NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Ada Yang Mencari

Hujan turun tipis sore itu.

Zizi duduk di bangku sudut sebuah kafe kecil yang hampir kosong. Tempatnya sederhana, jauh dari pusat kota. Ia memilihnya bukan karena nyaman, tapi karena anonim. Tidak ada yang mengenalnya di sini. Tidak ada yang peduli.

Tangannya masih dibalut perban tipis. Kali ini bukan karena sakitnya belum reda, tapi karena ia belum ingin menjelaskan apa pun.

Pintu kafe terbuka. Angin dingin masuk bersama seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan mantel gelap. Rambutnya sedikit basah oleh hujan. Langkahnya tenang, tidak tergesa.

Danu Prayoga.

Zizi mengenal cara berjalan itu. Dulu. Bertahun-tahun lalu.

Danu melihat sekeliling sebentar, lalu matanya menemukan Zizi. Ia berhenti sejenak. Bukan karena ragu, tapi karena memastikan—perempuan di depannya bukan bayangan masa lalu.

Ia mendekat.

“Kamu kelihatan lebih kurus,” kata Danu akhirnya, suaranya rendah dan terkendali.

Zizi tersenyum tipis. “Kamu masih suka langsung ke intinya.”

Danu duduk di seberangnya. Tidak menyentuh. Tidak memeluk. Ia hanya menatap—cara menatap seseorang yang ingin memastikan orang itu masih utuh.

“Apa kamu aman?” tanya Danu.

Pertanyaan itu sederhana. Tapi Zizi harus menarik napas sebelum menjawab.

“Aman,” katanya. “Belum bebas.”

Danu mengangguk. Ia tidak memaksa penjelasan. Itu yang membuat Zizi akhirnya bicara.

“Aku tidak datang untuk curhat,” kata Zizi pelan. “Aku datang karena aku butuh jalan keluar.”

“Dari pernikahanmu?” tanya Danu.

“Dari hidup yang bukan milikku,” jawab Zizi tanpa ragu.

Danu menatapnya beberapa detik lebih lama. Lalu ia bersandar, menyilangkan tangan.

“Kalau kamu hanya ingin pergi, aku bisa bantu,” katanya jujur. “Tapi dari caramu bicara… kamu tidak ingin sekadar pergi.”

Zizi menatap cangkir kopi di depannya. Permukaannya bergetar halus. “Aku tidak ingin mereka hancur karena aku marah,” katanya. “Aku ingin mereka sadar. Perlahan. Menyakitkan. Tapi rapi.”

Danu tidak tampak terkejut.

“Kamu sudah memikirkannya matang-matang,” simpulnya.

Zizi mengangguk. “Aku tidak menangis lagi. Itu tanda aku siap.”

Hening sejenak. Suara hujan mengisi ruang.

“Ada satu hal yang harus kamu pahami,” kata Danu akhirnya. “Kalau kamu masuk ke jalan itu, kamu harus siap kehilangan nama lamamu. Wajah lamamu. Hidup lamamu.”

Zizi mengangkat wajahnya. Matanya tenang. “Aku sudah kehilangannya sejak lama.”

Danu menatapnya, lalu tersenyum kecil. Bukan senyum lega. Tapi senyum seseorang yang tahu—ini bukan permainan. “Baik,” katanya. “Kalau begitu, kita mulai dari satu hal.”

“Apa?”

“Jangan kembali ke rumah itu malam ini.”

Zizi terdiam. Lalu mengangguk.

“Aku sudah bawa tas kecil,” katanya. “Isinya cuma yang penting.”

“Bagus,” jawab Danu. “Karena mulai sekarang, setiap langkahmu harus punya tujuan.” Ia berdiri, lalu meletakkan kartu kecil di meja.

“Besok,” katanya. “Jam sepuluh. Ke kantorku.”

Zizi menatap kartu itu. Nama Danu tercetak rapi. Di bawahnya, alamat dan nomor yang sudah ia hapal di luar kepala.

“Dan Zizi,” tambah Danu sebelum pergi, “aku tidak akan menyelamatkanmu.”

Zizi mengangkat wajahnya. “Aku tidak minta diselamatkan.”

Danu menatapnya sesaat. Ada sesuatu seperti hormat di sana.

“Itu jawaban yang benar.”

Ia pergi, meninggalkan Zizi sendirian di meja kecil itu.

Zizi menatap hujan di balik kaca. Untuk pertama kalinya, masa depan tidak tampak seperti kabut. Ia belum tahu akan menjadi siapa. Tapi ia tahu satu hal dengan pasti:

Ia tidak akan kembali sebagai perempuan yang sama.

Dan di kejauhan, tanpa satu pun dari mereka sadari,

nama Zizi mulai menuju akhir—

agar sesuatu yang lain bisa lahir.

.

Zizi tidak pulang ke rumah malam itu.

Ia duduk di kursi penumpang mobil Danu, memandangi jalanan yang basah oleh hujan. Tidak ada percakapan panjang. Danu tidak bertanya. Ia hanya menyetir dengan tenang, seolah ini bukan pelarian—melainkan pemindahan hidup.

Mereka berhenti di sebuah bangunan kecil di pinggir kota. Apartemen lama. Sederhana. Bersih. “Kamu bisa tinggal di sini sementara,” kata Danu. “Tidak ada yang tahu. Bahkan aku jarang ke sini.”

Zizi mengangguk. “Terima kasih.”

Danu menyerahkan kunci, lalu melangkah mundur satu langkah. Tidak masuk.

“Kalau kamu berubah pikiran,” katanya, “telepon aku. Tapi kalau tidak—aku anggap besok kamu sudah siap.”

Zizi menatapnya. “Aku tidak akan berubah pikiran.”

Danu mengangguk sekali, lalu pergi.

Hari pertama, Zizi hampir tidak melakukan apa pun.

Ia mandi lama, membiarkan air hangat mengenai tubuhnya. Tangannya masih perih. Luka itu kecil, tapi terasa nyata. Untuk pertama kalinya, ia mengoleskan salep tanpa tergesa—tanpa ada yang memanggil, tanpa ada yang menyuruh. Ia tidur. Lama. Tanpa mimpi.

Hari kedua, Zizi bangun pagi.

Ia membuka jendela. Cahaya masuk perlahan. Tidak ada suara orang. Tidak ada perintah. Tidak ada tatapan menghakimi.

Ia membuat teh sendiri. Duduk. Menyeruput perlahan.

Lalu ia membuka tasnya.

Dokumen pernikahan. KTP. Buku tabungan lama. Semua yang ia perlukan untuk berdiri sendiri. Zizi menyusunnya rapi.

Bukan karena gugup.

Tapi karena ia sudah selesai.

Di sore hari, ia menatap bayangannya di kaca. Wajah itu tampak berbeda. Bukan lebih cantik. Lebih tenang.

Kalau aku kembali sekarang, pikirnya, itu hanya untuk mengakhiri.

Dan dua hari itu, bukan tentang melarikan diri. Itu adalah waktu yang ia butuhkan untuk memastikan bahwa saat ia pergi nanti, ia tidak akan menoleh lagi.

.

Rumah tetap menyala malam itu. Lampu ruang tengah terang seperti biasa. Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton. Anggun duduk di kursinya, membaca sesuatu di ponsel, sementara Anggi merebahkan diri di sofa dengan kaki terangkat.

“Zizi belum pulang?” tanya Anggi sambil mengganti saluran.

Anggun tidak menoleh. “Mungkin di dapur. Atau di kamar.”

“Biasanya jam segini dia sudah bawain teh,” gumam Anggi.

Anggun mendengus kecil. “Perempuan itu memang makin aneh belakangan ini.”

Jam dinding berdetak. Sepuluh menit lewat. Lalu dua puluh.

Teh tidak datang.

Anggi bangkit, melirik ke arah dapur. Kosong. Kompor mati. Lampu redup.

“Mungkin dia ketiduran,” kata Anggi, sedikit kesal. “Atau sengaja ngambek.”

Anggun melipat tangan di dada. “Biarkan saja. Jangan dimanjakan.” Tidak ada yang mencarinya.

Arman pulang hampir pukul sepuluh.

Ia masuk rumah dengan langkah biasa. Tidak tergesa. Tidak cemas.

“Zizi?” panggilnya singkat.

Tidak ada jawaban.

“Ibu?” tanyanya lagi.

“Di sini,” jawab Anggun dari ruang tengah. “Istrimu sepertinya belum pulang.”

Arman berhenti sejenak. “Belum?”

“Entah. Seharian juga nggak kelihatan,” sahut Anggun datar. “Mungkin ke rumah temannya. Atau drama lagi.”

Arman mengangguk pelan. Ia meletakkan tasnya, membuka jas.

“Ada makan malam?” tanyanya.

Anggi menoleh cepat. “Belum. Biasanya Zizi—”

“Kamu bisa pesan,” potong Anggun. “Jangan tergantung sama satu orang.”

Arman tidak menanggapi. Ia mengambil ponselnya, melihat layar—tidak ada pesan dari Zizi. Ia sempat mengetik satu kata.

Di mana? Lalu menghapusnya kembali. Ia meletakkan ponsel di meja.

“Besok juga pulang,” katanya akhirnya. Lebih pada dirinya sendiri.

Malam semakin larut.

Kamar Arman gelap. Ranjang terasa lebih luas dari biasanya. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit.

Ada sesuatu yang berbeda. Bukan sepi—rumah ini sering sunyi. Tapi malam ini, sunyinya tidak patuh.

Tidak ada suara langkah.

Tidak ada suara pintu kamar dibuka pelan.

Tidak ada napas lain di ruangan.

Arman memejamkan mata.

Besok, pikirnya. Ia tidak tahu bahwa malam itu bukan jeda.

Itu adalah garis batas.

Dan di rumah yang tetap menyala tanpa penghuninya,

tidak ada yang sadar—

perempuan yang selama ini mengisi setiap celah

akhirnya berhenti datang.

1
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!