bunuh orang Quin tapi suatu hari nanti km yg bikin dy jantungan..
Adellia❤
AK, PDW apa itu thorrr???
Adellia❤: oke👌 AK yg kayak di pake pasukan BRIMOB kali yak..
total 2 replies
Adellia❤
Quinn... 😭😭😭😭 sumpah ini sedih bangett kalo dari awal tau Quinn pasti enggak mau transplantasi ginjal 😭😭😭😭 seseorang harus bertanggung jawab bukan km Quinn😭😭😭
Adellia❤
sumpah serem bangett kalo q yg di posisi Quin udah ngompol berkali" terus enggak sadarkan diri..
Adellia❤
woyyy cover kenapa jadi CEO gitu enggak cocok sama bang braun 😭😭😭
Adellia❤: hah ??? serius thorrr tuh cover berubah sendiri ??? bukan km yg ganti??? udah kayak siluman tuh cover bisa ganti wujud..
total 2 replies
Adellia❤
kasian km Quin pasti bingung bangett takut juga..
Adellia❤
sayangnya dy kebal polisi Quin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!