NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Fatih merapikan catatan medis di papan klipnya, hendak berpamitan setelah selesai memeriksa kondisi fisik Bu Lina yang mulai stabil. Namun, percakapan di dalam ruangan itu mendadak berubah arah ketika Ibu Rina, kakak dari Bu Lina sekaligus ibu dari Raisa, menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya.

"Lina kamu itu jangan terlalu banyak pikiran dulu, makanya sesaknya sering kambuh," ujar Ibu Rina sambil membenarkan letak selimut adiknya.

Bu Lina tersenyum lemah dari balik masker oksigennya, matanya nampak berkaca-kaca saat menatap Fatih. "Anak Mbak Rina itu, Dok... Raisa. Dia guru, baik sekali anaknya, sabar. Tapi kalau urusan jodoh, kami ini sampai angkat tangan."

Fatih yang tadinya sudah bersiap melangkah ke pintu, terhenti sejenak. Secara profesional, ia seharusnya segera beralih ke pasien lain, namun melihat gurat kecemasan di wajah keluarga pasien yang bisa memengaruhi psikis pasiennya, ia memilih untuk bertahan sebentar demi memberikan rasa tenang.

"Itu dia, Dok," sahut Ibu Rina menggebu-gebu, seolah menemukan tempat curhat yang tepat.

"Minggu lalu ada anak pemilik yayasan, kaya raya, sopan, datang melamar. Ditolak mentah-mentah sama Raisa. Bulan sebelumnya, ada ustadz muda, pembawaannya tenang, agamanya bagus, juga ditolak. Alasannya selalu sama: 'Belum ada getaran di hati, Bu'. Saya sampai bingung, maunya Raisa itu laki-laki yang seperti apa lagi?"

Bu Lina mengangguk pelan, lalu menatap Fatih dengan penuh selidik, seolah baru menyadari bahwa di depan mereka ada sosok pria muda yang mungkin bisa memberikan perspektif berbeda.

"Nah, kebetulan ada Dokter Fatih di sini," ujar Bu Lina dengan suara parau. "Dokter kan masih muda, sukses, dan kelihatannya sangat logis. Menurut pendapat Dokter, apa yang salah dengan jalan pikiran keponakan saya itu? Apa standar laki-laki zaman sekarang itu memang setinggi itu sampai yang sudah 'sempurna' pun masih dianggap kurang?"

Fatih terdiam sejenak. Ia teringat kembali pada mimpi tentang perempuan dengan senyum teduh semalam—sesuatu yang sama sekali tidak logis baginya. Ia berdehem kecil, mencoba menjawab dari sudut pandang seorang pria yang mengutamakan rasionalitas.

"Saya tidak mengenal putri Ibu secara pribadi," jawab Fatih dengan ekspresi datar namun tetap santun. "Tapi dalam medis, tekanan seringkali menimbulkan resistensi. Mungkin bagi putri Ibu, 'kemapanan' atau 'label' tertentu bukan indikator kebahagiaan yang ia cari."

Ia menjeda kalimatnya, matanya menatap jendela sejenak sebelum kembali ke Ibu Rina.

"Bagi sebagian orang, koneksi itu tidak bisa dihitung secara matematis. Seseorang bisa saja menolak yang 'terbaik' menurut orang lain, karena dia sedang mencari yang 'tepat' untuk jiwanya sendiri. Jadi, menurut saya, Ibu tidak perlu terlalu cemas. Selama dia bertanggung jawab dengan pilihannya, itu tandanya dia wanita yang punya prinsip kuat."

Ibu Rina manggut-manggut meski belum sepenuhnya puas. "Tapi kalau terlalu lama menunggu yang 'tepat' itu, keburu diambil orang, Dok!"

Fatih hanya memberikan senyum tipis, hampir tak terlihat. "Jodoh bukan soal siapa yang paling cepat datang, tapi soal siapa yang membuat hati merasa cukup. Saya permisi dulu, Bu Lina. Tolong dijaga pikirannya agar tetap tenang."

Fatih melangkah keluar ruangan dengan langkah lebar. Di koridor, ia mengembuskan napas panjang. Nama "Raisa" sempat terlintas di benaknya sebagai sosok yang keras kepala namun berprinsip.

......................

Langkah kaki Fatih terasa lebih berat dari biasanya saat ia menuju kantin rumah sakit untuk bergabung dengan rekan-rekannya.

Meski ia sudah berusaha mengalihkan fokus pada laporan medis, nama "Raisa" seperti gema yang memantul di dinding kepalanya.

Malam itu, di sebuah meja panjang di sudut kantin yang mulai sepi, Fatih duduk bersama dr. Adrian, spesialis bedah yang juga sahabat lamanya, serta beberapa dokter residen lainnya. Di depannya tersedia sepiring nasi goreng yang baru disentuh sedikit.

"Fatih, lo kenapa? Nasi gorengnya nggak salah apa-apa, jangan dipelototin doang," celetuk Adrian sambil menyeruput kopi hitamnya.

Fatih tersentak, lalu berdehem canggung. "Cuma kepikiran pasien di kamar 402. Kondisi fisiknya membaik, tapi lingkungannya... agak menekan."

"Keluarga Bu Lina ya?" tanya salah satu residen, menyahut. "Tadi saya lewat sana, denger ibunya lagi semangat banget ngomongin soal lamaran yang ditolak. Katanya keponakannya itu, siapa ya namanya? Raisa? nolak ustadz sama anak pengusaha sekaligus."

Mendengar nama itu disebut lagi, tangan Fatih yang memegang sendok sempat terhenti.

"Raisa," gumam Fatih tanpa sadar.

"Nah, itu! Raisa," sahut Adrian dengan nada menggoda. "Kenapa? Lo tertarik sama kriteria cewek yang berani nolak 'paket lengkap' kayak gitu? Padahal di zaman sekarang, logika orang biasanya nyari yang mapan dulu, kan?"

Fatih meletakkan sendoknya, mencoba kembali ke mode rasionalnya yang biasa. "Bukan soal tertarik. Saya cuma heran. Secara statistik, peluang untuk mendapatkan tawaran sebaik itu tidak datang berkali-kali. Tapi dia memilih untuk menolak karena alasan 'getaran hati'. Itu... tidak logis menurut saya."

Adrian tertawa kecil, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tih, nggak semua hal di dunia ini bisa lo jelasin pakai jurnal medis atau hitungan probabilitas. Terkadang, prinsip itu letaknya di luar nalar. Mungkin buat dia, 'rasa cukup' itu lebih mahal daripada aset yayasan atau gelar."

Fatih terdiam. Kalimat Adrian barusan hampir mirip dengan apa yang ia katakan sendiri kepada Ibu Rina di kamar pasien tadi. Namun, mengapa saat ia yang mengatakannya, hal itu terasa seperti tameng profesional, sementara saat ia memikirkannya sekarang, hal itu justru terasa seperti sebuah tantangan bagi logika pribadinya?

Di tengah riuhnya obrolan rekan-rekannya tentang jadwal jaga dan kasus-kasus sulit, pikiran Fatih justru melayang ke mimpi semalam. Wajah perempuan yang samar itu, senyum teduhnya, dan sekarang sebuah nama: Raisa.

Apakah "getaran" yang dimaksud perempuan itu sama dengan apa yang menghantui tidurnya?

"Dokter Fatih!" panggil seorang perawat yang tiba-tiba muncul di area kantin dengan napas terengah. "Maaf mengganggu waktu makannya. Bu Lina di 402 tiba-tiba sesak lagi, tapi sepertinya karena serangan panik"

Fatih langsung berdiri, bahkan sebelum perawat itu selesai bicara.

"Saya ke sana sekarang," ujarnya singkat.

Sambil melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit yang dingin, jantung Fatih berdegup sedikit lebih kencang.

......................

Langkah kaki Fatih bergema cepat di koridor porselen yang dingin. Di kepalanya, ia sudah menyusun diagnosis banding emboli paru, kegagalan jantung, atau seperti kata perawat tadi, serangan panik. Namun, saat ia menyibak tirai pembatas di kamar 402, suasana yang ia bayangkan, kericuhan medis dengan bunyi monitor yang melengking, justru tidak ia temukan.

Ruangan itu hening, hanya terdengar suara tarikan napas yang berat dan teratur.

Di sisi tempat tidur, seorang gadis berpakaian tunik cokelat muda dengan kerudung senada sedang duduk tegak. Ia tidak menangis atau panik. Tangannya dengan tenang menggenggam jemari Bu Lina, sementara tangan lainnya mengusap lembut punggung tangan tantenya itu, mengikuti irama napas yang ia instruksikan.

"Ikuti gerakan tangan Raisa, Tante... buang pelan-pelan," bisik gadis itu. Suaranya rendah, namun memiliki otoritas yang menenangkan.

Fatih terpaku sejenak di ambang pintu.

Ibu Rina yang menyadari kehadiran Fatih segera mendekat dengan wajah cemas. "Dok, tiba-tiba tadi dadanya sesak waktu dengar kabar sepupunya kecelakaan. Untung Raisa datang tepat waktu."

Fatih mengangguk singkat, lalu mendekati ranjang. "Permisi," ucapnya datar, memberi isyarat agar gadis itu memberi ruang untuknya memeriksa tanda-tanda vital.

Gadis itu, Raisa, menoleh sekilas. Matanya bertemu dengan mata Fatih, sebuah tatapan yang jernih, tenang, namun menyimpan ketegasan yang tidak terduga. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berdiri dan bergeser satu langkah ke belakang, memberikan akses penuh bagi Fatih untuk bekerja. Tidak ada sapaan basa-basi, tidak ada rona malu-malu yang biasanya ditunjukkan wanita saat bertemu dokter muda di rumah sakit ini.

Fatih menempelkan stetoskopnya, mendengarkan detak jantung Bu Lina.

"Napasnya sudah mulai stabil. Ini murni reaksi psikosomatis karena syok," ujar Fatih sambil mencatat sesuatu di papan klip.

"Tindakan yang Anda lakukan tadi sudah benar," tambahnya, tanpa menoleh pada Raisa.

"Terima kasih, Dok," jawab Raisa singkat.

Suaranya bersih dari emosi yang berlebihan.

Setelah memastikan kondisi Bu Lina aman, Fatih berdiri tegak dan merapikan alat-alatnya. Ia melirik Raisa yang kini sedang merapikan letak bantal Bu Lina dengan telaten. Gadis itu tidak mencoba mencuri perhatiannya, bahkan tidak menanyakan status medis tantenya karena ia seolah sudah paham hanya dengan mengamati.

"Ibu Rina, tolong pastikan pasien tidak menerima berita mengejutkan untuk 24 jam ke depan," pesan Fatih.

Saat Fatih hendak berbalik pergi, Bu Lina yang sudah mulai tenang berbisik lemah, "Raisa... ini Dokter Fatih yang tadi Tante ceritakan."

Raisa hanya memberikan anggukan sopan yang sangat formal kepada Fatih, tipe anggukan yang seolah mengatakan 'Saya menghargai profesi Anda, tapi saya tidak punya urusan lebih jauh'. Ia tidak tersenyum lebar, tidak pula berusaha memperpanjang percakapan.

"Saya Raisa. Terima kasih sudah menjaga Tante saya, Dokter," ucapnya pendek, lalu kembali fokus membasuh kening Bu Lina dengan waslap basah.

Fatih merasa ada sesuatu yang aneh dalam dadanya. Logikanya yang biasanya dominan merasa terusik oleh sikap dingin namun efisien dari gadis ini. Ia yang biasanya menjadi pusat perhatian di koridor rumah sakit, kini merasa seperti sekadar 'petugas medis' di mata Raisa.

Fatih melangkah keluar ruangan, namun di depan pintu, ia sempat menoleh sekali lagi. Ia melihat Raisa sedang membisikkan sesuatu yang membuat Bu Lina tersenyum, sebuah senyum teduh dari raisa yang entah mengapa terasa sangat familiar.

Gadis itu tidak banyak bicara, tapi kehadirannya memenuhi ruangan lebih dari kata-kata manapun. Dan bagi Fatih, itu adalah anomali yang paling sulit ia jelaskan secara medis.

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!