NovelToon NovelToon
Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter Genius / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
​Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
​Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
​Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Dokter Kulkas vs Gadis Kompor

Sangat terlarang bagi dunianya jika Adrian sampai tertangkap basah sedang menatap stiker hati berwarna merah muda di atas meja bedah yang seharusnya suci dari benda konyol. Dia segera mendorong laci meja dengan tumit sepatunya hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras dan menggema di dalam ruangan. Napasnya memburu saat menyadari bahwa aroma parfum stroberi milik Lala seolah masih tertinggal dan menempel pada jas putih kebanggaannya.

"Dokter, suhu di ruangan ini tiba-tiba terasa sangat panas, apakah mesin pendingin udara sedang rusak?" tanya seorang perawat sambil membawa nampan berisi peralatan medis.

"Mesinnya baik-baik saja, mungkin perasaanmu saja yang sedang kacau karena terlalu banyak bekerja," sahut Adrian dengan nada ketus yang membuat sang perawat seketika membungkam mulut.

Adrian segera melangkah keluar menuju kantin rumah sakit untuk mendinginkan kepalanya yang terasa seperti akan meledak akibat ulah gadis sekolah menengah itu. Namun, pemandangan mengejutkan langsung menyambutnya tepat di depan pintu masuk gedung utama yang biasanya sangat tenang. Sosok Lala berdiri di atas sebuah kursi plastik dengan sebuah pengeras suara kecil di tangan kanannya sambil mengenakan ikat kepala bertuliskan nama Adrian.

"Selamat siang semuanya, tolong dengarkan pengumuman penting dari calon istri Dokter Adrian yang paling cantik ini!" teriak Lala dengan semangat yang meluap-luap.

"Turun sekarang juga atau saya sendiri yang akan menyeret kamu ke kantor polisi terdekat!" bentak Adrian yang muncul dengan wajah merah padam karena menahan malu.

Seluruh pengunjung rumah sakit dan para pasien yang sedang duduk di kursi tunggu serentak menoleh ke arah sumber keributan yang luar biasa itu. Lala justru tertawa lebar sambil melompat turun dari kursi lalu berlari mendekat ke arah Adrian yang sudah berdiri kaku layaknya patung es. Gadis itu menempelkan telapak tangannya yang hangat tepat di pipi Adrian untuk memeriksa suhu tubuh sang dokter pujaannya.

"Wajah Dokter merah sekali, apakah Dokter sedang demam karena merindukan notifikasi pesan dariku?" tanya Lala tanpa rasa takut sedikit pun.

"Jangan pernah berani menyentuh kulit saya dengan tanganmu yang penuh dengan bekas minyak goreng itu," desis Adrian sambil menepis kasar tangan Lala.

Lala merengut pendek namun matanya tetap berbinar-binar penuh kegembiraan saat melihat respons emosional yang diperlihatkan oleh pria pujaannya. Dia mengeluarkan sebuah kotak bekal berwarna biru terang yang dihiasi dengan banyak stiker bunga matahari dari dalam tas sekolahnya yang cukup berat. Bau bumbu masakan yang sangat menyengat seketika menyeruak keluar dan memenuhi udara di antara mereka berdua yang sedang bersitegang.

"Aku membawakan seblak level lima yang paling pedas sedunia agar hati Dokter yang beku bisa segera mencair dan membara!" seru Lala sambil menyodorkan sendok plastik ke depan bibir Adrian.

"Bawa pergi sampah berbau tajam ini dari hadapan saya sebelum saya membuangnya ke tempat pembuangan limbah medis," jawab Adrian dengan tatapan mata yang sangat tajam dan menusuk.

Adrian membalikkan tubuhnya dengan sangat angkuh dan berjalan cepat meninggalkan kerumunan orang yang mulai berbisik-bisik membicarakan mereka. Dia tidak menyadari bahwa Lala justru sedang mencatat durasi pertemuan mereka di dalam sebuah buku catatan kecil bersampul merah muda. Bagi Lala, setiap detik kemarahan Adrian adalah sebuah kemajuan besar dalam misi penaklukan hati sang dokter kulkas yang sangat kaku.

"Baru tiga menit saja Dokter sudah merasa panas, bagaimana kalau nanti aku menjadi kompor di dalam rumah kita?" gumam Lala sambil memakan satu suap kerupuk pedas dengan wajah yang penuh kemenangan.

Gadis itu kemudian berjalan santai menuju halte bus depan rumah sakit sambil bersiul riang tanpa mempedulikan pandangan aneh dari orang-orang. Dia merasa bahwa rencananya untuk mengguncang dunia Adrian yang datar dan membosankan telah menunjukkan hasil yang sangat memuaskan jiwa remaja miliknya. Lala sangat yakin bahwa sebentar lagi Adrian tidak akan bisa makan atau tidur dengan tenang karena terus membayangkan wajahnya yang menggemaskan.

Sementara itu, Adrian kembali ke ruangannya dan mengunci pintu dengan sangat rapat seolah sedang menghindari serangan virus yang sangat mematikan. Dia menyandarkan punggungnya pada pintu kayu tersebut sambil memegang dadanya yang tiba-tiba berdenyut dengan irama yang sangat aneh dan tidak beraturan. Rasa kesal yang luar biasa bercampur dengan sesuatu yang sangat asing mulai mengusik ketenangan batin sang dokter bedah yang biasanya sangat dingin.

"Gadis itu benar-benar sebuah ancaman bagi kesehatan mental dan kewibawaan profesi saya di tempat ini," bisik Adrian sambil menatap kosong ke arah langit-langit ruangan yang berwarna putih pucat.

Pikiran Adrian melayang pada pita rambut merah muda yang tadi sempat ia masukkan ke dalam saku jasnya tanpa alasan yang jelas bagi logikanya. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan benda kecil tersebut lalu menatapnya dengan kening yang berkerut sangat dalam dan penuh dengan tanda tanya besar. Tanpa sadar, Adrian mencium aroma parfum stroberi yang masih sangat kuat melekat pada pita tersebut hingga membuat jantungnya terasa seperti akan berhenti berdetak.

Terasa seperti akan berhenti berdetak adalah perasaan yang sangat mengerikan bagi seorang ahli jantung, namun Adrian justru menggenggam pita itu dengan sangat erat di telapak tangannya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!