NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Satu-satunya Harapan

Senja turun perlahan di Sekte Awan Giok.

Cahaya keemasan menyapu jalan batu di antara pavilion, membuat bayangan memanjang dan dedaunan taman tampak berkilau lembut. Angin sore berembus pelan, membawa aroma bunga dan rumput basah. Dunia terlihat damai. Terlalu damai.

Xu Tian duduk sendirian di tepi aula latihan.

Punggungnya bersandar pada pilar kayu yang dingin. Pakaian luarnya masih kotor, bercak debu dan noda air keruh mengering di kain kasar. Tangannya gemetar lemah, bukan karena dingin, tetapi karena kelelahan yang menumpuk tanpa tempat diluapkan. Otot-ototnya terasa kaku, setiap tarikan napas seperti membawa sisa bau kotoran yang belum sepenuhnya hilang dari hidungnya.

Di kejauhan, murid-murid lain berjalan santai, tertawa kecil, atau berdiskusi ringan tentang latihan hari ini. Beberapa duduk di taman, menikmati senja seolah dunia tak pernah menyakiti mereka.

Xu Tian menunduk.

Keindahan ini terasa asing. Seperti lukisan yang tergantung terlalu tinggi untuk dijangkau.

Tangannya mengepal pelan di atas lutut. Kulitnya terasa perih, lecet halus akibat pekerjaan kasar seharian. Tapi rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan berat yang menekan dadanya.

Ia masih di sini.

Bukan karena ambisi. Bukan karena mimpi menjadi kuat.

Hanya karena satu nama.

Lin Ruo’er.

Pikirannya melayang, tertarik oleh kenangan yang sudah terlalu sering ia ulangi dalam diam. Kenangan yang menjadi satu-satunya alasan ia masih bangun setiap pagi, masih menundukkan kepala, masih menerima hinaan tanpa melawan.

Dulu, ia bertemu Lin Ruo’er di jalan batu yang sama.

Saat itu pagi, cahaya matahari belum sepenuhnya muncul. Xu Tian membawa ember air dengan langkah hati-hati, takut terpeleset. Ia terlalu fokus pada kakinya sendiri sampai hampir menabrak seseorang.

“Ah—”

Ia mengangkat kepala dengan panik, siap menerima omelan atau ejekan seperti biasa.

Namun yang ia temui adalah sepasang mata jernih.

Lin Ruo’er berdiri di hadapannya, rambutnya terikat sederhana, pakaian muridnya rapi namun tidak mencolok. Ia tidak tertawa. Tidak menyeringai. Tidak memandang rendah.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya pelan.

Nada suaranya tenang. Tidak dibuat-buat.

Xu Tian ingat betul bagaimana tubuhnya membeku saat itu. Lidahnya kelu. Jantungnya berdetak terlalu keras.

“A-aku… tidak,” jawabnya gugup, lalu buru-buru menunduk.

Ia sudah terbiasa. Biasanya, setelah itu akan datang komentar—tentang betapa cerobohnya ia, betapa tidak bergunanya murid rendahan.

Tapi Lin Ruo’er hanya melirik ember di tangannya.

“Itu berat,” katanya. “Hati-hati di bagian tikungan depan. Batunya licin.”

Hanya itu.

Tidak ada ejekan. Tidak ada rasa kasihan berlebihan.

Xu Tian berdiri terpaku lama setelah Lin Ruo’er melangkah pergi. Ia ingat perasaan aneh yang mengalir di dadanya saat itu. Hangat. Membingungkan.

Sejak hari itu, ia mulai memperhatikannya.

Bukan dengan berani. Hanya dari jauh.

Ia melihat bagaimana Lin Ruo’er berlatih dengan tekun, bagaimana ia membantu murid lain tanpa pilih kasih, bagaimana ia mengerutkan alis setiap kali melihat Xu Tian gagal dalam latihan—bukan dengan jijik, tapi dengan sesuatu yang lebih sulit ia pahami.

Suatu kali, saat Xu Tian terjatuh di aula latihan dan tawa murid lain menggema, ia sempat melihat Lin Ruo’er menghentikan langkahnya.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Tidak ada senyum. Tidak ada kata.

Namun Lin Ruo’er mengangguk kecil padanya.

Gerakan sederhana itu membuat Xu Tian menggertakkan gigi dan bangkit kembali saat itu juga.

Sejak saat itu, setiap kegagalan terasa sedikit lebih bisa ditahan.

Ia tidak bertahan karena yakin bisa menjadi kuat.

Ia bertahan karena ada seseorang yang tidak melihatnya sebagai sampah.

Xu Tian menghembuskan napas pelan.

Sore ini, taman sekte kembali dipenuhi cahaya lembut. Daun-daun berdesir pelan. Beberapa murid melewati jalan batu sambil berbincang ringan. Dunia tetap berjalan, tenang dan indah, tanpa memedulikan seseorang seperti dirinya.

Ia memandang tangannya sendiri.

Kotor. Kasar. Tidak pantas.

“Jika suatu hari…” pikirnya pelan.

Jika suatu hari ia bisa berdiri tanpa menunduk.

Jika suatu hari ia bisa berbicara tanpa suara bergetar.

Jika suatu hari namanya tidak lagi disertai tawa.

Ia tidak membayangkan kejayaan. Tidak membayangkan kekuatan besar.

Ia hanya ingin berdiri sejajar dengannya. Sekadar cukup dekat untuk berbicara tanpa merasa seperti noda.

Itulah satu-satunya harapannya.

Dan itu pun terasa rapuh.

Xu Tian menyandarkan kepalanya ke pilar, menutup mata sejenak. Cahaya senja menembus celah kelopak matanya, menyilaukan namun hangat. Kenangan tentang Lin Ruo’er berputar pelan, seperti lentera yang terus menyala meski angin menerpa.

Tanpa itu, ia tahu betul, dirinya sudah lama menyerah.

Tanpa itu, Sekte Awan Giok hanyalah penjara dingin tanpa alasan untuk bertahan.

Ia membuka mata perlahan.

Di kejauhan, bayangan pavilion dan taman menyatu dengan cahaya sore. Langkah kaki murid-murid lain semakin jarang. Senja hampir habis.

Xu Tian menarik napas dalam.

Hari ini belum berakhir. Dan selama nama itu masih berdenyut di dadanya, ia tahu satu hal dengan pasti.

Ia masih akan bertahan.

Meski hanya dengan harapan palsu yang bisa hancur kapan saja.

Cahaya senja semakin condong ke barat.

Xu Tian berdiri perlahan dari tempatnya bersandar. Debu jatuh dari pakaiannya saat ia menepuknya sekilas, namun noda tetap melekat. Ia tidak peduli. Pandangannya tertarik ke arah taman sekte, tempat jalan batu berkelok di antara pepohonan rendah dan paviliun kecil.

Di sanalah ia melihatnya.

Lin Ruo’er.

Langkahnya ringan, sikapnya tenang. Pakaian muridnya bersih dan rapi, mengikuti gerak tubuhnya dengan anggun. Rambutnya terikat sederhana, namun setiap helai tampak tertata. Cahaya senja menyentuh wajahnya, membuat garis lembut di pipi dan matanya tampak lebih dalam.

Xu Tian terdiam.

Dadanya menegang tanpa peringatan.

Ia belum siap. Tidak pernah siap.

Namun sebelum ia sempat mengalihkan pandangan, seseorang melangkah ke sisi Lin Ruo’er.

Zhao Heng.

Tubuhnya tegap, bahunya lurus. Pakaian latihannya bersih, bahkan setelah seharian beraktivitas. Setiap langkahnya mantap, penuh kepercayaan diri yang lahir dari pengakuan orang lain. Murid-murid yang melintas memberi jalan tanpa sadar, seolah keberadaannya memang pantas berada di tengah.

Xu Tian melihat mereka berjalan berdampingan.

Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

Cukup alami.

Zhao Heng mengatakan sesuatu. Xu Tian tidak bisa mendengarnya dari jarak ini, namun ia melihat sudut bibir Lin Ruo’er terangkat sedikit.

Senyum kecil.

Sesuatu di dalam dada Xu Tian terasa terhantam.

Ia menelan ludah.

Ini hanya kebetulan, katanya pada dirinya sendiri. Sekte ini luas. Bertemu di taman bukanlah hal aneh. Zhao Heng murid berbakat, wajar jika berada di mana saja.

Harapan itu berusaha bertahan, bergetar lemah.

Namun matanya tidak bisa berbohong.

Zhao Heng berjalan dengan santai di sisi Lin Ruo’er. Sesekali ia menoleh padanya, berbicara dengan ekspresi tenang. Lin Ruo’er mendengarkan, sesekali mengangguk. Tidak ada jarak canggung. Tidak ada keraguan.

Xu Tian melihat bayangan mereka memanjang di jalan batu.

Dua bayangan yang berjalan sejajar.

Ia melirik bayangannya sendiri, terpantul samar di lantai batu dekat aula. Tubuh kurus. Pakaian kusam. Bayangan yang terputus oleh retakan batu.

Perbedaan itu terlalu jelas.

Xu Tian meremas ujung bajunya.

Tangannya gemetar.

Ia ingin berpaling. Ingin pergi. Ingin kembali ke kamar kecilnya dan membiarkan malam menelan semua perasaan ini. Namun kakinya tidak bergerak.

Hatinya menolak menerima apa yang matanya lihat.

Mungkin Lin Ruo’er hanya bersikap sopan. Mungkin Zhao Heng hanya kebetulan lewat. Mungkin setelah ini, mereka akan berpisah dan kembali ke dunia masing-masing.

Harapan itu memaksa dirinya bertahan.

Angin sore bertiup, membawa suara tawa kecil.

Tidak keras. Tidak mencolok.

Namun cukup untuk menusuk.

Xu Tian menarik napas dalam-dalam. Udara terasa berat di paru-parunya. Ia merasa seperti berdiri di luar sebuah dunia yang tertutup kaca—melihat dengan jelas, namun tak bisa menyentuh.

Cahaya senja semakin condong, menyinari Lin Ruo’er dari samping. Wajahnya tampak hangat, hampir bersinar. Sementara itu, bayangan pepohonan jatuh ke arah Xu Tian, menelan separuh tubuhnya dalam gelap.

Ia menyadari sesuatu dengan perlahan.

Dunia Lin Ruo’er telah bergerak maju.

Latihan. Pengakuan. Hubungan yang setara.

Sementara dunianya sendiri tetap di tempat yang sama. Jalan kasar, tugas kotor, ejekan yang tak pernah berhenti.

Ia tertinggal.

Kesadaran itu tidak datang seperti petir. Tidak menghancurkan sekaligus.

Ia merembes perlahan, dingin dan kejam.

Xu Tian menundukkan kepala, menutup mata sejenak. Di balik kelopak matanya, kenangan masa lalu berputar—sapaan lembut, anggukan kecil, perhatian sederhana yang dulu terasa begitu berarti.

Apakah semua itu masih ada?

Ataukah ia satu-satunya yang masih menggenggamnya?

Ia membuka mata kembali.

Lin Ruo’er dan Zhao Heng berhenti sejenak di dekat paviliun. Zhao Heng menunjuk ke arah aula latihan, mengatakan sesuatu dengan nada ringan. Lin Ruo’er menoleh ke arah yang ditunjuk, lalu mengangguk.

Gerakan itu sederhana.

Namun di mata Xu Tian, itu seperti keputusan yang tak bisa ia jangkau.

Kakinya terasa berat.

Ia merasa malu. Takut. Ragu.

Jika ia mendekat sekarang, apa yang akan terjadi?

Ia membayangkan tatapan heran. Senyum sopan. Jarak yang jelas. Kata-kata yang tidak kejam, namun cukup untuk memisahkan dunia mereka sepenuhnya.

Jantungnya berdetak semakin keras.

Namun di balik semua ketakutan itu, ada sesuatu yang lebih kuat.

Perasaan yang telah menopangnya selama ini.

Jika ia tidak melangkah hari ini, ia tahu satu hal dengan pasti—ia akan terus berdiri di tempat yang sama, menatap dari jauh, sampai harapan itu mati dengan sendirinya.

Xu Tian mengangkat kepala.

Langit senja mulai memerah. Cahaya terakhir hari itu menyelimuti taman dengan warna lembut dan menyakitkan. Segalanya terasa terlalu indah untuk seseorang seperti dirinya.

Ia mengambil satu langkah.

Kerikil kecil bergeser di bawah kakinya.

Tidak ada yang menoleh.

Satu langkah lagi.

Dadanya terasa seperti diremas. Napasnya pendek. Telapak tangannya basah oleh keringat.

Jarak itu perlahan menyusut.

Ia bisa melihat lebih jelas sekarang—lipatan pakaian Lin Ruo’er, cara rambutnya bergerak tertiup angin, ekspresi tenang di wajahnya.

Detak jantung Xu Tian menutupi suara dunia.

Ia hampir tidak merasakan tanah di bawah kakinya.

Langkahnya terhenti beberapa meter dari mereka.

Cukup dekat untuk didengar.

Cukup dekat untuk dilihat.

Xu Tian berdiri di sana, di antara cahaya senja dan bayangan panjangnya sendiri, dengan satu keputusan yang sudah terlanjur ia ambil.

Mulutnya terbuka sedikit.

Namun belum ada suara yang keluar.

1
Arceusssxara
ah mataku sakit maaf karena satu paragraf nya panjang amat kalimatnya. 😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!